
Sementara Dery merasa kikuk bila melihat Dimas dan Naya berpelukan, Dery memalingkan pandangan ke lain tempat, untung saja mereka tak hanyut dalam kemesraannya sehingga suasana tidak terlalu menegangkan bagi Dery tidak harus menjadi nyamuk hahaha.
Dimas menoleh kearah Dery, "Terimakasih Dery, kau telah menemani istri 'ku? dan Ini bayaran 'mu" sembari mengeluarkan beberapa lembar uang.
Dery menatap uang tersebut namun tak kunjung mengambilnya, lalu Deri menatap Dimas seraya berkata, "Saya tak butuh bayaran itu."
"Te-tapi.., kau sudah banyak membantu saya dan saya banyak berhutang budi padamu," juga menatap Dery dengan tajam, "Saya tidak ingin minta tolong tanpa imbalan, karena saya akan merasa tidak enak, jika satu saat nanti meminta bantuan lagi."
"Kalau butuh, kapan pun silahkan ngomong aja, jangan sungkan dengan senang hati saya akan membantu sebisa mungkin," dengan nada datar. dan serius.
Senyuman merekah di bibir Dimas dan menepuk bahu Dery, "Terimakasih, kalau tidak ada kau pasti saya kesusahan kemauan istri saya tidak akan terlaksana."
"Santai aja, saya dengan senang hati membantu kalian, lagian tidak seberapa kok," ucap Dery menatap Dimas dan Naya bergantian.
"Saya jadi gak enak, harus dengan cara apa saya membalas kebaikan kau,?" sambung Dimas memandang lekat wajah Dery.
Dery tersenyum licik, "Kalau ingin membalas kebaikan saya, berikan istri anda pada saya..," jelas Dery dengan nada serius.
Tiba-tiba wajah Dimas pucat paseh, giginya mencakup menahan amarah, begitupun Naya tercengang mendengar ucapan dari Dery barusan.
Dery yang melihat reaksi Dimas berwajah merah padam tangan mengepal seakan siap menonjok, sementara Naya menunduk tidak mengerti akan maksudnya Dery, seketika suasana begitu hening, lantas Dery tertawa lepas hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.
Naya mengangkat wajahnya, "Astagfirullah," Naya merasa kaget seketika.
Dimas menjadi bingung dengan tingkah Dery yang tiba-tiba tertawa terbahak sampai badannya sempoyongan, saking puasnya tertawa sehingga mata pun berkaca-kaca, Dery berhenti tertawa dan duduk kembali di tempat semula.
Dery duduk bersandar ke bahu sofa, menatap Dimas dan Naya yang nampak kebingungan, dan tangan Dimas masih mengepal "Saya bercanda, gak mungkin saya bermaksud jahat sama kalian," dengan tatapan teduh.
Lengan Dimas yang tadinya mengepal penuh napsu menjadi luluh dan terbuka melemas.
Dimas menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan panjang.
"Saya kira kau sungguh-sungguh, saya sudah siap menonjok batang hidung kau sampai babak belur," memukul-mukul lengannya dengan tatapan tajam kearah Dery yang tengah nyengir kuda.
"Saya memang mencintai Kanaya, namun saya tidak sejahat itu, apalagi untuk merebut istri orang," batin Dery sembari menunduk dalam.
"Kau pikir saya tidak tahu kalau kamu itu mengagumi istri saya, saya tahu Dery Laksmana, namun saya yakin bahwa kau itu adalah orang baik," gumam Dimas dalam hati, menatap tajam Dery yang menunduk kikuk.
Suasana hening kembali, namun Naya mencoba mencairkan suasana, "Yang, aku barusan pesan buat makan malam, kita makan bersama ya, dan sebentar lagi makan malamnya pasti datang," menoleh Dimas dan Dery mengangkat wajahnya melirik Naya.
__ADS_1
Dimas pun menoleh Naya, "Baiklah, aku akan mandi dulu," Dimas berdiri mengusap pucuk kepala Naya.
Dery pun berdiri dan pamit untuk pulang, Dimas menoleh Dery, "Kenapa buru-buru, kita bisa ngobrol lagi, cuma saya mau mandi dulu sebentar gak enak lengket nih" cegah Dimas.
"Iya, jangan pulang dulu, aku sudah pesan makanan banyak, jadi makanlah dulu sebelum pulang," sambung Naya menatap Dery dengan lirih, membuat Dery tak bisa menolak dia duduk kembali dan melirik Dimas yang tersenyum sinis.
Kemudian Dimas bergegas ke kamar mandi, tinggallah Naya dan Dery saling berhadapan.
Naya mencoba membuka pembicaraan dengan Dery, "Kau..,liburan bersama siapa.?"
"Sendiri saja"
"Tidak dengan keluarga?"
"Tidak"
"Atau dengan kekasih,?" sambung Naya.
"Tidak, sudah tiada"
Naya menaikan alisnya, "Tiada, maksudnya,? namun Deri tidak menjawab dan memalingkan muka, ke sembarang tempat, akhirnya Naya mengerti yang Dery maksud, "Oh maaf"
Naya terdiam begitu pun Dery, hanya suara televisi yang terdengar, lalu ada yang memencet bel di luar, Dery menatap Naya yang berusaha berdiri untuk membuka pintu, "Pasti makan malam yang datang," lirih Naya.
Dery seakan tahu dengan apa yang ada dalam pikiran orang tersebut, "Saya tamu disini, tuan rumahnya sedang berada di kamar mandi," menjelaskan agar tidak ada kecurigaan, pelayang mengangguk hormat dan keluar dari temat tersebut, Dery menutup kembali pintu kamar, menghampiri Naya yang menata makanan di meja.
Dery duduk kembali di sofa semula, Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, nampak segar dan bibirnya bersiul, setelah mengenakan pakaian Dimas bergabung duduk di sebelah Naya.
"Hem.., lapar nih, perut 'ku sudah minta makan nih," sambil menatap makanan di meja.
Lantas mereka makan bersama, bagi Dery ini bukan kali pertama melihat adegan makan Dimas dan Naya yang selalu mesra, setelah selesai makan Dimas dan Dery berbincang, Naya ke kamar mandi sebentar lalu kembali mengenakan meukena untuk menunaikan sholat, sesekali Dery melirik wanita itu begitu teduh dan damai melihatnya.
Dalam perbincangan nya dengan Dimas, ada kesepakatan bahwa Dery akan ikut serta dalam proyek Klinik yang akan segera di bangun oleh Dimas dan kawan-kawan.
Karena waktu sudah larut malam Dery pun berpamitan untuk pulang, dan kepulangan mereka besok siang sudah dil akan pulang bareng.
"Ok, saya pulang dulu, terimakasih atas jamuan makan malamnya," Dery mencakupkan kedua tangan pada Dimas dan Naya yang di balas anggukan oleh Naya.
"Baik lah, sampai jumpa besok siang," ucap Dimas sembari mengantar Dery sampai depan pintu.
__ADS_1
"Tentu, sampai jumpa," Dery berjalan melewati koridor hotel tersebut.
Dimas menutup pintu tak lupa menguncinya, kemudian mengambil air wudu, lantas menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Naya sudah berbaring di atas tempat tidur tengkurep memainkan ponsel miliknya, Dimas naik merangkak di atas tempat tidur, memeluk tubuh Naya dengan ringannya membalikan tubuh Naya hingga menjadi terlentang menghadap langit-langi.
"Kenapa sih, orang lagi sibuk juga," gerutu Naya berusaha tengkurep lagi namun Dimas peluk sehingga Naya kesusahan.
"Sibuk apaan hem, cuman main ponsel, gak kangen kah sama ayah hem,?" Dimas mengecup kening Naya lalu turun ke pipinya.
"Nggak"
"Nggak, ah yang benar,? tadi segitu cemasnya waktu ayah belum pulang, ngaku.., ayok ngaku,?" goda Dimas tanpa melepaskan Naya sedikit pun.
"I-itu kan tadi, sekarang sih nggak, kan sudah ada depan mata," elak Naya sembari tersenyum.
"Benar kah..?"
"Iya"
"Nggak percaya," Dimas terus menindih dan mendekap Naya.
"Lepas ih sesak napas nih, Naya berontak ingin keluar dari dekapan Dimas, namun boro-boro bisa lepas yang ada tambah erat.
"Aku mau tidur.."
"Ya tidur aja, emang siapa yang melarang," sembari menempelkan bibirnya di pipi Naya, menarik selimut dan menenggelamkan wajahnya di dada sang istri.
"Te-tapi.., berat yang," mendorong kepala Dimas dari dadanya namun Dimas tidak perduli malah memejamkan mata di sana, akhirnya Naya mengelus rambut suaminya penuh kasih sayang dan mengecupnya.
"Yang baca doa dulu sebelum tidur," bisik Naya.
"Hem..," dengan suara mulai parau.
Malam semakin larut membawa kedua insan ini juga tenggelam ke alam mimpi, namun tiba-tiba Naya terbangun di sebabkan merasa haus, Naya bangun mengambil minum yang sudah tersedia di atas meja dekat bantalnya.
Dimas pun ikutan bangun karena merasa pelukannya kosong, setelah minum Naya berbaring lagi, di sambut oleh Dimas dengan pelukan hangatnya, "Bobo lagi sayang," bisik Dimas dengan suara berat khas bangun tidur, sebelum mata terpejam Dimas mencumbu istrinya sampai menggeliat-geliat merasa geli, hingga akhirnya kantuk pun kembali menyerang keduanya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!