
"Ini minum dulu yang," Naya menyodorkan segelas air putih setelah Dimas duduk di dekatnya, Dimas pun langsung meneguknya sampai tandas.
"Udah makan belum,? aku lapar tapi baby keburu bangun, jadinya belum bisa makan nih," ucap Naya dengan nada manja.
"Belum, iya nih cacing di dalam perut sedang berdemo meminta jatah," sahut Dimas sambil merangkul bahu sang istri, "Apa lagi junior 'ku suah tegang nih, meminta haknya," Bisik Dimas ditelinga sang istri.
Naya mendelik melotot, membuka mata dengan sangat sempurna lalu melirik kedua buah hatinya yang bermain, kemudian berkata, "Makan di sini aja ya,?" lanjut Naya menatap wajah tampan suaminya.
"Boleh, aku ambilkan ya," Dimas berniat berdiri ingin mengambil makan siang ke bawah.
"Eeh, mau kemana,? duduk saja, biar aku telepon saja Bi Meri aja," Naya menyeringai.
Naya menelpon Bibi agar mengantar makan siang ke kamar, lantas Naya menyandarkan kepala di pundak suaminya sambil mengawasi baby twins nya.
Tidak lama kemudian Bibi membawakan makan siang di nampan untuk Naya dan Dimas, "Ini Makan siang nya kalau masih kurang ya bilang, oh den Arif sama non Kayla gak bobo ya,?" Bibi melirik kedua baby di roda.
"Iya Bi, makasih ya," Naya mengambil piring dan dan isinya tuk berdua.
"Main sama Bibi yuk?" Bibi menghampiri.
"Em.., gak usah Bi biar aja main di roda, Bibi kembali aja ke dapur Pak Mad pasti belum makan," Naya melarang dengan secara halus.
"Suami saya sudah selesai makan Bu barusan," Bibi menoleh majikannya.
"Oh, gak apa Bi biar anak-anak sama kami aja di sini, kasian Bibi dari pagi repot ngurus mereka, nanti kalau aku butuh bantuan pasti panggil Bibi, sekarang Bibi istirahat aja," ujar Naya mengulas senyumannya.
"Baik lah kalau begitu, Bibi turun saja, nanti panggil Bibi kalau butuh sesuatu," lanjut Bibi sambil berjalan keluar dari kamar.
Baby bermain di roda selama orang tuanya makan, Dimas dan Naya makan sangat lahap, sesekali mata mereka tertuju ke baby Arif dan Kayla.
Naya membereskan bekas makan nya, dan Baby sudah mulai merengek-rengek haus dan ngantuk, Naya kemudian memberi asi nya.
Dimas yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, menatap kearah Naya yang sedang memberi asi, membuat Dimas menelan saliva nya melihat dua bukit kembar yang putih nan mulus.
Ada desiran-desiran rasa atau dorongan keinginan yang harus di pendam sementara, sesaat kemudian Naya menidurkan sang buah hati di tempatnya, Dimas memejamkan mata, kepalanya nyender di bahu sofa.
Lalu Dimas membuka mata menegakkan tubuhnya, menoleh Naya yang tengah berbaring di atas tempat tidur seakan melambaikan tangan meminta di sentuh, Dimas tersenyum penuh arti langsung menutup laptopnya dan mendekati tempat tidur dimana sang istri tiduran menatap langit-langit.
Naya menoleh suaminya yang berdiri dekat tepi tempat tidur, tengah menatap kearahnya dari mulai kepala sampai ujung kaki, matanya telah diselimuti kabut hasrat birahi.
__ADS_1
Segera naik merangkak di atas Kanaya, dengan suara yang bergetar Dimas berkata, "Sayang, boleh ya meminta hak 'ku kali ini,?" tatapan matanya sayup diselimuti kabut yang semakin tebal.
Naya terdiam menatap suaminya dengan tatapan sendu merayu, bibirnya mengembang dan mengangguk pelan, di sambut gembira oleh sang suami yang sudah tidak sabar untuk menikmati dan meluapkan hasratnya.
Diawali foreplay yang teramat menggairahkan, dan segala persiapan yang sangat matang, akhirnya Dimas tak membuang waktu lagi dia segera melakukan penyatuannya.
Cuaca yang lumayan teduh, langit dihiasi awan-awan yang kelabu beriringan memayungi aktivitas manusia, angin yang semilir sejuk, kendati seperti itu lain lagi bagi pasangan pasutri yang satu ini, tubuh keduanya terasa panas, keringat bercucuran membasahi kulit yang membungkus di tubuhnya.
Selepas makan malam, Naya, Dimas juga baby nya berada di ruang televisi tengah mengobrol santai, "Oya yang tadi katanya ada sebuah kabar, kabar apa tuh,?" Naya menatap suaminya.
Sebelum menjawab Dimas menghela napas, "Itu, orang yang jadi dalang penipuan barang-barang Bunda sudah tertangkap polisi, dan nama Lisa pun akan terseret, itu pasti," ujar Dimas sambil tersenyum puas.
"Apa?" Naya terkejut, sebab dibalik ada baiknya ada juga kurang baik nya, Naya khawatir dan kasian bila Lisa terseret.
"Kenapa Bunda gak senang,?" Dimas mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan sikap sang istri.
"Bukan gak senang yang, aku senang kasus ini terungkap, tapi aku kasian bila Lisa harus terseret, aku sudah memberi kesempatan padanya untuk yerus bekerja di Kanaya busana, dengan syarat dia tidak mengulang kesalahan, dan dia berjanji akan menyicil uang yang dia terima sebagai ganti kerugian 'ku," ujar Naya lirih sambil memangku Kayla.
"Bun.., biar yang berwajib saja yang mengurusnya, kita jangan ikut campur, agar mereka jera, menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah, telah merugikan orang lain, sekarang Bunda, siapa tahu besok melakukan pada orng banyak,?" lanjut Dimas yang menggendong baby Arif.
"Huuh..," Naya menarik napas panjang, jadi kepikiran nasib nya Lisa gimana nanti, giamana nasib orang tuanya juga.
"Yang bagai mana pun Lisa karyawan 'ku, apa salah nya aku memaafkan dia? dan gimana caranya supaya nasib Lisa tidak berakhir di balik jeruji besi," Naya sangat serius, dia benar-benar memikirkan nasib pekerjanya itu.
"Aku tahu dia salah, tapi setidaknya dia sudah menyadarinya, apa salahnya memberi kesempatan padanya yang,?" Naya kekeh dengan pendiriannya.
Lagi-lagi Dimas menggeleng, "Heran, sudah tahu salah masih saja di kasih kesempatan, bisa saja Lisa tidak mempertanggung jawabkan di balik jeruji, dengan cara mencabut laporan namun orang yang jadi dalangnya otomatis terbebaskan, yang kedua memberi jaminan agar Lisa cuma jadi tahanan luar, tapi apa kita bisa menjamin dia bisa bertanggung jawab di luar, taat aturan, atau tidak."
Naya menggigit bibir bawahnya sembari berpikir, ternyata sulit juga bila sudah bersangkutan dengan pihak yang berwajib, terkadang yang mudah di bikin sulit.
"Gimana dong yang," tanya Naya dengan wajah bingungnya.
"Ya.., gitu," menaikan kedua bahunya, "Ya sayang, orang yang jahat sama Bunda harus mendapat hukuman yang setimpal,"seolah mengajak baby Arif berbicara, yang di ajak bicara tertawa memperlihatkan gusinya.
Naya terdiam tak tahu harus berkata apa lagi kepalanya tambah pusing.
"Kecuali orang tersebut tidak menyebut nama Lisa ke polisi Bun, baru Lisa akan aman, kalau di sebut ya bahaya dan itu pasti akan terseret juga, orang dia yang ngasih jalannya, gimana."
"Iya sih," sahut Naya cepat.
__ADS_1
"Udah ah, bobo yuk, kan besok mau ke tempat oma dan opa sayang, bobo yuk," Dimas beranjak dari duduknya, mengendong baby Arif.
Naya menghela napas dalam, "Ini Kayla gendong juga," seraya memberikan baby Kayla pada Dimas agar di bawa ke atas.
Pak Mad tengan ngopi di sofa dapur di temani istrinya Meri, "Pak Mad besok mau ke kampung nya jadi kan,? bawa saja motor, saya bawa mobil, mungkin Dery yang akan membawanya," ucap Dimas ketiak melihat Pak Mad.
"Jadi, tapi biar naik ojek online saya Pak dokter," sahut Pak Mad menangguk hormat.
"Kalau ada motor, ya pake saja Pak, ngapain pesen ojek segala," tambah Naya.
"Ya kalau boleh sih, baik lah, besok pinjem motornya, terimakasih sebelumnya,?" membungkuk kembali.
"Boleh lah, ngapain nawarin kalau gak boleh," lanjut Dimas.
"Sekalian kan kalau bawa motor sendiri bisa sama Bibi pulang kampungnya," timpal Naya lagi.
"Kalau Bibi ikut juga, siapa yang tinggal di Rumah ini Bu,?" tanya Bi Meri khawatir dengan Rumah ini kosong tidak ada yang menunggui.
Dimas menoleh sang istri, Naya pun berkata, "Kan Bi Taty balik pagi ke sini, lagian kan kalian sore balik lagi gak nginep kan,? apa mau nginep."
Pak Mad dan istri saling pandang, bukannya menjawab pertanyaan dari Naya, malah saling memandang.
"Kalau Bibi mau nginep dulu sih boleh, tapi usahakan Pak Mad kembali, sebab Kami mau nginep di tempam Mama, ya bisa gak,?" lirih Naya penuh harap.
"Bisa-bisa," Pak Mad mengangguk begitu pun istrinya Bi Meri yang bahagia di ijinkan pulang bertemu anak-anak.
"Syukurlah," ucap Dimas dan Naya kemudian melanjutkan langkah menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya.
Setelah baby twins kekenyangan minum susu akhirnya mereka tertidur pulas, tinggallah orang tuanya yang mesih terjaga di tempat tidur duduk bersandar dan saling merangkul.
Dimas merangkul tubuh sang istri, cup mengecup kening sang istri dengan hangat dan lembut, mata Dimas tak henti mangamati penampilan istrinya bila mau tidur yang semakin kesini semakin menggodanya, pakaian khusus malam, yang bahannya tipis hampir menerawang isinya, namun itu untuk bila berdua saja, kalau sekiranya ada orang lain pasti Naya mengenakan jubahnya yang tebal.
Tangan Dimas dengan nakal nya mengelus, meraba yang ia suka mulai dari punggung sampai sisi bukit nan indah, bahkan sesekali jarinya menelusuri tempat-tempat yang asik buat bermain.
"Bobo yuk ah, ngantuk nih,?" ajak Naya sambil menjatuhkan kepalanya di bantal sembari menarik selimut sampai menutupi dada yang tadinya Dimas ingin berselancar di sana.
Dimas mendengus kesal, namun akhirnya mengikuti sang istri berbaring di sampingnya dan tidak lupa memeluk tubuh Naya dengan sangat erat dan menempelkan dagunya di leher sang istri, Naya tersenyum melengkungkan bibirnya, paling senang bila bisa menggoda sang suami, keduanya segera memejamkan mata, agar besok pagi bangun dengan segar dan siap berangkat.
Malam ini setelah polisi membekuk orang yang sudah melakukan penipuan terhadap Naya tadi siang, sekarang giliran orang yang bernama Lisa yang polisi cari, seperti saat ini Lisa tengah was-was ketakutan, dia mengurung diri di kamar kos nya, takut polisi mencarinya, mereka sudah tertangkap, pasti merka menyebut namanya juga, dan pada akhirnya dia pasti di tangkap yang berwajib.
__ADS_1
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️