
"Baru tahu kah kalau suamimu ini memang tampan.?" sahut Dimas tanpa membuka matanya, Naya segera membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Tah butuh waktu lama untuk menjelajahi alam bawah sadar mereka, angin malam yang menyelimuti kedua tubuh dau insan tersebut, hinga semakin erat saling mendekap satu sama lain.
Pagi-pagi buta yang mau mengantar Naya beserta Dimas sudah bersiap, ya itu Pak Nanang, si Aa adik laki-laki Naya, dan suaminya Lely, akan langsung mengantar sampai rumah Dimas di Kalimantan.
"Mobil sudah siap di atas." kata suami Lely. pada Dimas dan pak Nanang.
Naya menitiskan air mata ketika melihat bu Nina menangis karena mau di tinggalkan Naya. "Lain kali kalau ada rejeki kalian main ke tempat aku ya.? dan doakan aku agar di sana betah dan baik-baik aja, semoga kita semua panjang umur agar kita dapat bertemu lagi," tutur Naya mengusap air matanya.
"Saya pamit Bu, lain kali kita pasti akan bertemu lagi," ucap Dimas bersalaman dengan mertua perempuannya.
"Kami paling tiga hari ya bang di sana.?" tanya suami Lely pada Dimas.
"Kalau mau lama juga gak apa-apa kok, kerja di kebun sawit, he..he..he..!" sahut Dimas, Si Aa membawa koper milik Dimas.
"Kalian baik-baik aja ya.? dan kalian anak-anak jangan nakal nanti Videocall sama uwa ya.?" ujar Naya pada Lely dan anak-anaknya.
"Oya doakan semoga semuanya selamat, dan Bapak, juga suami kamu Ly paling tiga hari langsung aku suruh pulang kembali," Lely pun mengangguk sembari menyeka air bening di sudut matanya, Naya di bopong suaminya ke mobil yang sudah menunggu di atas.
Bu Nina Lely si bungsu, dan kedua anak Lely mengekor di belakang, pak Nanang dan suami Lely juga putranya sudah duluan masuk mobil.
Naya mengalungkan tangan di leher suaminya, ini pertama mungkin juga yang terakhir meninggalkan keluarga dan tempat tersebut, "Selamat tinggal semuanya.?" gumam Naya memandangi kearah jalan yang sudah di lalui nya.
Kini mereka sudah masuk ke dalam mobil, bersiap berangkat, mata Naya melihat ke arah rumah yang selama ini ia tempati, rasanya berat sekali meninggalkan, karena entah kapan atau mungkin tak kembali, ke tempat tersebut, tanpa terasa air mata mengalir begitu deras, Dimas melirik ke arah yang Naya pandangi, "Sayang..! suatu saat nanti kita pasti kembali, yang penting ada usia dan rejekinya, jangan menangis." Dimas menyeka air mata Naya dan mendekapnya.
__ADS_1
"Jalan pir." Kata Suami Lely ke supir, mobil melaju dengan kecepatan sedang, semua yang mengantar melambaikan tangan sebagai perpisahan, di balas dengan lambaian kembali dari Naya, di barengi dengan tangis yang pecah dari Naya.
Dimas tak tega, meraih kepala Naya ke pelukannya. "Jangan nangis yang, kau bersamaku." mengecup pucuk kepala istrinya. lama-lama Naya merasa capek dan tertidur.
Beberapa jam kemudian sampailah di bandara, setelah check-in mereka langsung masuk pesawat, Naya duduk bersama sang suami, sementara pak Nanang dengan putranya, dan suami Lely duduk sendiri, di sebelahnya.
sepanjang perjalanan, tak ada yang berbicara, pak Nanang juga putranya, tertidur begitupun dengan Suami Lely, Naya hanya memandangi awan yang indah dari balik jendela, kebetulan dirinya duduk di sisi jendela.
Dimas sesekali pejamkan mata, bicara pun Naya enggan menjawab, namun tangan Dimas tak pernah lepaskan genggamannya dari tangan Naya.
Kurang lebih satu jam pesawat sudah mendarat di bandara Pontianak, dari rumah sampai saat ini Dimas masih selalu membopong Naya, sedangkan koper Si Aa yang bawa, atau suaminya Si Lely yang bawa. Dimas hanya fokus pada sang istri tercinta, karena suasana sudah sore. "Kita cari penginapan aja, biar istirahat dulu, besok pagi baru ke rumah." ujar Dimas sambil duduk di kuris mobil.
"Emang kenapa gak langsung ke rumah aja Bang." tanya suami Lely menatap penuh tanda tanya.
"Kalau langsung ke rumah pasti kemalaman, mendingan kita cari penginapan saja di sekitar sini, lapar juga." kata Dimas mengusap perut datarnya.
Tak selang lama di jalan, mereka sudah sampai di penginapan, Dimas pesan Dua kamar saja, buat dia dan Naya satu, Buat pak Nanang dan putranya juga menantunya satu kamar yang tiga tempat tidur.
Dimas duduk di tepi tempat tidur, begitupun Naya, habis sholat magrib ia melipat mukena dan sejadah miliknya. "Yang.., maaf ya aku akan selalu merepotkan mu.?" Naya tertunduk dalam di sisi suaminya.
"Sayang kenapa bilang seperti itu.? Dimas membalikkan badan menghadap Naya dan meraih tangan sang istri lantas dikecupnya. "Aku akan selalu menjadi kakimu tuk berjalan sayang." menempelkan punggung tangan Naya di dagunya.
Naya sangat terharu, mendengar ucapan Dimas, dengan pandangan mata nanar, ia hanya bisa menelan Saliva nya tanpa mampu berkata-kata.
Melihat Naya mata berkaca-kaca segera Dimas meraih tubuh sang istri merengkuh ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, dan akan selalu menyayangi selama-lamanya." Dimas mencium kepala sang istri. "Akau akan selalu menjagamu sampai kapanpun."
__ADS_1
Naya pun semakin terharu jatuhlah air matanya membasahi dada Dimas, Dimas semakin mendekap tubuh sang istri rasanya tak ingin sedikit pun melepaskan, "I love you." bisik Dimas di telinga Naya, ada rasa bahagia yang tak terhingga yang bisa di lukis kan dengan kata-kata, "Semoga ini bukan tuk sementara tapi.., untuk selamanya." gumam Naya pelan, Dimas pun hampir tak mendengarnya, Dimas mendongakkan kepala Naya ia seka air mata di pipinya.
"Makan yuk, aku sudah pesankan tuk kita berdua di sini." tutur Dimas mencium kedua pipi Naya, sementara Naya berpikir gimana dengan Bapak dan adik-adiknya, makan di mana.?
Dengan wajah yang melukiskan senyuman di sudut bibirnya ia mengerti dengan apa yang di pikirkan sang istri. "Sayang, yang lain sudah aku suruh makan di luar, jadi kau tak perlu khawatirkan mereka hem.?"
Naya tersenyum malu, "Ya sudah, mana makanannya aku sudah lapar.?" rajuk Naya menatap suaminya penuh kasih.
"Bentar lagi kali yang, sabar ya.?" mengusap bahu sang istri kesayangan nya.
Tok, tok, tok.
"Sebentar.?" Dimas bergegas membuka pintu, ia pikir pasti yang mengantar makan malam, benar saja buat makan malam sudah datang, dan Dimas membawa ke dalam kamar.
"Makan malam sudah siap yang, yuk kita makan.?" Dimas menyodorkan pada Naya yang sibuk dengan ponselnya, lalu ia menyimpan benda pipih tersebut dan langsung melahap nasi putih dan sup iga sapi, tapi Dimas malah melihat Naya tanpa menyuap.
"Kenapa gak di makan yang.?" setelah menelan makanan di mulut, Dimas memandangi makanannya, Naya baru ingat kalau suaminya hanya akan makan bila dari tangan sang istri, "Biar aja aku pengen lihat dia makan sendiri apa nggak.?" pikir jahilnya Naya, bila perlu sampai ia selesai makan.
Benar saja Dimas dari pada makan ia lebih memilih main handphon, Naya jadi gak tega, usai meminum air jus, Naya mengambil makan malam Dimas, "Yang sinih mau aku suapi kan.?" lirih Naya, suaminya pasti lapar sekali, eh malah ia sendiri yang duluan makan. Dimas menoleh kearah Naya.
"Apa sayang sudah makannya.?" tanya Dimas melihat bekas makan Naya sambil mendekati Naya.
"Sudah yang, aaa.. buka mulutmu.? serasa punya anak, mau makan aja mesti di suapi, hi..hi..hi.." ejek Naya, Dimas tak perduli dengan perkataan Naya, ia begitu lahap makan dari suapan sang istri, "Yang maaf ya.? aku sudah membiarkanmu kelaparan, aku malah egois makan duluan." dengan mata nanar, Dimas berhenti mengunyah, dengan tatapan lembut. "Nggak apa-apa yang, sekarang bunda memperhatikan aku, terimakasih sayang.?"
"Ini satu kali lagi aam..," Naya seolah menggoda sang suami. bak anak kecil yang sulit makan kecuali di suapi.
__ADS_1
,,,,
Terimakasih reader aku.? yamg masih setia mampir di sini.! jangan lupa lake selalu, komen, tinggalkan jejak bila sudah membaca ya.?🙏🙏