
Ada pemandangan baru di rumah Nisa sekarang. Kedua putri kembarnya itu terus menempel pada Bu Sri dan pak Jo. Mereka menjadi teman baru si kembar mulai sekarang. Tak jarang kedua putri Nisa itu tertawa cekikikan di halaman depan saat mendengarkan cerita pak Jo yang sangat lucu. Atau mereka tak sabar menanti masakan Bu Sri yang selalu menuruti permintaan makanan si kembar.
"Kalian dari mana anak-anak,, kotor sekali!!".
"Mama, kami mandi kan pussy tadi, di bantu sama pak Jo".
"Lihat ma,, dia sudah cantik bukan??".
"Kami boleh merawatnya kan mama,,, please!!!".
"Boleh,, tapi janji jangan lupa memberi makan dan merawatnya dengan baik".
"Sekarang kalian minta mbak Sofi untuk memandikan kalian,, oke??".
"Oke mama,,, terima kasih.....sayang mama Nisa".
Kedua putri Nisa berlari sambil mencium pipinya bergantian. Nampaknya Sheila dan Sheina cocok berada di rumah ini. Di tambah lagi dengan kehadiran Bu Sri dan Paijo yang ikut mengawasi mereka. Nisa jadi tidak khawatir berlebihan.
Seperti pagi ini, kedua putrinya itu sudah menempel ke Bu Sri. Mereka ingin sekali naik andong keliling pasar. Alhasil, Bu Sri di buat terburu-buru jadi nya.
"Maaf Bu, anak-anak ingin ikut ke pasar naik delman,, apa ibu mengizinkan??".
"Bu Sri sama pak Jo kan berangkat nya?".
"Iya Bu, biar nanti pak Jo yang menjaga anak-anak".
"Ya sudah, hati-hati Bu Sri, anak-anak jangan sampai kecapekan".
"Baik Bu, saya permisi dulu".
"Bu, ini uang saku anak-anak kalau nanti minta jajan".
"Tapi, yang belanja masih ada Bu".
"Tak apa, Bu Sri pegang aja".
"Baik Bu, terimakasih".
"Ayo sini,, cium mama dulu,, jangan nakal ya, kasihan Bu Sri nanti".
"Iya mama".
Bu Sri menggandeng kedua putri Nisa keluar rumah. Di depan pagar, pak Jo sudah menunggu dengan kusir delman langganan nya. Dia sengaja memesan delman karena sudah janji pada Sheila dan Sheina.
Sementara itu, bapak menghampiri Nisa yang masih duduk di ruang tamu. Roy memang belum bangun jam segitu. Jadi, Nisa masih bisa sedikit bersantai.
"Nisa,, bapak rasa kedua anak mu cocok tinggal di rumah ini".
"Dan bapak juga sudah sembuh,, makanya bapak dan ibu mau kembali ke kampung".
"Kelamaan nganggur, badan bapak sakit semua".
"Kenapa buru-buru to pak,, mbok nanti kalau sudah sehat betul".
"Sheila saja sudah sehat kok Nis, masak bapak kalah sama cucu bapak sendiri".
"Ya sudah,,bapak mau di antar sama mas Roy?".
"Nggak usah, biar bapak naik bis saja sama ibu".
__ADS_1
"Kalian hati-hati di sini, jangan lengah menjaga si kembar".
"Iya pak, tunggu sebentar, biar aku bangunkan Roy dulu".
"Tidak usah Nis, kasihan dia pasti capek, kau saja nanti yang bilang padanya".
"Bapak sudah pesan taxi, jaga anak-anak baik-baik".
"Ya pak, hati-hati!!".
Bapak dan ibu keluar dari rumah di antar oleh Nisa. Kedua orang tuanya itu sudah tak betah berlama-lama di kota. Mereka kangen kampung Larangan yang sudah hampir dua Minggu di tinggalkan.
Nisa menutup pagar bersamaan dengan keluarnya Sofi. Dia sudah kelihatan rapi dan cantik. Nisa senyum-senyum sendiri melihatnya.
"Kamu jadi berangkat ke kampus Sofi??".
"Iya Bu, sekarang kan jaraknya dekat dengan rumah".
"Ya sudah, cepat pulang,, jangan keluyuran".
"Nggak lah Bu,, kuliah kedokteran mana ada waktu buat main Bu".
"Sofi pamit dulu ya Bu".
"Sebentar Sofi, ini uang saku mu, naik taxi saja jangan angkutan umum, kamu bukan orang Yogya asli kan?".
"Tapi Bu, gaji Sofi kan baru saja di ambil".
"Ini uang saku, bukan gaji...ayo ambil".
"Terimakasih banyak Bu Nisa, ibu memang baik".
"Nah....kan......sudah,,, berangkat sana....nanti telat kamu!!".
Nisa meletakkan tubuhnya di atas sofa. Baru hendak menghidupkan tv ketika Roy turun dari lantai atas, baru bangun dari tidurnya.
"Sepi sekali sayang, anak-anak kemana??".
"Mereka ikut ke pasar Bu Sri mas".
"Bapak dan ibu juga sudah kembali ke kampung".
"Sofi baru saja pergi kuliah ke kampus".
"Kenapa kau tidak membangunkan ku tadi?".
"Aku bisa mengantar bapak dan ibu".
"Mereka tidak mau merepotkan mu mas".
"Lalu,,, kita cuma di rumah berdua sekarang??".
"Ya......sampai anak-anak pulang dengan Bu Sri dan pak Jo".
"Apa tatapan mu itu....jangan aneh-aneh deh mas!!".
"Kamu yang aneh,,, kopi ku mana Nisa,, dari tadi di kasih kode nggak sadar juga".
"O..alah....sampai lupa aku, tunggu sebentar aku buat kan".
__ADS_1
Nisa menyerahkan kopi yang sudah selesai di buatnya kepada suaminya. Dia juga membawa kue yang di beli di warung depan.
"Nisa, kau ingat Alan bukan?".
"Nanti sore mungkin dia sampai dari Jakarta".
"Anton yang menyuruhnya ke sini untuk membantu pekerjaan ku sekaligus menyerahkan bukti penjualan rumah kita di Jakarta".
"Kau tidak keberatan kan, kalau sementara dia tinggal di sini".
"Masih ada kamar kosong di belakang, biar Alan tinggal di sana".
"Terserah kau saja mas, aku juga tak begitu kenal dengan nya".
"Kau masih juga lupa ingatan sampai sekarang".
"Padahal kau dulu dekat sekali dengan anak itu Nisa, sewaktu Dito belum lama meninggal".
"O..ya,,,apa seperti itu,,, entah lah....aku lupa".
"Ya sudah,, nanti minta Bu Sri untuk membersihkan kamarnya".
"Biar nanti sore bisa langsung di tempati oleh Alan".
"Iya mas".
Dari depan rumah terdengar celotehan riang diiringi dengan suara tawa kedua anak Nisa. mereka rupanya sangat bergembira. Keduanya masuk rumah sambil berebutan memanggil nama Nisa.
"Mama,,,,lihat...kami bawa sesuatu untuk mama".
"Apa ini,,,kelinci.....lucu sekali,,,siapa yang membelikan sayang?".
"Bu Sri bilang kami boleh merawatnya kalau mama mengijinkan".
"Kami janji akan menjaganya dengan baik ma".
"Kalian tanya papa saja,, kira-kira boleh tidak".
"Kalau sama papa tentu saja boleh,, papa kan papa terbaik sedunia,,,iya kan pa??".
"Kalian anak pintar,, sana bilang pak Jo untuk membikin kandang buat kelinci itu".
"Tuh kan ma.....makasih papa sayang,,,!!".
Kedua anak kembar itu bergantian mencium Roy dan lari ke belakang rumah menyusul pak Jo membuat kandang. Nisa hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kedua putrinya yang jauh lebih lengket sama Roy di banding dengan nya.
"Kau terlalu memanjakan mereka mas".
"Mereka jadi tidak takut padamu kan".
"Lo.....itu bagus kan Nis, aku juga tak mau anak-anak takut padaku".
"Cukup mereka tahu kalau aku mencintai dan menyayanginya, itu saja yang harus ada di pikiran mereka".
"Iya....aku kalah kalau dalam hal anak-anak".
"Kau jauh lebih hebat memenangkan hati anak-anak".
"Tawa dan kegembiraan mereka sudah cukup Nisa,, aku tak ingin yang lain lagi".
__ADS_1
"Keluarga ini bagiku sudah sangat sempurna".
Roy benar,, kebahagiaan yang sempurna. Nisa tak ingin lagi ada prahara atau gangguan apapun. Kali ini keluarganya sudah tenteram dan damai.