Bukan Mauku

Bukan Mauku
Tak ingin di ganggu


__ADS_3

"Siapa yang genit Dim,? emang salah ya kalau kita ramah sama tamu, bukankah tamu adalah raja yang harus di utamakan,?" elak bu Hesa membela diri.


Dimas mengibaskan tangan di atas angin, "Sudah-sudah, aku tidak mau mendengar apa pun, bersihkan diri masing-masing, kita makan, heran aku seperti anak kecil saja kalian."


Bu Hesa dan Maria saling pandang dan melengos ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya yang penuh tepung.


Dimas menggeser kursi yang akan ia duduki, Dimas melirik ke arah Naya yang masih berdiri bersandar ke dinding dengan melipat tangan, bersama Bi Taty.


"Aduh yang, kaki aku,?" Naya meringis.


"Kenapa sayang,?" sontak Dimas cemas dan berdiri mendekati Naya.


"Kenapa Bu,? apa yang bisa Bibi bantu,?" bi Taty pun turut cemas.


Naya mengibaskan tangan, "Tidak Bi, makasih," dengan masih meringis menahan kesemutan di kakinya.


Dimas memegangi bahu Naya, "Kenapa sayang,? kakinya kenapa,?" jangan buat aku khawatir.?"


Naya mendongak, "Kakiku kesemutan, gak sanggup berdiri lagi yang," tubuh Naya mau ambruk, namun seketika Dimas meraih tubuh istrinya dan memboyong ke sofa yang ada di dapur.


"Hem.., terlalu lama berdiri kali yang..,?" Dimas menyentuh kaki Naya, dengan refleks Naya memekik. "Aw.., yang jangan di sentuh..," dengan manjanya.


"Di luruskan yang.., kakinya pelan-pelan,?" lirih Dimas dengan sangat hati-hati meluruskan kaki sang istri.


"Kak Naya kenapa,?" Maria menghampiri dengan rasa heran.


"Kesemutan non," sahut Bi Taty yang berdiri di belakang Naya.


"Halah.., manja, cuma kesemutan," tutur bu Hesa, dari pintu kamar mandi, lalu berjalan dan menarik kursi meja makan dan duduk di sana, membuat semua menoleh, pada bu Hesa.


"Bi siapkan, saya mau makan,?" titah bu Hesa pada bi Taty.


"Baik Bu," bi Taty menyodokkan nasi buat bu Hesa.


Dimas yang berjongkok depan Naya, pelan-pelan memijat kakinya, "Gimana,? sudah mendingan sekarang hem.?"


"Sudah agak mendingan yang," Naya tidak meringis lagi.


Dimas berdiri, "Aku ambil makan dulu, kita makan Disini saja," Dimas menghampiri meja makan mengambil piring di isikan dengan beberapa menu.


"Makan di mana,?" tanya bu Hesa pada Dimas yang tengah membawa piring di tangan kanannya sementara di tangan kirinya gelas air putih.


"Makan di sofa Mak," sahut Dimas sambil melangkah kembali pada istrinya.


Kemudian Dimas duduk di samping Naya dan saling berhadapan, Naya mengambil alih piring dari tangan Dimas, sedangkan gelas air minum, Dimas simpan di di atas meja, di awali baca basmalah Naya menyuapi Dimas makan dengan tangannya sendiri, hingga Dimas tidak usah menggunakan tangan sendiri untuk makan, dia tinggal mengunyah saja, Naya menyadari bahwa dia banyak merepotkan suaminya, maka yang bisa dan mudah ia lakukan untuk membuat suaminya bahagia, tentu akan dia lakukan, karena Naya ingin dirinya marasa di butuhkan oleh sang suami, jangan hanya bisa merepotkan dirinya saja.


Maria dan bu Hesa makan di meja makan, di belakangnya Bibi tangah beberes, "Bi apa setiap hari Dimas makan begitu,?" tutur bu Hesa lirih pada Bibi.


Bi Taty menoleh, "Begitu gimana Bu,? bi Taty seolah tidak mengerti.


Bu Hesa menatap tajam pada bi Taty dan bergantian pada Dimas, "Itu makan dari tangan istrinya, bukan makan sendiri,?" ujar Bu Hesa memandangi putra serta menantunya.


"Oh itu.., benar hampir tiap hari, Tuan makan di suapi Ibu, kenapa Ibu tuan bertanya seperto itu,?" tanya bi Taty sambil meneruskan tugasnya.


"Tidak," sahut bu Hesa.


"Jadi salah, kalau ada yang bilang, Ibu itu tidak mengurus suami, yang ada di urus suami, yang benar itu,? mereka saling membutuhkan satu sama lain kok," ujar Bibi sedikit menyindir, Maria mengangguk sambil mengunyah.


"Ah, tau apa kau Bi,? siapa tau begitu tuh di depan orang saja, siapa tau kalau gak ada orang, putra saya gak di urus," dengan nada sinis, dan bibirnya di tarik ke kanan dan ke kiri.


"Terserah Ibu tuan, yang jelas saya yang selalu menyaksikan mereka, setiap hari," bi Taty melukiskan senyumnya.


Bu Hesa tidak berbicara lagi, salain meneruskan makannya, sesekali melihat kemesraan putra dan mantunya, "Saya ikut senang melihat putra saya bahagia, namun kenapa harus wanita itu,?" gumam bu Hesa dalam hati, sambil menghela napas, datang lah suami Maria bersama anaknya, untuk menjemput Maria dan langsung di ajaknya makan malam,

__ADS_1


"Nambah gak yang,? biar tambah gemuk,?" Dimas beranjak membawa piring.


"Nggak yang, ingat loh aku harus diet,? di suruh gemuk, gimana sih,?" Naya mencabik kan bibirnya.


"Iya sayang lupa, sorry,?" Dimas melengos membawa piring lalu mencucinya.


Usai mengelap tangan, Dimas duduk kembali di tempat semula.


"Kau mau nginep apa pulang Mar,?" Tanya Dimas sama Maria adiknya.


"Aku pulang lah, orang sudah di jemput, sama suami aku," Maria melirik suaminya.


"Mamak, Bapak sudah tau mau nginep di sini,?" Dimas mengalihkan pandangan pada sang Ibu.


"Tau lah, kebetulan di lahan gak ada kerjaan, mungkin beberapa hari Mamak nginep sampai Bapak kembali.


"Oh bagus lah, kalau begitu," Dimas menggenggam tangan sang istri dan menciumnya mesra.


"Yang, malu ih, di lihatin orang juga," bisik Naya pada Dimas sambil melihat yang lain yang tengah memandanginya.


"Tidak apa-apa sayang, orang kita suami istri, hem,?" mengedip kan mata sebelah, dan mendekatkan wajahnya,


"Sayang..," mencubit pinggang Dimas.


Dimas meringis, "Aw, sakit sayang."


"Habis.., gak punya malu," Naya memajukan bibirnya.


Dimas menyeringai, dan melirik Bibi, "Bi, tolong nanti rapikan kamar bekas saya Buat Mamak.?"


"Baik Tuan," bi Taty mengangguk.


Maria menggendong putra kecilnya, "Kak Aku pulang dulu lah, entar keburu malam di jalan," ucap Maria pada Naya, "Sebenarnya sih aku mau minta kue cake, tadinya eh.., tidak ada hi..,hi..,hi..," Maria malu-malu.


"Gak mau ah, maunya tuh bikinan Kakak bukan Bibi," sambar Maria.


"Iya, insya'allah, aku bikinkan lain kali, ok,?" sambung Naya.


"Ok, baiklah aku pulang dulu, Kak hati-hati Mamak bawel orangnya," bisik Maria sambil senyum tipis, Naya tersenyum.


Bu Hesa melotot ke arah Maria, "Kalian membicarakan Mama ya,?" bibirnya komat kamit entah bicara apa.


"Hi..,hi.., nggak kok, ini mah rahasia kita," sahut Maria sambil melengos dan suaminya mengekor di belakang.


Maria membalikan badan, "Abang, Mama kan super bawel, nanti istrimu di buat pusing loh, ha..,ha..,ha." mempercepat langkah kakinya.


"Dasar anak kurang ngajar," gerutu bu Hesa, sambil tersenyum.


Naya dan Dimas tertawa kecil, "Em.., baiklah Mama istirahat aja di kamar, aku juga mau masuk kamar di atas," ucap Dimas pada Ibunya.


"Loh masih sore nih Dimas,? masa sudah mau tidur,? temani Mama dulu nonton TV kenapa sih,?" kata bu Hesa dengan tatapan tajam pada Dimas.


"Naya harus sambil terapi di atas, lagian kamu mau sholat isya dulu," sahut Dimas, mengalihkan pandangan pada Naya yang mengangguk mengiyakan perkataannya.


"Ngobrol dulu ke, sama Mama, jangan ngamar mulu,? ngasih cucu aja belum,?" sambil manyun.


Dimas menghela napas, berpandangan dengan Naya, "Kami mau sholat dulu lah, nanti aku balik lagi menemani Mama," Dimas beranjak dari duduk menarik kedua tangan Naya tuk berdiri, "Pelan-pelan yang.?"


Naya berdiri dan berjalan menuju lift, Naya duluan naik dengan lift nya, sementara Dimas berjalan menaiki tangga.


Bu Hesa menatap punggung Dimas dari belakang, sampai mereka hilang dari pandangan.


"Bisa-bisa mengganggu aktifitas aku dengan Naya tuh Mama,? ah ada-ada saja," Dimas menggeleng pelan.

__ADS_1


Naya melihat ekspresi Dimas yang agak aneh, "Kenapa yang,?" tanya Naya yang masih duduk di lift kursi.


"Ah, nggak kok yang,?" Dimas membantu Naya berdiri dan di bawa masuk ke kamar.


Mereka mengambil air wudu, lalu menunaikan sholat isya berdua, usai sholat bersalaman lama.., Dimas mendaratkan kecupannya di kening Naya, kemudian merapikan bekas sholatnya ke atas meja.


Dimas membawa Naya duduk di sofa, kali ini Dimas sengaja mendudukkan Naya di pangkuan, "Yang, katanya mau menemani Mama di bawah, aku gak apa-apa kok di sini, tapi jangan terlalu malam, nanti sayang bangun kesiangan,?" merangkul pundak Dimas, sementara tangan Dimas melingkar di pinggang Naya.


"Ceritanya ngusir nih,?" Dimas mencium pipi sang istri, "Yang, aku cemburu melihat Aldo memandangi bunda, aku juga cemburu dia bebas memijat kaki dan tangan bunda."


"Bukan ngusir, yang.., dia kan dokter aku, dan aku pasiennya kan,? lagian kan sayang tau gak nyentuh kulit kok, dia aja memakai sarung tangan, heran deh.., kamu seperti bukan dokter saja,?" Naya mengulum senyumnya.


"Tapi.., tetap saja aku cemburu," dengan nada manja, Dimas menempelkan wajahnya di dada Naya, hingga merasakan detak jantung Naya yang tak menentu, berdebar dengan kencang, apa lagi ketika Dimas membuka sebagian kancing dari pakaiannya.


Membuat detak jantung Naya semakin kencang, Dimas menyeringai melihat Naya tampak gugup, seperti baru pertama berdekatan dengan seorang pria, "Kenapa sayang,?" tanya Dimas menatap netra mata Naya yang menggeleng sangat pelan.


Lama..., Dimas bermain-main di tempat tersebut dengan bibirnya, naik ke leher hingga tergambar banyak tanda merah di dada juga leher.


Di hiasi dengan suara musik, mereka sangat menikmati aktifitasnya kali ini, sampai tak sadar sudah hampir setengah jalan dari tujuan.


Tok..,


Tok..,


tok.., "Dimas..," panggil bu Hesa, sambil mengetuk pintu.


Dimas dan Naya terperangah kaget, mendengar suara bu Hesa, Dimas memandangi Naya yang juga menatapnya, "Untung pintu aku kunci yang,?" lirih Dimas, kalau enggak bisa-bisa," Dimas mengusap kasar rambutnya.


"Ck..,ck..,ganggu aja Mama ini," dengan wajah kecewa menggurat di wajah Dimas, begitupun dengan Naya, namun ia masih bisa tersenyum.


"Temui sana, kan tadi sayang bilang mau mengobrol sama Mama,?" titah Naya.


Dimas masih di posisi yang sama, dan lagi-lagi menenggelamkan wajah di belahan benda empuk, tak ingin sedikitpun menjauh dari sang istri, keberadaannya benar-benar menjadi candu bagi dirinya, Naya sambil menyentuh pipi Dimas, "Sayang.., Mama gimana,?" lirih.


"Em.., biar aja, paling dia mengira kita sudah tidur, lampu juga sudah temaram kan,?" ucap Dimas mengamati, suasana yang kebetulan sudah menjadi temaram seolah penghuninya sudah berada di alam mimpi.


"Tapi.., sayang,?" Naya cemas dan gak enak sama Mama mertuanya, "Stt..,biar aja, jangan ada siapa pun yang ganggu bulan madu kita,?" Dimas menempelkan jarinya di bibir sang istri, lalu berganti dengan bibirnya yang menyentuh ***** lembut sang istri dengan me*****nya mesra dan menuntut lebih.


"Dimas, sudah tidur kah,? katanya mau menemani Mama ngobrol,? Mama tidak ada kawan,? Dimas.?" ujar bu Hesa, namun tidak ada yang menghiraukan.


Dimas sama sekali tak ingin menggubris panggilan dari Mamanya, biar saja, toh di luar ada bi Taty, Dimas melanjutkan aktifitasnya dengan tenang, sampai tidak sadar mereka sudah di atas tempat tidur bukan di sofa lagi, agar lebih leluasa, saat ini mereka berada di bawah selimut, bergulat penuh dengan gairah, tersulut oleh panasnya darah yang mengalir di dalam diri masing-masing, mendaki hingga ke puncak, berlayar di tengah lautan madu hingga bercucuran peluh di tubuh mereka.


Beberapa jam kemudian Dimas mengakhiri adegan percintaannya, apa lagi melihat istrinya sudah sangat kelelahan, Dimas menghempaskan tubuhnya di samping sang istri sebelumnya mengecup kening sang istri, "Terimakasih sayang,?" bisik Dimas.


Naya hanya mengedipkan matanya, sabil meringsut ke pelukan sang suami, membenamkan wajah di dada Dimas, tangan Dimas merangkul tubuh sang istri dengan penuh kehangatan, Naya begitu kelelahan kantuk pun menyerang, beberapa kali menguap, "Hem.., istriku sudah menguap, bobo sayang,?" sambil mengusap punggung Naya.


Tak lama merekapun tertidur pulas, memasuki pintu gerbang dimana sebuah suasana di alam bawah sadar manusia. sepanjang malam terlewati dengan indah sampai pagi menjelang.


Sebelum sang surya bersinar Naya sudah rapi dan berada di dapur, khusus untuk menyiapkan sarapan buat sang suami, "Bi, sayurannya tolong di cuci kan,?" titah Naya pada Bibi sementara dirinya memotong bawang merah dan putih, buat nasi goreng tidak lupa di beri cabe beberapa buah dan potongan cumi basah.


"Bi, Mama semalam tidur pukul berapa,? Naya membuka pembicaraan dengan Bibi.


"Em.., pukul berapa ya,? kalau gak salah sih pukul sembilan Bu, Ibu besar naik ke atas memanggil Tuan tapi gak ada yang menjawab, mungkin Ibu sama Tuan sudah tidur katanya," ujar bi Taty sambil mengerjakan tugasnya.


Naya mengulum senyumnya, bukan sudah tidur tapi tengah nanggung tak ingin di ganggu, "I-iya Bi mungkin kami sudah tidur semalam," Naya pura-pura menaikan alisnya, agar Bibi tak juga curiga.


"Ya Bibi bilang saja, Tuan dan Ibu memang setiap hari tidurnya masih sore, padahal mah Bibi gak tau, yang jelaskan,? Tuan dan Ibu lebih suka menghabiskan waktu berdua," Bibi tersenyum samar.


"Iya Bi," Naya singkat, setelah beberapa puluh menit berkutat dengan wajan dan kompor akhirnya nasi goreng cumi ala Kanaya sudah siap.., Naya tata di meja makan, di lanjut bikin susu cokelat panas, tanpa di panggil Dimas turun, melihat Mamanya di ruang tengah, dan istrinya di dapur menata piring di atas meja makan.


,,,,


Apa kabar semua reader ku,? semoga baik aja ya, selalu ada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, terimakasih yang sudah setia di novel aku,🙏 bagi yang baru mampir juga.., terimakasih ya,? jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vite nya,🙏

__ADS_1


__ADS_2