Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mancair juga


__ADS_3

Naya menarik napas dalam melihat sikap Dimas seperti itu, masakan pun sudah siap di sajikan, bi Taty menata di meja makan, dan Naya naik ke atas hendak ke kamarnya, kebetulan sudah memasuki waktu sholat dzuhur.


Sesampai di kamar Naya langsung ke kamar mandi, lanjut menunaikan sholat dzuhur, usai salam Naya melihat Dimas duduk santai di sofa, "Sholat dulu yang, nanti kita makan" Naya lirih.


Dimas hanya melirik sekilas, lalu berdiri berjalan menuju kamar mandi, "Mau mandi dulu, berendam," kemudian hilang di balik pintu, Naya tersenyum lucu.


Naya menyiapkan baju buat Dimas, ia letakkan di atas tempat tidur, Naya mau turun ke dapur, namun ia urungkan niatnya kemudian Naya duduk di sofa menunggu Dimas keluar dari kamar mandi.


Sudah 25menit Dimas masih belum juga keluar, dan masih terdengar suara air yang mengalir dari dalam sana.


"Permisi Tuan dan Ibu, di tunggu makan siang di bawah," pekik bi Taty dari balik pintu.


Naya menoleh ke sumber suara, "Iya duluan aja Bi, Abang masih mandi," balas Naya, tak ada lagi sahutan dari balik pintu, mungkin bi Taty sudah kembali ke dapur.


Naya menoleh ke arah kamar mandi Dimas baru aja keluar sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil, "Lama amat sih yang.?"


"Namanya juga berendam, kalau sebentar bukan berendam namanya, mandi kilat," sahut Dimas.


Naya menggeleng dengan seutas senyumnya, usai sholat Dimas mendekati memberikan handuk pada Naya, "Keringkan rambutku.?"


Naya langsung menuruti, setelah di rasa sudah kering, Naya menghentikan menurunkan tangannya dari kepala Dimas, "Sudah di tunggu makan,?" ucap Naya.


Dimas merubah posisi duduknya jadi menghadap dan menatap lekat wajah sang istri, "Yang, sesungguhnya aku gak kuat, berendam pun hanya mengurangi sedikit saja, yang beri tau aku gimana caranya supaya aku kuat,? bila melihatmu,? katakan,?" Dimas menyentuh kedua bahu Naya serta menatap lekat bola mata Naya.


Naya malah terkekeh setelah saling bersitatap, "Ha. ,ha..,ha.., tutup matanya atau puasa aja."


Dimas melepas sentuhan tangannya dari bahu Naya, "Sial.., kau anggap aku cuman bercanda,?" memalingkan pandangannya ke sembarang tempat, Naya langsung terdiam.


"Yang, di luar ada keluarga kita, gak mungkin kan kita biarkan mereka,? mereka sengaja datangi kita, kunjungi kita, masa kita membiarkannya,?" Naya membingkai wajah suaminya dengan kedua tangan Naya, sembari menatap netra mata Dimas yang penuh kesal.


Dimas mencoba mengelak, dan melepas tangan Naya dari wajahnya, Naya langsung mengalungkan tangan di leher Dimas, "Marah kah sama aku hem,?" Naya dengan tatapan lembut.


Dimas hanya membalas tatapan Naya, membuat Naya punya niat untuk menggodanya, cup.., Naya mencium pipi Dimas kanan dan kiri, sambil tersenyum menggoda.


"Jangan goda aku,? nanti aku gak tahan,?" sambil menjauh dari Naya mengusap pipinya yang lembab.


"Ya udah, kita makan yuk,?" ajak Naya sembari beranjak dan merapikan kerudungnya.


"Malas ah, gak lapar," sembari menyandarkan punggungnya di bahu sofa.


"Ya sudah, kalau gak mau, aku aja sendiri, aku lapar mau makan," sambil melangkah mendekati pintu.


Dimas hanya terdiam di tempat melihat kepergian Naya, setelah Naya tak terlihat lagi Dimas pun dengan malasnya mengikuti Naya ke meja makan.


Di meja makan sudah berkumpul mereka, dan makan bersama, Dimas duduk di sebelah Naya, tanpa bertanya Naya mengambil beberapa menu di piring, dan langsung menyuapi Dimas yang mulanya malas makan, namun Naya tidak perduli, dia terus menyuapi Dimas, meski tanpa ekspresi, sangat dingin meskipun yang lain bersenda gurau, dia tetap bersikap dingin.


"Yang, jangan jutek gitu ah, gak baik,? masa di depan mereka bersikap dingin gitu,?" bisik Naya di telinga Dimas, "Senyum,?" akhirnya Dimas pun menarik bibirnya tersenyum.


"Gitu kan cakep,?" Naya lirih.


Dimas nyengir kuda, senyum terpaksa memperlihatkan barisan gigi putihnya.


"Makasih ya kak hadiahnya buat Chika,?" ucap Sandy memandangi Naya.


"Iya sama-sama," sahut Naya dengan senyum ramahnya.


Naya mengalihkan pandangan pada Dimas yang hanya diam sesekali mengulas senyum, "tambah lagi gak makannya.?"


"Cukup," sembari meneguk minumnya.


Setelah makan, mereka ingin tidur siang dan masuk ke kamar yang mereka suka, Dimas menyeringai otak mesumnya kembali, namun Naya malah sibuk rapat sama bi Taty membahas kue cake, Dimas melengos sedikit berlari menaiki anak tangga sekilas Naya melihatnya.

__ADS_1


"Bi, bikin aja dua cake nya, dan semua di kemas biar mereka bawa, tapi kalau Bibi mau ya bikin lagi aja,?" ujar Naya pada bi Taty.


"Baik Bu,? Bibi laksanakan," jawab bi Taty manggut-manggut.


"Ya udah, aku ke atas dulu mau istirahat, lagian baby besar ku dari tadi uring-uringan terus," Naya mencuci tangannya.


"Hahaha.., makanya urusin aja Bu baby besar Ibu, urun dapur biar Bibi yang tanganin," bi Taty terkekeh mendengar sebutan baby besar untuk Tuannya.


Naya jadi malu, "Makasih ya Bi, bukannya sekarang ini Bibi istirahat siang kan, malah aku suruh membuat kue.?"


"Tak apa Bu tenang aja gak tiap hari juga, sudah Ibu urus dulu Tuan, nanti tambah uring-uringan lagi," titah bi Taty, Naya tersenyum dan pergi meninggalkan bi Taty di dapur.


Sesampainya di kamar Dimas tengah duduk bersandar di atas tempat tidur, Naya memberikan senyum terbaiknya, "Belum tidur yang,?


"Belum," Dimas melirik dengan sekilas, Naya naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut, dan membelakangi Dimas, Dimas melihat Naya dari belakang, kemudian Dimas pun membaringkan tubuhnya di samping Naya dan memeluk pinggang Naya, Naya tersenyum memeluk tangan Dimas, mereka berdua memejamkan mata, dan tak butuh waktu lama mereka berdua pun tertidur menjelajah alam mimpi.


Sore-sore Naya terbangun, melirik ke arah suaminya sudah tidak ada di tempat, "Tumben bangun duluan, yang,?" panggil Naya sambil menyingkap selimut dan menurunkan kedua kakiku menapaki lantai.


Dimas keluar dari kamar mandi, mungkin sudah mengambil air wudhu, Naya melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat, "Aku kira sayang kemana.?"


"Kemana,? cuma dari kamar mandi," sembari memasang sejadah.


Naya terdiam, dirinya belum bisa mencairkan suasana hati suaminya, Naya berjalan menuju kamar mandi.


Di bawah sudah ramai kembali karena semua sudah pada bangun tidur siang, dan bersiap pulang.


Maria duduk di kursi dekat meja makan, memperhatikan bi Taty yamg tengah mengemas kue cake, "Buat kemana Bi,? di kemas rapi seperti itu,?" tanya Maria.


"Em.., buat non Maria bawa pulang, dan yang satu lagi buat Tuan Sandy," ujar bi Taty menjelaskan.


"Beneran buat saya,?" tanya Maria menatap bi Taty.


"Bener, Bibi juga di suruh Ibu," bi Taty melengos dari hadapan Maria mau menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Masih di atas, sebentar lagi juga pasti turun," kata bi Taty.


Benar saja, Naya turun dari tangga, "Sekarang kak Naya gak pake lift lagi, sudah kuat kah naik turun tangga,?" menatap tajam dari atas sampai kaki Naya.


"Alhamdulillah sedikit-sedikit, bisa," sahut Naya dengan senyum ramahnya.


"Baguslah, oya beneran kue-kue ini buat kami bawa pulang,?" sambung Maria pada Naya, yang duduk di sebelahnya.


"Iya, bawa aja buat kalian kok," Naya melirik Maria.


"Oh, makasih ya kak Naya.?"


Sandy menghampiri, "Kapan kak Naya akan ke tempat kami.?"


Naya mengalihkan pandangan pada Sandy, "Lain kali lah kami berkunjung ke sana," sahut Naya melempar senyum pada Jelita yang baru datang.


"Hem.., kami tunggu lah," sambung Sandy.


Dimas pun datang duduk dekat Naya, "Kalian mau ke mana,? sudah bersiap seperti itu.?"


"Pulang Abang, kami tentunya mau pulang, sudah cukup bikin repot irang sini hi..,hi..,hi..," Maria tertawa.


"Ah repot apa,? gak repot kok malah senang, kalau ada kalian rumah ini jadi rame," ucap Naya menarik sudut bibirnya senyum tipis.


"Jadi boleh dong kami sering-sering datang kak,?" Maria menatap Naya seakan ingin tau isi hati kakak iparnya.


"Boleh dong, siapa yang larang emang,? aku senang kalian sering-sering ke sini," Naya bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Nanti juga kalau sudah ada baby pasti rame kak," sambar Jelita.


Naya menoleh, " Eh iya, itu pasti."


"Ayo dong.., segera bikin baby biar rame mau nunggu apa lagi,? nanti keburu tua loh,?" sambung Jelita membuat Naya terdiam tersenyum samar dan menunduk.


"Kalau bikinnya sih so pasti sering, cuman belum jadi aja iya kan kak Naya,? emang membuat baby dari terigu apa,?" sahut Maria seakan membela Naya.


Naya mendongak dan sedikit mengangguk, "Iya bener Maria."


Jelita seolah terbentur oleh omongannya sendiri, mukanya sedikit memerah.


"Kalian doakan lah biar kami cepat dapat momongan,?" Dimas dengan tatapan datarnya.


"Ok, siap kita pulang, kebetulan cuaca sangat mendukung tuk jalan sore-sore,?" Sandy beranjak dari duduknya, "Anak-anak ayuk kita pulang,?" anak-anak sangat antusias, Chika membawa boneka panda nya.


"Wah.., emangnya kalian tidak ingin menginap di sini ya,?" Naya menatap anak-anak, dan mereka bersalaman dengan Naya, dan Naya mengusap pucuk kepala mereka masing-masing.


"Ya udah Maria pulang dulu ya kak,? lain kali kita main lagi," Maria memeluk Naya mencium pipi kiri dan kanan, bergantian dengan Jelita.


"Ok, kalian hati-hati ya,?" ucap Naya.


Mereka akhirnya pulang, suasana rumah menjadi sepi kembali, Naya memandangi mereka lewat jendela yang ada di dapur, setelah mereka tidak ada Dimas menonton TV di ruang tengah, Naya mendekati bi Taty, "Bi, masaknya jangan banyak-banyak, cuma kita bertiga saja malam ini."


"Iya Bu," sembari asik memasak.


Naya terdiam mengingat perkataan Jelita, Naya mengusap perutnya sendiri yang masih belum ada tanda-tanda berisi baby kecuali makanan, bi Taty melirik majikannya yang membatu.


"Anak itu rejeki dari Allah, tidak bisa di mau-mau, juga tidak bisa gak mau, biar kita sangat ingin, kalau Allah belum memberi kepercayaan gimana, sabarlah jalan satu-satunya," ujar bi Taty, membuat Naya melirik bi Taty.


"Iya Bi, dan aku tau, usiaku tidak muda lagi Bi, aku sudah tua, benar kata Jelita," sedikit menyayat hati.


"Jangan berkecil hati Bu, usia gak akan jadi penghalang kalau Allah sudah menghendaki Ibu punya anak," bi Taty menghibur majikannya.


Tak terasa jatuh air bening dari sudut matanya, Naya mengusap kasar.


"Sabar Bu, nanti juga akan datang masanya, percayalah kepada Gusti Allah Bu," bi Taty terus berusaha membesarkan hati Naya majikannya.


Setelah makan malam, Dimas masuk kamar duluan, sementara Naya membantu beres-beres bi Taty, dalam pikiran Naya terus berputar gimana caranya agar dinginnya sikap Dimas bisa mencair lagi, gak biasanya seperti sekarang dingin jutek lama, sampai seharian ini.


"Bi, sudah selesai, Bibi istirahat sana,? jangan lupa kunci pintu dulu ya,? dan aku juga mau ke kamar, Bibi juga masuk kamar istirahat, tadi siang tidak tidur siang kan,?" ujar Naya pada bi Taty.


"Iya Bu, Bibi juga mau tidur, capek Bu," sahut bi Taty, sambil merapikan cucian, yang baru di cuci oleh Naya.


Naya bergegas menaiki anak tangga masuk ke dalam kamar, lampunya sudah temaram, namun terlihat jelas Dimas tengah duduk di sofa menghadap laptop di meja, Naya masuk mengambil setelan tidur, Naya mengganti pakaian dan sengaja mengsisakan dua kancing di atas tidak terpasang hingga memperlihat kan belahan dadanya.


Naya menghampiri Dimas di sofa, Naya sengaja duduk di paha Dimas, kedua tangan Naya melingkar di pundak Dimas, "Yang..,bobo yuk,?" dengan lirih dan manja.


Dimas memegang tangan Naya, dan menatap wajah Naya, yang mengurai rambut panjangnya, wangi dari tubuh Naya semerbak, tangan Dimas yang sebelah memeluk pinggang Naya, "Tidur aja duluan,?" ucap Dimas dengan tatapan tertuju ke dada Naya yang sedikit terbuka kancingnya tidak terpasang membuat terlihat jelas belahannya dan jelas juga kaki gunungnya terlihat, membuat Dimas menelan Saliva nya sendiri.


Naya tersenyum penuh kemenangan, sebentar lagi dinginnya sikap Dimas akan mencair juga, perlahan Dimas mendekatkan wajahnya ke dada Naya dan membenamkan di situ, bibirnya mengecup daerah itu dengan lembut, membuat beberapa tanda kepemilikan di situ membuat desahan-desahan kecil lolos dari bibir Naya menambah gairah Dimas semakin memuncak ke ubun-ubun.


Dimas mendongak, dengan agresif Naya mencium kening dan pipi Dimas, lalu memejamkan mata karena Dimas mendekatkan bibirnya ke bibir Naya dan ********** dengan sangat lembut, Dimas menarik tengkuk Naya agar ciuman bibirnya semakin dalam, keduanya sangat menikmati adegan tersebut.


Adik kecil Dimas yang tegang dari pagi semakin meronta ingin meminta jatah, Dimas semakin gencar dengan aksinya, darahnya semakin memanas, gejolak hasratnya semakin menggebu, napas keduanya semakin memburu, Dimas menggendong Naya ke tempat tidur, entah dari kapan mereka sudah tanpa sehelai benang pun, Dimas segera memasang selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, saking tidak kuat menahan lagi Dimas langsung tancap gas tak lupa membaca doa sebelum berhubungan.


Dimas menyatukan miliknya dengan milik istrinya, memacu cepat gerakannya, liuk tubuhnya tak beraturan, peluh di tubuh mereka bercucuran, hingga saatnya pelepasan kenikmatan antara keduanya, sebentar berhenti lalu mulai lagi dan lagi, benar-benar tidak cukup satu dua kali tapi.., berkali-kali Dimas melepas kenikmatan yang tiada tara, hingga akhirnya Dimas merasa lelah, apa lagi dengan Naya, Dimas mengecup kening dan bibir Naya sebagai terimakasih sudah melayaninya dengan baik, memberi servis yang sangat memuaskan


Akhirnya Dimas mengeluarkan adik kecil dari sarangnya setelah benar-benar merasa puas yang tiada tara, dan menjatuhkan tubuh di samping Naya, dengan napas yang masih memburu, tak beraturan, Naya meringsut meletakkan kepala di bahu Dimas, setelah beberapa jam bertempur meraka merasa capek lalu mereka tertidur sangat nyenyak.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2