Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Gadis Misterius.


__ADS_3

Sakitnya Nisa membuat semua acara Roy di Jakarta harus tertunda. Dia terus merawat Nisa dan menemaninya di hotel. Rencana mereka cuma sehari saja harus berlanjut beberapa hari. Untunglah hari ini Nisa sakit kepala Nisa sudah mulai berkurang. Jadi, keduanya segera ke kantor Anton.


Sampai di kantor, Nisa bertemu dengan Alan di pintu masuk. Sejak.datang, pria itu terus memandangi nya. Seperti hendak mengatakan sesuatu pada Nisa. Tapi dia ragu, dan akhirnya memilih untuk berlalu dari hadapan pasangan pengantin baru tersebut.


"Dia Alan bukan, kenapa sikap nya seperti itu pada kita?".


"Apa karena Siska meninggal di kampung kemarin?".


"Nanti saja kita bahas Alan, sekarang lebih baik kita temui Anton dulu".


"Sudah lama kita di sini, bapak bisa khawatir kalau urusan kita tak kunjung selesai".


Nisa mengikuti langkah Roy masuk ke ruang kantor Alan. Keduanya di sambut dengan senyum cerah. Bahagia melihat keadaan Nisa sudah membaik.


"Senang sekali kau sudah bisa sampai sini Nisa".


"Iya Anton,, tapi.....".


"Tapi apa,, ayo katakan...!!!!".


"Ah,,,sudahlah....lupakan saja, di mana Ratri?".


"Kau lupa kalau dia sudah lama tidak ke kantor?".


"Fokus mengurus si kecil di rumah".


"Entah lah,,, sepertinya aku baru tahu sekarang".


Setelah berbasa-basi, keduanya segera membicarakan urusan nya menyangkut kepindahan Roy. Semua sudah di siapkan oleh Anton. Termasuk pembagian laba perusahaan yang akan di bagikan pada Roy dan Nisa tiap bulan.


Nisa keluar dari ruangan karena tidak paham dengan pembicaraan keduanya. Dia hendak tunggu di luar kantor, namun langkahnya terhenti ketika melihat Alan kembali.


"Tunggu Alan, aku ingin bicara dengan mu".


Alan berbalik dan melihat ke arah Nisa. Terus terang dirinya merasa sedih ketika melihat istrinya bersanding dengan orang lain. Namun dia lalu berpikir kalau inilah kesempatan nya untuk mengingatkan tentang hubungan mereka berdua.


"Apa yang ingin kau bicarakan Nisa?".


"Sebaiknya kita duduk di sana saja, tempatnya nyaman untuk ngobrol".


Nisa dan Alan berjalan keluar kantor. Mereka duduk di bawah pohon mangga yang ada di halaman kantor.


"Kau pasti sangat sedih atas kematian Siska".


"Aku turut berduka cita".


"Itu sudah berlalu Nisa, lagipula seharusnya kau tahu ceritanya bukan?".


"Cerita apa maksudmu??".

__ADS_1


"Kalau Siska bukan kakak ku?".


"Aku tidak tahu Alan, mungkin aku lupa".


"Lalu aku,, apa kau juga melupakan siapa aku??".


"Apa maksud mu,, kau Alan bukan?".


"Hanya tubuh dan wajahnya Nisa,, kau tahu kalau aku sebenarnya.....".


"Kalian sedang apa di sini?".


"Aku mencari mu kemana-mana Nisa".


"Kebetulan aku melihat Alan di sini dan langsung menghampirinya".


"Ya sudah,, kita pulang sekarang,, semuanya sudah di urus oleh Anton".


Hampir saja Alan mengatakan yang sebenarnya tentang dirinya. Tapi, Roy keburu datang dan mengajak Nisa pergi. Entah kenapa Nisa sama sekali tak mengingat dirinya. Padahal dia adalah jelas-jelas Dito suaminya.


Alan melihat kepergian Nisa dari jauh. Entah kapan lagi dirinya punya kesempatan untuk berbicara dengan nya. Apalagi Nisa akan pindah ke Yogya sebentar lagi. Harapan nya untuk bertemu kedua putrinya pun pupus sudah. Dulu dia bisa bilang kalau dia adik angkat Dito. Tapi, ketika Nisa sudah bersama Roy, rasanya itu semua sungguh tak mungkin.


Padahal di hati nya yang terdalam, Dito sangat merindukan buah hatinya itu. Terakhir kedatangan nya ke Yogya, dia tidak berhasil menjumpai anak-anak nya.


"Kalian ngobrol apa saja Nisa??".


"Bukan hal penting, hanya tentang kematian Siska".


"Dia dan rumah nya membawa pengaruh buruk bagi mu".


"Apa benar seperti itu Roy??".


"Berarti, laki-laki yang kerap hadir di mimpi ku adalah Alan?".


"Apa dia sosok mengerikan itu?".


"Entah lah Nisa,, tapi sejak kau kenal Alan, marabahaya selalu mendatangi mu".


"Lebih baik kita jangan lagi berhubungan dengan orang seperti itu".


"Aku tak ingin kau celaka lagi nanti".


Benar juga apa yang di katakan oleh Roy. Siska kemarin juga sempat membuat ulah dulu, sampai akhirnya di temukan meninggal.


Apa ritual gaib yang sering menghantui nya itu berasal dari keluarga Alan. Nisa masih belum bisa mengingat dengan jelas.


Sampai di hotel, Nisa dan Roy masuk ke kamarnya..Hantu rambut panjang itu sudah tak terlihat lagi di lift. Mungkin dia tahu kalau Nisa masih menginap di situ. Yang jelas, Nisa sudah tak lagi melihatnya.


Saat hendak memasuki kamar hotel, Nisa melihat seorang perempuan berdiri di depan kamar hotel di sebelahnya. Dia menunduk seperti menahan tangis. Seluruh wajah dan tubuhnya lebam akibat pukulan. Bahkan bibirnya mengeluarkan darah karena sobek.

__ADS_1


Nisa menghampiri wanita tersebut. Pelan-pelan Nisa berdiri di sampingnya dan menyapa gadis muda itu.


"Maaf mbak, anda sedang punya masalah??".


"Apa mungkin ada yang bisa saya bantu?".


"Pacar saya tak mengijinkan saya masuk".


"Kami berdua sempat bertengkar tadi".


"Bertengkar, ini bukan lagi pertengkaran mbak, tapi penganiayaan".


"Seharusnya pacar mbak tak bersikap seperti itu".


"Tunggu mbak, biar saya yang panggil".


Nisa menggedor pintu kamar hotel tempat gadis tersebut berdiri. Tak ada jawaban dari dalam. Mungkin pacarnya sedang tidak ada di kamar nya.


"Sudah sayang,, mungkin pacar mbak ini baru keluar".


"Bawa dia masuk ke kamar kita dan obati lukanya".


"Ayo mbak, kita tunggu di kamar saya saja".


Gadis muda itu menurut saja ketika Nisa membawanya masuk ke kamarnya. Roy mengambilkan kotak obat agar Nisa bisa membersihkan lukanya.


Gadis itu bercerita kalau dirinya kerap kali di pukul oleh pacarnya. Tapi yang kali ini jauh lebih parah daripada sebelumnya. Alasan nya hanya karena dia menolak di putus, saat pacarnya punya wanita lain. Dan lagi, rupanya gadis itu tengah hamil muda.


"Kalian harus secepatnya menikah".


"Ini perbuatan dosa mbak, nyawa bayi mbak juga dalam bahaya kalau seperti ini terus".


Roy dan Nisa yang mendengar penuturan gadis itu menjadi jengkel. Tega-teganya lelaki tersebut melakukan hal sekeji itu pada gadis yang di cintai nya.


"Mbak di sini saja sampai pacar mbak pulang".


"Biar saya dan suami saya yang bicara padanya".


"Kalau dia tak mau bertanggung jawab, kami yang akan melapor ke kantor polisi".


Selesai di obati, gadis itu masih duduk di sofa. Entah kenapa sejak masuk tadi, dia terus saja menunduk. Dia juga tak mau minum air yang di sediakan oleh Nisa.


"Tunggu di sini sebentar mbak, saya dan suami saya akan mencari tahu ke bagian resepsionis".


"Mungkin mereka tahu di mana pacar mbak sekarang".


Nisa dan Roy keluar meninggalkan kamar mereka. Gadis itu hanya mengangguk putus asa. Bergegas Nisa dan Roy ke lobby hotel.


Saat Nisa menanyakan tentang penghuni kamar di sebelahnya, resepsionis enggan memberikan informasi. Nisa menceritakan kejadian yang sebenarnya pada resepsionis hotel. Barulah saat itu dia mau membagi info pada Nisa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2