
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tertidur dengan pulas nya, apa lagi Dimas merasa lelah dengan aktifitasnya, dan tidur lebih cepat adalah lebih baik baginya, dari pada sulit tidur yang akhirnya pikiran melayang tak karuan.
Pagi-pagi matahari sudah menampakkan sinarnya dan hangatnya mulai menyapa kulit, embun yang ada di dedaunan mengkilat seperti permata.
Ini hari di mana Dimas dan Naya akan menjemput baby twins nya dari rumah sakit, "Pak sudah siap belum mobilnya,?" tanya Dimas.
"Sudah Pak."
"Mama mana nih,? katanya mau ikut," Naya mencari keberadaan Ibu mertuanya.
"Masih di kamar yang, masih dadan kali," sahut Dimas sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
Naya pun mengikuti suaminya duduk di sebelah dengan tangan memainkan ponsel, "Hem.."
Bu Hesa muncul dengan penampilan sangat rapi dan cantik, mengenakan tas kesayangannya, "Berangkat sekarang gak nih,? sudah gak sabar pengen ketemu cucu," senyumnya mengembang.
"Sekarang aja, nanti keburu siang panas," Dimas beranjak dari duduknya berdiri merapikan pakaiannya yang kusut
Naya juga berdiri merapikan kerudungnya, lalu memasukan ponsel ke sakunya melangkah mengikuti Dimas dan Bu Hesa yang sudah lebih dulu berjalan.
Sampai di mobil Dimas menunggu Naya, Bu Hesa masuk terlebih dahulu duduk di depan, ''Ayok dong, sudah gak sabar nih," Bu Hesa melirik Dimas dan mantunya.
Naya naik dan duduk dengan santainya memasang pengaman, begitupun Dimas mengitari mobil masuk dari pintu samping.
"Jalan Pak," titah Dimas setelah ia menutup pintu.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju Rumah sakit, pandangan Naya tembus keluar jendela melihat pemandangan sekitar yang terlewati, tak ada yang membuka suara kecuali suara mesin yang bergemuruh.
Tak selang lama, mobil menepi masuk parkiran, semua turun berjalan melewati koridor Rumah sakit untuk menjemput baby twins nya.
Semua berjalan lancar dan sesuai rencana, bayi nya Naya sudah bisa dibawa pulang dan di sambut bahagia oleh keluarga besar.
Baby Arif tengah di gendong oleh sang Ayah, dan Kayla bersama Naya tengah di beri asi, "Yang kenyang ya sayang, nanti bergantian sama Abang," gumam Naya mengusap lembut kepala Kayla
Baby Arif dah mulai rewel mungkin sudah lapar, dan Dimas mengayun-ngayun Arif agar tenang dan bersabar.
Naya melepaskan Kayla menidurkan di tempat tidurnya, "Sini yang, Arif nya bawa sini," Naya membuka tangannya bersiap menggendong Arif.
Simas mendekat memberikan Baby Arif pada Bundanya, Arif langsung tenang setelah diberi asi sama Bundanya, sentuhan lembut seorang Ibu membuat nyaman anak-anaknya.
"Arif, itu punya Ayah, kok Arif yang menikmati sih,?" gumam Dimas sembari menatap Arif yang melek merem meminum asi.
Senyuman Naya mengembang mendengar ucapan Dimas yang seolah merajuk sama anak balita.
Dimas melirik Naya, "Kenapa Bunda senyum-senyum puas gitu,? senang betul suaminya tersiksa."
"Sapa juga yang berpikir kaya gitu," elak Naya sembari menyembunyikan senyumnya.
"Siapa yang berpikir kaya gitu,? itu apa artinya," gerutu Dimas sembari membaringkan tubuhnya dekat Beby Kayla.
Hari-hari kegiatan Naya bertambah sibuk, ya itu mengurus kedua bayinya yang semakin hari semakin menggemaskan saja, setiap malam harus bangun untuk memberi asi, belum lagi kalau mereka rewel, namun kalau malam di usahakan mengurusnya hanya berdua dengan Dimas tak boleh ada yang membantu kecuali siang.
Untungnya mereka jarang rewel kalau di malam hari, keduanya anteng dan nyenyak, keduanya begitu menikmati peran sebagai orang tua baru.
Begitupun Dimas semakin sibuk mencari pundi-pundi rupiah untuk keluarganya, sementara Ke
klinik sudah hampir rampung pembangunannya.
Usaha Naya di bidang pakaian juga konter semakin maju pesat, kantor Kanaya busana jadi berpindah ke sebelah konter, tidak di rumah lagi seperti awalnya, Naya sangat beruntung kini hidupnya dicintai banyak orang, termasuk Ibu mertuanya.
Hari ini Naya di kamar tengah mengasuh baby nya, Bu Hesa datang membawa makanan buat Naya, "Naya ini Mama bawakan makan buat kau, ingat harus banyak makan yang bergizi pula apalagi sekarang sedang memberi asi, harua diperhatikan makannya."
Naya menoleh kearah mertuanya yang menyimpan makanan ke meja, "Iya Mak makasih banyak."
"Wah.., mana cucu omah yang lucu yang menggemaskan, tututu..,cucu omah," Bu Hesa menggendong baby Arif yang sedang bermain.
Tak selang lama Bapak mertua datang dengan wajah sumringah, "Rindu saya sehari tidak melihat cucu kakek nih," lalu meraih tubuh baby Kayla, Naya tersenyum bahagia melihat mertuanya begitu sayang sama anak-anak Naya.
"Andai saja orang tua 'ku berdekatan pasti mereka juga akan perhatian dan sayang pada kedua baby 'ku," menghela napas dalam, pandangan pun jauh menerawang.
"Oma, kita bawa mereka keluar biar menghirup udara segar," melirik omah nya.
"Ayuk kita bawa," sahut Bu Hesa sangat antusias.
"Naya biar mereka kami bawa ke luar sebentar agar bisa menghirup udara segar," ucap Bapak mertua menoleh Naya namun Naya tidak merespon, sepertinya melamun.
"Naya?" panggil Bu Hesa dengan nada yang agak tinggi dan itu dapat membuyarkan lamunan Naya seketika.
"Hah.., apa Mak,?" menatap Ibu mertua.
"Kau ini, sedang memikirkan apa sih,? Bapak mengajak kau bicara," Bu Hesa melirik suaminya dengan ekor kata.
Naya pun menoleh Bapak mertua, "Oh apa Pak,? maaf tadi Naya melamun, jadi gak kedengaran," senyum samar.
__ADS_1
"Ini mereka akan kami bawa cari angin ke teras boleh ya.?"
"Em.., boleh tapi jangan lama-lama takut haus," sahut Naya mengangguk.
"Iya, paling sebentar, ya manis cucu kakek yang muanisss," sembari mengajak bicara baby Kayla.
Akhirnya Bu Hesa bersama suami membawa baby twins ke luar kamar hendak membawa jalan-jalan baby twins ke teras depan rumah.
Naya melongo sendiri di kamar, lalu turun minginjak lantai berjalan menuju kamar mandi, mau mengambil air wudu tuk duha mumpung baby twins nya dibawa kakek dan omah nya.
Selepas duha Naya mengambi kertas tuk menggambar, kebetulan bayinya masih bersama mertuanya.
"Loh yang, kok udah pulang," Naya menoleh jarum jam yang menunjukkan pukul 10.40 pagi.
"Assalamu'alaikum,? iya gak inak badan Bunda, kepala pusing nih," lirih Dimas mengecup kening sang istri.
"Wa'alaikum salam, oh ya sudah istirahat aja," Naya mencium punggung tangan Dimas.
Dimas langsung mengganti pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, sementara Naya mendekati lemari mengambil pakain ganti buat Dimas.
Usai mengganti pakaian santai Dimas menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, "Anak-anak bersama Mama di bawah Bun," ucap Dimas sambil tiduran terlentang.
"Hem..," gumam Naya pelan.
Dimas menoleh istrinya yang duduk di sofa, lalu Dimas bangun menghampiri istrinya, Naya mendongak, "Istirahat lah kalau gak enak badan."
"Maunya sih," kemudian duduk berdempetan dengan Naya, Naya menggeser duduknya biar nyaman geraknya dalam menggambar, namun Dimas tetap mengikuti gerak Naya hingga tetap nempel bagai perangko.
"Yang.., lagi gambar nih," Naya mendorong paha suaminya.
"Ya gambar aja," sambil merangkul pinggang dan dagunya diletakkan di bahu istrinya.
"Nggak bisa, kalau kamu kaya gini," Naya gerak geli.
"Yang, baby kita sudah tiga bulan,?" bisik Dimas dekat telinga Naya.
Naya melirik, "Iya, kanapa emg,?" menautkan keningnya.
"Sudah tiga bulan ini aku gak di kasih jatah, sampai kapan yang,?" merajuk.
Naya terdiam kemudian melirik suaminya, "Katanya gak enak badan, istirahat sana, sudah minum obat belum, apa mau di bikinkan sup ayam mau ya," Naya mengalihkan pembicaraan Dimas.
"Iya gak enak badan, gak ngerasa kah suhu tubuh Ayah panas,?" jelas Dimas dengan posisi yang sama.
"Nggak, maunya.., bobo sama bunda."
"Seperti anak kecil aja ah, bentar lagi baby kita pasti balik."
"Biar aja, lama gak di manja juga, Bunda sibuk dengan baby kita, kalau ada waktu juga gak mau manjain Ayah lagi," sambil menjauhakan tangannya dari pinggang Naya, duduk bersandar ke bahu sofa dengan tangan terbuka.
Naya menatap lembut, bibirnya melukiskan senyuman manis lalu masuk ke dalam pelukan Dimas menyandarkan kepala dibawah lehernya dan tangan melingkari perut Dimas.
"Benarkah, aku gak pernah manjain Ayah,? mendongak manja.
Dimas menoleh sipit wajah istrinya, menatap bibinya yang ranum kalau buah pas di petik dan dinikmati segarnya, "Jarang sekali," perahan wajahnya mendekati wajah Naya, sehingga hembusan napasnya menyapu hangat kulit wajah Naya.
Naya pejamkan mata, seolah siap untuk di sentuh, sudah tiga bulan lewat memang membiarkan Dimas tak menyentuhnya, dengan alasan belum siap, lama-lama kasian juga.
Wajah Dimas semakin dekat dan akhirnya bi*** mereka disatukan, saling m****** dengan lembut dan hangat tidak cukup disitu saja, jemari Dimas mengeksplorasi daerah-daerah yang lama tak di kunjungi.
"Mereka kami pulangkan, sudah haus Bunda, kami kelaparan Bunda," suara Bu Hesa masuk kamar, sontak Dimas dan Naya menjauh duduknya serta menghentikan aktifitasnya, untung sofa membelakangi pintu hingga tak terlihat yang datang, keduanya mengelap bibir yang basah, akibat barusan.
Naya menarik napas menetralisir keadaan ia berdiri mau menghampiri Ibu mertuanya, dan Baby nya mulai rewel pengen mimi.
Sementara Dimas tetap diam di posisi semula dengan hati sedikit dongkol, niat ingin membelah durian tapi malah mendapat durinya sebab waktu yang kurang tepat.
"Uuh.., haus ya sayang,?" Naya meraih tubuh baby Arif yang nangis, Naya segera duduk di tepi tempat tidur memberi asinya pada Arif.
"Kayla mana Mak, masih anteng kah,?" tanya Naya melirik Ibu mertuanya.
"Masih anteng, Arif beri asi sampai kenyang, nanti Kayla Mama bawa kesini," lembut Bu Hesa sambil melengos keluar.
Dimas beranjak berjalan mendekati tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya dengan cara tengkurep untuk menyembunyikan sesuatu yang bangun di bawah sana, hatinya kecewa.
Naya hanya melihatnya dengan tatapan kasian, "Yang nanti malam ya," Naya pelan.
Dimas tertidur dengan berbantalkan lengan tak sedikitpun merespon omongan istrinya, Bu Hesa datang lagi membawa Kayla yang rewel juga, Naya menidurkan Arif di box nya, kemudian mengambil Kayla dari tangan Bu Hesa.
"Ya sudah, Mama sama Bapak mau mnengok sidara di kampung dulu ya," ucap Bu Hesa mengusap pucuk kepala Kayla.
"Oh iya Mak hati-hati ya,?" Naya memberikan senyumnya.
Bu Hesa melirik Dimas yang tiduran tengkurep, "Kau sudah minum obat Dimas.?"
__ADS_1
"Udah," tanpa menoleh sedikit pun.
"Oya, Mama mau pergi dulu," Bu Hesa berjalan melintasi pintu, di ikuti oleh Dimas mengunci pintu, kemudian kembali menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur kali ini terlentang. dengan tangan masih sama di bawah kepalanya.
Karena baby Kayla sudah tidur, Naya membaringkan Kayla di box satunya, "Bimillah.., bobo ya," kemudia mendekati Dimas perlahan dan Naya berbaring meletakkan kepala di dada sang suami.
"Apa mereka sudah tidur," cup mengecup kening sang istri.
Naya mengangguk pelan, mengelus dada Dimas yang sedikit berbulu itu, bibir Dimas menyunggingkan senyum.
"Siapkah sayang," mengelus pundak istrinya, lagi-lagi Naya mengangguk.
Dimas semakin mengembangkan senyumnya, hati amat berbunga-bunga dan berdebar tak karuan, berasa mau malam pertama saja.
Tidak membuang waktu, Dimas langsung gencar melakukan aksinya, seperti pasangan yang baru malam pertama agak ragu-ragu dan deg-deg ser, jantung begitu berdebar kencang, apa lagi khawatir si kecil pada bangun bikin pikiran tidak tenang.
Namun keduanya mencoba untuk tenang, saling menghela napas membuang ke khawatiran, mereka ingin sekali menikmati kegiatan yang lama tidak mereka lakukan, dari ujung kepala sampai ujung kaki tak luput dari sentuhan lembut Dimas.
Tidak disadari semunya sudah berada dalam selimut tanpa pakaian yang tadi mereka kenakan, Dimas mengatur ritme gerakannya agar tak menyakiti sang istri, penyatuan milik keduanya sangat lama dan berulang-ulang, maklum berbulan-bulan istirahat, kebetulan si kecil pun tidurnya sangat nyenyak membuat orang tuanya anteng dengan permainannya.
Setelah puas Dimas mengahiri dengan beberapa kecupan lembut di kening dan pipi sang istri, Ia memeluk tubuh isatrinya sangat erat sambil baringan, ''Nanti sore Ayah akan berangkat pertemuan di luar kota.''
Naya mendongak, "Loh.., kok mendadak,?" menarik selimut dan di jepitnya agar menutupi dada.
"Iya, jaga diri baik-baik, dan anak juga," cup lagi-lagi mengecup kening Naya yang masih mendongak menatap sang suami.
''Menginap kah,?" masih dengan tatapan penasaran.
"Sepertinya iya, baik-baik ya di rumah," mengelus rambut Naya lembut
Kemudian Dimas bangun mengenakan celana pendek, Naya pun meringsut duduk beraandar, tidak bicara dulu Dimas mengibaskan selimut Naya dan langsung memboyong tubuh Naya mau dibawa ke kamar mandi.
"Eh.., aku bisa jalan sendiri yah," ucap Naya sambil mengalungkan tangan di leher Dimas.
"Biar cepat, nanti anak-anak keburu bangun yang," dengan tetap melangkahkan kakinya dan blak membuka pintu kamar mandi.
Setelah mengisi bath tub, kemudian keduanya berendam sebentar dan membersihkan diri dibawah air shawer.
Baby twins sudah pada bangun, tengkurep sambil mengisap jempolnya, Naya menghampiri, "Eh.., anak Bunda sudah pada bangun nih."
Baby twins tertawa lucu pada Budanya, memerlihatkan gusinya yang beum tumbuh gigi itu, Naya mengangkat salah satu lantas memberikan asinya sebab sydah waktunya juga.
Sore yang sendu, Dimas sudah bersiap untuk berangkat keluar kota karena ada pertemuan disana.
"Sayang, aku berangkat dulu ya,? baik-baik di rumah," Dimas menatap sang isrtri yang tengah mengurus bayinya.
Naya menoleh, "Iya hati-hati, Ayah cepat pulang ya,? Arif dan Kayla menunggu Ayah," ucap Naya sembari mendadani Arif dan Kayla.
Dimas mencium kepala Kedua Baby nya, bergantian, "Jangan rewel ya sayang, Ayah pergi dulu, jagain Bunda di rumah,'' kemudian Dimas membingkai wajah Naya menatap dengan lembut.
"Ayah akan merindukan Bunda dan anak-anak, tunggu Ayah pulang," Cup mencium pipi kiri dan kanan.
Naya mengangguk, "Hati-hati."
"Assalamu'alaikum..?"
"Wa'alaikum salam."
Akhirnya Dimas berangkat dengan rasa berat hati, entah kenapa kali ini berasa sangat berbeda, perasaan tak menentu, jantung berdebar-debar padahal badan vit, cuma gak enak hati.
Depan pintu Dimas berdiri kemudian memutar tubuhnya menatap ke arah istri dan anaknya, Naya pun menoleh kearah suaminya akhirnya keduanya saling melihat.
"Ada apa yang,?" Naya mendekati Dimas sampai ke pintu, Dimas memeluk tubuh sang istri sangat erat.
"Aku akan merindukan 'mu," ucap Naya lagi dalam pelukan suaminya.
"Aku juga akan sangat merindukan 'mu," kemudian melepas pelukan dan memutar badan melanjutkan langkahnya.
Dimas mengenakan helm, bersiap meluncur, Sebelumnya dia berpamitan kpada kedua orang tua serta menitipkan anak dan istrinya.
Senja begitu merah menemani perjalanan Dimas yang tengah mengandarai motor menuju luar kota.
Dari belakang ada sebuah mobil mersi melesat agak oleng sehingga banyak juga yang tersenggol Dimas berusaha menjauhi dengan kecepatan lumayan tinggi, namun dengan naasnya motor Dimas ke susul oleh mobil tersebut.
Brakkk mobil menyenggol motor Dimas dan mobil tersebut terbang ke jurang yang berad sebelah kiri, Motor Dimas jadi tidak terkendali melasat beberapa puluh meter, dan akhirnya menabrak sebuah mobil truk, bruk brek brak motor terpental, Dimas terguling-guling ke tepi dia masih sadar akan keselamatan nyawanya sembari memegangi lututnya.
Dalam beberapa menit Dimas tidak sadarkan diri, darah segar keluar dari mulut dan hidungnya, semua yang melihat kejadian langsung berlarian ke TKP untuk menolong, Dimas di larikan ke RS.
Truk yang Dimas tabrak akhirnya menabrak bahu jalan kemudian terjun kedalam jurang tidak jauh dari mobil mersi yang tadi terjatuh.
,,,,
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan pada kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️
__ADS_1