Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Arwah Kiriman.


__ADS_3

Arwah gadis kecil itu menghilang entah kemana. Sementara Nisa membantu Roy berdiri dan memapah nya ke atas ranjang. Bapak berlalu dari kamar Nisa dengan membawa batu rubi itu di genggaman tangan nya. Dia tak ingin membuat anak dan menantunya cemas karena kejadian yang barusan mereka alami.


"Bagaimana mas,, kau sudah jauh lebih baik sekarang??".


"Iya Nisa,, tubuh ku sudah bisa di gerakkan kembali".


"Aku tak menyangka, sosok gaib itu punya kekuatan yang luar biasa".


"Tenang lah mas,, aku yakin bapak bisa mengatasi nya".


"Entah dari mana boneka itu bisa masuk ke dalam koper ku".


"Kurasa,, itu bukan sebuah kebetulan Nisa".


"Kita juga harus ikut mencari tahu, siapa yang mencoba mencelakai keluarga kita".


"Kau benar mas,, apalagi dia sudah mengusik kedua putri kita".


"Itulah yang paling aku khawatirkan Nisa".


"Kau harus selalu mengawasi si kembar mulai sekarang".


"Iya mas!!".


Bapak termangu di teras depan. Dia memandangi batu Rubi berwarna biru tersebut. Dia harus membawa benda itu secepatnya ke rumah Mbah Cokro. Sosok gadis kecil itu tentunya masih berada di sekitar sini. Untuk itu, dia harus segera di singkirkan agar tidak mencelakai keluarga nya.


"Bu,, bapak pergi sebentar ke rumah Mbah Cokro".


"Kalau ada sesuatu yang terjadi di rumah ini, minta Sofia untuk menelpon bapak segera".


"Memangnya ada apa to pak,, kok sepertinya ada yang gawat??".


"Nanti bapak ceritakan Bu,, sekarang bapak harus segera pergi".


"Hati-hati di jalan pak".


Ibu mengantar bapak sampai ke pintu. Wanita tua itu memandangi punggung suaminya, sampai menghilang di belokan. Baru saja rumah ini mendapatkan ketenangan kembali, sekarang sudah muncul masalah lagi. Semoga kali ini tidak seserius seperti yang menimpa Nisa kemarin.


Nisa keluar dari kamar dan mendapati ibu yang tengah melamun. Niatnya mencari kedua putrinya di urungkan. Nisa kemudian menghampiri ibu dan duduk di sebelah nya.


"Ada apa to Bu,, sepertinya ibu tengah memikirkan sesuatu".


"Ibu cemas Nisa,, bapak ku tidak pernah seperti ini sebelum nya".


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu terhadap nya".


"Memang nya bapak kemana Bu??".


"Bapak mu pergi ke rumah Mbah Cokro".


"Dia terburu-buru tadi, entah apa yang di kerjakan nya".

__ADS_1


"Ibu jangan khawatir, bapak hanya ingin menunjukkan batu Rubi kepada Mbah Cokro".


"Semoga memang hanya seperti itu Nisa".


Langkah bapak terhenti di depan rumah bernuansa jati kuno. Rumah Mbah Cokro, tak pernah berubah, walau pun kalau Mbah Cokro mau, dia bisa membangun nya lebih megah lagi. Tapi Mbah Cokro lebih memilih hidup sederhana, seperti warga desa pada umumnya.


Bapak berteriak dari luar, mengucap salam kepada Mbah Cokro. Dari dalam rumah, Mbah Cokro menyahut salam bapak sambil membuka pintu.


"Tumben,,,Ari....ada angin apa kau berkunjung ke gubuk tua ini".


"Ayo,, masuklah ke dalam,, biar aku ambilkan minum".


"Tak usah repot-repot Mbah".


"Aku ada sedikit perlu dengan sampeyan".


"Duduk lah,,,aku sudah tahu maksud kedatangan mu".


"Ini pasti tentang Nisa bukan??".


"Kau benar sekali Mbah,, tampaknya mereka tak membiarkan putri ku hidup tenang".


"Nisa masih belum kembali ingatan nya,, namun sudah ada yang ingin mencelakainya".


"Coba...tunjukkan padaku Ari.....".


"Kita lihat,, siapa yang mengirim anak itu kepada Nisa".


"Sudah berapa lama benda ini ada di rumah mu Ari??".


"Kami baru saja menemukan nya Mbah".


"Mungkin,,,sejak Nisa kembali dari Jakarta".


"Kedua cucu ku sering di ganggu oleh makhluk yang ada di dalam batu itu".


"Dan..tadi, Roy juga sempat di celaka i oleh nya Mbah".


"Aku sudah menduganya Ari,,, sebentar lagi, dia pasti menampakkan diri di sini".


"Kita tunggu saja,, aku penasaran, siapa yang mengirim nya".


Bapak dan Mbah Cokro masih duduk di ruang tamu dengan batu Rubi tersebut yang sengaja di taruh di dalam botol berisi air. Tak berapa lama, angin bertiup sangat kencang dengan di iringi suara tangisan yang melengking. Telinga bapak bahkan kesakitan mendengar nya.


Benar saja perkiraan Mbah Cokro, sosok gadis kecil itu datang karena merasa rumahnya terancam. Dia menampakkan diri dengan sosok yang mengerikan. Semua lubang di wajahnya mengeluarkan darah segar. Sosok tersebut nampaknya sangat marah melihat batu Rubi yang menjadi rumah nya, di pegang oleh Mbah Cokro.


"Lepaskan rumah ku kakek tua,,,atau telinga mu akan tuli mendengar suara tangisan ku".


"Rupanya ini sosok mu...anak kecil".


"Bagus,,,kau sendiri yang mengunjungi rumah ku ini".

__ADS_1


"Katakan,,,siapa yang menyuruh mu kemari".


"Itu bukan urusan mu, kakek tua".


"Cepat kembalikan rumah ku sekarang juga".


"Rupanya,,kau masih belum tahu sopan santun".


"Baiklah,,,Mbah Cokro yang akan mengajari mu".


"Hi....hi ....hi ...hi.....kakek tua,,sebaiknya kakek istirahat saja".


"Aku kemari agar bisa selalu bersama ibu Nisa".


"Kau masih kecil,, tapi sudah pandai berbohong rupanya".


"Katakan,, siapa majikan mu yang sebenarnya".


Gadis itu kembali tertawa nyaring. Tapi, kali ini suara tawanya mampu memecahkan barang-barang dari kaca, di rumah Mbah Cokro. Butuh waktu lama bagi Mbah Cokro untuk mengendalikan situasi dan menetralisir kekuatan gadis cilik tersebut.


Tak lama, sosok nya menghilang kembali karena Mbah Cokro mengeluarkan bokor emas nya, khusus untuk menahan makhluk seperti tuyul dan sejenisnya. Hampir saja gadis itu terkurung di dalamnya. Entah kiriman kekuatan dari mana yang bisa meloloskan dirinya.


"Ari,,apa selain ke Jakarta, Nisa mengunjungi tempat lain??".


"Rumah iblis yang dulu sering di masuki nya barangkali?".


"Aku yakin, gadis cilik ini ada hubungan nya dengan kondisi Nisa yang dahulu".


"Saya rasa itu tak mungkin Mbah".


"Roy pergi bersamanya,,,dan dia tahu betul bagaimana menjaga Nisa dengan baik".


"Mereka memang mencari rumah,, tapi di kota Yogya, bukan di Jakarta".


"Baiklah Ari,,antar aku ke rumah mu sekarang".


"Aku harus melihat sendiri keadaan Nisa".


"Baik Mbah,,,kita berangkat sekarang".


Sementara bapak dan Mbah Cokro masih di perjalanan menuju rumah, keadaan Sheila tiba-tiba saja aneh. Dia mengendap-endap ke belakang rumah. Gadis kecil itu, menangkap seekor ayam dan menggigit lehernya.


Tak berhenti sampai di situ, ayam yang masih belum mati itu, di makan nya mentah-mentah.


Roy yang mendengar suara ribut binatang di luar rumah, bergegas memeriksa keluar.


Alangkah terkejutnya Roy melihat putrinya Sheila berlumuran darah, sedang memakan ayam mentah. Spontan Roy berteriak memanggil Nisa. Dia mendekati Sheila, hendak mengambil ayam itu darinya. Tapi rupanya, gadis itu berubah menjadi beringas.


Seperti nya ada yang merasuki tubuhnya, sehingga tingkah nya menjadi aneh.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2