
Anton dan Ratri memasuki rumah Rudi. Rumah yang tampak mewah dari luar, namun ternyata di dalamnya adalah sarang dari makhluk gaib. Sama seperti Nisa, keduanya juga melihat ular besar yang melilit di atas pintu. Dan kali ini Ratri dan Anton melihat penampakan nenek tua sedang duduk di pojokan di temani dengan seekor kera putih.
Anton dan Ratri duduk di sofa.Mereka memperhatikan sekeliling, tapi tidak terlalu mencolok. Kalau makhluk itu tahu Anton dan Ratri bisa melihat kehadiran mereka, sudah pasti mereka akan menyerang nya langsung.
Tak berapa lama, yang ditunggu pun datang.
Ratri melihat kuntilanak itu,,, menyeringai menatap ke arahnya.Rambutnya terurai, matanya melotot tajam dan dari punggungnya
keluar darah yang menetes ke lantai.Punggung yang menjijikkan.
Ratri berusaha menahan penglihatannya.Dia bersalaman dengan Rudi dan 'istri' nya tersebut. Mereka ngobrol ke sana- ke mari hingga Anton mengingatkan hobi memasak
Yeni.
"Aku berharap tadi, Yeni sendiri yang masak seperti dulu,,, masakannya enak sekali".
"Aku ingin Ratri belajar memasak pada Yeni".
"Itu dulu Ton, sekarang Yeni lebih suka jajan dan membeli makanan di restoran".
"Dia bilang nggak mau capek-capek masak".
"Ya,, kudengar akhir-akhir ini kau sering bepergian dengan istrimu,, padahal dulu kulihat Yeni itu orang rumahan".
"Hentikan bicara tentang Yeni yang dulu,,,, dia sudah mati,,, Yeni yang sekarang,,, akan selalu menemani suaminya kemanapun dia pergi".
Mereka kaget dan heran dengan perkataan Yeni. Tiba-tiba Rudi langsung mengalihkan
pembicaraan.
"Yeni takut kalau di rumah sendirian,, dia sering mendengar suara-suara aneh,, tak heran aku sering mengajaknya, supaya dia tidak stres di rumah".
"Lalu anak-anak??".
"Mereka biasa saja,, hanya Yeni yang kerap kali mendapat gangguan".
"Mungkin karena dibelakang rumah ada pohon besar, warisan dari pemilik sebelumnya".
"Apa kami boleh melihat belakang rumahmu??".
"Jangan......!!!!! tidak ada yang boleh masuk ke sana".
"Iya,,, kalau ada yang masuk,, nanti penghuninya marah dan mengganggu Yeni lagi".
"Ok,,, baiklah..."
Kami makan di ruang makan rumah Rudi. Nenek yang sedari tadi mengawasi kami
berganti posisi menjadi berdiri.Ratri tidak bisa menghabiskan makannya karena bau busuk yang tercium dari kuntilanak tersebut.
Setelah makan malam selesai, mereka berpamitan. Ratri sebenarnya masih penasaran dengan rumah Yeni di bagian
belakang. Seperti ada energi besar di sana.
Tapi sedari tadi nenek penjaga yang mengawasi mereka, seolah tahu bahwa mereka sedang menyelidiki sesuatu.
Ratri dan Dito segera menaiki mobil mereka dan langsung pulang. Di perjalanan Ratri mengungkapkan kegelisahannya pada Anton.
"Apa menurutmu, mereka menyingkirkan Yeni
untuk menguasai rumah itu".
"Tapi, harusnya satu keluarga yang disingkirkan bukan,,, kenapa hanya Yeni".
"Padahal anak mereka juga ketakutan dan tertekan di sana".
"Aku belum bisa memutuskan hal ini".
"Atau mungkin Rudi yang melakukannya demi
__ADS_1
kekayaan".
"Niatnya mengorbankan Yeni, gagal karena ternyata Yeni jauh lebih kuat, makanya dia melakukan ini".
"Aku justru tertarik dengan rumah belakang mereka".
"Kuntilanak itu jelas-jelas melarang kita masuk ke sana".
"Iya,,, aku juga jadi penasaran".
Nisa dan Dito masih menunggu Anton dan Lastri.Mereka menemani Yeni dan mendengarkan dia bercerita. Rupanya rumah
mereka dulunya adalah rumah tua bekas peninggalan salah satu orang kaya di kawasan itu.
Yeni dan Rudi sepakat membelinya karena
harganya murah dan rumahnya juga luas.
Di pekarangan belakang rumah terdapat pohon beringin besar, sehingga menambah kesejukan di dalam rumah.
"Apa selama menempati rumah itu, kau tidak pernah mengalami keanehan?".
"Sering,,,, Bahkan dulu pernah anak-anak sempat hilang dan ditemukan di atas pohon tersebut".
"Aku pernah meminta mas Rudi untuk menjual rumah itu dan pindah, tapi dia menolak dan bahkan marah-marah padaku".
"Keanehan yang lain,, sejak satu bulan sebelum peristiwa ini, aku sering memergoki
mas Rudi tengah bicara dengan wanita di dalam kamar".
"Tapi ketika kamar itu aku buka, dia sendirian
tidak ada siapa pun di kamar itu".
"Kadang ketika mas Rudi tengah ke luar kota, aku setiap malam bermimpi sedang bercinta
"Anehnya pagi hari aku selalu telanjang bulat di kamarku dan badanku terasa lemas".
"Entah apa yang terjadi padaku??".
"Sabar mbak Yeni,,kita tunggu Ratri dan Dito
kembali".
Sesaat setelah bercerita, terdengar suara mobil Anton di luar rumah. Mereka berdua
turun dan langsung masuk rumah.
"Bagaimana Ratri,,,,kau melihat wanita itu???".
"Bukan hanya kuntilanak itu saja,, ternyata rumah Yeni adalah sarang dari kuntilanak dan teman-teman nya".
"Masih ada lagi,, energi yang sangat besar dari belakang rumah,,,tapi kuntilanak itu melarang kami ke sana".
"Apa anak-anak ku baik-baik saja??".
"Mereka tidak ikut makan bersama kami,
tapi malah sosok lain yang menunggu i kami di ruang makan".
"Parah sekali keadaan di rumah itu Nisa,,, aku
heran mbak Yeni bisa bertahan sampai selama ini tinggal di rumah itu".
"Sebenarnya aku sudah tidak betah, sebelum aku seperti ini,,, aku sudah rajin mengunjungi
ustad untuk membantu ku".
"Tapi kuntilanak itu keburu menggantikan posisiku".
__ADS_1
"Dia melakukan aktivitas persis sama dengan yang kulakukan, jadi siapapun tidak merasa kehilangan aku sama sekali".
"Masalah ini jadi menarik, kalau kita muncul
bersama Yeni,, tentu warga akan heboh dan
bingung".
"Tapi, jika kita biarkan,keselamatan suami dan anak-anaknya terancam".
"Menurut mu, kita harus bagaimana Nisa??".
"Kita keluarkan dulu anak-anak mbak Yeni dari rumah itu".
"Dan kau Anton, coba kau beritahu suami mbak Yeni, kita lihat bagaimana reaksinya".
"Tapi ingat,,kau harus memberitahu dia ketika dia sendirian".
"Berarti kita harus memisahkan nya dengan kuntilanak itu??".
"Iya,, kalau perlu, bawa mbak Yeni sekalian
bersama mu".
"Baiklah,,, aku akan membuat janji dengannya terlebih dahulu".
Yeni lega karena orang-orang yang ditemui
nya bersedia membantunya dengan tulus.
Dia berharap, masalahnya kali ini akan segera
selesai.
Dito dan Nisa pamit pulang, karena tak terasa
malam telah larut. Di tengah jalan, Nisa melihat seorang nenek sedang menyeberang jalan.
"Berhenti mas,,,,itu ada yang nyebrang"
Karena kaget dengan suara klakson motor
Nisa, nenek itu terjatuh di pinggir jalan.
Dito dan Nisa menghentikan motornya dan turun untuk membantu nenek tersebut.
"Nek,,,kau baik-baik saja???".
Nenek itu mendongak dan berbalik ke arah Nisa. Betapa terkejutnya Nisa melihat wajah
nenek tua itu, matanya hilang dan wajahnya
setengah hancur.
Nisa mundur ke belakang.perutnya terasa mual, karena bau amis darah dari bibir nenek tua itu.
"Anak muda,,,,kalau kau masih sayang nyawamu,,,jangan ikut campur".
"Rumah tua itu milik kami turun- temurun,
jangan coba-coba mengusik nya".
"Maksudnya apa nek??"
"Pergi................!!!!!!!!!!!".
Bersamaan dengan perkataan nenek itu, ribuan laron keluar dari mulutnya. Nisa dan Dito sibuk menghalau hewan itu,,hingga tak menyadari kalau nenek itu sudah menghilang.
Nisa dan Dito masih termangu di pinggir jalan. Mereka masih kaget dengan peringatan dari makhluk gaib tersebut.
__ADS_1