
"Sedangkan kata Dimas di Bandung hanya beberapa hari saja, karena ada pertemuan, berarti rombongan bukan perorangan, kemungkinan besar dia akan kembali bersama kawan-kawan." batinnya.
"Yang..,siap-siap ya.? kita akan menikah, dan kau akan aku boyong ke Kalbar, hemm..,siap-siap aja." kata Dimas dengan senyuman di bibirnya.
Naya masih terdiam, entah harus percaya atau tidak, bukan tak bahagia namun masih ragu, karena ini bukan kali pertama Dimas menjanjikan tuk datang.
Tidak pula menyalahkan Dimas, atas ketidak dan tangannya, tetapi memang mungkin takdir saja yang belum berpihak pada dirinya saja.
"Ya udah, belum makan kan.? makan dulu sana.? abis itu istirahat." ucap Naya tak ingin membahas soal datang, atau menikah, dengan alasan takut kecewa.
Dimas turun menapakkan kakinya ke lantai dari tempat tidur, Endro juga sudah selesai mandi, melihat Dimas yang teleponan "Cari makan sekarang.?"
Dimas mengangguk pelan. "Ya sudah sayang, aku mau cari makan dulu ya.? jaga dirimu baik-baik ya.? I love you sayang..,"
"Ok, love you to." balas Naya.
Senyum di bibir Dimas semakin merekah, dengan hati yang berbunga-bunga, ia selalu yakin kalau cinta Naya hanya untuknya, sambungan telepon sudah dimatikan, Dimas memasukkan ponsel ke saku, dan berjalan keluar kamar tersebut mengikuti Endro yang sudah lebih dulu melenggang, mencari makan malam.
"Kemana bro.?" tanya Dimas.
"Cari makan" sahut Endro tanpa menoleh tetap berjalan.
"Emangnya si makan kabur ya.? harus di cari segala bro.?" canda Dimas.
Endro yang anteng berjalan, seketika menghentikan langkahnya, termangu mencerna maksud dari omongan Dimas, dia menautkan alisnya membalik kan badan, menatap Dimas. "Ya...,kalau ada didepan mata sih, gak bakalan di cari, langsung aja santap, repot amat."
Dimas menyeringai sembari memeluk bahu Endro dengan tangan kanan, mengajaknya berjalan kembali. "Yang lain kemana, sudah duluan kah.?"
Endro menaikan bahunya. "Mungkin" sambil terus berjalan Dimas dan Endro berbincang, sampailah pada tempat yang di tuju, di sana sudah ada empat temannya tengah duduk dengan makanannya masing-masing.
Dimas dan Endro pun ikut gabung di tengah-tengah mereka, tak lama menunggu makanan siap santap.
__ADS_1
Usai makan mereka kembali ke kamar masing-masing, beristirahat untuk mempersiapkan aktifitas hari esok.
******
Semenjak Yuda memberikan keputusan pada Naya di telepon, bahwa tak akan ada surat cerai, cukuplah dia menceraikan Naya dengan lisan saja, tak ada hubungan suami istri lagi diantara mereka berdua, tak lupa untuk memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena selama menjadi suami Naya dia sangat tidak bertanggung jawab terhadap istri.
Kemudian Yuda menikahi Nuri, namun rumah tangganya tak berlangsung lama, awal mulanya, dikarenakan Nuri tak tahan dengan sikap Yuda yang pelit, terlalu mementingkan perutnya sendiri, jadi merasa tak di perhatikan, akhirnya Nuri selingkuh dengan mandor atau atasannya Yuda.
Suatu saat Yuda balik dari kerjaan, tak sengaja melihat adegan yang tidak seharusnya terjadi, di kamar kontrakannya tersebut Yuda melihat dengan mata sendiri, istrinya tengah selingkuh dengan atasannya. mata Yuda melotot, dengan gigi mengerat, tangan mengepal siap meninju lawannya.
Nuri dan pasangan selingkuhnya betapa kaget, tak menyangka akan di pergoki seperti itu, mereka terperanjat, Nuri menarik selimut sampai menutupi dadanya, sementara pasangan selingkuhnya dengan santai memungut pakaian yang berceceran di lantai dan di kenakan kembali.
Nuri dengan mulut menganga, mata seakan tak berkedip melihat suaminya berdiri di pintu. "Mas..ini--i"
"Oh, rupanya ini yang kalian lakukan di belakang gua.? dasar wanita jalang, tidak puas lu melayani gua tiap malam hah.?" dengan tatapan yang sangat tajam, bergantian pada mandor yang sudah memakai baju.
Kemudian Yuda mendekati mandor tersebut yang terlihat sedikit gugup, setelah Yuda hampiri. "Sabar Yuda..akan gua jelaskan, istri lu yang selalu menggoda gua, percayalah.?." dengan cepat Yuda meremas kerah bajunya.
Setelah menonjok pria tersebut, Yuda menghampiri istrinya yang sangat gugup melihat selingkuhannya meringis kesakitan memegangi pusaka nya.
"Mas, dia bohong mas." ucapan Nuri mengelak melihat wajah Yuda yang sudah merah padam mungkin darahnya pun sudah mendidih, karena emosi yang tinggi.
Yuda langsung mencengkram rahang Nuri, plaak-plaak..., "Aww.., sakit mas..!" pipi Nuri di tampar suaminya, Nuri yang awalnya gugup ketakutan, berubah menjadi api kemarahan yang amat besar, sembari memegang pipinya yang merah yang pasti sebentar lagi membiru.
Dia menatap tajam kearah Yuda. "lu Sadar Yuda.? gua melakukan ini semua karena lu.?" Nuri menunjuk muka Yuda dengan amarah. "Lu yang membuat gua selingkuh, karena apa.? karena lu seorang suami yang tak becus membahagiakan istri." ucap Nuri.
"Persetan dengan yang lu omongin, dasar wanita jalang." sahut Yuda kekeh.
"Lu tahu.? dia selalu memberi yang gua mau," tambah Nuri melirik pria itu yang tengah duduk, dan masih kesakitan, Nuri pun memakai bajunya.
"Ya jelas aja dia memberi yang lu mau, karena lu jual diri.?" hina Yuda dengan nada berapi-api.
__ADS_1
Nuri senyum licik, "Terserah lu ngomong apa.? yang jelas gua sangat puas..banget sama dia." semakin menyulut kemarahan Yuda.
plaak.. lima jari kembali mendarat di pipi Nuri, sebagai luapan amarah Yuda, seketika Nuri memegangi pipinya, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau saja gua tahu lu sering melakukan dengan pria brengsek itu, gua tak pernah sudi menyentuh tubuh lu, gua sangat jijik pada wanita seperti dirimu..,wanita jalang, penjual diri..," Yuda menjambak rambut Nuri sampai meringis kesakitan.
Sementara pria selingkuhan Nuri berjalan sempoyongan meninggalkan tempat tersebut, tanpa mereka tahu dia meninggalkan pertengaran hebat pasutri itu.
Nuri kembali menatap wajah Yuda dengan angkuhnya. "Lu pikir gau sudi hidup bersama lu selama ini.? harusnya lu tahu ya, gua juga jijik sama laki yang tak pernah menghargai istri, gua jijik dengan sikap lu yang selalu lirik sana-sini, dan tak mampu mencukupi kebutuhan istri, lu lebih mementingkan diri sendiri, ketimbang istri lu..,"
"Oh, merasa tak cukup dengan suami yang mati-matian membela istri.? tak kenal hujan dan panas, tak perduli rasa capek.? lu bilang tak mencukupi.?" kata Yuda bertolak pinggang.
"Iya, lu bekerja, tak perduli panas maupun hujan, itu sudah kewajiban, lagian orang hidup butuh duit bukan daun, wajar dong kalau lu usaha buat keluarga, hah hanya orang bodoh yang ngomong seperti itu." dengan sikap sinis.
Dengan tatapan Yuda yang semakin tajam. "Aku menyesal menikahi dirimu."
"Aku lebih menyesal lagi sudah hidup denganmu, laki-laki tak berguna." ucap Nuri lebih garang.
"Mulai sekarang lu bukan lagi istri gua.! gua jatuh kan talak Tiga, sekarang lu pergi dari hadapan gua." Yuda menunjuk pintu.
Dengan mata terbelalak Nuri menyeringai puas, "Bagus memang itu yang gua mau dari lu Yuda." sembari mengangguk pelan mendekati lemari mengambil semua bajunya tak satupun dia tinggalkan di sana.
"Jangan ada sehelai pun yang tertinggal di sini gua jijik." kata Yuda memalingkan muka ke sembarang tempat.
"Tentu akan gua bawa, tenang saja, lu pikir lu suci,? lu gak ada bedanya dengan gua, lu pikir gua gak tahu apa yang lu lakuin di luar sana,? lu itu orang gak punya namun sok kaya, bermain-main dengan cewe segala.., apa itu tidak menjijikan.?" dengan senyuman puas Nuri keluar membawa tas berisi pakaian.
Mendengar ucapan Nuri Yuda semakin mengeratkan giginya, tangan mengepal ingin rasanya memukul Nuri sekali lagi, namun dia urungkan niat itu, Nuri berjalan tanpa sesal dengan yang sudah terjadi, tepat di tengah pintu dia menoleh kebelakang. "Gua gak akan melupakan tamparan tangan kotormu itu." sesaat kemudian dia sudah pergi jauh, dari tempat tersebut.
Yuda yang masih di kuasai kemarahannya, membanting barang yang dekat dengan dirinya, bagaikan orang kesurupan.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih banyak buat readerku yang baik hati, terus dukung aku ya.? dengan caranya kalian lebih tahu yang harus di lakukan, agar aku tambah semangat belajar menulisnya🙏