
"Terima kasih Bunda,?" Dimas memeluk tubuh Naya sangat erat, setelah beberapa saat berpelukan, lalu menyantap hidangan di meja, musik pun terus terdengar indah dan mengiringi lagu yang berjudul Bintang Hatiku, semakin menambah syahdunya hati dua insan yang kini amat bahagia tersebut.
Baking vokal menghampiri dan memberikan sebuah mik agar Dimas melanjutkan lagu yang dia bawakan, Dimas langsung mengambilnya dan menyanyikan nya untuk Naya.
**Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku.. walau aku tau ragamu tak utuh...
Ku terima kekuranganmu dan aku tak akan mengeluh.. karena bagiku engkaulah nyawaku...!
Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku.. walau aku tau ragamu tak utuh...
Ku terima kekuranganmu dan aku tak akan mengeluh.. karena bagiku engkaulah nyawaku**... karena bagiku engkaulah nyawaku...
Mendengar lagu ini membuat Naya tak kuasa menahan air mata, bait lagunya sangat menyentuh hati, sebuah lagu yang mengisahkan pasangan yang salah satunya mempunyai kekurangan, begitupun kisah cintanya dengan Dimas, dia selalu menerima kekurangan dirinya, selalu sabar dan tak pernah mengeluh, ikhlas menerima kondisinya yang ia sendiri merasa tak sempurna.
Ditengah rasa bahagianya Naya menangis tersedu ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya menyembunyikan pipinya yang dihujani dengan air mata.
Dimas merasa hatinya bagai terhiris sembilu, tawa bahagia yang di harapkan ternyata berhias air mata, lalu dia membuka kedua tangan Naya tampaklah wajah yang sembab dan banjir dengan air mata, Dimas mengusapnya dengan tisu sampai tak berbekas lagi kecuali sembabnya yang masih terlihat.
"Ayah memberi kejutan semua ini agar Bunda bahagia, bukan bersedih," lirih Dimas sembari menggeleng menatapnya.
Naya masih meneteskan air mata dan berhambur ke pelukan Dimas, "Loh-loh, kok nangis sih, jangan nangis dong, harusnya kan bahagia, kalau gini buat apa Ayah buat kejutan ini," Dimas lesu.
Naya mendongak dengan senyuman getirnya, "Aku bahagia kok Yah, cuma aku terharu aja dengan lagu tadi," menyeka air matanya yang berjatuhan.
Dimas mengelus lembut pipi Naya yang basah, "Tuh kan jadi sembab matanya," lirih dan mengecupnya, Dimas menggenggam mik dan menyanyikan lagu Satu nama tetap di hati, Naya tersenyum dan mencium buket bunga roos.
Malam pun larut, rasanya sudah cukup menghabiskan waktu di sana, Dimas dan Naya kembali ke penginapan, buket bunga pun Naya bawa, ini kali pertama Dimas memberinya bunga, Naya terus mesem-mesem memandangi bunga tersebut.
Dimas yang baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya mesem-mesem sendiri jadi merasa lucu, Dimas duduk di samping Naya bersandar di bahu Tempat tidur, "Berasa alay tadi kita Bunda," mencabut setangkai bunga lalu menciumnya.
Naya menoleh sembari memperlihatkan gigi putihnya, "Iya sih, tapi.., aku suka, aku bahagia sangat, bunga ini kali pertama Ayah memberikannya padaku, membuat terasa banget romantisnya," Ucap Naya tersenyum.
"Iya sih tapi.., berasa anak alay gitu, sok romantis, sok gimana gitu hahaha.., tapi Bunda suka,?" tanya Dimas memainkan setangkai bunga di tangannya.
__ADS_1
Naya mengangguk, "Suka, suka banget," Naya menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.
Dimas mengelus perut Naya, "Apa kabar baby Ayah,? gak rewel kan di sana baby, jangan buat Bunda susah ya sayang."
Tangan Naya memegang tangan Dimas yang berada di atas perutnya, "Baby nya kangen Ayah, tapi.., Ayah jarang menyapa apa lagi menyentuhku," Naya mendongak.
"Gitu kah,? bilang gitu kah baby kita," Dimas senyum tipis.
Lagi-lagi Naya mengangguk, "He'em, bilang gitu, Ayah nya seperti gak sayang nih sama Baby nya."
"Astagfirullah, Bunda kok bilang gitu,? masa Ayah gak sayang sama baby kita, Bunda ngadi-ngadi aja," Dimas bangun dari sandarannya.
"Bercanda yang..," Naya memeluk Dimas sangat erat.
"Hem.., sudah malam bobo yuk, besok kita jalan-jalan lagi ke pantai," mengelus rambut Naya yang panjang.
"Kita melihat sunrise ya pagi-pagi ke pantai, ya mau kan,? mau ya," Merajuk.
"Iih.., terus kapan lagi melihat matahari terbit dari pantai, pasti indah loh Yah, ya udah kalau gak mau nemenin biar sendiri aja," rajuk Naya.
Dimas menaikan alisnya, "Hem.., emang bisa,?" tanya Dimas mendelik kan matanya.
"Tidak,"
"Hem..," memejamkan matanya.
"Makanya temenin," terus merajuk, tangannya bermain di dada Dimas yang bertelanjang dada.
"Ok, tapi.., ada syaratnya," Naya penasaran.
"Apa syaratnya,?" penasaran.
Tanpa membuka mata Dimas menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, "Cium dulu di sini," dengan masih pejamkan mata.
__ADS_1
Naya menghela napas dalam-dalam, lalu mendekati Dimas dan mendaratkan ciumannya di bibir Dimas dengan lembut, "Udah," namun lengan Dimas menarik tengkuk Naya membuat bibir Naya menempel lagi di bibir Dimas, mau berontak pun terkunci.
Akhirnya Naya bisa melepaskan diri dari Dimas, yang sudah tertidur, "Iih.., malah tidur duluan, gimana sih,?" gerutu Naya, lalu dia membaringkan tubuhnya di samping Dimas, tidur menyamping membelakangi Dimas, namun tangan Dimas memeluk perut Naya dari belakang dan mendekatkan tubuhnya. dengan punggung Naya.
Naya memeluk lengan Dimas, kemudian terlelap, yang sebelumnya memandangi buket bunga, di atas meja, di luar turun hujan, terdengar suara guntur menggelegar, dari kaca jendela terlihat bayangan cahaya kilat di luar.
Pukul empat Naya sudah terbangun, membuka matanya melihat jam di ponselnya, Naya bangun bergegas masuk kamar mandi, ada waktu untuk berendam air hangat sebelum subuh.
Dimas membuka matanya menoleh ke samping sudah kosong, Dimas bangun duduk meraih kaosnya tuk ia pakai, turun dari tempat tidur, melangkah kan kakinya ke kamar mandi, kebetulan tidak di kunci, tampak istrinya tengah berendam dengan air hangat.
Naya yang tengah asyik berendam di bathub kaget tiba-tiba Dimas masuk mendekati dirinya, "Ayah sudah bangun,?" Naya pelan, Dimas duduk di tepi bathub, mengusap wajahnya yang masih ngantuk berat, tanpa berkata-kata menanggalkan semua pakaiannya, Naya tidak berani menatap Dimas yang polos, lalu masuk ke dalam bathub berendam bersama Naya.
Mencuci mukanya berkali-kali agar rasa kantuk pun menghilang dari matanya.
"Masih ngantuk kah,?" tanya Naya menatap teduh suaminya, merasa kasihan dia ngantuk berat sepertinya, padahal Naya belum bangunkan Dimas.
"Hem.., masih ngantuk yang," kembali mencuci mukanya, berkali-kali, sampai akhirnya lebih baik matanya lebih segar untuk melek, mereka saling menggosok badan bergantian, hingga mereka membersihkan sabun dengan air dari shower, Naya memakai jubah mandi, dan Dimas mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Sehabis berpakaian dengan rapi mereka menunaikan sholat subuh terlebih dahulu, lalu keluar dari kamarnya untuk melihat mata hari terbit dari pesisir pantai, sesuai permintaan Naya semalam.
Naya duduk di tepi pantai sendiri Dimas mau beli minum dulu sebentar, Naya memeluk lututnya, memandangi lautan yang luas terbentang, dan mata hari yang mulai terbit dari ufuk timur, cahayanya menghangatkan badan, dari kejauhan ada seseorang mengawasi Naya, seorang pemuda berbadan kekar wajah tampan, sedikit berkumis, memakai topi hitam, dia melangkah perlahan tapi pasti mendekat pada Naya.
Ketika mau menyapa, keburu Dimas datang membawa minuman hangat, membuat dia mundur dan berpura-pura cuma melewati mereka berdua.
"Kok lama sih Yah,?" Naya menoleh dan mengambil minuman yang Dimas sodorkan.
"Bentar ah, perasaan Bunda aja kali lama," mengusap pucuk kepala Naya sambil menyedot minumnya, begitupun Naya menikmati minumnya dan asyik dengan pemandangan di pagi hari yang cerah ini di mana malamnya di guyur hujan pas paginya begitu indah, sejuk, sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang mengintai.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏 agar aku tambah semangat💪
Mana dong komens nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏🙏
__ADS_1