Bukan Mauku

Bukan Mauku
Barang mahal


__ADS_3

"Haduh lama banget sih,?" suara Bu Hesa dari dalam mobil, Naya duduk di jok belakang bersama sang mertua, Bi Meri di depan bersama Rita dan Dery, setelah melihat Naya sudah duduk dengan baik barulah Dery memutar kemudi, melaju dengan kecepatan sedang.


Dery melirik kearah Naya melalui kaca spion, "Ke mal besar di jalan xx.?"


Maya malah menoleh Ibu mertuanya, "Mama maunya ke mana.?"


"Iya ke sana, kenapa bertanya lagi, emangnya omongan saya tadi kurang jelas ya,? tegas Bu Hesa.


"Em.., kali aja berubah pikiran," sahut Dery dengan nada datar.


Naya terdiam tidak tau harus berkata apa, karena ia sih nurut aja terserah Ibu mertuanya mau kemana, Namun seketika Naya tertawa melihat tingkah Rita yang lucu di depan, bocah itu ada aja tingkah yang bikin lucu dan dan bikin ketawa.


Selang beberapa puluh menit mereka sampailah depan sebuah mal dan mobil pun menepi, Bu Hesa lebih dulu turun tak lupa membawa tas kesayangannya.


Kemudian Naya turun di ikuti Bi Meri dan Rita, mereka berdiri di sana sebelum akhirnya berjalan memasuki pintu mall tersebut.


Tadinya Dery ingin berdiam diri saja di mobil namun khawatir dengan Kanaya jadi dia turun mengikuti dari belakang, ketiga perempuan itu memasuki setiap konter melihat-lihat dan ada juga yang mereka beli, terutama Bu Hesa.


"Wah.., itu tas bagus sekali, Naya boleh gak Mama beli itu,?" tanya Bu Hesa pada Naya.


Naya bengong, "Kok nanya aku, emang yang mau bayar siapa,?" batinnya sambil melihat Bu Hesa memilih-milih tas.


"Yang ini ya,? Mama suka nih," memegangi sebuah tas.


"Mama suka, ya terserah Mama," sahut Naya senyum tipis.


"Ok, tapi harganya sekitar tiga puluh k."


"Hah..," mulut Naya menganga mendengar harga yang Bu Hesa sebutkan, masalahnya Naya pribadi belum pernah membeli barang semahal itu.


"Bayar ya.?"


"Hah..,? aku yang harus bayar pula," Naya tambah kaget mendengarnya, namun ia hanya diam dan mengangguk, lalu membayar tas yang Bu Hesa mau, kebetulan Naya membawa kartu ATM.


"Mak, Kakak ipar,?" pekik Maria yang baru datang bersama putra semata wayangnya, membuat mereka menoleh kearah Maria.


"Kemana aja sih,? orang dari tadi di sini," ketus Bu Hesa.


"Ya maaf."


Lalu mereka melanjutkan langkahnya, untuk terus melihat-lihat dan ini sudah di lantai kedua, Naya sudah mulai capek, ketika melintasi konter perhiasan, Bu Hesa merengek ingin masuk dan melihat-lihat.


Naya sudah mulai cemas jantungnya mulai dag dig dug tak menentu, jangan-jangan minta di bayarin lagi, "Aduh.., gimana kalau minta di bayarin lagi, aku gak bisa menggunakan uang semena-mena, masih banyak yang menurut 'ku lebih penting," wajah Naya sudah mulai cemas.


Bu Hesa milih-milih perhiasan ini itu, membuat pusing yang melayani, "Coba yang itu, eh bukan yang ini aja, em.., bukan itu yang sebelah sana."


"Mama.., bikin orang ilfil aja deh," ucap Maria memutar bola matanya dan menggeleng, padahal sudah banyak yang sudah di sodorkan pada Bu Hesa.


Sementara hanya melihat dari balik etalase aja, gak berani minta di ambilkan, lagian tidak tertarik juga, apa lagi hatinya was-was dengan isi ATM yang ia pegang, tadi aja untuk tas sudah seharga tiga puluh k, takut mertuanya beli perhiasan minta di bayarin lagi, mau di tolak atau biar bayar sendiri tidak enak hati.


"Kak tadi beli tas siapa yang bayar,?" tanya Maria mendekati Naya dan bicara pelan.


Naya melirik dengan ekor matanya pada Bu Hesa lalu melirik Maria, "Kakak yang bayar, harganya 30k, bagi aku itu mahal banget, sementara masih banyak yang lebih penting dari itu," lirih Naya dengan wajah cemasnya.

__ADS_1


"Ups," Maria kaget, "Kenapa gak suruh bayar sendiri aja,? Mama gak pernah beli barang mahal loh sebelumnya Kak, dia itu sangat irit protektif dalam hal menjaga uangnya Kak, gak suka beli barang yang mahal seperti itu loh," Maria pelan.


Naya celingukan mencari anak-anak di Bi Meri yang tidak ada di konter itu, "Anak-anak mana ya Maria, apa sama Bibi.?"


"Mereka di tempat permainan sama Bibi, biar aja, mereka bermain sampai puas."


"Terus kenapa sekarang mau yang mahal kalau biasa nya sangat irit dengan uang,?" Naya menaikan alisnya.


"Mana Maria tahu," sambil menaikan kedua bahunya.


Setelah merasa puas memilih dan memilah akhirnya pilihan Bu Hesa jatuh pada sebuah liontin, "Berapa kalau yang ini,?" tanya Bu Hesa kepada penjaganya.


"Yang itu harga 50k Bu, itu sangat pas buat Ibu, mari saya coba pakaikan,?" orang itu menawarkan agar liontin tersebut di coba terlebih dahulu dan dia yang memakaikan.


"Tuh kan Bu, sangat cocok sekali di leher Ibu," puji orang tersebut.


Bu Hesa sangat suka dan kagum dwngan liontin yang ia kenakan ini, rona wajahnya berseri-seri, bibirnya tak berhenti tersenyum.


Kemudian Bu Hesa menoleh kearah Naya sang menantu, Naya dan Maria sontak berpura-pura melihat kebelakangnya lalu saling pandang, namun Bu Hesa memanggil Naya, "Mama sangat suka yang ini bayarin, saya tidak mau melepasnya lagi," sambil memegangi liontinnya.


Naya kembali memandang Maria, dan Mari lagi-lagi mengangkat bahunya, wanita muda itu seolah tidak mau pusing dan tidak punya solusi sama sekali, "Emang Berapa ya kalau boleh tahu harganya,? Naya ramah.


"Liontin yang sudah ibu pakai harganya 50k."


"Apa, ti-tidak salah Mbak,?" tanya Naya lagi dan menatap penuh penasaran.


"Iya Bener harga segitu, dan liontin itu termasuk harga termurah loh, mau di bayar tunai apa dengan kartu kredit,? tanya penjaga tersebut.


Satu sisi biarlah buat Ibu dari suami ini, satu sisi lagi, apaan ? kalau bisa menyenangkan Ibu mertua automatis harus bisa menyenangkan Ibu sendiri juga, biar imbang gitu, dan satu sisi lagi wooi.., itu uang suami bukan uang pribadi, yang sewaktu-waktu akan di tanyain bahkan di pinta lagi buat sesuatu yang lebih penting.


Kanaya jadi bingung sendiri, Bu Hesa keluar duluan dari konter dan bertemu demgan kawan-kawannya, dengan bangga Bu Hesa memamerkan tas dan liontin yang masih dalam transaksi pembayaran itu.


Maria masih bersama Naya di konter, "Maaf Maria bukan aku gak ingin membelikan kamu perhiasan, tapi.., untuk saat ini aku merasa was-was khawatir, sebab aku belum terbiasa menggunakan uang suami dengan jumlah besar, dan rasanya beda dengan uang pribadi," lirih Naya.


"Nggak apa-apa Kak, santai aja, lagian Mama iih macam-macam saja."


"Sudah lah," ucap Naya, transaksi pun selesai dan akhirnya Naya keluar dari tempat tersebut bersama Maria.


"Haus dan lapar," gumam Naya, "Oya Mama mana,?" menoleh Maria.


"Mama tadi ketemu kawannya Kak, oya Kak tuh di sana ada resto," Maria menarik tangan Naya agar mengikutinya.


"Maria jangan cepat-cepat jalan nya, 'ku gak bisa jalan cepat-cepat," Naya menatap Maria dan mencoba melepas pegangan tangan Maria.


Maria menatap tangannya, "Oh maaf Kak, yuk pelan aja jalannya."


Mereka berjalan menuju sebuah resto, Naya merasa lemas capek, ingin segera duduk dan istirahat, dari kejauhan sosok Dery masih mengawasi kedua wanita itu takut terjadi sesuatu pada Naya.


Kini keduanya sudah duduk di dalam resto, dan memesan minuman manis dan makanan ringan, setelah beberapa teguk dan makan makanan ringan, Maria pamit untuk ke wc dan Naya tetap duduk di sana menunggu.


"Jangan lama-lama ya,?" pesan Naya.


"Iya Kak bentar kok."

__ADS_1


Setelah Maria pergi Naya merasakan pusing dan mual, jari-jari memijat pelipisnya sendiri, melihat Kanaya seperti itu Dery yang duduk di belakang, langsung menghampiri dengan langkah yang lebarnya lalu duduk depan Naya.


"Kamu kenapa,?" tanya Dery menatap Naya.


Naya mendongak melihat yang menyapanya, "Oh Dery, nggak pa-pa cuman sedikit pusing aja mual."


Dery mengambil minyak angin dari sakunya dan diberikan pada Naya, "Coba oleskan minyak ini.?"


Perlahan Naya mengambilnya dari tangan Dery lalu mengoleskan pada pelipis dan kening juga lehernya, "Makasih, kamu tadi dimana,? 'ku gak melihat dirimu."


"Ada."


"Oya kamu sudah makan belum,? pesan lah makanan," lirih Naya sambil menunduk.


"Sudah," sembari menatap wajah Naya yang teduh membuat hatinya tenang.


"Oh"


Naya celingukan mencari keberadaan Maria dan Ibu mertuanya yang belum kelihatan batang hidungnya setelah keluar dari konter perbiasan tadi, "Kok Maria belum nongol juga sih,?" hatinya merasa gak nyaman cuma berdua dengan Dery di tempat umum seperti ini.


"Kakak, sedang hamil ya, berapa bulan,?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba mendekati dan duduk di sebelah Naya.


"Iya, em.., sekitar empat bulan," Naya memberikan senyuman pada wanita tersebut.


"Abang suaminya ya.?"


"Bu-!"


Dery di bilang suami dari Naya tertegun dan melongo, namun dia diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Wah..,senang betul, aku sudah sepuluh tahun belum juga punya momongan, pengen rasanya menimang baby, mengandung, melahirkan seperti wanita lain pada umumnya.


"Oh, mungkin belum waktunya aja Kakak, sabar aja suatu saat nanti insyaAllah akan mendapat seperti yang di inginkan," ucap Naya sembari mengusap punggung tangan wanita tersebut.


"Sudah tidak sabar rasanya, apa lagi keluarga terus mendesak saya agar segera punya anak," sambung wanita ith.


Sambil memijat pelipisnya dan menghela napas Naya berkata, "Anak itu anugrah, anak adalah titipan, jadi harus sabar tidak semudah yang di bayangkan orang, tidak bisa di ingin-ingin dan tidak bisa tidak mau jika Tuhan sudah memberinya, insyaAllah akan hadir pada waktu yang tepat."


"Iya sih, kasih saran dong apa tips nya biar cepat hamil Kak,?" tanya wanita itu lagi.


"Menikah," dengan singkat Dery sekenaknya.


"Itu pastilah Abang."


Naya tersenyum mendengar jawaban dari Dery, "Aku gak ada tips nya Kakak, hanya sabar dan berusaha aja."


"Cuma itu.?"


Naya mengagguk saja sambil menyedot minumannya, wanita itu bengong, kemudian dia di panggil oleh seorang pria, lalu wanita itu pamit pada Naya dan Dery yang dia kira suami Naya, "Abang jaga istrinya ya,? mari saya duluan," yang dia balas Naya dan juga Dery dengan anggukan.


,,,,


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2