Bukan Mauku

Bukan Mauku
Sangat Ceroboh


__ADS_3

Dimas bangkit dan berbaring di samping Naya, tak lupa mengecup kening sang istri sebagai ucapan terimakasih, dengan napas yang masih belum teratur, berbaring dan memeluk sang istri agar tidur di bahunya.


Mereka tertidur sangat lelap sampai pukul 11 masih juga melayang di alam mimpi, beberapa kali pintu di ketuk pun tak merubah posisi tidur mereka yang berpelukan.


Akhirnya Naya perlahan membuka mata dan mengucek nya, sudah hampir pukul dua belas siang, Naya meringsut lalu mengambil pakaian dan memakainya, kemudian pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, untuk sekian lama Naya berendam di bathub,


Dimas membuka mata melirik ke samping Naya sudah tiada, Dimas mengucek matanya melihat jendela matahari sudah begitu tinggi, pertanda hari sudah sangat siang, terdengar suara air dari keran kamar mandi, Dimas pun turun mendekati pintu, dan membukanya tampak Naya sudah mengenakan jubah mandi.


"Sudah bangun yang,?" sapa Naya.


"Belum, masih tidur dan bermimpi," sahut Dimas sekenanya sambil senyum samar.


Naya menggeleng dan keluar melintasi Dimas yang berdiri di pintu, "Aku sholat duluan ya.?"


"Hem," Dimas masuk dan menutup pintu kamar mandi.


Naya keluar kamar, dan menuruni anak tangga, di bawah langsung melihat Bapak mertua yang hendak ke dapur.


"Bapak, kapan datang,?" sapa Naya sambil meraih tangan Bapak mertuanya.


"Tadi, berapa kali Bapak ketuk pintu kamar kalian, tak ada yang menyahut,?" ucap Bapak Dimas.


"Oh, kami ketiduran Pak, baru bangun hi..,hi..," Naya duduk di kursi meja makan, begitupun Bapak mertua.


Bapak Dimas celingukan, "Dimas nya mana.?"


"Em.., Abang masih di kamar, sebentar lagi juga turun," sahut Naya dengan seulas senyumnya.


"Oh," sambil mengambil piring dan tuangi beberapa menu makanan.


Sekarang gantian Naya celingukan mencari keberadaan bu Hesa yang belum ia lihat, "Mama mana,?" Naya menatap Bapak mertuanya.


"Di kamar, merajuk gak mau pulang," ucap Bapak mertuanya.


"Oh, ya gak apa-apa Pak biar aja di sini, kan bukan di siapa-siapa juga,?" ujar Naya.


"Iya sih, tapi ladang sudah lama gak di urus, sayangkan kalau terbengkalai,?" sambil menyuapkan makan ke mulutnya.


"Ya biar saja Mama tinggal sini,? soal kerjaan mah kan bisa suruh orang Pak,?" ucap Naya sembari menyodorkan sayur.


Dimas turun dan menghampiri istri dan Bapaknya, "Kapan Bapak datang,?" Dimas duduk dekat istrinya.


"Dari pagi, beberapa kali mengetuk pintu kamar, tak ada yang menyahut,? sepertinya kecapean bis lembur pagi," sahut Bapaknya, sembari mengunyah tampa ekspresi.


"He..,he..,he.., ketiduran kali," Dimas menggaruk tengkuknya sendiri.


Naya mulai mengambil piring, satu untuk berdua, kemudian menyuapi Dimas dengan senang hati, sebelumnya mereka berdua membaca doa mau makan.


"Oya, Mama mana,? kok gak makan bareng kita,?" Dimas celingukan.


"Mamamu merajuk, gak mau pulang," sahut Bapaknya sambil meneguk minumnya, "Bi,? apa setiap makan majikan mu dari tangan istrinya,?" melirik bu Taty yang berdiri di pojokan, sambil mengelap tangannya dengan tisu.

__ADS_1


"Iya tu-tuan besar," jawab bi Taty sambil tersenyum melihat Dimas dan Naya.


"Hem.., enak bener ya,?" tiap makan di suapi,? lembur bisa kapan aja,?" sindir Bapak Dimas sembari nyengir kuda.


Dimas tak mau kalah, "Iri.., bilang bos,? turutin dong, istri punya juga," Naya hanya tersenyum simpul.


"Oh iya, kalau Mama gak mau pulang, ya biar saja Pak, Mama tinggal di sini,?" ucap Dimas pada Bapaknya.


"Tadi sudah bilang gitu aku sama Bapak,?" sambung Naya pada Dimas sembari menyuapi sendok terakhir.


"Entah lah, masa Bapak di rumah, sedangkan Mama kau di sini,? kapan indehoy nya,? masa kalah sama kamu,? ha..,ha..,ha..," ujar Bapak Dimas sambil tertawa.


Dimas dan Naya ikut tertawa begitupun bi Taty, menggeleng pelan.


"Ya sudah, Bapak mau bujuk dulu Mama kau di kamar," sembari beranjak dan berjalan menuju kamar bu Hesa.


Dimas mengambil piring dan gelas kotor lantas di cuci nya, bi Taty hanya membereskan meja makan, Naya berdiri hendak ingin mengambil buah dari lemari pendingin.


"Mau cari apa Bu,?" tanya bi Taty.


"Buah-buahan Bi," sahut Naya melihat-lihat lemari pendingin, dan bi Taty langsung mengambilkan buah-buahan yang Naya cari.


"Ini Bu," bi Taty memberikannya pada Naya.


"Makasih Bi,?" Naya mengupasnya, Dimas selesai mencuci bekas makannya.


"Bi sudah makan,?" Naya melirik bi Taty.


Dimas membuka pesan entah dari siapa, "Yang ijin ya.?"


Naya menatap dengan rasa penasaran, "Kenapa,? kemana juga.?"


"Aku ada urusan di perkebunan, bi tolong ambilkan saya kunci motor di atas meja kecil di kamar,?" Dimas mengalihkan pandangan pada bi Taty, dan bi Taty langsung berlalu.


"Baik Tuan,?" meninggalkan tempat tersebut.


"Kok mendadak,?" dengan tatapan sendu.


"Iya sayang ada hal penting yang harus aku urus di sana, gak lama sayang paling telat malam pulangnya," ujar Dimas mengusap pipi Naya lembut.


"Tuh kan.., pulang malam,?" dengan nada manja dan menyandarkan kepalanya di dada Dimas membuat Dimas menjadi gemas.


"Hem.., istriku manjanya..,? yang jelas aku tidak nginep sayang, jadi sayang tidak bobo sendiri kok,?" Dimas mendekap mesra Naya, "Masa gak cukup bulan madunya,?" bisik Dimas sambil menyeringai, Naya mencubit paha Dimas, membuat Dimas memekik kesakitan.


"Sakit sayang..,?" Dimas melepas dekapannya dan memandang lekat wajah sang istri, "Di ijinkan nggak yang.?"


"Di ijinkan, tapi.., rus janji, cepat pulang,?" ucap Naya sendu, cup dengan cepat Dimas mengecup bibir Naya dengan mesra, namun tak berlangsung lama, karena bi Tary sudah kembali membawa kunci yang Dimas pinta.


"Ini Tuan kuncinya,?" bi Taty menyodorkan kunci motor.


"Iya Bi makasih, titip istri saya ya Bi,? takut ada yang ganggu,?" dengan tangan membingkai wajah sang istri.

__ADS_1


"Baik Tuan..,?" sahut bi Taty.


"Ya udah hati-hati ya bawa motornya,? jangan ngebut,? cepat pulang juga,?" pesan Naya mencium punggung tangan Dimas.


"Iya bawel.., sayangku,? oya bilang sama Bapak Mama aku pergi sebentar,?" Dimas mendaratkan ciumannya di kening Naya.


"Ok," lirih Naya.


"Assalamu'alaikum..,?" Dimas beranjak menuju garasi tuk mengambil motornya.


"Wa'alaikum salam..," Naya memandangi punggung Dimas dari jauh.


Naya melanjutkan mengupas buah yang tadi terpotong, lantas memakannya, "Bi makan buah Bi,?"


"Iya Bu,?" bi Taty mengambil sepotong buah yang sudah Naya kupas.


Naya melirik ke arah kamar mertuanya namun sepi, dan lama tak ada yang keluar mungkin mereka tidur, Naya beranjak dari duduknya mendekati pintu keluar.


"Ibu mau kemana,?" bi Taty langsung bangkit mendekati.


"Keluar jalan-jalan Bi," Naya menoleh bi Taty.


"Biar Bibi temenin," lalu bi Taty berjalan di belakang Naya, Naya mau ke taman yang ada di sampung rumah berdekatan dengan kolam renang.


Ketika melihat-lihat bunga-bunga tak sengaja Naya melihat jendela kamar depan terbuka.


Tiba-tiba Naya memalingkan muka, "Astagfirullah, kenapa gak di tutup sih itu jendela,?" gerutu Naya dalam hati setelah dengan tidak sengaja melihat adegan pasutri di dalam.


"Ada apa Bu,?" tanya bi Taty pada Naya, dia tidak ngeh dan menatap majikannya.


"Nggak Bi, kita balik aja Bi di luar panas,?" sembari tergesa-gesa kembali ke dapur, bi Taty tidak mengerti namun tidak mau banyak bertanya dan mengikuti Naya kembali ke dalam.


"Ya ampun.., sangat ceroboh, gimana kalau ada yang melihat selain aku, kan gak enak, apa lagi kalau yang lihat itu anak kecil,? gila.., gila banget, sudah jendela terbuka, gak memakai selimut lagi, " batin Naya terus menggerutu, dan melirik bi Taty yang duduk di sofa.


"Bi istirahat sana,? tidur siang,?" suruh Naya pada bi Taty.


"Ibu gak akan ke mana-mana,?" tanya bi Taty khawatir majikannya keluar sendiri.


"Aku, gak Bi, aku juga mau naik ke kamar panas ih," Naya mengipas-ngipas badan dengan telapak tangannya.


"Oh, kalau begitu sih baiklah Bibi mau tidur, kalau perlu sesuatu panggil Bibi aja ya Bu,?" bi Taty mengunci pintu dapur.


"Iya Bi," Naya naik ke lantai atas, dan bi Taty masuk ke dalam kamarnya.


Naya sambil berjalan terus aja bergidik dan menggeleng pelan kepalanya, mengingat apa yang dia lihat tadi sungguh membuat berjubel dalam memori pikirannya.


Sampai akhirnya Naya sudah berada di dalam kamar mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, menyalakan TV dan menonton acara yang sebenarnya tidak dia sukai, dia memukul-mukul keningnya, "Gila.., gila..,gila.., sangat ceroboh."


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2