
Naya terus memeluk tubuh sang suami dengan manjanya, "Yang.., jangan marah ya,? lain kali kan bisa," namun Dimas malah berdiri memasuki kamar, kali saja mau berendam untuk mendinginkan juniornya.
"Aduh haus," mata Naya mencari-cari kali aja ada air minum namun tidak ada di di sana, Naya memutuskan untuk turun dan mengambil minum.
Setelah ada di dapur Naya membuka lemari pendingin, mengambil minum, lalu duduk, mata Naya mengitari ruang dapur, setelah meneguk minumnya Naya berdiri namun secara tidak sengaja tangan nya menyenggol sebuah barang antik di meja.
Brakkk.., gelas terjatuh pecah berkeping dan berserakan, "Astagfirullah..," Naya terkejut bengong sejenak lalu mengambil sapu dan menyapunya.
"Ya ampun.., apa yang kau lakukan,? baru sehari saja kau sudah membuat ulah, ya Tuhan.., malam-malam gini kau buat ulah," gerutu Bu Hesa dangan nada tinggi.
"Maaf Mak, aku tidak sengaja menyenggolnya," Naya gugup melihat Bu Hesa berdiri dibelakangnya.
Suara Tinggi Bu Hesa membuat orang-orang terganggu, bergegas ke tempat yang tengah ribut.
Naya menyapu dan membersihkan pecahan barang tersebut, di buangnya ke tong sampah, "Bersihkan, sampai bersih, heran saya baru sehari ini tinggal di sini sudah bikin ulah, gimana kalau lama,? bisa hancur semua barang-barang di sini," sergah Bu Hesa terlihat angkuh.
"Mak.., kan aku dah bilang, gak sengaja, maaf," lirih Naya, matanya mulai berkaca-kaca, kesal dengan perlakuan Ibu mertuanya, apa lagi depan orang-orang.
Saya tidak mau tahu, ganti, karena yang kau pecahkan bukan barang biasa tapi barang antik peninggalan, dan kau tak akan mudah untuk menemukannya, iyu barang kesayangan sa-!"
"Mak, kok Mama tega memarahi istri Abang,? ada apa ini yang sebenarnya," Dimas setengah berlari dari atas melihat istrinya berjongkok di lantai, apa lagi mendengar ocehan Mamanya.
"Abang, ini istri tercinta mu memecahkan barang kesayangan Mama, kan tau sendiri itu barang peninggalan nenek moyang kita," Bu Hesa menurunkan nada bicaranya.
"Tapi yang, aku gak sengaja, ke senggol terus jatuh, dan aku sudah meminta maaf," Naya menahan tangisnya dan menyembunyikan wajah di dada zan suami.
"Ada si Mak, malam-malam ribut malu," Bapak nya Dimas mendekati Bu Hesa.
"Ini loh Pak, mantu kesayangan mu pecahin benda kesayangan Mama," sahut Bu Hesa menoleh suaminya.
"Sudah lah, gitu saja kok ribut malam, malu, Naya maaf kan Mama ya, kalau kata-kata Mama menyinggung hati kau," Bapak Dimas menatap menantunya yang menyembunyikan wajah di dada suaminya.
"Maaf yang aku gak sengaja sama sekali kok," ucap Naya mengusap sudut matanya.
Dimas membelai kepala sang istri penuh kasih, "Sudah lah, masuk kamar yuk?" Dimas menggandeng sang istri naik ke atas, "Mak dia istri aku, seorang anak yang jauh dari orang tua kandung nya, di sini adalah pengganti dari keluarganya, harusnya Mama bisa bersikap bijak dan menyayanginya."
Bu Hesa terdiam, Naya menjatuhkan air matanya mendengar perkataan suaminya semakin mengingatkan dia pada orang tuanya yang jauh di sana.
"Dimas benar Ma.., malu malam-malam ribut," Bapak Dimas melihat orang rumah yang sudah pada pergi, begitu pun Dery yang berdiri di tangga, naik lagi setelah Dimas dan Naya melintasi dirinya.
"Sudah jangan nangis sayang," Dimas mendekap Naya membawa kepala san istri ke dadanya.
"Tadi aku haus, makanya pergi kedapur, aku gak lihat benda yang kesenggol itu, benda itu jatuh," lirih Naya sambil mengusap pipinya yang basah.
__ADS_1
"Iya, sudah jangan sedih lagi, maafkan Mama ya, Mama memang begitu," cup mengecup pucuk kepala Naya dan mengusap lembut punggung sang istri.
Naya merasa tenang berada di dalam pelukan sang suami, "Bobo yuk," bisik Dimas menyeret istrinya ke tempat tidur.
Naya pun mengangguk, matanya lelah capek, tadi siang tidak tidur juga, akhirnya mata mereka terpejam, tidur nyenyak dalam pelukan.
Suasana pagi di rumah Bu Hesa sudah ramai, di halaman orang pada sibuk menyiapkan untuk perayaan Hut RI, ada yang tengah menyiapkan perlombaan, ada yang menyiapkan hadiah, ada juga yang berdiri ngelihatin dan mengatur ini itu, Naya di teras tengah duduk memangku Kayla, sementara Arif bersama Maria di sebelahnya.
"Sayang, mau ikutan,?" Tanya Dimas berjongkok depan Naya.
Naya menggeleng, "Nggak ah lihat aja dari sani," sembari tersenyum.
"Sarapan yuk,? lapar nih," Dimas mengusap perutnya.
"Cari sarapan di luar yuk yang, makan apa gitu ya,? anak-anak di ajak, Dery juga, ya mau ya,?" Naya merajuk pada sang suami.
Mata Dimas mencari keberadaan Dery yang sedang membantu orang-orang, "Der.., sini,?" Dimas Melambaikan tangan.
Langsung Dery menghampiri, "Ada apa nih.?"
"Kita cari sarapan di luar, tuan ratu merajuk ingin sarapan di luar, saya akan mengambil kunci di atas," ucap Dimas sambil segera pergi.
"Ok," Dery melihat kearah Naya yang menggendong Kayla, terus melirik Arif yang di gendong Maria, langsung Dery mengambil baby Arif.
"Kakak mau kemana,?" tanya Maria menghampiri Naya.
"Mau cari sarapan ke luar, mau ikut,?" Naya mendongak.
"Nggak ah, iih.., si twins jangan di bawa ya, biar Maria yang jagain, boleh ya Kak,?" Maria memelas.
"Biar kami bawa saja," sembari berdiri mengikuti Dery yang duluan jalan.
"Mau kemana kalian,?" suara Bu Hesa menghentikan langkah Naya dan Dery.
"Mau jalan sebentar Mak, sekalian Abang mau memperkenalkan makanan khas di sini," kilah Naya.
"Berdua sama dia,?" tanya Bu Hesa lagi menatap tajam Dery.
"Nggak, kan sama abang juga, tidak berdua."
"Kau begitu dekat dengan Dery emang ada hubungan apa sih sama laki-laki itu hem.,?" nada curiga.
Naya melirik Dery yang juga melirik kearahnya sambil menggendong Arif, "Gak ada apa-apa, dia kawan Abang juga kan, maksud Mama apa sih bicara seperti itu,?" Naya bingung.
__ADS_1
"Saya heran saja kok kamu dekat benar sama dia jangan-jangan ada sesuatu lagi," begitu ketus.
''Astagfirullah Mak-!" ucapan Naya terhenti oleh suara Dimas yang tiba-tiba.
"Maksud Mama apa sih? kok curiga gitu sama Istri Abang dan juga Dery, gak mungkin mereka seperti itu, jangan ngada-ngada deh Mak, Naya istri Abang, kenapa sih sikap Mama jadi seperti ini, heran," ujar Dimas.
Dery yang mendengar itu semua kesal, rahangnya mengeras ingin sekali menampar mulut wanita tua itu, dan tak habis pikir kemarin sewaktu tinggal bersama gak seperti ini sikapnya.
"Sungguh kurangajar mulutnya nih orang," batin Dery menatap tajam kearah Bu Hesa.
"Iih.., Mama kenapa sih sensi amat sama Kakak, ada masalah apa sih,?" ucap Maria melotot sama Ibunya.
Bu Hesa balik melotot dengan sempurna pada Maria, "Jangan suka ikut campur," sembari mengeratkan giginya.
"Lama-lama Abang bisa setres tinggal di sini, yuk sayang,?" Dimas merangkul bahu sang istri menjauh dari sana.
"Dimas,? Abang..,jangan lama-lama," pekik Bu Hesa sambil menggebragkan kakinya ke lantai dengan kesal.
Syukurin, Mama sih sama mantu kaya gitu,?" ucap Maria mengolok Ibunya.
"Cielaah.., anak kecil tahu apa hah," Ibunya mendelik.
"Apaan anak kecil,? sudah punya anak nih," timpal Maria sambil manyun.
"Iya anak kecil punya anak," Lanjut Bu Hesa sambil pergi.
"Dasar..," umpat Maria sembari pergi juga dari tempat tersebut.
Di jalan Dimas dan Naya duduk dibelakang, dengan baby twins nya, sementara yang nyetir tentunya Dery, mobil melaju pelan menxari makanan yang akan pas di lidah Naya.
"Dery, sorry ya bila Ibu 'ku bicaranya ngelantur maklum lah sudah tua," Dimas menatap kearah Dery.
"Ya, gak apa," jawab Dery cepat.
"Sayang, jangan diambil hati ya omongan Mama,?" mengelus punggung tangan Naya.
"Hem," gumamnya Naya sembari tersenyum.
Setelah menemukan tempat yang cocok, ketiganya turun dan memesan buat sarapan, meski pun repot Dimas dan Naya tetap memakan sarapannya, bukan gak kasian Dery melihat mereka makan sambil menggendong baby namun harus gimana dia juga lapar, lagian masa harus pegang dua sekaligus.
****
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vot nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.
__ADS_1