Bukan Mauku

Bukan Mauku
Kegelisahan


__ADS_3

Dari jauh terdengar adzan dzuhur berkumandang, Naya menggerakkan tubuhnya membuka mata perlahan, "Sudah siang." menengok kanan dan kiri, beranjak dari tidur mendekati kamar mandi.


Selepas menunaikan kewajiban nya Naya keluar kamar, perutnya sudah demo minta makan, ia memasak mie instan dengan potongan sawi ijo, di tambah taburan potongan cabe rawit, tak ketinggalan telornya juga. "Hem.., walau sederhana namun akan istimewa bagi penikmatnya sendiri hi..hi..hi.." senyum sendiri, tak lupa membaca doa sebelum makan. "Bismillah..," mengusap wajah dengan kedua tangan.


Naya makan mie dengan lahapnya, mengedarkan pandangannya ke tempat mesin cuci ada beberapa pakaian kotor di sana. "Aduh kenapa mesti lupa sih.?" menepuk jidatnya sendiri. selepas makan Naya mencuci bekasnya, kemudian menghampiri mesin cuci. sambil bersenandung bacaan sholawat.


Berapa puluh menit kemudian Naya duduk di sofa ruang TV dan menyalakannya, menyibukkan tangan dengan benda pipih miliknya.


Sampai waktu menjelang sore Naya lalui dengan kesendirian. "Bete ih, ada bahan kue gak ya, di dapur.?" Naya ke dapur mencari bahan-bahan kue, dan ternyata kosong, tak ada satu bahan pun, "Hem.., kosong, gak ada yang bisa di suruh juga lagi.


Ia mengambil bahan sayuran dan ayam untuk di masak, persiapan makan malam, setelah semua di siapkan, Naya tinggalkan sementara waktu, karena sudah memasuki sholat ashar, pukul enam belas sore ia kemudian kembali berkutat di dapur, menyiapkan makan malam, sup dan ayam goreng, sore ini gak banyak menu yang Naya buat, lagian yang makan juga hanya Dimas dan dirinya itupun kalau Dimas tidak makan di luar.


Usai memasak Naya kembali ke kamar, ia menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, karena waktu sudah memasuki sholat magrib.


Malam semakin larut namun Dimas belum juga pulang, Naya melihat waktu di layar ponsel, kemudian memandangi jam dinding di dalam kamar, sudah menunjukkan pukul 08.00 malam.


*****


Dimas pergi meninggalkan Naya di rumah sendiri, ia tutup pintu dan menguncinya dari luar, lalu berjalan memasuki mobil dan duduk di depan bersama supir taksi. "Bismillah..., jalan Pak.?" pinta Dimas pada supir taksi.


Mobil melaju dengan cepat, meninggalkan tempat tersebut, tak ada yang bersuara selain suara mesin saling bersahutan dengan mesin yang lainnya.


Dreett..., ponsel Dimas bergetar, ia merogoh saku mengambil ponsel, dan membuka pesan singkat dari sang istri.


Dimas senyum-senyum sendiri, selepas menyimpan kembali ponsel ke dalam saku ia melihat Bapak mertua yang memejamkan mata sambil bersandar di kursi, yang lain pada asik dengan ponselnya masing-masing, ia mengalihkan kembali pandangan ke dapan.


Beberapa jam kemudian sampailah mereka di bandara Pontianak, mereka keluar dari mobil yang sebelumnya, menepi. "Pak tunggu saya ya.?" ucap Dimas sambil membungkuk pada supir.


"Baik pak." jawabnya supir tersebut.


Dimas dan yang lain berjalan memasuki tempat tersebut untuk Check-in, mereka membawa tasnya masing-masing.


Sambil menunggu penerbangan, mencari makan siang terlebih dahulu, kebetulan sholat dzuhur sudah di laksanakan ketika masih di jalan menemukan mushola dan berhenti di sana, kemudian usai makan, duduk di kursi sambil mengobrol, "Kapan-kapan saya pasti balik ke sini Bang.? Boleh gak.?" tanya suami Lely.

__ADS_1


"Boleh lah dek, bawa anak istrimu ke sini bah." sahut Dimas.


"Itu sih pasti, doakan saja semoga ada rejekinya." sambungnya.


"Rejeki mah insya'allah selalu ada, cuma.., besar kecilnya.!" ujar si Aa melirik kakak iparnya.


"Iya benar.?" sahut suami Lely dan Dimas berbarengan.


"Dim, Bapak titip Naya ya, jaga dia lebih dari kami selama ini." pak Nanang memandangi wajah menantunya, penuh harap.


"Insya'allah pak, aku akan menjaganya semampu aku, jangan khawatir pak.!" Dimas meyakinkan sang mertua.


"Baguslah, terimakasih sebelumnya.?" sahut pak Nanang mengangguk.


"Iya pak, kalau ada apa-apa telpon kami." sambung Dimas tatapan matanya bergantian pada tiga orang tersebut.


"Insya'allah, komunikasi harus lancar." ujar pak Nanang.


Pesawat tak lama lagi penerbangan, mereka saling berpelukan. "Hati-hati pak.?" Dimas mencium punggung tangan sang mertua.


"Ya, di pikir-pikir dululah Bang." kata si Aa, menyorenkan tas punggungnya.


"Assalamu'alaikum..?" ucap tiga orang tersebut berbarengan.


"Wa'alaikum salam." Dimas melambaikan tangan memandangi kepergian keluarga barunya, sampai hilang dari pandangan, kemudian Dimas membalikkan badan setengah berlari menuju parkiran.


"Antar saya pulang pak.?" pinta Dimas pada supir taksi yang dari tadi menunggu.


"Siap pak." kata supir sambil menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Dimas hanya memejamkan mata, di luar hujan gerimis, membuat langit yang asalnya begitu cerah menjadi mendung.


Di rumah

__ADS_1


Sementara Naya dari tadi sudah gelisah menanti sang suami belum juga kembali, di telpon gak aktif nomernya, menambah kegelisahan hati Naya, mana di luar hujan pukul 10.00 malam masih belum juga pulang, Naya hanya berteman dengan kegelisahan, cemas, khawatir bercampur aduk.


Menghubungi adiknya si Aa, katanya, dia baru sampai Jakarta, karena mengalami keterlambatan beberapa jam penerbangan, yang akibat oleh cuaca buruk, namun Naya bisa bernapas lega setidaknya Bapak dan adik-adiknya selamat dan sekarang sudah berada di Jakarta, kembali mengingat suami, Naya kembali gelisah tak menentu.


Ada rasa takut, cemas, di tambah dari luar terdengar suara-suara aneh, seperti orang membuka kunci, takut pencuri masuk. "Ya Allah lindungi aku, aku takut." Naya bersembunyi di balik selimut, tubuh Naya semuanya tertutup selimut, jantungnya berdebar deg, deg, deg.


"Ya ampun, pintu di atas terkunci gak ya.? aku kan gak bisa ke sana, hanya lampu yang aku hidupkan." bergumam.


Lama..., suara yang tadi tak terdengar lagi, ia membuka selimut perlahan-lahan tiba-tiba Naya menjerit. "To--tolong...,?" kaget bukan main, karena melihat dua orang memakai baju hitam berkedok, berdiri dekat tempat tidur, dan dengan cekatan tangan salah satunya membekap mulut Naya, Naya yang tidak berdaya tak bisa memberontak sedikitpun, hanya diam matanya berkaca-kaca.


"Astagfirullah..,ya Allah tolong aku.? padamu aku meminta pertolongan." batin Naya menjerit dan terus membaca surah ayat al-kursi dalam hati.


Satu orang membekap Naya, dan yang satu lagi berkeliling membuka laci-laci dan lemari, membuka tumpukan baju, mungkin mencari sesuatu yang berharga, di laci Naya melihat ada laptop, jam tangan mahal suaminya, handphone Naya pun tergeletak di atas meja, apabila di jual lumayan lah jadi uang, dan dekat handphone Naya di situ kunci motor tergeletak juga, tapi kata orang itu dengan isyarat di situ tidak ada barang berharga satupun, membuat tak ada satupun yang mereka ambil.


Naya merasa heran, apa yang mereka cari, sedangkan tak satupun yang mereka ambil dari tempat tersebut, Naya terus hatinya membaca sholawat tanpa henti, tuk menenangkan diri agar tidak terlalu panik, orang yang membekap Naya mengeluarkan sebuah pistol, lantas di menodongkan kearah kepala Naya, entah pistol asli atau palsu, entah lah, yang jelas cukup akan membuat orang-orang jantungan melihatnya. Naya melihat pistol tersebut, yang semakin mendekat ke kepalanya, Naya menutup kedua mata, Ia pasrah jika saat ini juga terjadi sesuatu yang tak dia inginkan, lagi pula ia tak mampu berontak sedikitpun untuk melawan,


"Jangan sekali-kali kau menjerit atau minta tolong.? karena jika tidak menurut, isi pistol ini akan melayang atau menrmbus ke kepala atau jantungmu.?" sergah orang yang memegang pistol, membuat Naya membuka mata dan serentak mengangguk, jantung seakan ingin loncat, sekujur tubuh semakin lemas tak bertenaga,


******


Dimas masih di mobil dalam perjalanan pulang hatinya gelisah, merogoh ponsel mati, abis batere nya, "pukul berapa pak.? ponsel saya mati, dan lupa mengenakan jam tangan." Dimas menoleh pak Supir, supir pun melihat jam di tangannya.


"Pukul 10.00 malam Bang," sahut supir.


Dimas menarik napas kasar, bersandar di kursi menyilang kan tangan di dada.


Supir tersebut melihat kegelisahan penumpangnya pun mengerti. "Tidak lama lagi kita akan sampai tujuan Bang.?"


"Hem...," sahut Dimas singkat.


Mobil terus melaju menerobos hujan yang tak berhenti dari sore, beberapa kali Dimas terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.


,,,,

__ADS_1


Jangan lupa kalau sudah membaca atau mengsekrol novel ini lake ya.? eh.., tapi tak maksa sih, kalau suka aja lake kalau nggak sih tak apa, yuk reader ku, bantu dan dukung aku terus agar author yang satu ini tambah semangat belajar nulisnya.


__ADS_2