
Kebetulan Bibi membawakan nasi, karena dia tau Dimas suka pulang langsung ke konter, makanya sekalian di bawakan makan untuk berdua, tiba-tiba ponsel Dimas berdering dan dia segera menerima telepon itu, "Halo.., saya di konter, ke sini lah kita akan ke lapangan sekarang,"
"Siapa.?"
"Kawan," sahut Dimas sembari mengambil air mineral.
"Oya, Dery ada di rumah," disela makan sayur, Naya baru ingat belum bilang sama Dimas kalau di rumah ada Dery dari pagi.
"Iya bentar lagi ke sini."
Usai makan Naya beranjak, "Yang aku mau sholat dulu, kalau ada pembeli layani ya,? sambil melengos ke dalam.
"Hem..," gumam Dimas.
Dari rumah Dimas keluar seorang pria tinggi tampan, penampilan rapi, tangannya menggenggam topi warna krem, berjalan memasuki konter.
"Siang dok,?" sapa Dery menghampiri Dimas yang menatapnya.
"Siang juga, duduk," Dimas mempersilahkan duduk setelah berjabat tangan.
Dery duduk, matanya menyapu setiap sudut ruang tersebut, lalu matanya menatap bekas makan di atas meja yang masih berserakan, melihat Dery menatap meja yang masih berantakan Dimas segera membereskan nya.
"Nyaman juga, cuman di sini tidak menjual yang lainnya,?" Dery mulai membuka obrolan.
"Mau, ini juga mau menjual aksesoris ponsel laptop dll," sahut Naya dari dalam menghampiri mereka.
Membuat kedua pria itu menoleh kearah Naya yang berjalan dengan wajah bercahaya dan nampak segar yang belum lama terkena air wudu.
"Bagus lah, jadi ada yang meramaikan."
Dimas merasa heran, dulu mereka jarang bicara satu sama lain tapi.., kini seperti akrab, "Dulu kalian gak pernah ngobrol, sekarang malah seperti kawan," dengan tatapan yang penuh rasa heran.
"Masa sih,? biasa aja kok," sahut Naya.
Dery terdiam, sebelum akhirnya mengajak Dimas ke lapangan, yang sontak disambut dengan kata iya.
"Ya udah sayang, aku mau ke lapangan dulu, kalau lama pulang aja duluan, jangan terlalu sore pulangnya, ok,?" meraih kepala Naya lantas mengecup kening sang istri.
"Iya, nanti 'ku akan cepat pulang, lagian ada banyak yang harus 'ku urus di rumah," ucap Naya sambil mencium tangan Dimas.
Tatapan Dimas tertuju pada Naya, "Yang.., istirahat, banyak istirahat, jangan terlalu capek," jelas Dimas mengusap pucuk kepala Naya.
Helaan napas Dery terhembus kasar melihat Dimas dan Naya, lalu melangkah keluar, mengenakan topinya.
Dimas menyusul Dery yang sudah berdiri di luar menunggu dirinya.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju bangunan klinik, yang masih dalam tahap pembangunan, dan masih membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikannya.
Sebuah klinik tiga lantai dan akan di fasilitasi dengan beberapa lift untuk mempermudah pasien bila harus naik turun dan hanya menyediakan satu dua tangga saja bila di perlukan di waktu mendesak.
Maka dari itu Dimas mengajak kerja sama Dery tepatnya mempercayakan kepada Dery dalam pemasangan lift, dan pasilitas lainnya yang bisa Dery kerjakan.
"Oya kenalkan dia Ireng, mandor di sini, dan akan kau ajak kerjasama di sini," Dimas memperkenalkan Dery pada mandor bangunan nya.
"Oh," Dery berjabat tangan dengan seorang laki-laki berkulit kopi alias hitam, penampilannya agak dekil, beda dari pekerja lain, sesuai dengan panggilannya ya itu Ireng.
Ada juga orang sepertinya kepercayaan mandor, orangnya tinggi besar dan kekar sekilas seperti preman pasar.
"Kau sendiri bagai mana apa akan membawa kawan untuk mengerjakan nya,?" Dimas melirik Dery yang memperhatikan semua ruang bangunan.
"Apa gak terlalu besar ini bangunan,? mengingat cuma sebuah klinik bukanlah Rumah sakit," mata Dery terus menyapu bangunan, tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"Nggak, kami ingin menampung banyak orang yang butuh pertolongan medis, bahkan insya Allah gratis buat yang benar-benar membutuhkan."
Dery melirik sebentar, sambil berjalan untuk melihat-lihat lagi, "Di beri nama apa kliniknya.?"
"Kau tidak melihat di depan ada papan besar atas nama bangunan klinik ini,? balik nanya.
"Hii..,! buat apa saya bertanya kalau tau, saya belum sempat melihat papan nama di depan," dingin.
"Hmm.., namanya Kanaya klinik," dengan bangganya Dimas menyebut nama klinik yang ia bangun itu.
Dimas menatap Dery dengan tatapan penuh arti, "Emang kenapa,? salah kah."
"Oh, nggak salah, saya cuma bertanya, saya kagum kau akan membuat namanya abadi di klinik ini," Dery mesem.
"Ya, dia juga yang memberi saran untuk menyediakan gratis buat yang sangat membutuhkan, karena dia bilang tidak seharusnya semua di ukur dengan uang, dan sesungguhnya kita tidak akan merasa miskin dengan menyebar kebaikan," pandangan Dimas menerawang mengingat pesan dari sang istri.
Dery menyilang kan tangannya, "Sungguh mulia niat istri 'mu itu, semoga Tuhan melancarkan pembangunan ini segera selesai."
Dimas tak lepas dari senyuman di bibirnya, merasa beruntung mempunyai istri seperti Naya, "Aamiin ya Allah, manusia hanya bisa berencana, Allah uang maha menentukan."
Kini mereka berdua berada di lantai tiga, Dimas berdiri dengan santainya, kedua tangan masuk saku celana berdiri tepat depan jendela yang masih terbuka.
Sementara Dery berdiri beberapa langkah di belakang Dimas, tiba-tiba Dery berteriak, "Aawas..," sambil menarik Dimas kearah dalam, sontak Dimas kaget lalu tubuhnya berputar kebelakang sehingga sikunya kena tembok yang masih kasar.
Begitupun Dery saking cepatnya menarik tubuh Dimas ia terpental beberapa meter siku sebagai penyangga tubuhnya terluka juga pelipisnya pun terbentur tumpukkan bata yang berjejer di tempat tersebut dan membuat kepala pusing.
Brakk.., gubrak.., sebuah kayu penyangga tumbang bahkan cor nya pun berjatuhan sebagian, kalau sedikit aja terlambat pasti akan menghantam kepala Dimas yang tepat berada di bawah kayu tersebut, dan kalau saja Dery salah perhitungan dengan cara menjorok kan Dimas ke depan automatis Dimas akan terjatuh ke bawah dari jendela lantai tiga, sangat miris bila itu terjadi.
Sementara waktu keduanya bengong saling lihat-lihatan, Dimas berjongkok kaget dengan apa yang telah terjadi jantung masih berdebar kencang, beberapa pekerja sontak naik ke atas dari bawah setelah mendengar suara benturan tadi yang cukup keras, termasuk mandor nya menghampiri Dimas dan Dery.
__ADS_1
Semua riuh saling mengeluarkan rasa panasaran nya, kenapa ini, ada apa ini kok bisa terjadi dan bla-bla, kata-kata itu saling bersahutan, Dimas dan Dery tidak segera menjawab, apa lagi Dery yang merasakan pusing serta mata yang berkunang-kunang.
Akhirnya Dimas bangkit mendekati Dery, "Kau tidak kenapa-napa,?" mengulurkan tangan agar Dery berdiri.
Dery menggeleng-geleng kasar kepalanya, tangan kanan menyambut uluran tangan Dimas, sementara tangan yang satu lagi memegangi pelipis yang sedikit berdarah, Dimas mengeluarkan sapu tangan dari sakunya untuk mengusap pelipis Dery, "Kau berdarah."
"Kebetulan kalian semua berkumpul, kejadian ini saya anggap sebuah kelalaian para pekerja, dengar, saya tidak ingin sampai kejadian ini terulang mau menimpa siapapun, bekerjalah dengan hati-hati, dan saya ingin bahan bangunan harus pull jangan ada yang di kurangi demi kokohnya sebuah bangunan, karena akibat kelalaian kalian siapa pun bisa aja menjadi korban," jelas Dimas dengan tegasnya, menatap para pekerja yang menunduk satu-satu.
"Dan kau, sebagai mandor," Dimas menunjuk mandor yang bernama Ireng, "Kau sebagai mandor di sini, kasih contoh yang baik anak buah kau bekerja, jangan kau buat kecurangan."
"Kecurangan apa,?" tanya Ireng menatap tajam Dimas, tidak terima seolah di curigai.
"Dengar, kalau kau tidak becus bekerja, saya tidak ragu untuk mengganti mandor di sini, faham,?" tegas Dimas, sorot matanya tak kalah tajam dari si Ireng.
Si Ireng hanya diam, dengan gigi mengerat, tangan mengepal, menahan marah yang tidak terima akan kecurigaan bosnya.
"Kalian tahu, akibat kelalaian kalian hampir saja merenggut nyawa," sambung Dimas dengan nada tinggi.
Dery menepuk bahu Dimas, "Sudah, mungkin ini kecelakaan biasa."
"Ini bukan kecelakaan biasa, kalau cuma kayu yang jatuh ok, tapi lihat kualitas tembok yang rapuh, seolah bahan yang di kurangi, eh.., saya bayar kalian semua pull tidak ada yang saya gantung, dan bahan bangunan pun saya cukup kan, jadi jangan pernah ada sedikitpun terjadi kecurangan di tempat ini," Dimas melirik Dery lalu kembali melihat para pekerjanya dengan tatapan sangat tajam.
"Sudah-sudah," lagi-lagi Dery menepuk-nepuk pundak Dimas.
"Saya tahu akan kecurangan pekerja bangunan, rata-rata mereka curang, bisa dari bahan mentah bahkan dengan waktu, mereka curang," tambah Dimas lagi, mereka menunduk kecuali si Ireng.
"Ta-tapi tidak semua orang begitu Pak, Bapak jangan sembarangan ngomong, jangan mentang-mentang anda bos di sini," bela Ireng dengan sangat lantang.
"Kan saya bilang rata-rata bung, jadi jangan tersinggung bila tidak merasa bung," hardik Dimas.
Dery meringis dan takut adu argumen mereka berkepanjangan, yang mungkin akhirnya sulit dilerai, Dery mengajak Dimas pulang, "Sebaiknya kita pulang, saya merasa pusing, dan lihat tangan 'mu juga terluka."
Dimas melirik tangannya, yang mulai terasa perih yang entak terkena apa atau tergores tembok yang masih kasar entahlah, kemudian Dimas dan Dery melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.
Setelah Dimas dan Dery pergi si Ireng menendang ember yang ada di dekatnya, gomrang..,terkena yang lainnya, lengannya mengepal meninju tembok, tapi dia meringis kesakitan akibat meninju tembok, "Aw.., sakit," mengibas-ngibas tangannya, "Refutasi saya bisa ancur kalau kaya gini," teriaknya.
Dimas juga Deri meringis dengan lukanya masing-masing di tangan, terutama Dery yang juga terluka di pelipisnya yang masih rebes darah dan sudah mulai terlihat membiru.
Naya yang tadinya mau menutup konter, mengurungkan niatnya, setelah melihat kedua pria yang ia kenal berjalan gontai dan wajah di tekuk kesakitan, merasa heran serta begitu cemas, khawatir dengan suaminya, lalu mereka sampai dan duduk di sofa.
"Sayang kenapa kok wajah kalian di tekuk gitu meringis lagi, kalian kenapa,?" Naya melihat Dimas dan Dery bergantian, Dimas sebelum menjawab memperlihat kan luka di sikunya, dan segera mengambil tas kerjanya,! Naya tambah bingung pertanyaannya tidak mendapat jawaban, melihat pelipis Dery berdarah semakin tidak mengerti di buatnya.
,,,,
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? karena sesungguhnya komentar dari kalian menambah semangat 'ku untuk up, jangan lupa kasih rating n vote nya juga ya,ðŸ¤
Nb...., aku ingin tau nih reader 'ku orang mana aja nih,? silahkan isi kolom komentar ya,