
Naya tertegun tak bisa menjawab apa-apa lagi, karena memang benar adanya, dirinya hanya berpura-pura kuat di mata sang suami.
"Aku ambil makan dulu ya,? tunggu sebentar, kita makan di sini," tanpa menunggu jawaban, Dimas beranjak berjalan melintasi pintu, tak lupa menutupnya kembali.
Melihat Dery dan kawannya tengah bekerja di tangga, "Kalian sudah makan,?" sambil berdiri dekat tangga dengan menyilang tangan.
"Sudah Pak barusan, nunggu yang punya rumah tidak ada, makanya kami duluan, maaf kami mendahului,?" Dery menghentikan kerjanya sesaat.
"Baguslah kalau sudah," Dimas pergi melangkahkan kakinya ke dapur, di sana ada Bibi yang tengah mencuci, melihat majikannya menghampiri, bi Taty tersenyum.
"Ibu, sehat Tuan,?" tanya Bibi penuh penasaran.
"Masih bengkak, besok saya kerja titip ya Bi,?" ucap Dimas sambil mengambil nasi dan lauk pauknya, untuk ia bawa ke kamar.
Sambil bengong, "Baik Tuan, Bibi pasti jagain Ibu."
"Terimakasih Bi,? kata Dimas sambil berjalan membawa nampan berisi makan malam.
"Sama-sama Tuan," sahut Bibi, melanjutkan tugasnya.
Dimas membalikkan badan mendekati meja makan, "Bi, kue cake masih ada gak,? di simpan di mana,?" mata Dimas mencari-cari kue yang dia maksud, membuka pintu lemari-lemari kecil namun yang ada cuman kue kering aja.
Bi Taty menoleh, "Tuan.., kue cake habis tadi siang juga sama keluarga Tuan, Ibu juga belum sempat makan," sambil mengernyitkan dahinya.
Sontak Dimas menatap Bibi, "Emang kecil gitu kuenya,? ukuran yang kemarin kan.?
"Iya Tuan, ukuran besar seperti kemarin, yang satu di bawa, satu lagi di makan habis, Bibi kan gak enak kalau gak memberikannya," Bibi lirih, "Em.., buat Ibu ngemil ada kue kering Tuan," sambung bi Taty.
"Ya sudah Bi, gak apa-apa, lagian kue kering ada stok di kamar," Dimas membawa lagi nampan,
Dimas mempercepat jalannya, Setelah membuka pintu, dan menutupnya dengan kaki, lalu menyimpan nampan di meja, "Maaf sayang lama.?"
"Hem..," Naya menyimpan ponselnya di meja, mengambil piring, lalu mereka melahap makan malamnya bersama sesekali saling menyuapi.
Selesai makan Dimas langsung membawa bekas makannya ke dapur, "Bi tolong di cuci ya.?"
"Iya Tuan," sahut Taty, Dimas tak menoleh apa-apa lagi langsung masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Naya menunggu Dimas dengan menyibukkan diri dengan menulis, tak lama Dimas pun kembali, "Yang kue cake habis, aku gak kebagian bah.?"
Naya melirik, "Masa, kan masih ada, aku sudah sisain buat kamu."
"Gak ada, kata Bibi juga, satu di makan habis, satu di bawa pulang," sahut Dimas membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepala di pangkuan Naya.
"Ya sudah, biar aja, bagus abis kan,? gak mubazir," ujar Naya sambil membelai rambut Dimas.
"Iya sih,? tapi.., yang sepertinya lift besok sore juga selesai," ucap Dimas menerawang.
"Iya kah,? cepat juga ya,? tapi kalau lift kotak gak mungkin secepat itu loh yang,?" Naya lirih, sambil membalas chat dari seseorang.
"Iya pasti lebih lama, setidaknya lusa kita pindah kamar yang," Dimas tersenyum bangga.
"Tapi kamar ini juga bagus kok yang..,?" Naya mengusap pipi Dimas.
"Emang bagus, tapi aku lebih suka di atas bunda, ada balkonnya, bisa mencari angin di balkon."
"Huh.., masuk angin di usir, gak ada angin di cari,?" Naya tersenyum samar, membuat Dimas mencubit pipi Naya sangat gemas.
Lalu Dimas melihat istrinya sibuk dengan handphone, Dimas curiga, "Chat sama siapa tuh,? dari tadi.?"
"Dari tadi apanya yang,? barusan aja kok, sama David, lagian kan tau aku punya hobi menulis,? aku sibuk dengan ponsel kan bukan berarti chat sama orang, gimana sih,?" ujar Naya.
Dimas sedikit memaksa mengambil ponsel Naya tuk melihat isinya, Naya pun memberikannya, setelah ngecek Dimas kembalikan lagi.
"Bobo yuk,? ngantuk nih,?" Dimas beranjak dari tidurannya, kemudian membawa Naya ke tempat tidur, lalu merebahkan dengan pelan, memasangkan selimut, Dimas memijat kaki Naya sebentar agar lebih rileks.
__ADS_1
"Yang,?" panggil Naya dengan nada lirih.
"Hem.., apa sayang,?" sahut Dimas sambil terus memijat kaki sang istri.
"Kayanya enak ya,? kalau di pijat seluruh tubuh,? dari dulu sampai sekarang belum juga kesampaian, di pijat seluruh badan," Naya memandangi wajah Dimas dengan lekat.
"Bunda mau,? aku bisa memijat sayang, sekarang juga boleh," Dimas menyeringai entah apa yang ada dalam pikirannya.
Naya sedikit berpikir sesuatu, "Emang sayang bisa,?" dengan tatapan kurang percaya.
"Ini bisa yang," sambil terus memijat kaki Naya dengan lembut, "Merasa enak gak,?" Dimas menghentikan pijatannya.
"Enak sih, boleh lah di coba dulu," Naya mengangguk.
"Iya coba dulu, lusa sayang terapi, besok aku datangkan orang salon ke sini untuk merawat tubuh bunda, biar lebih terawat, cantik, wangi, pokonya semua buat aku lah," Dimas senyum nakal.
"Terserah sayang aja, terapi di rumah kan,?" tanya Naya sambil membuka selimutnya.
"Iya di rumah, mereka yang datang ke rumah," sahut Dimas sambil mengambil handuk dan losion untuk memijat tubuh Naya.
Naya heran ketika Dimas membernya handuk, "Handuk buat apa yang.?"
Dimas menaikan alisnya, mau di pijat kan,? bajunya di buka, ganti dengan handuk lebih mudah dengan permukaan kulitnya, kalau memakai baju mau gimana caranya, membalurkan losion,?" ujar Dimas dengan sangat serius.
"Iya sih," Naya membuka setelan tidurnya, di ganti dengan handuk dan merebahkan tubuhnya dengan cara tengkurep.
Dimas tersenyum nakal melihat tubuh istrinya yang di balut dengan handuk, kemudian Dimas membalurkan losion ke seluruh tubuh Naya, lantas Dimas memulai memijat dari mulai kaki sampai leher dengan sangat lembut semuanya tak luput dari sentuhan Dimas, membuat Naya memejamkan mata merasakan betapa rileks nya di pijat.
"Sayang pandai juga ya,? memijat,?" kata Naya sambil membalikkan posisi kepalanya ke kanan.
"Iya kah,? kalau begitu, aku akan buka praktek pijat, khusus buat cewe, boleh gak yang," tanya Dimas dengan nada menggoda.
"Nggak,nggak, nggak boleh, bukan muhrim juga," Naya kesal, Dimas malah semakin nakal dan tertawa, "Kan aku yang dapat untung banyak yang.?"
"Nggak boleh, enak aja," Naya bangun dan duduk sembari menjepit handuk dengan ketiaknya, membuat pandangan Dimas tak berkedip.
"Sama-sama sayang," Dimas membalas pelukan sang istri, Dimas mengulum senyumnya pikirannya sangat nakal, mengamati handuk di tubuh Naya, dengan sekali sentuh aja handuknya pasti akan turun, dan benda kenyal miliknya akan menyembul tanpa penghalang, dengan memikirkan seperti itu membuat Dimas senyum licik.
Naya heran, kenapa Dimas mesem-mesem sendiri, "Kenapa mesem-mesem sendiri,? apa yang kau pikirkan yang,?" mereka bersitatap.
Kemudian menunjukan handuk yang menempel di dada Naya dengan dagunya, Naya menunduk melihat apa yang Dimas tunjukan, ternyata handuk yang ia kenakan hanya menutupi puncaknya saja, dengan buru-buru Naya menaikannya, Naya malu-malu, "Ya sudah aku mau memakai pakaianku," ucap Naya, Dimas hanya menatap tanpa bosan, Naya mengenakan setelan tidurnya, tapi lupa memakai pakaian dalamnya, membuat Dimas mengulum senyum sambil menyimpan losion ke tempat semula.
Dimas mengantikan lampu menjadi temaram, kemudian berbaring di samping Naya, tangan Dimas meraih tubuh sang istri agar tidur dalam pelukannya, Naya pun membenamkan kepalanya di dada Dimas yang bertelanjang dada karena terkadang menjadi kebiasaannya kalau tidur tidak mengenakan baju.
Dimas mengecup mesra kening Naya, "Aku ingin kita selalu begini, selalu mesra.., sampai tua nanti, tak ada yang dapat memisahkan kita kecuali maut, aku akan setia sampai mati."
"Satunya mati, yang satu kawin lagi ya,?"sambar Naya, sembari memperlihatkan giginya.
"Hem..," Dimas singkat, tak ada suara lagi hanya suara napas yang teratur dari Dimas, Naya mendongk melihat wajah sang suami, "Sudah tidur,?" sementara Naya masih terjaga, sampai akhirnya rasa kantuk pun datang menyapa, Naya tertidur dalam pelukan suaminya.
Di pagi-pagi.
Dimas tengah merapikan diri, di bantu oleh Naya mengancingkan kemeja Dimas, "Sayang, hati-hati ya, jangan ngebut,? juga jaga mata tuh,?" Naya merapikan kerah kemeja, lalu menyisir rambutnya Dimas yang duduk di atas tempat tidur.
"Iya bawel, eh.., maksudnya jaga mata gimana,? jaga mata dari wanita cantik gitu,?" menatap lekat sang istri.
Naya mengangguk pelan, Dimas wajahnya melukiskan senyiman, merasa senang kalau istrinya bersikap cemburu, berarti dia sangat menyayanginya, "Tenang saja yang, kalau aku lihat wanita cantik, aku akan segera pulang ke sarang, ha..,ha..,ha..," Dimas tertawa.
"Huh.., emang sayang apa,? pulang ke sarang segala,? ular, pulang ke sarang,?" Naya heran.
"Iya sayang, ular yang selalu ada di tempat tidur ini," Dimas terkekeh sendiri, sementara Naya tersenyum samar.
Dimas membelai wajah sang istri dengan menatap netra matanya, "Sayang, hari ini aku akan telat pulang, gak apa-apa kan.?"
Dengan penuh penasaran, Naya bertanya, "Emang kenapa telat pulang,? pulang jam berapa,? mau kemana dulu sih.? kan biasanya juga pulang pukul satuan.?"
__ADS_1
Dimas menangkupkan kedua tangan di pipi Naya, dengan pandangan yang intens, "Satu-satu dong kalau bertanya, aku ada urusan di luar RS, ya itu.., ke lahan sawit, sudah lama aku gak ngecek kesana, paling aku usahakan pulang sore, oke,? oya soal bayar Dery itu urusan sayang, dan jumlahnya sesuai kesepakatan kemarin, kalau selesai langsung bayar, tapi.., pasti selesai hari ini juga sih."
Naya memeluk Dimas, "Aku pasti kesepian yang," dengan nada manjanya.
"Hem.., istriku manja juga, aku akan usahakan untuk cepat pulang sayang,?" Dimas mencium kepala sang istri, lalu Dimas mengangkat dagu Naya dengan jarinya membuat mereka saling bersitatap.
"Aku akan merindukanmu," Naya mencebikkan bibirnya.
"Apa lagi aku sayang, selalu merindukan dirimu,?" cup.., Dimas menyentuh bibir Naya dengan lembut dan mesra.
Cup.., lagi dan lagi Dimas mengecupnya, "Yang, aku hanya akan telat pulang, tidak menginap, apa lagi berhari-hari,? anggap saja aku bekerja satu hari, kok sayang manja betul.?"
Naya kembali memeluk tubuh Dimas dengan erat, "Kalau bukan bermanja sama kamu,? aku bermanja sama siapa yang,? di sini aku tidak punya siapa-siapa salain dirimu,? dan kakiku sakit, siapa yang akan menjaga aku.?"
Dimas mengusap punggung Naya, "Iya sayang, aku ngerti, aku sayang kamu, dan Bibi yang akan menjaga dirimu salama aku tidak ada, oya, nanti kalau ada orang yang mengantar mobil kesini, beri ongkos pulang ya.?"
"Baik lah," Naya melepas pelukannya, "Sudah siang, sayang sarapan dulu sana,?" sambung Naya, marapikan kembali baju Dimas yang kusut.
"Kita sarapan sama-sama ya,?" dengan nada yang sangat lembut, sambil meremas jemari Naya.
"Aku belum lapar, udah sana, nanti kesiangan," Naya mencium punggung tangan Dimas, begitupun Dimas selalu mencium kening sang istri kalau mau berangkat ataupun pulang kerja.
"Ok, jangan keluar dulu ya,? kakimu belum sembuh, nanti aku bilangin pada Bibi agar membawakan makan buat dirimu yang,?" Dimas mengambil tas, ponsel dan kunci motor kesayangannya, setelah mengucap salam, Dimas beranjak berjalan keluar dari kamar tersebut, satu langkah lagi melintasi pintu ia berbalik melihat Naya yang tengah memandanginya.
"Jaga dirimu baik-baik, kalau ada apa-apa telepon aku,? jangan lupa,?" ucap Dimas.
"Iya yang, aku akan baik-baik saja, jangan khawatir, kamu juga hati-hati yang,?" pinta Naya.
"Ya sudah, Assalamu'alaikum,?" Dimas membalikkan tubuhnya, berjalan melintasi pintu dan menutupnya kembali.
"Wa'alaikum salam..," jawab Naya sembari memandangi langkah Dimas sampai hilang di balik pintu.
Dimas mempercepat langkahnya, lantas duduk di deretan kursi meja makan, mengambil piring yang sudah ada nasi goreng buatan Bibi, dan langsung ia melahapnya.
"Pagi Tuan,?" sapa bi Taty yang keluar dari kamarnya.
"Pagi juga, Bi nanti bawakan makan buat Ibu di kamar, saya tidak ijinkan dia keluar kamar, kakinya masih sakit," ucap Dimas, sambil meneguk segelas air mineral, sebenarnya sih bukan cuma karena kaki Naya masih sakit, namun ia tidak ingin Naya menampak kan diri depan Dery, "Oya satu lagi Bi--!" sebelum Dimas melanjutkan ucapannya, ia melihat kanan dan kiri terlebih dahulu, "Bi, nanti kan kerjaan lift tangga selesai, ambil amplop bayarannya dari Ibu,? saya tak ingin Ibu bertemu Dery," setengah berbisik.
Bi Taty mencoba mencerna maksud dari ucapan Dimas, "Oh, baik Tuan, siap Bibi laksanakan."
"Terimakasih Bi,? saya pergi kerja dulu," Dimas bergegas menuju garasi untuk mengambil motornya, selepas mengenakan helm, Dimas segera menancap gas melajukan motor dengan kecepatan sedang.
Naya di kamar tengah bersimpuh, berdoa akan keselamatan sang suami, memohon kebaikan untuk rumah tangganya, kesehatan dan usia yang panjang, untuk semua, selepas duha Naya beranjak dengan wajah meringis kesakitan, ia duduk di sofa dan menyalakan TV.
Tok..,
Tok..,
tok.., Tiba-tiba pintu kamar di ketuk Bibi.dari luar, "Bu.., Bibi boleh masuk,?" pekik bi Taty.
"Boleh Bi buka aja, gak di kunci kok," sahut Naya, memandangi kearah suara.
Bi Taty masuk, membawa makan buat Naya, "Ini Bu, Bibi bawakan untuk sarapan Ibu, tadi pesan Tuan Bibi harus menjaga Ibu selama beliau tidak di rumah."
Naya melukis senyum di wajahnya, "Makasih Bi, gak perlu repot-repot nanti juga kalau aku lapar pasti minta tolong di bawakan."
"Berarti kalau gak lapar akan diem-diem bae Bu,?" dengan tatapan datar.
"He..,he..,he.., mungkin," Naya menyunggingkan senyum, "Oya yang kerja sudah makan Bi,?" sambung Naya.
"Sudah Bu, tinggal Ibu saja yang belum sarapan, apa lagi Bibi sudah Bu," memperlihatkan barisan gigi putihnya, Naya pun akhirnya sarapan yang di bawakan oleh bi Taty.
"Bu, tadi Tuan juga pesan sama Bibi, katanya Bibi ambil uang untuk bayaran pak Dery kalau kerjaannya sudah rampung gitu,? katanya lagi, Tuan itu tidak ingin pak Dery bertemu Ibu,? emang kenapa ya Bu,?" tanya Bi Taty penasaran.
,,,,
__ADS_1
Assalamu'alaikum...,? reader ku semua, semoga di malam ini kabar kalian selalu dalam lindungan Allah yang maha esa,🤲
Terimakasih masih berkenan mampir di karya aku ini, jangan lupa selalu laje, komen, ranting dan vote nya🙏🙏