
Yang membuat Aldo merasa curiga adalah, penampilan mereka yang fresh, apa lagi rambut Dimas basah kelimis, "Sial.., aku di buat menunggu sementara mereka bersenang-senang bercinta," batin Aldo terlihat jelas dari wajahnya ada raut sedikit kesal.
"Sorry dok, lama menunggu,?" ucap Dimas sambil mengulurkan tangan pada Aldo.
"Nggak apa-apa," dengan nada datar menyambut tangan Dimas, sementara Naya menangkupkan kedua tangan di depan dada, yang di balas anggukan oleh Aldo.
Dimas dan Aldo duduk santai, Sementara Aldo terdiam pikirannya melayang entah kemana, Dimas mengamati raut wajah Aldo yang berbeda dari biasnya.
Sesaat kemudian, "Oke kita mulai saja terapinya," Aldo membuka pembicaraan.
"Baik dok," sahut Naya, Aldo pun memulai pijatan di kaki Naya.
"Gimana Bu, sekarang sudah semakin ada perubahan belum,?" tanya Aldo melirik wajah Naya.
"Lumayan dok, rasanya lebih ringan, dan sedikit bisa menuruni tangga," ucap Naya dengan senyumnya.
"Iya kah,? kok bunda gak bilang sama aku,?" Dimas terperangah.
"Kan aku bilang juga sedikit yang.., tapi.., masih ngeri takut jatuh dan gak bisa bangun," Naya berusaha menutupi, ia lupa kalau Dimas belum melihatnya turun dari tangga.
"Oh ya sudah, jangan dulu kalau belum benar-benar kuat yang ya,?" Dimas mengusap tangan Naya.
Aldo tersenyum, fokus dengan tugasnya, "Saya sangat bahagia jika semua berbuah hasil yang baik."
"Ya dok, aku sangat berharap aku dapat sembuh, setidaknya bisa berjalan jauh," harap Naya,
"InsyaAllah, asal kau semangat terus dan terus berusaha," jawab Aldo sambil memijat kaki Naya.
Dimas terus mengamati Aldo dan Naya, yang semakin lama semakin akrab, apa aja bisa menjadi tema pembicaraan buat mereka berdua, dengan sabar Dimas menemani Naya terapi.
"Eh, ada nak Aldo, dari kapan datang,? kok tante gak tau ada Aldo di sini," tiba-tiba bu Hesa datang menghampiri.
"Iya tante, sudah lama nih, apa kabar tante,?" Aldo dengan ramahnya.
"Oh, kabar tante baik, kamu gimana,?" bu Hesa duduk di sofa yang kosong.
"Baik tante," ucap Aldo fokus kembali pada Naya.
"Nak Aldo kapan akan membawa keluarga mu ke sini,? ingin rasanya bertemu istrimu,?" bu Hesa menerawang.
"Iya nanti lah kapan-kapan tante, saya akan bawa mereka kemari," ucap Aldo belum berterus-terang akan perpisahannya.
"Mungpung tante masih di sini loh," sambung bu Hesa.
"iya tante."
__ADS_1
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya barat nih," ucap Dimas pada Naya yang sedang terapi.
Naya melirik, "Iya yang,"
"Kenapa gak dari tadi sih, kan saya canggung di awasi terus sama suaminya," gumam Aldo ikut melirik Dimas yang melengos ke dalam kamarnya.
"Apa kira-kira Naya bisa sembuh Al,? tanya bu Hesa.
"Kemungkinan besar bisa, berdoa saja dan terus berusaha, manusia kan hanya bisa berusaha," ujar Aldo melirik bu Hesa.
Tak lama, Dimas kembali dan duduk di samping Naya, duduk manis di sana.
"Sudah yang,?" Naya menoleh pada Dimas.
"Belum," sahut Dimas sambil mengulum senyumnya, begitupun Naya tersenyum kecil.
Tiba-tiba bi Taty naik dan menghampiri, "Maaf Tuan, di bawah ada tamu."
Dimas menoleh dan mengernyitkan dahinya, "Siapa Bi."
"Katanya Endro sama non Citra Tuan," sahut bi Taty.
Bu Hesa menoleh, "Siapa,? Citra, wah akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan Citra,"
Dimas semakin mengerutkan dahinya, "Ada apa mereka,? kesini tak buat janji pula," lirih Dimas.
"Tadi juga ketemu di RS," masih di posisi yang sama.
"Temui aja dulu, kenapa sih,?" Naya melirik lagi Dimas.
"Kalau aku temui mereka, bisa-bisa alamat lama nih," batin Dimas.
"Bi, suruh mereka ke sini saja," titah Dimas pada bi Taty.
Baik Tuan," bi Taty segera menuruni anak tangga.
Setelah di bawah, bi Taty menghampiri Endro dan Citra, yang duduk berdampingan, "Aden sama non naik ke atas saja, di tunggu di atas sama Tuan."
"Emang tuan sedang apa,?" tanya Endro pada bi Taty yang berdiri di samping sofa.
"Ibu lagi terapi di atas, makanya kalian naik ke atas saja," ucap bi Taty.
"Emang, Ibu itu siapanya Dimas,?" Citra penasaran.
"Ibu, ya istrinya Tuan, permisi," sahut bi Taty sambil pergi ke dapur.
__ADS_1
"Berarti istrinya bermasalah," gumam Citra dalam hati sembari mencebikan bibirnya.
"Yuk, sayang kita naik ke atas,?" ucap Endro sambil beranjak pergi, di ikuti oleh Citra.
Endro dan Citra menaiki anak tangga, setelah sampai, mereka menghampiri Dimas serta keluarga yang tengah berkumpul, mereka berdua berjabat tangan dengan semuanya, apa lagi Bu Hesa sangat antusias sekali bertemu Citra, cium pipi kanan dan kiri, sambil berkata, "Calon mantu idaman tante."
"Apa maksud Mamak,?" Dimas lirih, bu Hesa hanya melirik sekilas, begitupun Naya menoleh pada Dimas dengan senyuman.
"Oh, ini yang namanya Citra, cantik seksi, pria mana pun pasti tergoda kayanya sih,?" gumam Naya yang memberi senyuman pada Citra dan di balas anggukan oleh Citra.
Citra saat itu mengenakan dress abu pendek tanpa lengan, dan menonjolkan setiap lekuknya, rambut panjang terurai bergelombang.
Citra setelah berjabat tangan dengan Naya, duduk dengan Endro, "Oh, ini istrinya,? sepertinya tak ada apa-apanya bila di bandingkan denganku,?" batin Citra menyombongkan diri.
"Kau sedang apa di sini Al,?" Tanya Endro pada Aldo.
Aldo menoleh sambil memperlihatkan barisan gigi putihnya, "Seperti yang kau lihat Dro," dengan senyum manisnya, "Ini dia cewe kamu Dro,?" sembari menunjuk kearah Citra.
"Yoi," Endro senyum lebar.
"Ini cuma.., sementara saja," batin Citra sembari menatap Aldo.
"Ada kemajuan kau, biasanya kau jomblo akut Dro,?" ucap Aldo sembari tertawa.
"Ah sial kau, masih meragukan kawan mu ini,? tidak kah kau lihat wajahku ini tidak jelek-jelek amat, lihat lah senyumku manis kan,?" Endro senyum semanis mungkin.
"Haha.., iya-iya aku tahu itu," ucap Aldo tertawa.
"Terus kenapa kau tidak percaya,? jelas-jelas ini cewek aku,?" Endro memeluk pinggang Citra, "Iya kan sayang.?
"I-iya," sahut Citra singkat.
Semua yang melihat tersenyum, termasuk Dimas dan Naya saling melempar senyum.
"Citra, cantik sekali, masya'Allah," ucap Naya pada Citra, Citra semakin tersanjung, mendengar pujian semacam itu.
"Iya dong, gini nih, ciri-ciri mantu idaman, dah cantik, pinter, akan mendapat gelar dokter juga," ujar bu Hesa bangga, Citra senyum-senyum sendiri, merasa berada di atas awan, di sanjung bu Hesa.
"Hadeh Mamak, si bungsu biar cepat besar ya, nikahin sama Citra sana," ucap Dimas dengan nada jengkel, bu Hesa selalu menyanjung Citra.
"Lah, kan Mama cuma bilang ciri-ciri mantu idaman, kan bisa siapa aja yang jadi suaminya atau mertuanya,"ujar bu Hesa.
,,,,
Hari ini aku up walau cuma sebentar, hanya untuk mengobati rindu yang menunggu up dari novel ini. di karenakan badan masih kurang vit, dan masih sakit, mohon doanya π
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dongππ