Bukan Mauku

Bukan Mauku
Merajuk


__ADS_3

Dimas tak bisa menjawab apa-apa lagi hanya diam bersandar di sofa sembari menyilang kan kedua tangannya.


Bu Hesa menyeka air mata di pipi lalu beranjak meninggalkan Dimas dan sang suami, melihat istrinya pergi sang suami pun beranjak mengikuti sang istri, sebelumnya menepuk pelan penggung Dimas.


Kini Dimas Bingung, tak tahu harus berbuat apa, kalau mengikuti kata hatinya bagai mana dengan orang tua, terutama Mamaknya, ia memejamkan mata kepala mendongak ke langit-langit. bagai mana dengan perjalanan cintanya. Kanaya pasi menunggu kedatangan nya. namun tak mungkin bersatu kalau masih berbeda keyakinan.


Kemudian ia pun beranjak dari duduknya, berjalan menaiki tangga menuju kamar, sesampainya di kamar langsung menjatuhkan tubuh di atas kasur.


Melihat ponsel di atas nakas, lalu menjulurkan tangan tuk mengambilnya, setelah menemukan kontak yang di maksud, Dimas menekan panggilan menempelkan benda pipih itu ditelinga, suara seseorang yang mampu menenangkan hati dan pikiran Dimas di kala gelisah seperti ini.


"Halo..,sayang.?


"Iya..," jawab naya dengan suara parau nya, rupanya dia sudah tidur, memang sekarang ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Sudah tidur kah.? tumben sudah tidur jam segini yang.?" Dimas senyum tipis senang rasanya bila mendengar suara kekasihnya, sebuah hubungan jarak jauh yang tak mudah di jalani oleh setiap pasangan.


"Tumben apaan.? sudah jam berapa nih.? di kira masih sore apa.? gerutu Naya dengan suara sangat serak khas bangun tidur, yang terdengar begitu seksi ditelinga Dimas, berasa suara itu ada di sampingnya, ingin sekali ia memeluk dan mencurahkan segala rasa yang tersimpan di dalam hatinya selama ini.


"Emang jam berapa sayang.?" tanya Dimas sambil melirik jam dinding yang tergantung di kamar.


"Jam sepuluh yang..,! emang kamu kira jam berapa nih.? seru Naya menggosok kedua matanya.


"Oh, sama yang, hi..hi..hi.."


"Ada apa sih telepon malam-malam, tak tahukah orang ngantuk nih." ucap Naya seakan tak suka, padahal bahagia di telepon pujaan hati.


"Hah, biasanya juga malam-malam kita teleponan, bahkan jam 00.00 iya kan, buka matanya temani aku dulu bah,?" pinta Dimas. "Dan tidurpun kita bareng-bareng kan,?" goda Dimas, nyengir kuda.


"Apaan sih..? kalau saja terlihat Naya pasti tersenyum simpul.


"Yang coba pejamkan matanya.? pinta Dimas.


"Buat apa.? tadi nyuruh buka mata, jangan tidur, sekarang malah nyuruh pejam aneh dah.?" kata Naya.


"Iya pejam aja dulu," lembut.

__ADS_1


"Ini juga pejam kok, kan tahu aku ngantuk," sahut Naya. Dimas mendekatkan benda pipih itu dengan bibirnya, Cup, Dimas mengecupnya dengan mesra seolah benda itu adalah pipi seseorang.


"Merasa gak,? kalau aku mengecup pipi kamu.?" ucap Dimas, senyum licik.


"Apaan sih,?" elak Naya anehnya ia merasa berbunga-bunga, nyess di hati seakan merasakan yang Dimas berikan.


Hening..


"Yang dalam beberapa hari ini aku mau ke Bandung, kalau sempat aku akan ke tempatmu," sambung Dimas,


"Hah, kalau sempat, berarti kalau gak sempat tidak datang ke tempatku.?" Naya terperangah.


"Iya yang."


"Apa susahnya sih kesini.? dari Bandung ke Semi itu tidak jauh yang.? kalau gak sekarang mau kapan lagi.?" Naya kesal.


"Yang aku ada pertemuan di sana," lirih Dimas.


"Tapikan apa salahnya sih.? sebentar..,aja, mungpung ada kesempatan." Naya merajuk.


"Ogah,! sudahlah gak usah kesini ngapain juga.?" semakin merajuk.


"Yang dengarkan aku.! kamu tahu kan rencana aku gimana, aku harus mengurus kepindahan kerja itupun kalau bisa, kalau gak bisa berarti aku harus memikirkan cara lain." ujar Dimas menaikkan alisnya menandakan tengah memikirkan sesuatu.


"Iya berarti aku harus nunggu lebih lama lagi iya.?" Naya mengusap buliran air disudut matanya.


"Sabar aja sayang.? aku pasti datang untuk menikah denganmu sayang." bujuk Dimas.


"Gimana usaha pulsa nya lancar.?" tanya Dimas. Naya hanya diam membisu. "Yang dengar aku kan.? gimana usaha pulsanya lancar.?"


"Lancar." singkat.


Tak ada yang bicara lagi, kecuali suara Naya yang ngorok pulas, Dimas tersenyum tipis, kemudian ia pun memejamkan matanya, melewati malam yang dingin.


Pagi-pagi Dimas sudah berkemas, menyiapkan diri untuk bekerja, memakai kemeja putih pendek, jas putih juga di tarik ke siku, lalu ia turun dari lantai atas menuju meja makan, "Dimas, nanti siang kalau pulang kerja antar Mamak ke pasar" dengan tatapan datar datar.

__ADS_1


"Ia Mak siap." sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, usai makan, minum, kamudian beranjak dari tempat ia duduk. bergegas keluar, setelah melintasi pintu, ia melihat Sandi datang bersama istrinya.


"Barangkat Bang.? Sandi menatap Dimas, Dimas hanya mengangguk dengan tatapan dingin, dan berlalu melintasi mereka.


Kemudian ia naik motor, usai memakai helm melajukan motornya dengan kencang, pikirannya berputar sebagai mana roda motor yang melaju kencang.


Setibanya di Rumah sakit, ia berjalan melewati koridor di sana dengan anyeng melamun, sehingga banyak yang menyapa tak dihiraukan, terus saja berjalan sampailah ia dan duduk di kursi kebesarannya.


Tok, tok, tok, Dimas menoleh kearah sumber suara, seorang gadis berdiri didekat pintu, setaunya dia seorang dokter magang di RS tempat Dimas bekerja. "Masuk." ucap Dimas mengangguk pelan.


"Apa kabar dok.? met pagi.?" sapa suster cantik mendekati lalu duduk didepan Dimas, sekalipun belum disuruh duduk.


"Baik, ada apa ya.?" tanya Dimas menebarkan senyuman, gadis itu memandangi wajah Dimas sampai-sampai tek berkedip, "Aneh nih orang." gumam Dimas sambil memainkan kursinya.


"Ternyata kalau di lihat-lihat dalam jarak sangat dekat, cakep juga, eh..,sangat cakep banget...," batin gadis didepan Dimas senyum-senyum gak jelas.


"Hei...,nona cantik, ada perlu apa.? menemui saya.?" tanya Dimas kembali.


Si gadis mengerjap kan matanya, pertanyaan Dimas kali ini membuyarkan lamunannya. "U--untuk memandangi dokter, ups sorry," Gadis itu menunduk malu.


Dimas menggeleng, dengan tatapan penuh arti, dan gadis itu memberikan secarik kertas yang dibawanya.


"Ini dok saya mmbawa surat ini untuk dokter." sembari menganguk sopan.


Dimas menarik surat yang di berikan gadis itu, "Surat apa nih.?" menaikan alisnya. kemudian membacanya.


"Oh, Citra..,! namamu Citra," leirih Dimas, Citra mengangguk hormat.


"Emang dokter pebimbing kau kemana, sampai-sampai saya harus menggantikannya.?" tanya Dimas menatap dingin.


"Kebetulan beliau sedang ada halangan dok, makanya Pak kepala memberi surat ini pada dokter." sahut Citra menunduk kali ini tak sanggup membalas tatapan Dimas.


,,,,


Biasakan diri menghargai karya seseorang.

__ADS_1


Jangan lupa lake, komen yang banyak, rating dan votenya. agar aku tambah semangat belajar menulisnya.


__ADS_2