
Naya sudah menganga untuk bicara, namun melihat bu Hesa masuk dan duduk di meja makan, membuat keduanya terdiam dan hanya tersenyum pada bu Hesa.
"Hem.., sudah siap berangkat kerja kau,? sapa bu Hesa pada Dimas.
"Iya Mak, yuk sarapan Mak."
"Dan kau jadi buka konter hari ini,?" menatap menantunya.
"Jadi..,nanti agak siangan," sahut Naya sambil mengambil Nasi goreng buat Dimas dan roti untuknya sarapan.
"Semoga lancar ya,?" ucap Dimas sambil membuka mulutnya ketika Naya suapi.
"Aamiin, makasih..?"
Tidak ada yang bicara lagi semuanya fokus dengan sarapannya, Dimas meneguk minuman mineral miliknya, "Sayang sarapan yang banyak, biar gak kelaparan," menatap sang istri yang hanya sarapan roti dan susu coklat saja.
"Bi, nanti anterin aku ikan goreng ya,? udah kenyang gimana," Naya menoleh bi Taty dan Dimas bergantian.
"Hem.., sebentar," Dimas menatap bibir Naya yang belepotan bekas susu, kemudian ia bersihkan dengan telunjuk dan menjilatinya, Naya tersipu malu, Naya mengambil tisu dan mengelapnya.
"Belepotan gitu," Dimas menjilati jarinya, "Ya udah aku mau mengambil perlengkapan kerja dulu," Dimas beranjak dari duduknya bergegas menaiki anak tangga.
Naya membereskan bekas makan, lalu di ambil bi Taty untuk di cuci, setelah itu Naya pamit sama Mama mertua untuk naik, mengikuti Dimas ke kamar.
Kini Naya sudah berada di dalam kamar, Dimas sedang merapikan kemejanya dan memakai baju kebesarannya, Naya membantu, "Pulang jam berapa nanti yang.?"
"Belum tau juga, mau ayah antar ke konternya hem..,?" mengelus pipi Naya.
"Em..,nggak ah, aku mau duha dulu, nanti aja agak siangan," menatap wajah suaminya yang tampan itu.
"Kan bisa di sana, sudah tersedia juga alat sholat di sana, aku takut bunda jatuh gak ada yang tau gimana,?"
Naya mengalungkan tangan di leher Dimas, "Em..,iya ya, boleh lah di antar kebetulan malas jalan juga," dengan manjanya.
"Tuh kan hem..,akhirnya manja juga," Dimas mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Naya dengan lembut.
"Hem.., emangnya gak boleh manja sama suami sendiri,?" menatap lekat kearah suaminya.
"Boleh, ya sudah kita berangkat sekarang,?" Dimas meraih ponsel di meja di masukan ke sakunya.
"Iya, laptopnya masukan dulu ke tas," pinta Naya menunjuk laptop.
Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan, keduanya berjalan meninggalkan kamar, mulai hari ini Naya punya kesibukan sendiri.
Hari pertama konter masih sepi dan buka cuma sampai sore, kini Naya sedang duduk di mesin jahit memeriksa pakaian yang di buat semalam, dan sudah di setrika dengan rapi.
__ADS_1
Naya membawanya ke bawah, mencari keberadaan Mama mertua, kebetulan ada di kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok.., Naya mengetuk pintu kamar bu Hesa, "Permisi.., Mama ada di dalam.?"
Tidak lama pintu terbuka dan bu Hesa berdiri dengan muka datar, "Ada apa.?"
Naya menunjukkan yang dia bawa, "Ini aku buatkan baju buat Mama, boleh aku masuk.?"
"Masuk lah," sembari ngeloyor ke dalam dan Naya mengikuti dari belakang dan duduk di tempat tidur.
"Aku bikinkan baju buat Mama, cobain dulu lah, kalau sudah di cobain, suka syukur gak suka juga gak papa, kalau ukuran sih sepertinya pas but Mama," Naya memberikan satu gaun santai pada Mama mertua.
Bu Hesa menatap gaun itu tidak lekas mengambilnya, namun lama-lama mengambil juga, dan di bawanya ke toilet, lima menit kemudian balik lagi dengan gaun yang Naya berikan.
Naya tersenyum bahagia, "Wah beneran pas loh di badan Mama," Naya mengamati bu Hesa dan mengambil beberapa poto buat sempel.
"Enak juga di pakainya," ucap bu Hesa perhatikan bajunya.
"Mama suka,?" Naya menatap wajah bu Hesa yang roman atau bahasa wajahnya sulit di tebak.
"Suka sih nggak, cuma bilang enak aja di di pakainya, nyaman, modelnya sederhana tapi bagus."
Bu Hesa serentak menoleh Naya, "Eh.., mau di kasih siapa,? dari pada di kasih orang yang belum tentu suka, mending saya pakai aja, ngapain di kasih orang.?
Naya merasa lucu dan menyembunyikan senyumnya, "Kok bisa-bisanya bilang gak suka namun di kasih orang tidak boleh, aneh nih Mama," batin Naya.
Bu Hesa duduk dengan santainya, dengan pakaian itu masih melekat di badannya, "Boleh gak di bikin lagi semacam ini? tapi.., dengan motif yang berbeda batik Kalimantan misalnya."
"Oh tentu bisa, Mama mau? boleh besok aku mau cari bahannya dulu ya, kalau sudah ada, aku bikin kan buat Mama sekalian buat sempel-sempel yang lain," alangkah bahagianya hati Naya bu Hesa suka dengan apa yang telah ia buat dan malah minta di bikinkan lagi.
"Jangan senang dulu, bukannya saya suka dengan kerjaan kau, tapi.., lumayan aja dari pada saya harus beli dari toko," dengan tatapan datar dan sedikit angkuh.
Naya tersenyum tipis, "Iya Mak, ok aku keluar dulu ya," Naya pun keluar dari kamar mertuanya.
"Hem.., pandai juga dia, boleh lah," matanya tertuju pada gaun yang ia kenakan.
Naya mulai menjelajah toko online yang menjual bahan-bahan pakaian, dan Naya langsung memesan setiap yang dia butuhkan.
Dimas pun yang duduk di sebelah Naya sibuk dengan laptopnya, dia melirik sang istri yang sudah bersiap untuk tidur, "Yang besok mulai terapi lagi ya,? Aldo akan datang besok untuk terapi bunda."
"Iya," sambil menguap, karena tak tahan dengan rasa kantuk, Naya menarik selimut dan memejamkan matanya yang terasa kesat sekali.
__ADS_1
"Yang, yang..,?" karena tidak terdengar suara dari Naya, Dimas menoleh ternyata Naya telah tertidur.
"Hem..," Dimas menggeleng, melihat waktu sudah pukul sebelas rupanya, karena sudah menguap, ia pun menutup laptopnya menyimpan di atas meja, menarik selimut mengelus perut sang istri, "Apa kabar sayang, baik-baik di sana ya, jangan buat susah bunda, yang sehat di sana," kemudian Dimas menciumnya perut itu, memeluk dan mulai memejamkan matanya.
****
Sudah tiga minggu ini Naya menjalankan aktifitasnya di konter yang lumayan laku, tidak hanya yang datang namun juga lewat online Naya layani juga yang penting amanah, pembayaran tepat, mulai buka pukul 08.00 tutup pukul 15.00, hari minggu libur, kecuali online tidak ada liburnya.
Di rumah
Naya menyibukkan diri dengan desain baju, dari dewasa sampai anak-anak, ada beberapa sempel baju yang sudah Naya promosikan lewat online, dan perlahan ada juga yang pesan, terutama untuk saat ini ada beberapa yang pesan gaun dari bahan batik Kalimantan.
Kebetulan soal menjahit ada asisten Naya yang Dimas datangkan dari kampungnya, yang bernama Angelica, dengan panggilan Lisa, usianya masih sekitar 20 THN.
Jadi kalau Naya di konter, ada pekerja yang menjahit di rumah, Naya cuma bagian mendesain dan memotong, kecuali kalau ada bagian yang tidak dia mengerti baru konsultasikan dengan Naya lewat vidcal.
Walau begitu tetap aja Dimas banyak komplain, akan kesibukan nya yang dia anggap sedikit waktu buat suaminya padahal nggak juga, ya wajar lah kalau siang gak bisa nemenin istirahat, makanya Dimas lebih memilih tidur siang di konter agar dekat dengan istrinya, lagian merasa risih kalau banyak di rumah tanpa ada istri, sebab ada penghuni baru ya itu Angelica wanita muda nan cantik dan kerap menjadi model untuk Naya.
Setiap hari untuk makan siang saja di anterin sama Bibi ke konter, biar cuma beberapa langkah dari rumah tetap aja Naya dari pagi sampai sore di konter baru pulang ashar, soal menjahit pakaian ia pantau dari jauh.
Saat ini Dimas tengah tiduran di sofa, kepalanya berada di pangkuan Naya, kebetulan tidak ada pembeli yang datang, "Yang.?"
"Hem.., ada apa,?" jarinya mengelus pelipis suaminya.
"Seminggu lagi Mama ulang tahun, dan waktunya kita umumkan kehamilan bunda, pasti mereka bahagia mendengarnya," Dimas dengan pandangan menerawang.
"iya, terserah kamu aja," Naya sedikit melamun.
Dimas mendongak lalu duduk, "Mikirin apa sih,? jangan bilang sedang mikirin desain pakaian, ayah gak suka bunda terlalu sibuk dengan kerjaan, pikiran, sampai suami depan mata pun tidak di perduli kan," sergah Dimas rahangnya mengeras merasa sangat kesal, hingga membuat Naya kaget bukan main, baru kali ini suaminya berkata keras padanya
"Sayang kenapa bicara seperti itu,?" menatap sesaat lalu menunduk, aku cuman memikirkan gimana reaksi mereka Mama kalau tahu aku hamil," lirih dan meneteskan air mata, sakit rasanya, di bentak oleh orang yang selama ini sikapnya lembut dan penyabar.
Dimas terdiam melihat istrinya menunduk dan ada butiran bening jatuh dari matanya, "Akhir-akhir ini kamu lebih menyibukkan diri, malam kita bertemu langsung tertidur karena capek, sedikit waktu untuk kita melepas rindu, bahkan tidak ada karena siangnya kita sama-sama sibuk juga," masih dengan suara sedikit tinggi
Naya mendongak dan mengusap pipinya yang basah, "Itu perasaan kamu aja karena dulu aku tidak ada kerjaan, dulu kerjaku hanya tidur dan melayani suami, wajar dong kalau sekarang keseharian 'ku sedikit berubah,? tapi..,aku merasa aku tidak lupa akan kewajiban 'ku sama kamu, kamu aja yang sedikit dingin."
"Apa.., bunda bilang ayah dingin,? bukankah sebaliknya, bunda yang semakin posesif, gak ada gairah, alasan capek, apa harus aku memintanya di sini dan membuktikan bahwa aku tidak dingin," menurunkan suaranya menatap bola mata Naya sesekali melirik sofa panjang, tangannya mencengkram kedua belah bahu Naya, membuat Naya ketakutan, keringat dingin keluar dari pori-pori kulit Naya.
"Ti-tidak, ja-jangan di sini yang,? ini bukan tempat yang tepat," suara Naya gugup khawatir dengan ucapan Dimas, Naya tidak bisa membayangkan jika itu terjadi di tempat ini, Naya mengerti dengan apa yang di maksud suaminya yang mungkin merasa kurang belaian dari dirinya.
Terlihat ada seseorang berjalan menuju konter, seorang pria bertopi hingga wajahnya tertutup oleh topinya, Dimas mengenalnya makanya Dimas beranjak dari duduk dan menyambut orang tersebut, siapa kah dia...?
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!