Bukan Mauku

Bukan Mauku
Emang siapa Dia


__ADS_3

"Iya dong, Mama kan ingin melihat kamu punya anak, emangnya kamu mau, gak punya keturunan, ih.., amit-amit, gak ada keturunan kami yang mandul,?" ujar bu Hesa bergidik, Naya menatap suaminya dan menggeleng agar tidak perlu menjawab lagi.


Dimas pun terdiam, tadinya mau menjawab mulut sudah menganga, namun karena cegah Naya, Dimas terdiam, sorot matanya yang tajam sekilas memandangi Naya.


Naya melanjutkan menyuapi Dimas yang terlihat hilang selera makannya, dada Dimas merasa sesak, terganggu dengan perkataan Ibunya, sementara Naya santai aja gak mau terganggu dengan perkataan mertuanya itu.


Ketika Naya hendak menyuapi lagi Dimas menolak, "Cukup yang,?" lalu dia meneguk jus yang sudah tersedia, Naya mengerti apa yang di rasakan suaminya.


Naya menyuapkan sendok ke mulutnya, malah Naya menambah porsi, tidak biasanya Naya nambah, tapi dari pada kesal atau apa mending makan, hahaha.


Dimas beranjak dari duduknya, menuju sofa ruang TV, lalu balik badan naik ke atas, "Yang, aku ke kamar, Naya meneruskan makan dengan lahap, bu Hesa pun beranjak meninggalkan meja makan.


"Mama mau ke mana,?" tanya Naya pada bu Hesa.


Bu Hesa menatap dengan sorot mata sendu, "Mau tidur ngantuk,"


"Oh," Naya membulatkan mulutnya, usai makan Naya membereskan piring kotor, di pindahkan bi Taty ke wastafel, dan Naya yang mencucinya. mesti sudah di cegah bi Taty namun Naya kekeh.


"Biar Bibi aja Bu yang nyuci biar aja, Ibu istirahat sana,?" cegah bi Taty.


"Tidak apa Bi, besok aku gak ada di rumah jadi Bibi kerjakan sendiri, ingat jangan tinggalkan rumah ini selama aku dan suami gak ada, di sini Bibi sama Mama dan Bapak mertua," ujar Naya, "Kalau uang belanja habis ngomong aja ya.?"


"Tapi.., yang tadi juga sepertinya cukup untuk satu minggu Bu,?" bi Taty menyimpan perabot bersih.


"Iya, jangan biarkan makanan mubazir, bila perlu kasihkan sama yang membutuhkan, dan ini buat pegangan Bibi," Naya memberikan beberapa lembar uang pada bi Taty.


"Buat apa Bu,? Bibi ada kok kalau cuma buat jajan," bi Taty menolak.


"Ambil aja Bi simpan, kali aja kehabisan bumbu atau apa gitu, kan gak mungkin minta sama Mama, gak enak,! jadi pegang aja," Naya menyimpan uang tersebut di atas meja.


Akhirnya bi Taty ambil dan memasukan ke dalam sakunya, "Baiklah Bu, Bibi simpan uang ini, semoga Ibu cepat kembali, Bibi jadi sedih."


"Bi, aku masih di sini, sudah sedih aja ah," Naya mengulas senyum.


"Bibi berharap tugas di luarnya gak lama-lama," bi Taty mengusap air mata, seolah berat di tinggalkan Naya majikannya.

__ADS_1


Naya memandangi bi Taty, "Cuma satu dua minggu aja Bi, gak lama, lagian Bibi di sini gak akan kekurangan kok."


"Bukan karena itu Bu, Bibi sedih aja, majikan Bibi tidak ada, baik-baik di sana ya Bu, jaga diri baik-baik,?" jelas bi Taty wanti-wanti.


"Bibi, aku masih di sini loh, kok seperti aku pergi sekarang aja,? lagian kan aku pergi sama suami aku, he..,he..,he..," Naya terkekeh melihat ekspresi ART nya.


"Bibi harap pulang nanti Ibu membawa kabar baik,?" bi Taty mengusap punggung tangan Naya.


Naya menaikan alisnya, "Kabar baik apa Bi,?" Naya tidak mengerti, "Tentang apa itu.?"


"Pokoknya kabar baik," bi Taty tersenyum penuh arti, membuat Naya semakin tidak mengerti.


Bi Taty menggeleng sembari tersenyum, majikannya tidak ngeh sama sekali dengan perubahan dalam dirinya, mungkin saja karena belum pengalaman, tapi.., "Biarlah yang penting baik-baik aja, toh semuanya akan indah pada waktunya," batin bi Taty.


"Ya sudah aku mau ke atas dulu ya Bi,?" beranjak dari duduknya menuju anak tangga.


"Iya Bu," bi Taty mengelap meja makan dan merapikan sisa masakan buat nanti malam.


Naya membalikan badan, "Bi.., sore ini dokter Aldo akan datang, nanti.., eem misal lebih awal datangnya suruh tunggu aja ya,? jangan ganggu dulu kayanya mod suami aku lagi kurang gimana gitu."


Bi Taty menoleh, "Baik Bu, lagi sensi kali Bu.?"


Sesampainya di kamar, menutup pintu, tampak suaminya tengah berbaring di atas tempat tidur, Naya mendekati dan ikut berbaring di samping Dimas pelan-pelan agar tak membangunkannya, menarik selimut sampai ke dada, kemudian memeluk tubuh Dimas, Dimas menggerakkan tangannya memeluk Naya erat namun mata tetap tertutup, "Kemana sih lama banget hem..,?" gumam Dimas.


Naya hanya memandangi wajah tampan suaminya, tak bosan Naya memandangi sembari tersenyum, tak lama rasa kantuk pun menyerang Naya, kedipan mata semakin melemah, akhirnya Naya tertidur dalam pelukan sang suami.


Sore-sore Dimas bangun duluan, pas membuka mata di suguhkan dengan wajah istrinya beberapa senti dari wajahnya, dia pandangi wajah itu penuh kasih, "I Love you sayang,?" Dimas mendaratkan kecupannya di kening sang istri penuh kelembutan.


Naya pun terbangun, merasakan lembab di keningnya, memicingkan matanya, "Sudah bangun,?" dengan suara parau khas bangun tidur.


"Belum, masih di alam mimpi," bisik Dimas di telinga Naya, "Aku masih di alam mimpi, tidur berpelukan dengan seorang bidadari, ratu di hatiku.?"


Naya menaikan sebelah alisnya, "Maksudnya,?" pura-pura gak ngerti.


"Ini, sedang berpelukan,? gak mau lepas malah," jelas Dimas mempererat pelukannya.

__ADS_1


Ucapan Dimas membuat hati berbunga-bunga, ingin sekali menyembunyikan senyumnya, namun sulit, "Yang sudah sore.?"


"Biar aja," sahut Dimas, semakin menguatkan rangkulannya.


"Aduh.., perutku, sakit yang perutku,?" Naya meringis kesakitan, Dimas langsung melepas pelukannya dan bangun, meraba perut Naya yang katanya sakit.


"Yang mana sakit yang,?" sorot matanya sedikit khawatir, namun Naya segera bangun dan duduk.


"Tapi.., bohong," Naya tersenyum, membuat Dimas cemberut, lalu menggelitik pinggang Naya membuat tubuh Naya meliuk-liuk geli.


"Ampun yang ampun, geli.., sudah yang geli,?" pekik Naya sambil meraih tangan Dimas namun Dimas tidak perduli dan terus saja menjalankan aksinya.


Naya berhambur ke pelukan Dimas, "Geli yang, bisa-bisa aku pipis di sini,?" matanya berkaca-kaca akibat tertawa terpingkal-pingkal akibat geli, Dimas menghentikannya dan kembali memeluk mengusap-ngusap lembut punggung Naya.


"Jangan buat aku cemas yang,?" Dimas pelan, "Senang benar bikin orang khawatir,?" lirih tepat di telinga Naya.


Naya meletakkan dagu di bahu Dimas, "Aku sangat sayang kamu yang,? maaf aku cuma kali ini aku cuma bercanda."


"Ya sudah," Dimas menjauhkan tubuh Naya dari dirinya, membingkai wajah Naya dengan tangan Dimas, "Aku ada hukuman buat sayang.?"


"Hukuman apa,?" pikiran Naya sudah ke mana-mana.


"Apa ya,?" Dimas seolah berpikir.


Naya seolah tidak sabar mendengar jawaban hukuman apa yang akan di berikan Dimas padanya, "Cepetan yang..,? nanti keburu sore,? belum bersih-bersih, belum sholat, nanti keburu dokter Aldo datang gimana.?"


Dimas menatap tajam, "Perduli banget sama dokter Aldo.?"


"Iih.., bukan perduli, cepetan katakan, gak enak kan kalau membuat dokter Aldo atau tamu menunggu lama,?" ucapa Naya tidak sabar dan cemas.


"Nggak jadi sekarang, males lebih perduli sama Aldo ketimbang suaminya heran,?" sambil beranjak ke kamar mandi.


"Bu-bukan gitu yang,? iih.., serba salah jadinya," Naya kesal, "Tapi..,bagus lah gak jadi ngasih hukumannya, terimakasih.?"


Dimas sudah masuk kamar mandi dengan hati sedikit dongkol, mendengar istrinya menyebut nama dokter Aldo, "Bisa-bisanya, bilang kasianlah lama menunggu, takut keburu dateng lah,? emang siapa dia hah,?" gerutu Dimas di kamar mandi, ingin sekali menonjok dinding namun di urungkan.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2