
Beberapa saat kemudian Naya terbangun, melihat-lihat kanan dan kiri, ternyata ia berada di atas tempat tidur berselimut, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, ia mengingat-ingat kejadian yang sebenarnya terjadi menimpanya, ia mengernyitkan keningnya, mengedarkan pandangan, tak ada siapa pun sekalipun Dimas, jam dinding menunjukkan pukul 12.30 waktu setempat.
"Dinda dan Karin," gumam Naya sambil tersenyum samar, badannya terasa sangat lekat, Naya turun dari tempat tidur, memasuki kamar mandi, lalu berendam sebentar di bathtub, menikmati aroma terapi, pusingnya sudah mulai hilang, merilekskan tubuh dan pikirannya, sampai merasa cukup, Naya beranjak dari bathtub meraih handuknya, Naya keluar dari kamar mandi, lantas menunaikan sholat dzuhur.
"Bu.., boleh Bibi masuk,?" suara bi Taty memecah keheningan.
Naya tak segera menjawab menyelesaikan dulu sholatnya, selepas salam Naya Baru menyahut, "Iya Bi, masuk aja."
Bi Taty masuk, membawa makan siang, tampak Naya tengah berdoa, bi Taty duduk di sofa menunggu majikannya selesai.
"Bi, bawa apa,?" Tanya Naya sambil melipat mukenanya.
"Bibi bawakan makan Siang Bu, gimana sudah baikan,? Bibi khawatir, tadi Bibi ke sini tapi.., Ibu nyenyak banget tidurnya," ucap bi Taty.
"Aku, sudah agak baikan kok Bi, makasih sudah khawatirkan aku, Mama dan maria ke mana,? sudah makan belum mereka,?" Naya duduk di sofa yang sama dengan bi Taty.
"Sudah makan, Ibunya Tuan Ada mau tidur siang, eh kalau Maria dan putranya sudah pulang di jemput suaminya tadi," sahut bi Taty.
"Oh, aku kira akan menginap lagi tuh anak,"
"Tadi juga ada Tuan Sandy menjemput Mamanya Tuan, tapi.., katanya mau menunggu suaminya pulang, lagian di ladang pun tak ada kerjaan katanya," ujar bi Taty sembari menyodorkan piring makan siang.
"Oh, biar saja Bi, mungkin betah dan masih mau di sini, lagian kan rumahnya juga kan,?" Naya menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Eh, Ibu beneran sudah sembuh,?" tanya bi Taty tampak masih cemas.
Naya tersenyum manis, "Beneran aku sudah baikan, cukup di istirahatkan aja sembuh kok," sambil menghabiskan makannya.
"Syukurlah, kalau begitu.., Bibi mau turun ke bawah ya,? kalau ada apa-apa panggil aja,?" ujar bi Taty meraih piring bekas Naya makan.
"Iya Bi, makasih ya,? sudah khawatir sama aku,?" dengan senyuman termanisnya.
Bi Taty berjalan meninggalkan Naya di kamar tersebut, Naya beranjak ke balkon, termenung sendiri di sana, terbayang apa yang ada dalam mimpi tadi, tak habis pikir kok bisa bermimpi seperti itu, padahal dia merasa santai tentang hal anak, namun bibirnya tertarik melukiskan senyuman, "Lucu juga ya, kalau 1x hamil dapat sekaligus baby, benar juga usiaku sudah tidak muda lagi, tapi.., ya sudah aku pasrahkan padamu ya Allah,?" Naya mengangkat wajahnya ke langit yang indah berwarna biru, di hiasi dengan awan putih sungguh melukiskan langit yang begitu cerah.
"Panas banget ya Allah cuaca di sini, sangat berbeda dengan Semi, yang justru malah ke balikkannya," gumam Naya.
Tak lama Naya balik lagi ke kamar, Merebahkan dirinya di sofa, tangannya sibuk dengan ponsel kesayangannya.
*****
Dimas yang tengah di Rumah sakit, merasakan hal yang aneh, badannya terasa sangat lelah, lemas tak bersemangat, mau pulang belum waktunya, masih beberapa jam lagi, ia duduk di kursinya, "Aduh, kenapa nih,? lelah banget ini badan gak seperti biasanya,?" Dimas beranjak berpindah duduk ke sofa dan berbaring di sana.
Beberapa saat Dimas mengigau menyebut nama Dinda dan Karin, peluh Dimas mengucur dari kulit putihnya, lantas terbangun, menggosok kedua matanya, menghela napas panjang, "Cuma mimpi," menarik sudut bibirnya tersenyum, "Lucu kali ya,? kalau saya punya anak twins," ck..,ck..,ck, berdecak bangga, "Kapan sayang akan hamil anak kita,? gara-gara mimpi tadi jadi gak sabar pengen menimbang baby,?" gumam Dimas.
Dimas beranjak ke toilet, ingin membasuh mukanya, sebentar lagi waktunya pulang, tak selang lama Dimas keluar, lalu ia berjalan ke ruangan pasien untuk mengecek, siapa tau ada yang membutuhkan bantuan darinya, sebelum pulang.
Di koridor, berpapasan dengan Citra namun kali ini dia begitu cuek, namun Dimas tidak perduli sekalipun akan kejadian beberapa hari yang lalu, yang membuat sang istri uring-uringan.
Sementara Citra berharap Dimas menegurnya, tapi.., sia-sia malah semakin cuek, "Lihat lah suatu saat kau akan jatuh di pelukan aku,?" batin Citra sambil berdiri dekat di dinding, melipat tangannya di dada, senyum angkuhnya terlukis di bibir mungilnya.
Setelah menengok pasiennya Dimas berencana pulang, namun ban motor Dimas kempes, "Gila.., kok bisa kempes sih,? sambil memeriksakannya.
Dimas hendak mendorong motornya ke bengkel, "Terpaksa deh harus ke bengkel dulu, ck..,ck..?"
Di dalam mobil mewah pengemudinya memperhatikan Dimas dengan senyum puas, hendak membuka pintu niatnya mau menghampiri Dimas, namun dia urungkan niatnya itu, tiba-tiba Endro yang melihat Dimas mendorong motor lebih dulu mendekati.
"Kenapa bro,? habis bensin apa,?" tanya Endro mendekati Dimas.
"Bukan, tapi kempes," Dimas berhenti mendorong motornya.
"Em.., terus gimana,?" Endro memperhatikan motor Dimas.
__ADS_1
"Ya harus di bawa ke bengkel lah," dengan nada datarnya.
"Kalau aja kehabisan bensin bisa aku bantu, tapi.., kalau soal ban, terpaksa harus di bawa ke bengkel atau tambal ban,"
"Makanya, ya sudah aku pulang dulu lah," Dimas melanjutkan mendorong motor melintasi mobil Citra, sementara Citra mengamati Dimas dari balik kaca jendela, memukul kemudi, "Sial-sial.., gagal deh rencana gue, sial..," entah apa yang dia rencanakan.
Dimas sudah selesalai mengisi angin, Dimas menaiki motor dan segera melajukan motornya tuk pulang, dengan kecepatan tinggi, sudah tak sabar ingin bertemu dengan sang istri di rumah.
Tak lama di jalan, Dimas sudah sampai di rumah, keadaan rumah sepi, hanya ada bi Taty tengah duduk di sofa dapur.
Dimas mengucap salam, Dimas menyapa bi Taty, " Assalamu'alaikum.., Bi kok sepi, pada kemana,?" berdiri depan Bi Taty serta menatap lekat.
"Wa'alaikum salam, non Maria sudah pulang Tuan, Ibu besar lagi istirahat, sedangkan Ibu Naya di kamarnya," jawab bi Taty santai.
"Oh, Maria di jemput kah,?" sambung Dimas.
"Iya Tuan, malahan tadi juga Tuan Sandy mau ****** Ibu, namun Ibu gak mau pulang, oya Tuan tadi Ibu Naya sakit," bi Taty memberikan segelas air putih dan di sambut oleh Dimas lalu diteguknya.
"Sakit apa Bi, kok gak bilang sama saya,?" Dimas menyimpan gelas di meja kemudian bergegas maiki anak tangga tanpa menunggu jawaban dari bi Taty.
Sesampainya di kamar Dimas langsung menghampiri Naya yang tengah asik dengan ponselnya, Dimas menyimpan tasnya di atas meja dan sedikit membuka beberapa kancing kemejanya.
"Sayang benarkah sayang sakit,? sakit apa,? mana yang sakit,? kenapa gak bilang sama aku,? kalau saja aku tau pasti aku pulang lebih cepat, kok sayang gak hubungi aku sih,? kan sudah aku bilang, kalau ada apa-apa hubungi aku, apa sayang lupa hem,?" lirih Dimas menatap lekat Naya dengan rentetan pertanyaan dari bibirnya, Naya hanya tersenyum, dan meraih punggung tangan Dimas untuk di ciumnya.
Dimas pun membalas dengan kecupan di kening sang istri, "Sudah,? sudah dengan pertanyaannya,?" Naya mengulum senyumnya, "Apa kau sangat menghawatirkanku,?" sedikit mengangkat alisnya.
"Tentu sayang aku sangat menghawatirkan dirimu, gimana sih,? orang serius malah bercanda, heran.., aku,?" ucap Dimas memalingkan mukanya.
"Loh.., kok sayang marah sih,? kan aku cuma bertanya, aku ucapakan makasih sebanyak mungkin bila kamu sangat khawatir padaku,?" Naya memeluk Dimas.
"Sayang adalah istriku, tentu aku sangat memikirkan dirimu," Ujar Dimas.
"Tapi.., kau tidak mau memeluk ku kali ini," dengan nada sangat manja.
"I love you too, siapa yang bilang aku sakit,?" semakin membenamkan wajahnya di dada Dimas dengan pelukan semakin erat seolah lama tidak berjumpa dan baru bertatap muka untung saling melepas rindu.
"Bi Taty yang bilang,"
"Tadi aku cuma pusing saja yang, di istirahatkan juga sembuh," liri Naya dengan posisi yang sama.
"Sudah minum obat,?" tanya Dimas dan Naya menggeleng, "Sudah makan,?" lalu Naya pun mengangguk, Dimas mengangkat dagu Naya supaya bisa memandangi wajahnya.
"Sayang kangen kah,?" bisik Dimas.
Naya mengangguk, namun malu-malu dan kembali menenggelamkan kepalanya di dada Dimas.
"Yang..,?"
"Apa sayang..,?" Dimas mengecup pucuk kepala Naya.
"Tadi aku bermimpi--!" Naya menggantung kalimatnya.
"Mimpi apa sayang hem,?" dengan lembut dan mengusap punggung Naya.
Naya menceritakan semua yang ada dalam mimpinya dari awal sampai Akhir, tak ada sedikitpun yang terlewatkan, Dimas mendengarkan dengan seksama, dan dia pun ingat akan mimpinya tadi ketika ketiduran di sofa rumah sakit.
Dimas membingkai wajah Naya dengan kedua tangannya, "Sayang.., kok mimpi kita sama sih,?" Dimas menatap bola mata Naya lekat.
Naya mengernyitkan dahinya, "Maksudnya,? aku kurang mengerti.?"
"Iya, yang ada dalam mimpi sayang, itulah yang aku mimpikan tadi ketika aku ketiduran di tempat kerja aku, serius yang benar," ucap Dimas sambil memperlihatkan barisan gigi bersihnya.
__ADS_1
"Anak kembar, bernama Dinda dan Karin,?"
"Iya sayang, percis, tapi.., kita kehilangan kedua anak itu di balik kabut hitam," Imas menunduk dalam.
Untuk sesaat Naya terdiam memikirkan mimpi tersebut dan membenamkan kembali wajahnya di dada Dimas, tangan Dimas terus saja mengusap lembut punggung Naya.
"Alangkah bahagianya kalau itu benar, punya anak kembar yang lucu-licu, tapi aku inginnya satu perempuan dan yang satunya jagoan, aku maunya sepasang sayang," Dimas mencium rambut Naya.
"Yang.., kita hanya bisa berncana Tuhan juga yang menentukan, dan tidak setiap yang di rencanakan bisa berjalan dengan mulus," lirih Naya.
"Hem.., aku tau, tapi.., kapan ya,? eh, gimana di kasih nya aja ya,? yang penting kita terus berusaha, yang di antarnya bulan madu setiap hari, hi..,hi..," Dimas tertawa geli sendiri.
"Sayang, maaf ya,? aku belum bisa memberikan buah dari cinta kita,?" sambil mengangkat wajahnya memandangi wajah suaminya, yang juga menatap Naya.
"Iya sayang, gimana kalau sekarang kita membuat baby,?" mengangkat alisnya sembari menyunggingkan bibirnya.
Naya senyum samar, dan memejamkan matanya seolah memberi lampu hijau pada Dimas, Dimas tak mau membuang waktu langsung saja mendekatkan wajahnya, membuat hembusan napas menghembus di kulit masing-masing.
"Bismillahi Allahumma jannina as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaktana,"
Artinya: "Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan penggangu apa yang Engkau rezekikan kapada kami."
Dimas mulai menyentuh bibir Naya lalu ********** dengan lembut, tangan Dimas mengunci tengkuk istrinya, ciuman semakin dalam, membuat sulit bernapas, Naya mendorong dada suaminya agar memberi jeda, dan Dimas pun melepaskan sebentar, Kemudian mengalihkan sentuhan ke daerah lain, tangannya semakin menggereliya ke mana-mana.
Hasratnya semakin naik karena dorongan dari adik kecilnya yang sudah meronta-ronta meminta keluar, Dimas semakin tidak kuas menahan gejolak dari juniornya yang semakin menyiksa dirinya, Dimas membawa Naya ke tempat tidur dan merebahkannya, lalu Dimas melanjutkan poreplay nya dengan lembut, namun tiba-tiba.
Tok..,
Tok..,
Tok..,
"Maaf Tuan, Bu, di bawah ada dokter Aldo menunggu," suara bi Taty dari balik pintu.
Membuat Dimas bergelinjang dan duduk, dengan kesalnya, "Suruh tunggu saja Bi,?" pekik Dimas sambil memijat pertengahan keningnya, yang di akibatkan dari bawah naik ke atas jadi pusing, Naya memeluk perutnya dari belakang.
"Kenapa sayang,?" dengan suara parau terbakar gairah, melirik sesuatu yang menjulang tinggi di bawah sanah.
Dimas menoleh, mengusap tangan istrinya, "Nggak sayang, hanya suka pusing kalau tak tuntas kaya gini," dia beranjak mau masuk kamar mandi namun Naya cegah dengan memegangi tangan Dimas dan menggeleng, Dimas terdiam sesaat lalu naik merangkak ke atas tempat tidur, mengungkung kembali, dengan napas yang sangat berat dia melanjutkan aktifitasnya yang barusan terhenti, tidak perduli ada tamu menunggu, yang penting kesenangannya selesai tanpa menyisakan rasa pusing di kepalanya, ketika mau keluar.
"Allahummaj'al nuthfatna dzurriyyatan thayyibah"
Artinya: Ya Allah jadikanlah nuthfah kami ini menjadi keturunan yang baik(saleh)
Tiga puluh menit baru selesai itupun terpaksa, kasian tamu kalau menungu lebih lama lagi, mereka menyudahi pelepasannya, melepaskan penyatuan miliknya, Dimas menjatuhkan tubuhnya dengan napas yang masih memburu, perlahan menetralkan napasnya.
"Alhamdulillahi lladzii khalaqa minal maai basyaraa"
Artinya: segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan)
Dimas mengecup kening sang istri, dengan lembut dan mesra, "Terimakasih sayang.?"
"Hem..," sahut Naya, "Aku bahagia jika bisa menunaikan salah satu kewajiban ku sebagai istri."
Dimas segera beranjak dan membawa istrinya ke kamar mandi untuk bersih-bersih bersama, merekapun mandi berdua, salah satu yang di sunnahkan dalam Islam untuk pasutri adalah mandi bersama, begitupun Dimas dan Naya sering mandi bersama dalam satu tempat yang sama.
Setelah bersih-bersih mereka keluar dari kamar mandi, usai keduanya berpakaian rapi, merekapun keluar menemui tamunya, pas pintu di buka tampak dokter Aldo duduk di sofa, ketika pintu terbuka, Aldo menoleh dengan tatapan intens, Dimas memboyong sang istri ke hadapanya,
Yang membuat Aldo merasa curiga adalah, penampilan mereka yang fres, apa lagi rambut Dimas basah kelimis, "Sial.., aku di buat menunggu sementara mereka bersenang-senang bercinta," batin Aldo terlihat jelas dari wajahnya ada raut sedikit kesal.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐