Bukan Mauku

Bukan Mauku
Duda gak laku


__ADS_3

"Sayang kenapa kok wajah kalian di tekuk gitu meringis lagi, kalian kenapa,?" Naya melihat Dimas dan Dery bergantian, Dimas sebelum menjawab memperlihat kan luka di sikunya, dan segera mengambil tas kerjanya,! Naya tambah bingung pertanyaannya tidak mendapat jawaban, melihat pelipis Dery berdarah semakin tidak mengerti di buatnya.


Dimas membersihkan luka Dery terlebih dahulu ketimbang mengurus lukanya sendiri, karena luka Dery lebih dari dirinya, setelah mengobati Dery barulah mengobati lukanya, bercak darah pun membekas di lengan baju Dimas.


Naya membuka kemeja Dimas tinggallah kaos dalam yang di kenakan, "Yang, dadanya ada goresan juga," ucap Naya penuh cemas, Dery melirik dada Dimas yang benar ada luka goresan.


"Nggak apa-apa hanya luka kecil saja," Dimas tersenyum, kemudian menceritakan kejadian tadi pada Naya tak ada yang terlewatkan sedikit pun.


Naya kaget bukan main, "Ya Allah.., gimana kalau terjatuh ke bawah mungkin Ayah-!"


"Huus, Ayah baik-baik saja jangan cemas," Dimas menempelkan jari telunjuknya di bibir Naya yang matanya mulai berkaca-kaca.


Sungguh tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Suaminya, Naya memeluk Dimas penuh haru, "Aku takut terjadi apa-apa sama kamu."


"Nggak sayang, doakan aja kita semua baik-baik aja," Dimas lirih sambil mengelus punggung Naya.


Naya melepaskan pelukannya, lalu menoleh kearah Dery yang termangu, "Dery, makasih ya kamu telah menyelamatkan suami 'ku,?" sembari mengusap pipinya yang basah.


"Oh iya sama-sama."


"Dan maaf kamu juga terluka," Naya menunduk tak tahu harus berkata apa lagi, hatinya masih berkecamuk, resah, cemas menjadi satu.


"Nggak pa-pa," sahut Dery lagi


"Ya udah kita pulang sekarang, gerah nih pengen mandi, dan kau Dery jangan pulang dulu lah, nanti malam kita meeting," ucap Dimas melirik istrinya lalu kembali melihat Dery.


"Ok," Dery berdiri dan keluar dari konter.


Kini mereka bersiap untuk pulang ke rumah, tidak lupa mengunci pintu konter, sebelum akhirnya melangkah menuju rumah yang tidak jauh dari tempat tersebut.


Sesampainya di kamar Dimas langsung merendam dirinya di bathub, pikirannya melayang, membayang kejadian tadi.


Naya mendekati lemari pakaian Dimas untuk menyiapkan pakaiannya, lantas ke ruang kerjanya untuk mengecek barang-barang yang harus di peking, untuk pengiriman hari ini.


"Lisa, gimana kerjaannya, apa ada yang sudah di peking,?" tanya Naya menghampiri Lisa yang sedang menjalankan mesin jahit.


Lisa pun menoleh, "Iya Bu baru sebagian," Lisa menunjuk beberapa dus yang sudah siap kirim.


Naya melihat yang Lisa tunjukkan, "Oh bagus lah, makasih dan jangan salah alamatnya ya.?"


"Baik Bu," sahut Lisa sambil mengangguk.


"Ya udah, aku tinggal lagi," Naya memutar tubuhnya keluar dari sana meninggalkan Lisa.


Naya kembali ke kamarnya, di sana Dimas tengah duduk santai di sofa bersama laptopnya, "Dari mana, belum sholat kan.?"


"Iya belum, ayah udah belum,?" balik nanya.


"Udah"


Naya melengos ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengambil air wudu.


Sore menjelang malam, habis menggambar Naya memilih pergi ke dapur untuk bantu-bantu masak, "Masak apa Bi,?" sapa Naya pada Bibi yang tengah sibuk memasak di bantu oleh Bi Meri.


Keduanya menoleh pada Naya yang menghampirinya, "Lagi masak kesukaan Tuan Bu,"


"Oh, agak banyakan masaknya, kan ada tamu di atas, oya Bi buatkan aku sup iga ya, bisa gak,?" Naya menatap kedua asistennya.

__ADS_1


"Iya Bu ini juga masak banyak kok, sup iga biar Bi Meri yang bikinkan ya Bu," langsung Bi Meri menyiapkan untuk sayur sup permintaan Naya.


Sementara Dimas di atas tengah meeting bersama Aldo, Endro dan Dery, Dimas ingin pembangunan klinik agar lebih di percepat dan penambahan mandor.


"Saya tidak suka sama mandor yang sekarang entah kenapa saya jadi kurang srek saja sama dia, kayanya dia kurang jujur dan mencurigakan gitu.


"Hah, mungkin itu cuma perasaan kau saja bro," elak Endro yang di iya kan oleh Aldo.


"Bukan perasaan, tapi ini buktinya," Dimas menunjuk lukanya dan Dery.


"Ok-ok saya akan mencarikan mandor yang sesuai dengan keinginan kau baiklah," kata Endro.


"Hmm.., kali ini biar saya aja yang cari, jangan kau Dro, entar salah lagi," timpal Aldo.


"Apa,? kau panggil saya Dro, kau pikir saya Indro, Rendi pangalila nih, sembarangan," menunjuk hidungnya dengan bangga.


"Ide bagus tuh, saya percaya kau akan dapat yang bener," ucap Dimas menunjuk Aldo dengan senang.


"Hielaah, emang saya gak bener apa,?" gumam Endro sewot dan memalingkan muka.


"Maksud saya, intinya biar cepat selesai bah, gak buang waktu lah iya gak,?" tatapan Dimas menyapu ketiga kawannya.


"Hi.., nona manis mau pulang nih,? perlu di antar gak," goda Endro pada Lisa yang keluar dari ruang kerjanya.


Lisa menoleh sambil melempar senyum termanisnya, "Iya nih mau pulang, gak ah makasih, permisi.?"


"Tunggu, hati-hati ya,? takut di luaran sana ada buaya darat mengganggu," sambung Endro sambil melambaikan tangan, bibirnya nyengir kuda.


"Eh ngapain takut di luaran sana, orang buayanya di sini ngejogrog ha..,ha..,ha..," Aldo menunjuk Endro sambil tertawa.


"Sudah..," Dimas menoleh Lisa memberi isyarat agar segera pergi.


Aldo terkekeh, sementara Dery datar tanpa ekspresi apa pun.


"Dasar duda gak laku kau," ucap Endro pada Aldo.


"Mending saya di bilang gak laku, dari pada ngerusak anak orang," bela Aldo senyum penuh makna.


Amarah Endro sedikit tersulut dia melempar bantal sofa pada aldo, "Maksud kau apa duda tak laku hah,? orang pacaran itu peluk cium sudah hal biasa, kolot kau"


"Sudah-sudah," hardik Dimas menatap tajam kedua kawannya.


"Assalamu'alaikum.., sudah waktunya makan malam nih, baiknya kalian makan dulu," Lirih Naya memandangi ke empat pria tersebut sesaat, yang sontak terdiam karena kedatangan dirinya.


"Wa'alaukum salam.., iya sayang bentar lagi kami makan," Dimas mesem.


Semua menatap kearah Naya tanpa bicara hanya ekspresi datar, membuat Naya merasa aneh, "Kalian kenapa,? apa ada yang aneh dari 'ku,?" pemperhatikan penampilannya sendiri.


"Oh nggak, gak ada yang salah kok," ucap Endro sambil memperlihatkan lesung pipinya.


"Ya udah 'ku mau sholat dulu," Naya melangkah menuju kamar.


"Ok, obrolan kita lanjutkan nanti setelah makan," Dimas melengos mengikuti istrinya ke kamar.


Semtara waktu ketiga pria itu terdiam dengan pemikirannya masing-masing.


"Lapar bro," suara Endro memecah keheningan sembari bangkit dari duduknya, dia berjalan turun.menuruni tangga, Aldo dan Dety pun mengikuti langkah Endro.

__ADS_1


Di kamar, Naya menunaikan ibadah isya bersama Dimas, sebelum turun untuk makan malam.


Di meja makan sudah mengumpul dan makan malam bersama, Dimas juga Naya yang datang belakangan langsung duduk dan mengambil piring di isi beberapa menu masakan kesukaan Dimas.


Bi Taty membawakan sup iga permintaan Naya, asapnya masih mengepul, "Ini Bu sup nya masih hangat."


Naya menoleh, "Makasih ya Bi, hem.., wanginya.?


Tiba-tiba Aldo mengambil sendok dan menyodorkan nya pada Naya, membuat Dimas menatap tajam kearah Aldo yang menunduk, "Sok perhatian," batin Dimas.


Acara makan pun selesai tinggal Naya saja yang memakan sup, di temani Ibu mertuanya, yang lain sudah meneruskan perbincangan nya di atas.


"Makan yang banyak, biar cucu 'ku sehat, dan juga harus banyak minum pitamin," ucap Bu Hesa pada Naya.


"Iya Mak, pitamin itu pasti."


"Bi Meri jangan lupa tiap pagi bikinkan susu bumil buat Majikan 'mu, tadi saya sudah belikan, agar baby nya gak kekurangan gizi," melirik Bi Meri yang tengah beberes meja makan.


"Baik nyonya," Bi Meri menoleh sebentar lalu melanjutkan tugasnya.


"Apa Mak, num susu bumil,? aduh.., gak mau enek, bikin tambah mual Mak," bela Naya yang tidak mau minum susu.


"Eh.., saya sayang sama cucu saya, mau tidak mau harus mau, demi cucu saya," jelas Bu Hesa lalu mengelus perut Naya, "Cucu 'ku harus sehat, sempurna, jangan ada yang kurang sedikit pun."


Mendengar ucapan Bu Hesa membuat Naya termenung kembali hatinya merasa cemas, takut kalau saja janinnya cacat atau gimana-gimana, "Gimana kalau janin 'ku nanti tidak sehat, atau apa..,?" gumam Batin Naya lalu menggelengkan kepalanya.


"Kanapa kau melamun, apa yang kau pikirkan,?" tanya Bu Hesa dengan tatapan heran.


Naya menoleh, "Tidak"


Naya menghabiskan supnya kemudian branjak dari duduknya membawa bekas makan ke wastafel dan akan di cucinya, "Mau kemana,? biar orang lain yang cuci, kau naik aja dan istirahat, jangan ngapa-ngapain lagi," ucap Bu Hesa menuntun Naya untuk naik ke lantai atas.


"Tapi.., Mak.?"


"Tidak ada tapi-tapi, istirahat di kamar, jangan ke ruangan kerja, kau cukup capek seharian, jadi istirahat lah," Bu Hesa mengantar sampai pintu kamar.


Dimas yang melihat istrinya di antar Bu Hesa sontak merasa heran lalu berdiri untuk mendekati, "Sebentar," ucap Dimas pada kawannya, kemudian mendekati istrinya.


"Ada apa nih,? sayang gak ke napa-napa," dengan wajah cemasnya.


Naya menggelang, "Nggak."


"Tapi.., kenapa di antar Mama,?" menatap keduanya.


"Dimas putra 'ku, dia mantu 'ku, sedang mengandung cucu 'ku, masa gak boleh mengantar atau menjaganya,?" ketus Bu Hesa.


"Oh, tentu boleh kok Mak," Dimas menyeringai dan kembali ke sofa bersama kawannya.


Naya masuk ke dalam kamar, dan Bu Hesa kembali turun setelah memastikan Naya sudah berada di dalam kamar.


"Aku tuh banyak kerjaan di sana, tapi.., ah Mama ada-ada aja," batin Naya sambil mengambil kertas dan pilot dari meja, kemudian menggambar di atas tempat tidur.


,,,,


Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,


Mana dong komentar nya,? karena sesungguhnya komentar dari kalian menambah semangat 'ku untuk up, jangan lupa kasih rating n vote nya juga ya,🤭

__ADS_1


__ADS_2