
Dua kecupan mendarat di kening Naya dengan mesranya, Naya tak bergeming. "Sayang bangun." bisik Dimas dekat telinga Naya.
Tubuh Naya menggeliat, sedikit membuka matanya, remang-remang wajah Dimas di hadapan nya tersenyum manis, lalu melihat jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. "Yang.., kapan pulang.?" dengan suara parau khas bagun tidur.
"Baru datang sayang, maaf kan aku, tadi lupa membeli bajumu sayang.?" Dimas memeluk sang istri.
"Gak apa-apa yang, aku sudah maafkan kok," membalas pelukan sang suami.
Hening..
Mereka berpelukan sangat erat tanpa satu pun berbicara, menumpahkan segala rasa rindu yang selalu ada meskipun selalu bertemu, Dimas mencium pucuk kepala Naya, "I love you."
"I love you too. yang.?" lalu membenamkan wajah di dada Dimas, sementara waktu mereka larut dalam perasaannya masing-masing.
Dimas menaikan dagu sang istri, lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah istri tercinta, makin lama wajah keduanya semakin dekat, napas Dimas menyapu hangat wajah Naya, rasanya semakin merinding yang menyebabkan rasa aneh bergejolak dalam diri Naya.
Dengan suara berat dan napas mulai terengah-engah, darah di tubuhnya, mulai memanas, "Yang..?" lirih Dimas, desiran rasa yang aneh menyelinap ke dalam kulit, dada yang bergemuruh, napas tak beraturan, penuh dengan gairah yang mulai memuncak.
Ia men**** bibir sang istri dengan lembut, semakin dalam dan semakin menuntut lebih, tangan Dimas sudah tak bisa di kondisikan lagi hingga beregelia ke mana-mana.
"Yang sudah gak tahan sayang." racau Dimas menatap manik mata sang istri yang juga menatap dirinya dengan tatapan Sayu, Naya mengangguk, ia pun merasakan hal yang sama dengan sang suami, hingga akhirnya terjadilah penyatuan tubuh dua insan yang di penuhi dengan gairah begitu besar, menyelami lautan madu asmara,
Hampir dua jam keduanya bercinta, menikmati pergulatan tersebut, sampai mengeluarkan keringat bercucuran di sekujur tubuh, desahan-desahan kecil semakin menambahnya gairah Dimas, untuk melancarkan pelepasan hasratnya,
Sampai akhirnya Dimas merasa sangat puas, wajahnya menunjukan rasa bahagia, dan terkulai kelelahan, lalu Dimas merebahkan tubuhnya di samping sang istri, cup, kecupan mesra di kening Naya. "Terimakasih sayang.?" Dimas meraih dan memeluk Naya supaya tertidur di dadanya, menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya sampai leher.
"Yang..?" lirih Naya.
"Hem..?" sahut Dimas, kedua insan tersebut merasakan lelah di tubuhnya, mata mereka terpejam, tidur dangan begitu pulas tak ada yang menggerakkan tubuhnya sedikitpun, di sepanjang malam ini sampai pagi menjelang.
Sinar sang surya mulai menyapa bumi, pancaran sinarnya terbias di butiran embun yang masih menggelayut manja di atas dedaunan, membuat berkilauan layaknya kilau mutiara di dasar lautan.
Naya sedang mencuci bekas sarapan tadi, sementara Dimas dan keluarga Naya berada di depan.
,,,,
"Gimana, jadi ke tempat besan hari ini.? kan besok kami mau pulang." ujar pak Nanang mulai membuka pembicaraan.
Dimas yang duduk berdampingan dengan sang mertua, menoleh ke arahnya. "Orang tuaku akan datang kemari Pak, mungkin sebentar lagi, Bapak bersantai aja di sini buat apa cepat pulang.
"Ah kasian yang di rumah." alasan pak Nanang. sembari mengisap sebatang rokok.
__ADS_1
Tak lama kemudian ada sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah tersebut, keluarlah beberapa orang dari mobil tersebut, laki-laki paruh baya dan seorang wanita yang mungkin usianya tak jauh beda, di belakang mengekor yang di pastikan anak-anak beliau.
"Tuh Pak, mereka sudah datang." ucap Dimas pada sang mertua, kemudian ia beranjak menyambut kedatangan kedua orang tuanya, pak Nanang mengangguk dan memberi senyuman.
"Apa kabar Pak, Mak.?" Dimas berjabat tangan dan berpelukan.
"Baik, dia mertua kamu kah.?" tanya Bapaknya Dimas, menunjuk pak Nanang,
"Iya Pak, " Dimas memperkenalkan keduanya, mereka duduk berdampingan yang sebelumnya saling berjabat tangan.
"Istrimu dimana Dim.?" tanya bu Hesa pada Dimas yang berjalan ke ruang tengah bersama adik-adiknya, Ibu Dimas mengekor masuk.
"Tadi di dapur, gak tau sekarang di mana.?" Dimas mencari keberadaan sang istri, yang tadi berada di dapur.
"Sayang.? kau dimana.?" namun di dapur tidak ada, di tempat mesin cuci pun tak ada, Dimas terus berjalan menuju kamarnya, sembari membuka pintu seraya berkata. "Say--!" Dimas tak melanjutkan kalimatnya, benar saja Naya berada di kamar tengah mengucap salam ke kanan dan kiri, dengan lengkap mengenakan mukena, rupanya Naya tengah melaksanakan sholat sunat siang. Dimas tertegun berdiri di dekat tempat tidur, sementara bu Hesa berdiri tertegun depan pintu,
"Sholat apa.? pagi begini." batin Bu Hesa mengamati Naya rasanya tak ada yang aneh dari menantunya tersebut, yang Dimas bilang lumpuh.
Setelah selesai membaca doa dan bersholawat sebentar Naya. membereskan mukena dan sajadah bekasnya di simpan atas meja.
"Beres yang.?" Dimas berjongkok di samping kanan Naya, mata Naya menatap sendu lalu melihat kehadiran Bu Hesa yang masih berdiri dekat pintu, kemudian kembali menatap Dimas.
"Oh, kenapa mereka tak masuk yang.?" tanya Naya mencium punggung suaminya.
"Yuk aku bantu duduk di sofa," Dimas mengangkat tubuh sang istri ia dudukkan di sofa sebelah tempat tidur. "Mereka ada di ruang tengah yang, cuma Bapak dan Bapak mertuaku mengobrol di depan."
"Si Aa dan--!"
"Mereka, sepertinya berada di atas yang." sahut Dimas memotong pertanyaan Naya.
Bu Hesa mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan tersebut, "Semua barang Dimas berpindah ke sini, semua fasilitasnya jadi berada di tempat ini." gumam Bu Hesa. "Terus di atas.?" menggeleng pelan.
"Mak.?" panggil Dimas, mulai menatap Mamanya yang bermuka datar.
Bu Hesa menoleh Dimas, yang menghampiri dirinya, Dimas menuntun tangan sang Ibu tuk duduk bersama Naya.
"Mak kenalkan dia Kanaya, istri Dimas, menantu Mamak." kata Dimas berjongkok depan sang Ibu, Naya menunduk menyodorkan tangan tik bersalaman namun Bu Hesa tak menyambutnya, Naya ingin menarik kembali tangannya namun ia urungkan, lantas meraih tangan itu dan menciumnya.
Bu Hesa masih terdiam, matanya masih mengamati isi kamar tersebut. "Kamarmu kenapa berpindah ke sini Dim.? semua fasilitas juga di pindahkan juga.?"
Dimas ikut mengedarkan pandangan ke ruang tersebut, sebelum menjawab. "Iya Mak, aku berpindah ke kamar ini, agar Naya dengan lebih mudah jika ingin ke dapur dan ke luar."
__ADS_1
Dengan menyatukan kedua alisnya Bu Hesa mengamati serta tatapan yang begitu dingin kepada Naya, "Jadi benar kau itu lumpuh.?" Naya menunduk dalam, meremas jemarinya, ia bingung harus menjawab apa.? pada sang mertua yang ia rasa kurang respek terhadap dirinya, namun Naya sudah siap akan sikap dingin mertuanya, so ia menyadari letak kesalahannya di mana, lagian tak tinggal serumah ini, pikirnya.
"Naya, bisa berjalan Mak, cuma..,kurang normal, dan gak mampu jauh." sahut Dimas.
Bu Hesa berbalik memandang Dimas dengan tatapan tajam. "Mamak gak bertanya padamu Dim.? tapi bertanya pada istrimu." dengan sinis dan beralih memandangi Naya kembali.
"A-anggap saja seperti itu Mak.? aku minta maaf atas semuanya, mungkin aku sudah salah telah menikahi Dimas, tapi aku tak bisa menolak jika ini sudah jadi ketentuan yang maha kuasa." tutur Naya menarik napas dan membuangnya, sekilas melirik wajah sang mertua.
"Itu, tau, sebenarnya saya tak merestui kalian." ketus bu Hesa membuang muka.
Dimas yang masih berjongkok depan Namanya, menggenggam tangan beliau seraya berkata. "Mak tolong, restui kami.? Naya sudah menjadi istri Dimas Mak, dan Dimas tidak akan menikah kalau bukan dengan Naya." Dimas mencium punggung lengan bu Hesa.
"Terserah kamu Dim, semua sudah menjadi keputusan dirimu, sudah menjadi pilihanmu bukan.? saya tak bisa berbuat apa-apa juga." bu Hesa menepis tangan Dimas, yang berada di pangkuannya. bu Hesa beranjak mau keluar namun sang suami masuk dengan Sandi beserta istri, Maria dengan suaminya juga, dan kedua adik Dimas yang lainnya.
Dimas mengenalkan satu-satu pada Naya, Naya pun tersenyum mengangguk pada mereka semua. semua adik Dimas menunjukan wajah yang begitu welcome kepada Naya, begitupun Bapak mertua bersikap hangat, beda dengan Ibu mertua.
Setelah berkenalan akhirnya mereka keluar kamar, yang tersisa hanyalah Dimas dan Naya saling pandang, kemudian Naha mengalihkan pandangan ke sembarang tempat, Dimas menarik sudut bibirnya, mendekati sang istri, mendekatkan wajahnya, sambil merengkuh tubuh sang istri, tangan Naya mendorong lembut dada Dimas, "Temani mereka sana, masa di biarkan saja, sana ajak berbincang."
"Gak mau, kan sudah." bisik Dimas semakin mendekap badan Naya. "Idih.., sana.., ah, aku yang akan merasa tak enak hati kepada mereka.
"Biarkan saja, kalau lapar tinggal makan, masak sendiri, bukan tamu kok." Dimas semaki ingin bermanja dengan sang istri.
"Yang...," lirih Naya mendelik.
"Iya..iya, aku pergi, oya yuk sama kamu.?" Dimas beranjak dari duduknya.
Sambil menggeleng Naya berkata. "Nggak ah, malu, kamu saja."
"Kok malu sih.? aku gendong kesana, biar kita duduk bersama-sama." Dimas kembali duduk di samping sang istri.
"Uuh.., malah duduk lagi, sana..? temani mereka." kata Naya mengusap lembut bahu Dimas.
Dimas berdiri. "Ok, tapi-!" cup.. kecupan hangat mendarat di pipi Naya tanpa ijin sang empu.
"Iih..apaan sih.?" Naya mengusap pipi bekas ciuman Dimas, melihat reaksi sang istri menjadi tambah gemas, ia menangkup kedua pipi gembul itu, cup..,Dimas mengecup ****r istrinya, membuat Naya melotot bulat.
Namun Dimas tak perduli, sambil menyeringai mengusap bibir miliknya yang basah, berjalan melintasi pintu lalu menutupnya, untuk berbaur dengan kelurga dan mertuanya.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih berkenan membaca novel ini, semoga kebaikan kalian di balas oleh Allah swt, yuk dukung aku, jangan lupa selalu lake, komen, dll kalau benara suka, tinggalkan jejak ya guys.
__ADS_1