
Lagi-lagi Naya menggeleng, serta merasa bersalah gara-gara dirinya Lisa masuk lapas, dia mengusap buliran yang menggenang di sudut matanya dengan telunjuknya seraya berkata, "Nggak, saya akan menerima kamu dengan tangan terbuka karena saya anggap kamu khilaf."
"Tidak mungkin, anda pasti membenci saya kan,?" Lisa menggeleng kasar.
"Tidak, aku tidak akan membenci kamu, 'ku sudah ikhlas akan kejadian itu," ucap Naya tulus.
Dery yang sudah merasa geram sedari tadi akhirnya buka suara, "Wajar lah kalau bos mu marah atau benci, kan kamu yang salah, pake otak kalau ngomong Nona," sambar Dery dari sudut ruang berpangku tangan.
Mendengar suara Dery, Lisa menoleh dengan tatapan sangat tajam, "Saya tidak berurusan dengan dirimu."
"Maaf waktu jenguk sudah habis," ucap sipir wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Sekilas Naya menoleh kearah sipir itu, lalu kembali menatap Lisa, "Bukan waktunya tuk saling menyalahkan, ingat Lisa, kamu tidak akan berada di sini, jika kamu tidak berbuat salah hem," Lirih Naya, "Baik lah, aku pergi dulu," beranjak dari duduknya.
Lisa hanya terdiam dan berderai air mata, jika waktu bisa di putar kembali tidak sudi dia tinggal ditempat ini.
Dery menyusul Naya dari belakang sebelumnya dia memperlihatkan dia menunjuk kepalanya sendiri pada Lisa, seolah menyuruh Lisa untuk berpikir.
Lisa semakin kalut di buatnya lalu sipir menggiringnya kembali ke tempat asal mula.
Dery sudah duduk di atas motornya, Naya masih berdiri dan menggunakan ponsel miliknya,
Karena dihatinya masih diselimuti penasaran, akan kedatangan Kamal akhirnya Dery bertanya juga, "Oya tadi Kamal mau apa datang ke butik."
"Oh.., tadi beli baju, kenapa,?" yang Naya sambil duduk dibelakang Dery.
"Gak.., saya curiga mobil yang semalam mengintai itu mobil dia," Dery mengerutkan keningnya seakan berpikir.
"Buat apa,?" sambung Naya lagi.
"Entah," Dery mengenakan helm nya dan segera melajukan motor kesayangannya.
"Langsung ke rumah saja ya,?" pinta Naya sambil menepuk bahu Dery yang merespon dengan anggukan.
Motor melesat membelah kuda-kuda besi lainnya, selang beberapa lama, motor sampai depan teras rumah, Naya bergegas turun namun sayang kaki Naya tersandung dan Naya hampir tersungkur, untungnya Dery dengan sigap meraih pinggang Naya sehingga Naya selamat dari kata tersungkur, Naya kaget jantung nya hampir saja loncat.
"Astagfirullah..," pekik Naya, lalu melihat tangan kekar Dery yang melingkar di perutnya.
Setelah sadar Dery menjauhkan tangan nya dari tubuh Naya sambil bergumam, "Maaf."
Naya menghela napas panjang, "Makasih,?" sambil menunduk, "Kalau tidak ada kau mungkin aku sudah-!"
"Sudah lah, masuk sana si kembar pasti sudah merindukan Bunda nya," ucap Dery sambil naik kembali ke atas motor bersiap untuk pulang.
"Kau mau langsung pulang,?" tanya Naya, sambil menautkan tangannya.
"Iya," gumam Dery lantas membawa jauh motornya dari halaman rumah tersebut.
__ADS_1
Setelah Dery tidak nampak lagi barulah Naya masuk, dan sudah di bukakan oleh Bibi yang tengah mengasuh baby twins, anak-anak itu pun seolah mengerti Bundanya yang datang, mereka bertepuk tangan begitu riang di dalam roda.
"Sayang Bunda, anteng ya sama Bibi sama kakak Rita juga ya," Naya mendekati kedua buah hatinya dan mengecup pucuk kepala baby twins satu-satu.
"Ya Allah aku gak bisa membayangkan jika kalian tidak bersama Bunda," gumam Naya yang tiba-tiba teringat Bu Hesa yang ingin menahan buah hatinya.
Tak terasa linangan air menetes melewati pipi, Naya segera menyekanya, Bi Mery yang tengah mengasuh dan melipat pakaian si baby, merasa heran kok majikannya meneteskan air mata.
"Kenapa Bu,?" tanya Bi Mery heran.
"Ah nggak Bi," lagi-lagi mengusap pipinya dengan kasar.
"Pasti si Ibu mah dapat sesuatu yang tidak mengenakan dari Bu Hesa, selama di sana iya kan Bu,?" sambar Bi Taty sambil memajukan bibir bawahnya ke depan.
Naya tersenyum menatap kedua asisten rumah tangganya bergantian, "Nggak kok Bi, barusan aku habis menjenguk Lisa di kantor polisi," Lirih Naya menyembunyikan apa yang dia rasakan.
"Oh iya, wajar lah dia di sana, makanya jangan suka bermain api," timpal Bi Taty.
"Iya bener itu," ucap Bi Mery memperkuat perkataan Bibi Taty sambil bibirnya mencibir juga.
"Sudah ah Bibi-bibi 'ku sayang..," ucap Naya, berdiri mendekati meja makan membukanya, lalu matanya melihat ke atas, "Suami 'ku belum pulang ya," sambil melihat jam di dinding.
"Belum."
Naya makan sendiri, sebab cacing-cacing di perutnya sudah pada demo tak karuan, setelahnya Naya naik ke kamarnya kemudian membersihkan diri di bawah air shower.
Malam pun tiba, sang suami belum juga tampak bayang-bayang nya di rumah ini, Naya sudah menghubunginya berkali-kali namun jaringan nya selalu sibuk.
Hati Naya mulai dihinggapi gelisah, kekhawatiran kian menyelimuti perasaan, dia yang duduk di sofa panjang memperhatikan sang buah hati, di temani kedua Bibi yang duduk di sofa satunya.
Wajah Naya tampak cemas, gelisah mengingat sang suami belum pulang dan tidak bisa di hubungi.
****
Disebuah tempat, Dimas tengah berbincang dan tampak sangat serius dengan Bu Mahdalena.
"Saya butuh jawaban secepatnya, tidak bisa di lama-lama lagi," ujar Mahdalena.
"Tapi Bu, saya sudah beristri, dan seperti Ibu tahu saya seorang PNS yang di larang menikah lebih lagi, atau beristri lebih dari satu, bisa-bisa saya di pecat dari Rumah Sakit," jelas Dimas dengan tatapan serius.
"Saya tidak menemukan pria yang dapat saya percaya selain dirimu dok, lagi pula kau akan menjadi direktur utama di klinik, jadi gak usah bingung bila kau pecat dari Rumah Sakit."
"Terus, istri saya gimana,? saya tidak mungkin mengkhianati istri saya."
"Minta ijin," sahut Mahdalena dengan cepat.
"Nggak mungkin," Dimas menggeleng-geleng kan kepalanya.
__ADS_1
Mahdalena menghela napas begitu panjang, "Tolong lah dok..," Mahdalena memelas.
"Kenapa gak minta pertanggung jawaban dari-!"
"Sudah tiada, apa saya harus minta tanggung jawab pada orang yang berada di kuburan,?" ketus Bu Mahdalena.
Dimas menghembuskan napas sangat panjang seakan ingin membuang semua yang membebani hati dan pikirannya.
Sementara waktu Mereka terdiam, sesekali Dimas meneguk minumnya, dengan pikiran yang sedikit kalut, ikut terseret akan permasalahan Bu Mahdalena sementara Bu Mahdalena sibuk dengan ponselnya secrol atas, bawah seakan mencari sesuatu.
Jelas jiwan dan pikiran nya kacau dengan permasalahan yang sedang dia hadapi saat ini, gimana tidak,? putri semata wayang nya tengah hamil, dan yang menghamili nya telah meninggal akibat kecelakaan, sekarang putrinya harus menanggung akibat dari perbuatan dia dan kekasihnya.
Mulanya Mahdalena minta pertanggung jawaban pada si kekasih putrinya itu, namun dia menolak mentah-mentah dengan alasan dia masih mau kuliah dan intinya tidak mau tanggung jawab dengan dalih siapa tahu itu anak pria lain membuat Mahdalena geram dengan kekuasaannya dia menyuruh orang untuk mencelakainya, sekedar untuk mengancam, namun kenyataan berkata lain, si kekasih putrinya meninggal ditengah perjalanan menuju rumah sakit.
Kini dia yang susah sendiri, dan hanya Dimas yang dia percaya dapat membantunya.
"Saya tidak akan bisa menikahi putri anda dengan alasan apa pun, saya minta maaf,?" ucap Dimas menatap Mahdalena.
Bu Mahdalena menatap lesu, "Tolong lah, tolong banget," menyatukan kedua tangan depan dadanya memohon pada Dimas, "Saya tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi." dengan suara bergetar.
"Maaf beribu maaf, bukan saya tidak ingin menolong, tapi Ibu harus mengerti posisi saya yang sudah beristri.
"Saya Tidak ingin melihat putri saya melahirkan tanpa Ayah," ucap Mahdalena sangat sedih dan berderai air mata.
Dimas terdiam dan tak tahu harus berkata apa lagi, permintaan Bu Mahdalena sungguh tidak mungkin ia penuhi.
"Saya berani bayar berapa pun pria yang mau nikahi putri saya dan waktunya gak lama, cuma sampai melahirkan, setelah itu saya akan langsung mengurus surat cerai nya," ujar Bu Mahdalena sambil menghela napas berat.
Dimas menoleh, "Saya akan bicara sama kawan saya siapa tahu dia bersedia."
"Kau yakin dia pria baik-baik,?" Mahdalena menatap tajam.
"Yakin, seyakin-yakinnya," sahut Dimas benar-benar yakin.
"Kapan kau akan bawa menghadap saya,? saya ingin sudah mendapat keputusan sebelum peresmian klinik itu," jelas Bu Mahdalena penuh penekanan.
"Akan saya usahakan," sambung Dimas.
"Baik lah saya tunggu, kalau tidak, saya tidak tahu harus mengirim putri saya ke mana, atau.., dengan terpaksa saya bicara pada istri kamu kalau dokter telah menghamili putri saya, supaya mau tidak mau dokter menikahi putri saya," Bu Mahdalena semakin menekan sesuatu yang tidak pernah dilakukan nya sama sekali.
Sontak Dimas mendongak, "Tidak bisa seperti iyu Bu, saya tidak pernah melakukan apa pun, bahkan bertemu putra Ibu pun saya tidak pernah," Dimas mulai geram menatap penuh kekesalan.
,,,,
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.
NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏
__ADS_1