Bukan Mauku

Bukan Mauku
Season 2


__ADS_3

Tanpa masuk dulu ke kamarnya, Arief langsung turun lagi ke lantai dasar mengenakan jaketnya sambil berjalan. Tujuannya fokus menuju motor kesayangannya yang terparkir di halaman.


"Arief mau kemana lagi Nak? sarapan dulu." Pekik sang Nenek.


Arief tak perduli dan tak menanggapi, hatinya terlalu kesal dengan sikap manja Kayla. Langsung saja ngegas motornya melaju dengan sangat cepat.


Rasa gondok masih menyelimuti hati Arief dan anak muda itu menekuk wajahnya, namun tak mengurangi ketampanannya.


"Kenapa wajah mu ditekuk begitu? jelek tau masih muda kaya orang tua saja." Goda Deri sambil menaikan turunkan alisnya.


Arief tak menanggapi, ia duduk di atas jok motornya setelah membuka kembali jaket. "Mau berangkat sekarang gak Om?" tanya Arief menatap ke arah Deri.


"Boleh, mana adik mu?" Deri balik bertanya.


"Nggak mau ikut dia." Jelas Arief tampak kesal.


"Oke, sudah lah. Biarkan saja dia mau ikut atau tidak biarlah. Kita saja yang pergi, sudah jangan di tekuk begitu wajahnya." Deri menepuk bahu anak muda ini.


"Aku kesal Om, aku benci dengan sikap Kayla dongkol menghadapinya." Mata yang penuh amarah itu melirik ke arah Deri dengan tangan menyilang di dada.


"Ya-ya Om mengerti, sabar aja dulu. Jangan pikirkan itu dulu, yo kita berangkat dan nanti si jalan membeli bunga ya?" lagi-lagi tangan Deri menepuk bahu Arief.


Akhirnya. Arief kembali menaikan motornya, bersiap-siap pergi ke pembaringan terakhir orang tuanya.


Deri mengeluarkan dulu motor besarnya dari garasi. Sesekali netra matanya melihat ke arah Arief yang lebih banyak di asuh olehnya dan dokter Aldo itu.

__ADS_1


"Oya Om, balik dari sana kita ke rumah om Aldo ya? Aku kangen sama om Aldo," ungkap Arief.


"Looh ... kamu lupa ya? kalau om Aldo sedang ke luar kota. Kamu itu mau ketemu om Aldo atau siapa? katanya Mesya sedang ada di rumahnya. Libur kuliah." Deri menatap Arief sambil panaskan motornya.


"Oh, iya lupa." Arief menepuk jidatnya. "Nggak tahu tuh. Biar aja. Nanti saja kalau om Aldo ada baru ke sana."


"Emang gak kangen sama ... Mesya?" goda Deri kembali.


"Nggak lah Om, eh kangen sih. Mesya itu sudah seperti saudara kan? aku dari kecil di asuh sama om Aldo juga, kan?"


"Lebih juga tidak masalah." Goda Deri sambil mesem.


"Om ... jangan menggoda begitulah ... aku jadi malu nih," ungkap pemuda itu tersipu malu.


"Yu berangkat." Deri memakai helm lantas melajukan motor kesayangannya.


Suatu saat Dimas dan Naya kembali dari Sukabumi. Tentunya menuju daerah Sekadau, betapa bahagianya hati Naya kerinduan pada keluarga di kampung terbayar sudah. Dengan menggendong si kembar, keduanya mengobrol sangat serius.


Dan Tiba-tiba taxi yang mereka tumpangi tergelincir disebabkan terus menabrak pohon lalu terpelosok ke jurang sedalam 25 meter. Sehingga 3 nyawa yang berada di dalamnya tak terselamatkan, Alhamdulillah kedua balita kembar itu terselamatkan. Keduanya mulus tak mengalami luka sedikitpun dalam pelukan orang tuanya.


Deri, Endro. Aldo dan keluarga Dimas gerak cepat untuk menyelamatkan yang tersisa. Dengan hati sedih dan terluka atas kehilangan dokter Dimas beserta istri bersama tragedi yang sangat memilukan. Hari-hari kedua balita bersama orang-orang yang sayang dengannya.


Baby Arief. Sering berada dalam asuhan ketiga sahabat orang tua nya, seperti dokter Kado dan Endro dan juga Deri yang lebih telaten mengurus baby Arief maklum ia belum berkeluarga. Jadi kasih sayang nya ia tumpahkan pada baby Arief.


Sementara Kayla di urus bu Hesa seorang, dia tak mengijinkan yang lain mengasuh atau mengurusnya Kayla barang sebentar, beda dengan Arief yang lebih di bebaskan kalau soal yang mengurus. Dia bisa di bawa sama dokter Aldo, Endro atau Deri.

__ADS_1


Makanya wajar kalau Arief sampai detik ini lebih dekat dengan mereka terutama Deri dan dokter Aldo. Sebab yang mengasuh pun yang lebih intens dan lebih mengarahkan supaya ia menjadi pemuda yang mandiri dan dewasa.


Arief menangis di pusara ayah dan bundanya. "Bunda, ayah. Aku kangen sama kalian berdua, Arief rindu belai kasih kalian. Begitu cepat kalian berpulang dan tanpa melihat putra mu ini tumbuh besar. Aku ingin bertemu kalian."


Deri yang berjongkok di dekat Arief mengusap punggung Arief. "Jangan menangis. Kirimkan mereka dengan doa untuk mereka."


Arief tak merespon, ia menunduk dengan air mata yang terus keluar mengalir dengan deras. Ia tak bisa menyembunyikan hatinya yang terluka dan menahan kerinduan yang mendalam.


"Aku rindu iri bila melihat orang lain di peluk ayahnya. Penuh perhatian dari bundanya, Tiap hari bertemu dapat bercengkrama bersama. Aku iri Om," dengan suaranya yang tertahan dan bergetar. Hik hik hik, tangis Arief semakin menjadi.


Deri pun tak kuasa menahan buliran yang memaksa keluar dari kelopak matanya, namun ia terus berusaha kuat dan mendongak ke langit agar air matanya cukup satu tetes saja yang menghiasi rasa harunya.


"Sudahlah anak muda, kamu itu masih banyak yang mencintai mu, jangan sedih. Sedari dulu kamu di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi kamu, percayalah."


Selang beberapa waktu. Arief pun berangsur berhenti menangis. Ia menyeka air mata di pipinya, Menghela napas dalam-dalam. Kemudian ia hembuskan dengan berat.


Sebagai orang terdekat dengan Arief. Deri setidaknya mengerti perasaan Arief, ia mengajaknya pulang dan berjalan-jalan untuk menghibur hati yang penuh kerinduan itu.


"Kemana Om?" tanya Arief menoleh ke arah Deri yang terus melajukan motornya.


"Ke suatu tempat yang akan kamu sukai." Suara Deri agak keras.


Arief hanya mengikuti dari belakang kemanapun Deri melajukan motor kesayangannya. Tanpa bertanya lagi mau ke mana ....


****

__ADS_1


Hai reader ku. Semoga puas ya dengan penjelasan tentang Dimas dan Naya kemana.


__ADS_2