Bukan Mauku

Bukan Mauku
Tak sanggup


__ADS_3

Sekalipun novel ini beberapa kali gagal kontrak, namun aku merasa bangga, karena setidaknya, lumayan banyak juga orang suka, yang masih berkenan membaca novel yang sangat recehan ini, meskipun tulisan, dialog masih kaku, namun atas dukungan kalian, aku akan terus mencoba belajar, terimakasih para reader aku terimakasih banyak🙏🙏


,,,,


"Kebetulan beliau sedang ada halangan dok, makanya Pak kepala memberi surat ini pada dokter." sahut Citra menunduk kali ini tak sanggup membalas tatapan Dimas.


Sesaat Dimas terdiam. "Ok, jadi sekarang kamu berada dibawah bimbingan saya." Dimas meneguk air mineral di meja sampai tandas.


"Terimakasih dok, kalau begitu saya permisi dulu dok." citra merasa senang dan beranjak menggeser kursi meninggalkan ruangan tersebut.


Dimas hanya mengangguk, dan beranjak pergi melintasi koridor menuju kamar pasien, di sana sudah banyak dokter yang magang termasuk dokter bimbingannya, Citra.


"Halo dok apa kabar nih.?" sapa seorang dokter, basa-basi, yang diketahui orang itu bernama Dody, seorang dokter umum.


"Baik dok" Dimas tersenyum dan saling berjabat tangan.


"Kau sangat beruntung dok, mendapat dokter bimbingan yang sangat cantik, body bohay bagai gitar spanyol" bisik Dody menyeringai. sembari melirik Citra yang tengah sibuk dengan map juga ballpoint di tangannya.


Dimas hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.


Waktu sudah menunjukan jam makan siang, Dimas berjalan di koridor menuju kantin.


"Dok tunggu.?" panggil Citra, mengejar Dimas yang hanya menoleh sebentar, lalu meneruskan langkahnya.


"Maaf dokter mau kemana.?" dengan napas ngos-ngosan, kini langkahnya sudah sejajar dengan Dimas,


"Kantin mau makan" jawab Dimas mengangkat tangan tuk melihat jam.


"Aku juga mau ke sana dok, bareng ya.?" ucap Citra, Dimas hanya fokus dengan langkahnya, dan bergumam."Hemm"


Setibanya di kantin mereka duduk berhadapan di meja panjang, masing-masing sudah di hadapkan sepiring nasi, ayam goreng, ikan goreng dan dua gelas jus buah.


Dengan siku tangan di letakan di tepi meja Dimas tak menunggu lama langsung menyantap makanan tersedia didepannya, begitu lahap.


Citra memasukan sendok ke mulutnya, sesekali memperhatikan Dimas yang fokus makan, senyum-senyum sendiri entah apa yang dia pikirkan,


"By the way Kalau boleh tau dokter ini apa sudah menikah.?" Citra to the poin.


Dimas menghentikan makannya, bersandar di kursi, alisnya terangkat menatap datar kearah Citra. "Emang nya kenapa.?"


"E--enggak sih, cuma ingin tahu aja." Citra gugup menundukkan kepala kebawah, Citra tak juga mendapat jawaban yang memuaskan dari bibir Dimas. pria itu hanya kembali fokus dengan makan siangnya.


Setelah tandas makanan di piring, di sudahi dengan segelas jus, Dimas beranjak dari kursinya menuju pembayaran.


"Dok.?" bibir Citra hanya menganga, "Sumpah baru kali ini jumpa pria cuek seperti dia, aku kurang menarik apa coba.? rambut bergelombang body aduhai, kata pengagumku sih.!" batin Citra dia pun mengikuti Dimas ketempat pembayaran.


Dimas yang sudah di atas motor dan mengenakan helm, kemudian melajukan motor pelan.


"Tunggu dok" panggil Citra tergesa gesa menghampiri, Dimas pun menghentikan laju motornya.

__ADS_1


"Apa lagi sih.? senang betul nih anak ganggu orang." decak Dimas menggerutu.


"Maaf dok bisa minta tolong.?" ucap Citra menatap Wajah Dimas. "Saya kebetulan tidak membawa kendaraan, boleh gak aku ikut dokter ke depan.?" penuh permohonan.


"Sampai mana.? singkat.


"Sampai depan aja kok dok, boleh ya.? Citra melipat telapak tangan di bawah dagu.


"Naik." Dimas bersiap menancap gas.


Citra tersenyum girang, "Makasih dok.?" kemudian naik dan duduk dibelakang Dimas. setelah itu Dimas melajukan motor dengan cepat.


Setelah beberapa saat melintasi jalan raya, Citra menepuk pundak Dimas, "Berhenti dok, aku turun disini saja, makasih ya.?"


Dimas menghentikan motor di tepi jalan, Citra pun turun, "Uhh.., kok beneran sih di turunin di sini.? bukannya di cegah, anterin sampai rumah kek.?" gerutu Citra dalam hati. "Makasih ya dok.?"


Dimas mengangguk, dan melajukan motor dengan cepat, meninggalkan Citra berdiri ditepi jalan.


Sesampai di rumah Dimas melenggang ke dalam rumah, sebelumnya menyimpan motor di garasi.


"Abang sudah pulang.?" Maria basa-basi di dekat pintu dapur.


"Belum nih masih di jalan" sahut Dimas menyeringai, berdiri didepan Maria.


"Uuhh, orang basi-basi juga" mencebik kan bibirnya.


"Salah sendiri, sudah jelas depan mata, di rumah ini masih nanya.?" kata Dimas mengambil minum di preser.


"Dim, nanti sore antar Mamak ke swalayan, bisa.?" kata bu Hesa menatap putranya.


"Bisa Mak." jawab Dimas menoleh. "Aku mau istirahat dulu." berlari kecil menaiki tangga. sampai di kamar menyimpan kunci, handphone, menghempas kan tubuhnya di kasur, namun ia ingat Naya segera bangkit, menyambar handphone nya.


"Halo..., sayang.?"


"Iya, ada apa.?" tanya Naya.


"Nggak, kangen aja yang..!" jawab Dimas.


"Hemm, sudah pulang kerja kah.?"


"Sudah nih baru pulang," sahut Dimas bersandar di bahu ranjang.


"Ya sudah istirahat lah capek kan.?" kata Naya.


"Ini juga lagi istirahat yang..,! sudah makan belum,?" tanya Dimas lembut.


"Sudah, kamu juga sudah makan kah.?"


"Makan sudah, namun ada yang belum.!"

__ADS_1


"Apaan yang.?" Naya penasaran.


"Emm..,kiss dari darimu yang..!" Dimas senyum licik.


"Ih.., apaan sih.?" kata Naya.


"Ayok doong sayang sekali...,aja." bujuk Dimas,


"Apaan sih.? nanti malam aja, sekarang lagi rame mau ada acara nikahan Mamahnya Anisa kan.?" bisik Naya.


"Oh..,iya.! ya sudah nanti malam telepon lagi ya.? jam berapa sayang gak sibuk.?" tanya Dimas.


"Sekitar jam 10 malam kali." jawab Naya.


"Ok. ya sudah aku istirahat dulu ya yang, emuahh.?" Dimas pamit seraya memberi kissnya.


"Iya, yang." sahut Naya, sambungan telepon pun terputus, Dimas membaringkan tubuhnya dan terlelap.


,,,,


Di tempat Naya.


Naya tengah menyiapkan buat acara nikahan adiknya, Lely, beberapa hari ini ia sibuk membuat kue, besok adalah pernikahan kedua Lely dari suaminya yang meninggal, dia menikah dengan teman kerjanya.


"Ya Allah aku kapan ya.? menemukan jodoh terbaik aku, jangan seperti yang dulu lagi.?" batin Naya.


Malam sudah tiba, Naya melepas penatnya dengan wajah lelah, ia membaringkan tubuh di tempat tidur, pikiran melayang, sesekali matanya mengitari seluruh sudut kamar.


"Haruskah selamanya disini.? begini.? sendiri seumur hidup.? tanpa seorang yang ikhlas mencintaiku.? menggantikan tanggung jawab orang tuaku.? rasanya aku tak sanggup bila seumur hidup seperti ini.? aku ikhlas dengan kondisi aku, tapi...,aku tak rela bila harus melewati hidup ini sendiri, aku tak sanggup.!" Naya menghela napas kasar, dengan buliran air mata menghiasi pipi.


Sementara ponsel miliknya berbunyi, Naya meraih ponsel di sisi sebelah kanan,


"Iya halo..,?"


"Malam sayang.? sapa Dimas.


"Siang..! singkat.


"Hah..,malam nih sayang, bukan siang, sudah selesai kah membuat kuenya, jangan terlalu capek yang, aku gak mau kamu kecapean.?" Dimas lembut.


"Sudah."


"Yang..,kenapa suaramu serak abis nangis kah.?" Dimas heran.


"Nggak, biasa aja." jawab Naya mengelak.


"Yang..,kau gak bisa bohongi aku, kenapa sayang bicara sama aku bah." bujuk Dimas.


Naya tak secepanya menjawab, ia hanya diam membisu, Dimas dengan sabar menunggu Naya bicara.

__ADS_1


,,,,


__ADS_2