
Akhirnya Naya pun tertidur dalam keadaan duduk bersandar di sofa, sementara Dimas begitu nyamannya berbantal kan paha sang istri, di hiasi suara sholawat yang Naya putar dari ponsel dan angin yang berhembus dari kipas angin yang tertuju kepada mereka.
Sore menjelang Dimas terbangun, melihat istrinya tertidur sembari duduk bersandar, Dimas mengucek matanya, "Ya Allah.., kasian sekali istriku, tidur bersandar,?" gumam Dimas pelan mengusap kepala Naya, melihat waktu sudah ashar, percuma di pindahkan juga, "Yang bagun, sembari mengecup keningnya.
"Hem..," gumam Naya membuka matanya, "Nyenyak banget tidurku, tapi--!"
"Tapi kenapa sayang,?" Dimas menatap lekat.
Naya meraba lehernya, "Sakit leher,?" Naya nyengir.
"Sini aku pijat," Dimas memijat leher Naya pelan-pelan.
"Aw, sakit yang, pelan," Naya meringis.
"Ini juga pelan yang,?" beberapa saat kemudian Dimas mengakhiri pijatannya dengan kecupan hangat, "Coba gerakan lehernya,?" titah Dimas, Naya pun menggerakkan leher ke kanan kiri.
"Lumayan yang, gak terlalu sakit," ucap Naya dengan senyuman.
"Maaf yang gara-gara aku nih,?" Dimas mengelus tangan Naya.
"Gak pa-pa yang, siapa yang mau ke kamar mandi duluan,?" sambil melingkarkan kedua tangan di leher Dimas, mereka berdua saling pandang, Dimas merasa tak tahan melihat bibir istrinya yang seolah menantang tuk di sentuhnya, lalu mengecup bibir dan ********** dengan sangat lembut, Dimas menikmati sentuhan tersebut, tangan kiri menarik tengkuk Naya, sedangkan tangan kanan meremas sebuah bukit milik istrinya, dari balik penutupnya.
Beberapa menit kemudian, Naya meraih tangan Dimas dan menjauhkannya dari bukit yang tengah asik dia mainkan, wajah Naya pun menjauh, hingga sentuhan itu terlepas, Dimas heran, "Kenapa sayang,?" Dimas pelan.
Naya menggeleng sambil tersenyum, "Sudah ashar,?" sahut Naya, merapikan pakaiannya.
Dimas menyeringai, "Nanti malam ya,? bikin Baby nya,? ya,? ya,? ya,?" Dimas berdiri melangkahkan kakinya, menuju kamar mandi, sudah sampai di pintu, Dimas membalikan badan memandangi istrinya, "Iya gak.?
Naya menoleh, "Iya," malu-malu, lalu Naya pun beranjak beres-beres kamar yang sedikit berantakan, pakaian kotor di masukan ke tempatnya.
Tak lama Dimas keluar, Naya baru masuk kamar mandi, "Yang tungguin ya.?"
Setelah Naya siap, barulah mereka menunaikan sholat ashar, usai sholat mereka bersalaman, Naya mencium punggung tangan Dimas dan Dimas mencium kening Naya, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk dari luar.
"Tuan dan Ibu, maaf, ada Ibu besar di bawah sama Tuannya," pekik bi Taty.
Dimas dan Naya saling pandang, "Ada Mama yang,?" lirih Naya.
"Ah, suka ganggu kita yang," ucap Dimas.
"Hus, gak boleh gitu, oya yang, kalau kita jadi pergi masa Bibi di sini sendiri,? kasian,?" Naya menatap Dimas.
Dimas berpikir sesaat, "Ya sudah biar Mama aja di sini biar Bibi ada temannya."
"Baiknya ada penghuni prianya yang,?"
"Bapak, suruh di sini sama Mama, atau anak Bibi aja suruh ajak di sini,?" ucap Dimas.
"Kalau anak Bibi, kita kan gak kenal yang,? bukannya su'udzon ya,? tapi.., setidaknya harus orang yang kita kenal," sambung Naya.
Dimas berdiri merapikan sarungnya, "Pikirkan nanti aja sayang,?" Dimas duluan keluar kamar, sementara Naya belakangan.
__ADS_1
Dimas turun dari tangga, nyamperin kedua orang tuanya yang duduk di sofa dengan minuman juga cemilan di meja sudah tersedia, bu Hesa memandangi Dimas dengan seksama, dari atas sampai bawah.
"Apa kabar Pak, Mak,? mau nginep,?" Dimas bersalaman dengan kedua irang tuanya dan duduk di depannya.
"Baik, ini Mama mu minta nginap di sini katanya kangen sama kamu,?" sahut Bapaknya Dimas.
"Em.., bagus lah kalau mau nginap,? oya lusa aku mau ke luar kota ada tugas, sekalian aja kalian tinggal di sini,? biar Bibi tidak sendiri kasian," ujar Dimas.
"Istrimu,?" bu Hesa mengernyitkan dahinya.
"Aku ajak, gak lama kok satu dua minggu saja," jawab Dimas, menyandarkan punggung di sofa dengan tangan terbuka di bahu sofa.
Naya menghampiri dan duduk di samping Dimas, "Bapak dan Mama sudah lama,?" Naya mencium tangan mertuanya dengan hormat.
"Baik, sudah dari tadi," sahut Bapak mertua.
"Gimana, apa sudah ada tanda-tanda kehadiran cucuku,?" tanya bu Hesa sangat to the point.
"Naya kebingungan, "Em.., gak tau Mak,?" Naya senyum yang di paksakan, sembari mengusap perutnya.
"Hem.., kapan akan memberi kami cucu,? lama-lama keburu tua," ketus bu Hesa.
"Mak..,?" kata suaminya.
"Sabar Mak, kami juga selalu usaha nih,?" Dimas lembut sembari memeluk bahu istrinya dan tersenyum, Naya terdiam.
"InsyaAllah Ibu pasti secepatnya dapat momongan doakan saja,?" bi Taty nimbrung ketika menyuguhkan jus untuk majikannya.
"Helahh.., sampai kapan nunggu,?" bibir bu Hesa komat kamit, mengiringi langkah bi Taty.
"Mak, jangan gitu, gimana di kasihnya aja sama Tuhan, di kasih ya syukur, egak ya.., gimana lagi,?" ucap Bapak mertua.
Dimas mengangguk, "Bapak benar, kita cuma berencana yang di atas juga yang menentukannya, bukan kita, kami selalu berusaha semaksimal mungkin, ya kan sayang,?" Dimas mempererat pelukannya, Naya tak menjawab hanya seulas senyum yang menghiasi bibirnya.
"Cepetan dong, Mama sudah ingin menimbang cucu dari kamu Dimas," sambung bu Hesa sedikit memelas dan tetap terdengar angkuh.
"Iya Mak, kami ngerti, kalau belum waktunya mau gimana,? sabar aja dulu," sahut Dimas.
"Oya kapan kalian akan berangkat keluar kotanya,?" tanya Bapak Dimas mengalihkan pembicaraan.
"Lusa Pak, kami akan berangkat," jawab Dimas sembari meneguk jus.
"Baik lah, biar kami tinggal di sini selama kalian tidak ada, biar Bibi di sini ada kawannya, tapi.., Bapak juga gak bisa setiap hari di sini, karena Bapak punya banyak urusan di luar, paling yang menetap Mama mu, tidak apa lah sedikit jauh ke lahan, sesekali aja tengok ke sana," ujar Bapak Dimas.
"Makasih Pak,?" Dimas menarik bibirnya senyum.
"Hem.., jadi merepotkan," sambung Naya.
"Tidak apa Naya, gak mungkin kan rumah ini di biarkan kosong, atau hanya di tunggu art sendirian," ucap Bapak mertua.
Mereka terus mengobrol, sementara Naya ke dapur membantu masak bikin goreng ayam goreng tempe, tahu, tumis sawi, buat makan nanti malam, "Bi kalau buat kebutuhan rumah, khususnya dapur, besok Bibi belanja buat stok ya, Mamak dan Bapak mertua akan tinggal di sini, jadi Bibi gak sendiri," Naya pelan namun terdengar jelas oleh bi Taty.
__ADS_1
"Baguslah Bu, jadi Bibi gak sendiri," sahut bi Taty.
"Iya Bi, tapi.., Bibi jangan pergi dari sini sekalipun pulang, anggap aja Bapak dan Mamak majikan Bibi ya,?"
"Baik Bu, Bibi tidak akan pulang sebelum Tuan dan Ibu pulang, kecuali.., benar-benar mendesak, boleh kan Bu,?" wanita paruh baya itu menatap Naya.
"Em.., kalau mendesak sih, boleh, namun harus bilang dulu sama aku," sahut Naya tegas.
"Baik Bu, siap Bibi laksanakan," bi Taty mengangkat tangan di samping pelipisnya.
"Ah Bibi, ada-ada aja sih,?" Naya tertawa kecil.
Setelah beberapa waktu berkutat dengan masakan, akhirnya masakan siap di hidangkan, bi Taty menatanya di meja, Naya membuka celemek nya membasuh tangan, lalu naik ke atas, kebetulan sudah terdengar suara adzan magrib bersahutan dari kejauhan.
Naya sudah bersiap tuk menunaikan sholat, Dimas masuk, "Lama benar sih Pak, di tunggu dari tadi eh.., baru nongol.?"
"Apa yang nongol,?" burung ayah nongol,?" Dimas menyeringai.
"Ih, apaan sih,? mesum, buruan di tunggu sholat nih," lirih Naya.
"Iya-iya istriku cintaku,?" Dimas masuk kamar mandi, tak lama sudah kembali, basah dengan air wudu, kemudian mereka berdua menunaikan kewajiban sebagai Muslim tuk sholat magrib.
Dimas duduk di sofa, Naya pun berada dalam pelukannya, habis sholat bersantai dulu di sofa, "Yang.?"
"Hem.., apa sayang,?" Dimas mengelus rambut Naya yang panjang.
"Gimana, kalau seandainya kita tidak--!" Naya menggantung ucapannya.
"Tidak apa yang,?" Dimas melirik wajah Naya yang mendongak padanya.
"Gimana kalau seandainya kita tidak mempunyai anak,?" pelan.
Dimas menempelkan jarinya di bibir Naya, "Jangan bicara gitu sayang, kita akan selalu berusaha dan berdoa, sayang lupa itu hem,? dan aku yakin usaha kita gak akan sia-sia,?" mengecup kening sang istri, "Seperti malam ini, aku akan berusaha menanam benih, sampai benih itu ada yang tumbuh di rahim istriku," senyumnya melebar.
Naya mencubit kecil perut Dimas, namun Naya semakin membenamkan wajahnya di dada Dimas, tapi Dimas melepas pelukan itu, dia mendongakkan wajah Naya dengan jarinya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Naya hingga napas Dimas menyapu kulit wajah Naya, melihat bibir istrinya yang merah natural membuat Dimas ingin dan ingin menyentuhnya.
Dimas menyatukan bibirnya dengan bibir Istrinya, lalu ********** lembut dan penuh kehangatan, tangan Dimas pun sulit di kendalikan, saking menikmati adegan tersebut hingga lupa makan malam, dan di bawah ada orang tuanya Dimas.
Tok..,tok..,tok.., "Dimas..,? Dimas..,? di tunggu makan malam,?" pekik bu Hesa di balik pintu.
Naya kaget, refleks pagutan yang mesra pun terlepas, Naya menoleh ke sumber suara, begitupun dengan Dimas, namun tangan Dimas enggan lepas dari mainannya, "Yang, sudah di tunggu makan,?" ucap Naya sembari mengusap bibirnya yang basah.
"Rasanya aku gak lapar yang, aku lebih ingin--!"
"Yang, gak enak sama Mama dan Bapak, nanti di kira gak menghargai mereka lagi," Naya lirih, Dimas mengusap kasar rambutnya, "Nanti kan bisa kita lanjut lagi habis makan," bisik Naya menggoda, membuat Dimas tersenyum senang.
"Baiklah kalau begitu, yuk,?" Dimas berdiri, mengajak Naya berdiri namun Naya sibuk merapikan yang acak-acakan karena ulah suaminya, tak lupa mengenakan kerudungnya, barulah beranjak dari duduknya, Dimas meraih tubuh Naya lantas di boyong nya ke luar kamar menuruni anak tangga menuju dapur, sampai dekat meja makan Dimas menurunkan Naya dan menggeser kursinya untuk duduk.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1