
Yuk budayakan lake lebih dahulu sebelum membaca, komen, dll nya juga biar aku tambah semangat belajar menulisnya.
Terimakasih kepada semua yang sudah berkenan hadir dan membaca novel recehan seperti ini 🙏
******
"Wahh, belum apa-apa aku jadi merasa tersanjung" sahut Citra.
"Tersanjung, sinetron jaman dulu kali ah." gumam Dimas pelan, bahkan terdengar oleh Ibunya dan Citra keduanya melihat Dimas, Dimas yang merasa, langsung melengos pergi.
Ia membawa troley belanja ke kasir, Ibunya mengekor di belakang, berjalan seiringan dengan Citra, kemudian Citra mendekati kasir hendak membayar, kebetulan Dimas selesai membayar ia berjalan berlawanan arah, ketika Dimas melintasi Citra, "Jangan SKSD sama Ibuku, saya tidak suka." bisik Dimas seraya melenggang menenteng belanjaan.
Citra yang mendengar itu, termangu wajahnya berubah pucat pasi, dia menunduk ke bawah menggigit bibir bawahnya, mata berkaca-kaca, menarik napas dalam, sakit..,rasanya belum apa-apa sudah ada penolakan dari seorang pria, "Sumpah baru kali ini aku di tolak sapa pria macam dia." giginya mengerat geram, marah, ia membalikan badan melihat Dimas yang berjalan dengan santai nya, bersama bu Hesa.
Dimas berjalan dengan santai, bibirnya menyeringai puas, sesekali menggeleng pelan.
"Kenapa Dim.?" bu Hesa lirih melihat Dimas menggeleng.
"Hehe..,tidak Mak." tetap berjalan mendekati mobil, usai menyimpan belanjaan Dimas masuk dan duduk di belakang kemudi, bu Hesa sudah lebih dulu duduk sebelahnya, ia menancap gas, melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menuju pulang.
Dalam perjalanan, bu Hesa mengajak ngobrol, memecah keheningan. "Mamak rasa.., si Citra naksir kepada dirimu Dim," melirik dan tersenyum.
"Mungkin." singkat.
"Kamu itu banyak yang naksir, cantik-cantik, berpendidikan juga," tersenyum bangga. Dimas hanya mengerenyitkan keningnya, ia tak langsung menjawab fokus dulu dengan jalanan didepan, kemudian Dimas melirik Ibunya sekilas.
"Kalau banyak yang suka, ya Alhamdulillah, namun di pilih atau tidaknya itukan hak aku Mak, dan siapa jodoh kita tak pernah tahu, lagi pula aku sudah punya janji dengan seseorang, sok pasti aku harus membuktikan terlebih dahulu, Mamak pasti juga tidak ingin aku yang Mamak banggakan ini menjadi orang pembohong.? orang yang suka ingkar janji kan.?"
Bu Hesa tak bergeming di tempat, beliau kesal, pasti yang Dimaksud Dimas sudah janji, tentunya janji pada kekasih hati Dimas yang di bilang cacat itu.
Sampai di rumah bu Hesa tak membuka mulutnya lagi walau sekedar tuk menyuruh membawakan belanjaan di bagasi.
__ADS_1
Dimas pun membiarkan saja, karena ia mengerti bahwa Ibunya belum bisa membuka hati buat Kanaya, wajarlah kan belum mengenalnya.
Usai membawakan sebagian belanjaan ke dapur, Maria sudah ada di sana untuk membereskan, Dimas berlari kecil menuju tangga.
"Abang, tadi ada kak Karmila kesini." ucap Maria.
Dimas menoleh kebelakang, menatap Maria, "Mau apa dia.?"
"Katanya sih mau pamitan." sahut Maria sambil membereskan barang-barang.
"Siapa yang tadi datang Maria.?" tanya bu Hesa.
"Kak Karmila Mak, katanya mau pamitan." tambah Maria.
Bu Hesa baru saja mau bicara kepada Dimas, namun orangnya sudah menaiki tangga.
Dimas telah berada di kamarnya, mendekati lemari mengambil sebuah kotak dari laci lemari bajunya, ia bawa ke atas tempat tidur, duduk bersila dan membuka kotak tersebut yang berisi sebuah cincin bertuliskan huruf nama Dimas dan Kanaya yang di singkat menjadi dua huruf DK.
Dimas tersenyum tulus melihat cincin tersebut dengan kedua jarinya. "Yang, aku sudah siapkan cincin seperti kamu minta, cincin bertuliskan huruf awalan nama kita berdua, tunggu aku sayang," mencium cincin itu. kemudian ia masukan kembali kedalam kotak, di selipkan ke bagian dalam koper yang sudah berisi pakaian, hasil berkemas semalam.
******
Naya tengah duduk di lantai kamar memeluk kedua lututnya, ia termenung seorang diri mengingat nasib yang ia alami.
Sebagai mana hubungannya dengan Dimas yang jarak jauh, dengan kata gaulnya LDR, Naya pun berusaha mencari pria yang mungkin saja akan menjadi jodohnya.
Ia sadar betul kalau sampai detik ini hubungan dengan Dimas masih tergantung, maka ia berusaha keras mencari yang ikhlas ataupun tulus, menerima dirinya selain Dimas,
Setiap ada yang mengajak kenalan di medsos ia layani, bukan cuma buat teman saja di FB namun siapa tahu aja akan menjadi jodohnya, di dalam nyata memang ruang Naya sangatlah terbatas tapi..., kan di medsos bebas.
Di awali perkenalan, lanjut pendekatan, karena tak ingin ada dusta Naya selalu jujur akan kondisinya yang lumpuh, status sebagai janda tiga hari, ia ceritakan semua, namun setelah Naya mencoba membuka hati, tersimpan harapan lebih, malah kebalikannya, ada yang sempat bertemu ada juga sebatas dekat di medsos, lama-lama mereka menjauh, akhirnya menghilang, di FB menghilang, mungkin di blok duluan di WhatsApp juga sama, setiap kali selalu saja seperti itu, lagi, lagi dan lagi.
__ADS_1
Begitupun dengan Erik seorang pria bisu yang Andi bawa, tak ada kabar sama sekali, padahal dia bilang akan kembali bersama keluarga walau pun sekedar untuk silaturahmi, buktinya tak ada, "Oh, mungkin dia tidak mau beristri seperti aku" gumamnya, intinya sih bukan jodoh.
Berbeda dengan Dimas, dalam hal pendekatan sampai detik ini masih saja dekat, seandainya tidak kabar pun paling karena tidak ada pulsa, karena setahu Naya Dimas tak main FB juga tak punya WhatsApp seperti kebanyakan orang, ponsel pun jadul, itu yang dia bilang.
Sudah bertahun-tahun lamanya sikap dia tak pernah berubah, bahkan semakin memperlihatkan rasa sayang terhadap dirinya, meskipun terkadang rasa ragu menghampiri, tak percaya, bimbang, dan sebagainya.
Biarpun yang lain dengan istilah keluar masuk, namun Dimas tetap dalam posisinya yang sama.
Seperti saat itu, ponsel milik Naya berdering, Naya mengilurkan tangan mengambil ponsel, kemudian menyentuh ikon hijau panggilan tuk menerima.
"Halo yang," Sapa Naya setelah tau yang telepon adalah kekasihnya.
"Halo.., juga sayang, lagi apa.? kangen sayang." kata Dimas.
Naya menyungging senyum, "Ah, tiap hari juga telepon, selalu.., bilang begitu, gombal banget, sih."
"Gak apa-apa lah, sama calon istri aku ini bah." elak Dimas, membuat hati Naya berbunga-bunga dengan kata calon istri.
"Calon istri dari Hongkong," canda Naya terkekeh kecil.
"Dari Semi dong masa dari Honggkong.?" sahu Dimas.
"Yang.., aku sudah siapkan cincin buat dirimu, dan sesuai permintaan, berhuruf DK senang gak.?"
"Oya.? bohong ah.?" Naya seolah tak percaya.
"Bener bah.! buat apa bohong.?" Dimas meyakinkan. "Tunggu ya, secepatnya pasti aku akan datang, kita akan menikah, ? oya gimana pria yang bernama Erik itu apa ada datang lagi melamar dirimu.?"
Naya menarik napas panjang tak langsung menjawab. "Emm..,gak ada yang, mungkin bukan jodohku." berpikir positif-posotif saja.
"Alhamdulillah...,!" sahut Dimas sangat bersyukur, Naya menaikan alisnya sebelah, dengan seutas senyuman.
__ADS_1
,,,,
Seandainya kalian suka dengan novel recehan aku, silahkan meninggalkan jejak ya 🙏 agar aku tahu seberapa banyak yang suka dengan ceritaku.!