
"Citra permisi dulu Tante,?" Citra memeluk bu Hesa, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, tanpa pamitan lebih dulu pada Naya dan Dimas.
Tinggallah mereka berempat di ruangan tersebut, bu Hesa beranjak hendak ke kamarnya, "Mama mau istirahat."
"Iya Mak," sahut Dimas, Naya memandangi punggung bu Hesa, yang berjalan menuju kamarnya.
"Yang..," panggil Dimas.
"Hah,?" Naya mengalihkan pandangan pada Dimas yang memanggilnya.
"Sekarang.., waktunya kita masuk kandang, he..,he..,he..," Dimas mendekati.
"Apaan tuh kandang,? setau aku kandang ya buat hewan, bukan buat orang,?" menaikan alisnya.
"Maaf sayang.., iya kamar yang, kita masuk kamar yuk,?" Dimas meraih tubuhnya Naya di peluknya, "Istirahat yuk.?"
"Bi, sudah malam, istirahat aja, besok aja kerjakan nya," Naya melirik bi Taty yang tengah mencuci.
"Baik bu, dikit lagi kok," sahut bi Taty mengangguk.
Naya beranjak dari duduknya, dan di gendong oleh Dimas di bawa ke lantai atas, "Bi, kami duluan ya,?" ucap Dimas.
"Iya Tuan," bi Taty memandangi mereka dari belakang.
Dimas dan Naya sudah berada di dalam kamar, dengan lampu temaram menambah syahdu suasana, Dimas merebahkan kepalanya di pangkuan Naya, sedangkan Naya bersandar di bahu tempat tidur.
"Yang,? di sebelah kan ada lahan kosong, seperti yang bunda tahu, ayah ingin membuka klinik," ucap Dimas sembari tiduran di pangkuan Naya.
"Hem, terus,?"
"Ayah sama Aldo juga Endro mau kerja sama, dan Ayah akan memberi nama klinik tersebut.., Kanaya KLINIK, sesuai nama bunda," ujar Dimas.
Naya membelai pipi suaminya dengan lembut, "Kenapa harus pake nama aku,? kenapa tidak dengan nama kamu saja,? masalahnya aku gak tau apa-apa tentang kesehatan."
"Sayang.., aku ingin namamu di kenang dengan kebaikan dan manfaat, hem..," Dimas bangun dan duduk sejajar dengan Naya yang bersandar di bahu tempat tidur.
"Em.., ya terserah sih, aku sih setuju-setuju aja, gimana baiknya aja," ucap Naya membenamkan kepalanya di dada Dimas, Dimas pun memeluk erat, sampai mereka pun tertidur pulas.
Sampai pagi menjelang, Naya bangun pukul 04.00 melepaskan pelukan suaminya yang semakin erat, Naya terus berusaha menyingkap tangan Dimas yang memeluk perutnya, Naya turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
Tak Selang lama Naya sudah keluar dari kamar mandi nampak segar sekali, mengenakan kemeja panjang dan celana longgar, kerudung pasmina simpel, namun lumayan anggun, di lanjut sholat subuh, selepas salam membaca ayat suci sebentar.
Dimas yang masih pulas terbangun mendengar suara Naya yang tengah mengaji, melihat kearah suara, istrinya tengah mengaji, melirik jam 04.45 wib Dimas bangun mengibaskan selimutnya lantas membereskannya.
"Assalamu'alaikum sayang..,?" Naya tersenyum ke arah Dimas.
"Wa'alaikum salam juga sayang..,?" jawab Dimas membalas dengan senyuman manis.
Dimas berjalan ke kamar mandi, sementara waktu bergelut di kamar mandi, tak lama Dimas kembali dengan handuk di pinggang, Naya sudah siapkan baju untuk Dimas kebetulan hari libur,
"Yang mau di buatkan apa tuk sarapan,?" tanya Naya.
"Em.., apa ya,? gimana kalau sarapan di luar yuk,? sekali-sekali," ajak Dimas sambil memainkan matanya.
"Hem.., boleh,?" sahut Naya dengan seulas senyum di bibirnya.
"Bener mau,?" tanya Dimas sambil mengenakan kaosnya, lalu mengenakan sarung buat sholat, Dimas sholat subuh terlebih dahulu terus minta di sisir kan rambutnya pada Naya.
__ADS_1
"Minyak wangi dulu yang, biar wangi," Naya menyemprotkan minyak wangi ke tubuh Dimas.
Mereka sudah siap, Dimas menyambar kunci mobilnya, "Yuk yang,?" menghampiri Naya yang masih duduk di sofa.
"Sayang duluan aja, panaskan dulu mesinnya, nanti aku nyusul, atau sayang jemput kalau sudah siap berangkat, ok,?" ujar Naya menatap Dimas.
"Ok, ya udah aku panaskan dulu mobilnya, cup..," Dimas pergi yang sebelumnya mengecup pipi sang istri.
Naya menatap Dimas dari belakang, setelah hilang dari pandangan, Naya pun berjalan keluar tak lupa menutup pintu, Naya menuruni anak tangga perlahan.
Setelah sampai di bawah melihat bi Taty tengah bersih-bersih, "Bi aku mau sarapan di luar, mau di belikan apa,?" tanya Naya.
"Apa ya,? terserah Ibu aja Bibi mah," sahut bi Taty.
"Loh.., kok, ya udah nanti aku belikan lontong sayur mau,?" Naya melirik bi Taty.
"Boleh Bu, apa aja lah."
"Astagfirullah, aku lupa, kan ada Mama," Naya menepuk jidat hampir saja dia lupa bahwa di situ ada penghuni lain ya itu Ibu mertuanya, "Bi tolong tanyain sama Mama, mau beli sarapan apa gitu,?" suruh Naya pada bi Taty yang langsung di respon oleh bi Taty dan pergi menuju kamar bu Hesa.
Tak lama bi Taty kembali, "Kata Ibu besar lontong sayur aja Bu."
"Oh, ya udah, aku pergi dulu ya Bi,?" Naya mendekati pintu dapur.
Dimas pun kebetulan mendekati pintu, "Sayang, yuk jalan,?" Dimas membopong Naya ke dalam mobil.
"Yang,?" panggil Naya.
"Hem..," sahut Dimas sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuh Naya.
"Nggak, biar saja, nanti aja belikan," ucap Dimas sambil melajukan mobilnya, "Kalau ajak Mama namanya bukan berdua dong sayang, itu namanya bertiga," sambil fokus nyetir.
"Hem..," Naya sangat menikmati udara pagi di luar rumah, tampak rona bahagia terpancar dari wajahnya, sesekali Dimas melirik wajah istrinya dengan senyum bahagia.
"Sayang senang kah,?" tanya Dimas melirik sekilas.
Naya pun melirik dan dengan seutas senyum, "Senang yang, bisa menghirup udara segar di pagi gini."
Dengan senyum samar, "Mau,? kalau sering seperti ini.?"
Naya menggeleng pelan, "Tidak perlu sering-sering," sahut Naya sembari menarik napas dalam.
Dimas melirik kembali, "Kenapa.?"
"Karena kalau sering-sering takut merepotkan, jadi cukup satu kali dalam seminggu atau dalam sebulan, aku tak ingin merepotkan suami aku," ujar Naya dengan pandangan ke luar jendela.
Dimas menarik napas panjang, "Tapi.., jika perlu, kalau aku ada urusan keluar sayang boleh ikut, biar bisa sering-sering menghirup udara segar di luar," ucap Dimas.
"Tap.., aku tidak mau merepotkan kamu," sahut Naya.
"Nggak kok sayang, malah aku senang bisa terus bersama istri tercinta, dimana ada aku di situlah istriku berada," ucap Dimas sambil menepikan mobilnya.
Dimas menghentikan mobilnya di depan sebuah resto, ia turun mengitari mobilnya untuk membukakan pintu buat Naya.
Dimas membuka pintu dan Naya pun turun, setelah menutup pintu Dimas langsung meraih tubuh istrinya dan di bawa masuk ke dalam resto, tadinya Naya mau jalan sendiri, namun keburu Dimas gendong, ya akhirnya Naya menikmati dan mengalungkan tangan di pundak Dimas, serta menjadi tontonan banyak pengunjung di sana.
"Yang, banyak yang melihat kita,?"
__ADS_1
"Hem.., emangnya kenapa,?" sahut Dimas sembari mencari kursi yang kosong, dan akhirnya ketemu di pojokan yang sepi, Dimas mendudukkan Naya di situ, lalu Dimas memanggil pelayan di sana.
"Pesan apa yang,?" tanya Dimas.
"Em.., bubur ayam," jawab Naya sembari mengedarkan pandangan ke tempat sekitar.
"Ok, bubur ayam dua porsi Bang, minumnya jus buah," pinta Dimas pada pelayan, pelayan pun pergi setelah mencatat apa yang di pesan Dimas.
"Sayang sering ke sini bukan,?" Naya melirik Dimas.
"Dulu sih sering, yang,? gimana kalau kita berencana bulan madu,? tempatnya terserah sayang maunya ke mana,?" Dimas memegang tang Naya.
Naya menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kiri, "Bulan madu.?"
"Iya bulan madu,?"
Naya tersenyum simpul, "Tiap hari juga bulan madu, gak cukup kah,?" Naya menggeleng.
"Sayang, bukan kah dulu pernah bilang ingin berbulan madu ke Malaysia,?" Dimas meremas jemari Naya.
"Nggak, itu dulu, sekarang tidak mau, lagian tiap hari juga bulan madu,?" lirih.
"Kan biar suasana berbeda sayang, terus maunya ke mana,?" mencium tangan Naya mesra.
"Tidak, tidak mau ke mana-mana, lagian katanya mau bangun klinik, butuh modal yang sangat besar sayang, gak cukup sedikit loh modalnya,?" ujar Naya.
"Itu kan jadi urusanku yang, sayang gak perlu memikirkan apa pun, cukup doa dan dukungan saja, ok,?" Dimas mengusap kepala Naya.
Sarapan pun akhirnya datang, mereka sarapan berdua sesekali saling menyuapi selayaknya di rumah, membuat orang yang melihat pada iri dan berbisik, "Pasti pengantin baru."
Dimas dan Naya tersenyum mendengarnya, dan terus melanjutkan kegiatan suap-suapannya.
"Oya yang, bi Taty dan Mama mau lontong sayur, mau cari di mana,?" seru Naya sambil meneguk jus buahnya.
"Nanti kita cari sambil pulang, terus gimana yang,?" tanya Dimas menatap Naya.
"Apanya,?" menaikan alisnya tak mengerti.
"Rencana bulan madunya,?" Dimas agak kesal.
Naya tersenyum samar, "Nggak-nggak, lain kali aja," Naya beranjak dari duduknya.
Mereka sudah selesai sarapanya, dan berdiap untuk pulang,
Dimas pun berdiri, "Em.., berarti kita bulan madu di rumah aja nih.?"
"Iya, di rumah aja lebih hemat biyaya, dan juga energi," sahut Naya.
"Ok, di rumah, gak apa-apa di lihat Mama dan bi Taty,? kan di rumah,?" sambil menyeringai.
Naya terdiam sejenak mencerna maksud Dimas, "Di kamar yang, bukan di rumah sembarang tempat,? aneh deh," sembari menggeleng, Dimas tertawa dan menggendong tubuh Naya, sebelumnya membayar makanan dan minuman.
Dimas menggendong Naya kembali ke dalam mobil, lalu menutup pintu, Dimas mengitari mobil untuk masuk dan duduk di belakang setirnya, setelah memasang sabuk pengaman Dimas melajukan mobil untuk pulang.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1