
Penerbangan selama 2,5 jam berjalan lancar. Pesawat mendarat di Jakarta dengan mulus.
Nisa menunggu sampai penumpang turun semua. Dia tidak mau membahayakan dirinya sendiri dan juga bayinya.
"Biar aku saja yang membantu mbak Nisa".
"Terima kasih Nico, tapi aku tak mau merepotkan mu,, temanku sudah menunggu di Bandara dan kami akan langsung ke rumah sakit".
"Baiklah,, sampai kau bertemu dengan teman
mu, kau menjadi tanggung jawabku sekarang".
Nisa bersyukur masih ada orang baik yang bersedia membantunya. Mereka berdua menunggu sampai semua penumpang turun.
Dito menunggu Nisa di ruang kedatangan. Namun sampai penumpang terakhir turun, dia tak melihat wajah istrinya.
Rupanya Nisa dan Nico turun dengan menggunakan jalur yang dilalui oleh para karyawan. Mereka disambut Ratri, yang sudah
bersiap dengan ambulans.
"Boleh saya ikut mengantar mbak Nisa ke rumah sakit??".
"Silahkan,, kami sangat senang, dan terima kasih sudah menjaga adik saya di pesawat tadi".
"Tidak masalah,,, saya senang melihatnya sangat mencintai baby nya".
Anton dan Ratri langsung membawa Nisa ke rumah sakit. Semua sudah siap untuk pemeriksaan Nisa dan bayinya itu. Nico terus
menemani Nisa sampai ke ruang pemeriksaan. Hanya Ratri yang masuk ke ruang dokter. Anton dan Nico menunggu di luar.
Dito langsung pulang ke rumah mereka. Dia berharap Nisa sudah sampai di sana duluan. Dia menyesal sudah membuat Nisa bersedih.
Sampai di rumah, lampu masih padam dan masih tampak sepi. Dito membuka pintu rumah. Nisa tak ada di dalam.
"Kemana kau Nisa,,, apa mungkin kau menginap di hotel??".
"Anton,,, mungkin dia tahu dimana Nisa".
"Aku akan menghubunginya".
Dito menekan nomor ponsel Dito dan menghubunginya.
"Anton,, apa kau tahu dimana Nisa??"
"Nisa,,, bukan nya kalian bersama??".
"Tidak,, Nisa pulang duluan, kukira kau yang menjemputnya,,aku telpon lagi nanti".
Dito kemudian menghubungi Ratri untuk menanyakan keberadaan Nisa.
"Ratri,, apa Nisa bersama mu??".
"Kenapa,, kau baru ingat Nisa sekarang, bukan nya kau sedang bersenang-senang dengan Ayu??".
Ratri menutup telpon dari Dito. Dia masih jengkel dengan kelakuan nya. Nisa yang tengah sakit dibiarkan pulang sendiri dari Medan, sementara dia bersama wanita lain.
Untung ada Nico yang menjaganya di pesawat. Sampai saat ini masih menunggu di rumah sakit. Ratri keluar dari kamar perawatan untuk memberitahukan kondisi Nisa.
"Nisa harus bed rest selama seminggu".
"Dokter akan berusaha menghentikan kontraksi dan pendarahan nya".
__ADS_1
"Semoga saja bayinya selamat,, dia sudah mendapat suntikan penguat kandungan tadi".
"Saya boleh menemuinya??".
"Silahkan Nico,, biar nanti kami bergantian".
Nico masuk ke ruang perawatan Nisa. Kondisinya terlihat jauh lebih segar sekarang.
"Bagaimana bumil,, are you ok??".
"Berkat mu,, terima kasih Nico,, aku tak akan melupakan pertolongan mu ini".
"Aku senang bayimu selamat,,ini untukmu,,
supaya kau lebih rileks selama bed rest".
Nisa tersenyum senang saat Nico memutar
musik klasik dan ditempelkan di perutnya.
Rasa nyeri nya berangsur-angsur menghilang.
Nisa dan bayi nya jauh lebih nyaman dan tenang.
"Aku membaca ini,, musik klasik baik untuk bayi".
"Aku hadiah kan untuk mu dan bayi mu".
"Sekali lagi terima kasih Nico,,, kau baik sekali".
"Aku permisi dulu,, kalau aku kesini lagi, kau sudah harus sehat,, oke??".
Nisa mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum. Dalam hatinya terasa sakit karena justru orang lain yang lebih perhatian padanya dibandingkan suaminya sendiri.
Anton dan Ratri masuk ke ruang perawatan Nisa. Mereka menyuruhnya tidur agar segera pulih kembali.
"Nisa,,Dito menelpon menanyakan keberadaan mu".
"Aku belum memberitahunya kalau kau dirawat di rumah sakit".
"Aku tahu,, dia juga menghubungiku".
"Lalu, harus bagaimana sekarang??".
"Biarkan saja, toh dia juga tidak akan perduli denganku ataupun bayi ini".
"Ratri, tolong kau telpon ibu mertuaku, kabari dia kalau aku sudah di rawat d rumah sakit".
"Pakailah handphone ku".
Ratri kemudian menelpon ibu mertua Nisa. Dia mengabarkan kondisi Nisa di rumah sakit.Ibu Dito kemudian menanyakan keberadaan putranya yang satu penerbangan dengan Nisa.
"Nisa,, Dito ada di Jakarta, dia satu pesawat denganmu tadi".
"Ibu mertuamu bilang, di sadar tentang dirimu saat menatap cincinmu".
"Kau harus memberitahunya tentang keadaanmu".
"Dia sudah sadar sekarang".
"Tak perlu Ratri, aku sudah di sini sekarang".
__ADS_1
Semua orang menoleh ke arah suara. Dito berdiri disana dengan tatapan sendu. Dia mendekati Nisa. Memegang tangannya dan kemudian mencium nya. Anton dan Ratri keluar dari ruangan Nisa. Mereka membiarkan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka.
"Aku minta maaf sayang,, aku khilaf,, ini semua salahku".
"Aku tak bisa melindungi kalian berdua".
"Tak apa mas,, syukurlah kau sudah sadar, akhirnya kau terlepas dari guna-guna Ayu".
"Kau boleh menghukum ku sayang,,, aku benar-benar suami yang buruk".
"Membiarkanmu melalui ini sendirian".
"Berdoa saja mas, semoga anak kita baik-baik saja".
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai anak kita kenapa-napa".
"Beruntung ada orang baik yang membantuku selama penerbangan ".
"Dia memutar musik klasik supaya bayiku tenang".
"Aku yang salah karena tak bisa menjagamu,, aku berutang Budi pada orang itu".
Nisa akhirnya luluh juga. Bagaimanapun dia tahu sifat Dito. Mungkin sesaat dia terpengaruh oleh ilmu hitam Ayu, tapi ketika dia sudah sadar, tak mungkin dia akan mengingat Ayu lagi.
"Ratri, Anton, terimakasih banyak atas bantuan kalian".
"Kalian pulang lah,, biar aku yang menjaga Nisa".
"Kau yakin tak membuatnya menderita lagi".
"Aku tak mau setelah kami pulang, kau meninggalkan Nisa sendirian".
"Jadi kau tak percaya padaku??".
"Bukan begitu Dito, Nisa seperti ini karena makhluk yang dikirim Ayu untuk mencelakai mereka berdua".
"Aku takut di saat sendiri nanti, wanita itu nekat menyerang Nisa lagi".
"Aku tak tahu hal itu,, kenapa Nisa tidak cerita??".
"Karena kau juga di guna-guna, jadi kau ikuti kemauan wanita itu".
"Kau hampir kehilangan anakmu karena perempuan itu".
"Ini sudah keterlaluan,,aku harus membuat perhitungan dengan nya".
"Jangan....,yang ada kau kena pelet lagi nanti".
"Serahkan ini pada kami berdua".
"Tugasmu hanya menjaga Nisa agar tidak stres, itu saja".
Dito terdiam dan menunduk mendengar penjelasan kedua sahabatnya tersebut.Dia semakin merasa bersalah pada Nisa.
Nico menelpon Nisa malam hari. Dia menanyakan perkembangan kesehatan Nisa dan bayinya.
"Berkat musik mu, bayiku tenang sekali di dalam sini".
"Kami bisa sembuh lebih cepat kelihatan nya".
"Tapi mbak harus tetap bed rest Lo, aku tak mau baby nya stres lagi".
__ADS_1
"Kau tenang saja Nico,, aku sudah punya perawat handal sekarang"
Setelah berbincang cukup lama, Nico menutup telpon nya. Entah kenapa semenjak bertemu Nisa, dirinya merasa tenang dan nyaman. Padahal dia sudah berkeliling nusantara untuk mengusir kegelisahan di hatinya. Nyatanya di pesawat justru ditemukan sosok wanita yang mempunyai kharisma tinggi, dan itu ada pada diri Nisa.