
Sore harinya bapak-bapak sudah berkumpul
di rumah Nisa.Bapak Kadus memimpin acara
lamaran dan pertunangan. Dito memasang-
kan cincin di jari manis Nisa, sebagai tanda
kalau Dito sudah melamarnya.
Mereka larut dalam acara lamaran.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga pak Ari,
terutama Nisa.Para tetua juga sudah memutuskan tanggal pernikahan yang baik
untuk Nisa.
Satu bulan dari sekarang,tepat di hari ulang
tahun Nisa, mereka akan menggelar acara
hajatan pernikahan Nisa dan Dito.Untuk
itu kedua keluarga harus mempersiapkan
segalanya karena waktu yang ditentukan
terlalu singkat.
Setelah acara inti selesai, kemudian di lanjut-
kan dengan acara ngobrol santai dan makan-
makan.Dalam acara itu Dito tak henti-hentinya
memandangi Nisa yang terlihat sangat cantik
dalam balutan kebaya pink bernuansa ungu.
"Nak Dito,,,,Nisa masih belum halal lo,,, hanya boleh memandang dulu, jangan yang macem-
macem".
"Iya Lo.....dari tadi bapak lihat nak Dito nggak
berkedip Mandang Nisa terus".
"Kalau Nisa secantik itu hati-hati Lo nak, nanti ada setan' lewat nyamber Nisa".
Dito dan Nisa yang dijadikan bahan olok-olokan tersipu malu.Bapak-bapak semakin
bersemangat menggoda pasangan baru itu.
Di tengah-tengah acara tiba-tiba Nisa terdiam.
Seperti tengah merasakan sesuatu.
"Kampung sebelah lagi ada hajatan ya pak?".
"Setahu bapak tidak ada Nis, kenapa?".
"Dari tadi Nisa dengar Gending Jawa Lo".
Bapak-bapak heran mendengar pernyataan Nisa.Mereka semua bahkan tidak ada yang
mendengar suara musik Jawa atau apapun.
Nisa tiba-tiba berdiri dan jalan ke depan rumah.Dia seperti menantikan sesuatu.
"Lihat Dit, sebentar lagi mereka akan lewat sini".
"Iring-iringan pengantin itu panjang sekali".
Dito dan bapak saling berpandangan.Mereka
kemudian membawa Nisa masuk ke dalam rumah.Bapak-bapak yang lain pun berpamitan. Mereka sudah hafal tentang Nisa
yang sering melihat makhluk gaib.
"Dito,,,kita harus bersiap, malam ini akan jadi
malam yang panjang".
__ADS_1
"Bu,,jaga Nisa di kamarnya, kalau ada apa-apa
panggil bapak atau Dito".
"Ya pak".
Nisa memang benar,,,di hutan larangan tengah ada hajatan pernikahan. Iring-
iringan pengantin nanti pasti akan lewat depan rumah Nisa.Itu artinya, bapak harus menjaga Nisa agar tidak terbawa iring-iringan
pengantin tersebut.
Menurut cerita orang tua dulu, setiap bulan
Suro atau Muharram, bangsa gaib sedang punya gawe.Jadi manusia tidak boleh mengadakan pesta di bulan tersebut, atau mereka akan terkena sial, karena menyaingi
hajatan mereka.
Dan bagi orang-orang seperti Nisa, yang bisa melihat makhluk gaib, dilarang keluar rumah
sejak Maghrib agar tidak terbawa ke alam gaib.
Iring-iringan pengantin itu sudah mendekat.
Pengantinnya naik kereta kencana.para
pengawal dan dayang berbaris rapi di belakangnya.Mereka sangat cantik dan tampan.Barisan yang sangat panjang, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.
Semakin dekat rumah Nisa, suara tabuhan gamelan Gending Jawa semakin terdengar kencang.Nisa yang sudah di kamarnya
kemudian berlari hendak keluar rumah.
Bapak dan Dito memegangi Nisa.Mereka
bahkan menutup telinga Nisa dengan tangan.
"Lepaskan Nisa pak..!!! Nisa mau lihat keluar.
"Jangan Nisa, kau tidak boleh kemana-mana".
"Tapi Dito, aku ingin lihat pengantin itu".
"Disini saja, jangan ke mana-mana".
di kunci dari luar agar Nisa tidak bisa kabur.
Bapak bisa mendengar bunyi derap langkah kuda dan gemerincing gelang kaki para penari.Bapak berharap iring-iringan itu segera
berakhir.Bapak tidak ingin ada kejadian yang tidak di inginkan.
"Maaf Dito,, kau harus terbiasa menyaksikan
ini semua".
"Apalagi kalau nanti Nisa menjadi istrimu".
"Saya sudah siap pak,, saya tahu konsekuensi
menikahi Nisa".
"Harus selalu siap dengan resiko apapun yang akan terjadi".
Selama hampir 1 jam, iring-iringan itu akhirnya berhenti.Namun mereka tidak menyadari kalau ada 1 sosok yang ter-
tinggal dan berada di luar rumah Nisa.
Sosok wanita berpakaian serba putih duduk di teras depan rumah Nisa.Kehadirannya tidak disadari oleh bapak maupun Dito.
Setelah lewat tengah malam,bapak giliran tidur,sedangkan Dito giliran berjaga.Dito
melihat ke dalam kamar, Nisa dan ibu sudah terlelap.Dito berjalan ke arah pintu.
Dia melihat seorang wanita,sangat cantik,
berpakaian seperti orang desa.Dito heran
kenapa wanita itu bertamu malam-malam
begini.Dito segera membuka pintu.Dia lupa
pesan bapak untuk jangan membuka pintu
malam ini, apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Mau cari siapa mbak, malam-malam begini?".
Wanita itu tersenyum tidak menjawab.Dia
memberi isyarat untuk Dito mengikutinya.
Dito mengikuti wanita itu berjalan di kegelapan.
Tengah malam Nisa terbangun. Dia merasa haus dan ingin minum.Dilihatnya bapak tertidur pulas.
"Dimana Dito??? apa dia ke kamar mandi??".
Nisa mencari Dito ke kamar mandi, tapi tidak ada. Dia sudah berkeliling rumah, namun Dito
juga tak ditemukan.Nisa kembali ke dalam
rumah dan membangunkan bapak.
"Pak....., bangun pak,, Dito hilang!!".
"Hilang kemana Nis, paling ke kamar mandi".
"Nisa sudah mencari di mana-mana pak".
"Dan tadi sewaktu Nisa bangun, pintu depan sudah terbuka".
"Gawat.......Dito pasti......".
Bapak tidak menyelesaikan kalimatnya dan terus berlari menuju rumah pak Kadus dan pak RT. Tidak berapa lama bapak-bapak sudah berkumpul membawa obor. Bapak
meminta bantuan mereka untuk mencari Dito.
"Nisa ikut pak".
"Jangan, kamu dirumah saja, kita mau ke hutan larangan"
"Aku harus ikut pak, Dito itu calon suami Nisa,
keselamatannya tanggung jawab Nisa juga".
"Baiklah,,,ayo cepat".
"Tunggu sebentar pak".
Nisa masuk dan mengambil cincin mustika.Dia memakainya dan terus berlari keluar.Dia khawatir akan keselamatan Dito.
Nisa dan bapak-bapak segera berangkat ke hutan mencari Dito.mereka membawa obor
sebagai penerangan.
Dito mengikuti wanita itu masuk hutan.Dia
menoleh ke belakang karena sudah terlalu jauh meninggalkan rumah Nisa.Anehnya,walaupun tanpa senter, jalan yang dilalui Dito seperti disinari cahaya.
Bapak-bapak yang mencari Dito sudah berjalan jauh menembus hutan, tapi belum melihat jejak Dito sama sekali. Nisa yang ikut
mencari dalam hati meminta bantuan ibu ratu
agar Dito ditampakkan wujudnya.
Sesaat kemudian, cincin Nisa mengeluarkan
cahaya ke arah sungai. Nisa segera memberitahu bapak untuk menuju sungai.
Benar saja, dari kejauhan tampak sosok Dito
yang sudah hampir tenggelam di dalam sungai.Hanya rambutnya saja yang masih kelihatan.
Nisa memanggil nama Dito, tapi dia sudah tidak bisa mendengar.Hanya cekikikan tawa wanita yang menggema memenuhi sudut hutan.
Nisa berlari ke dalam sungai untuk menyelamatkan Dito.Bapak-bapak membantunya menggotong ke tepian.
Nisa memompa air yang masuk ke tenggorokan Dito Sesaat kemudian dia ter
batuk dan memuntahkan air yang sudah di
minumnya.
Nisa bersyukur Dito masih bisa tertolong.
Dari kejauhan sayup-sayup masih terdengar suara wanita yang melengking tajam. Nisa
tak memperdulikan nya, dia lalu membawa Dito pergi dari sungai dengan digotong oleh
__ADS_1
tetangga kampung.