
Dimas sudah masuk kamar mandi dengan hati sedikit dongkol, mendengar istrinya menyebut nama dokter Aldo, "Bisa-bisanya, bilang kasian lah lama menunggu, takut keburu dateng lah,? emang siapa dia hah,?" gerutu Dimas di kamar mandi, ingin sekali menonjok dinding namun di urungkan.
Tak lama Dimas kembali, dengan air wudu di wajahnya, Naya yang sudah berdiri depan pintu langsung masuk, "Tunggu ya yang,?" sembari menghilang di balik pintu.
Dimas mengambil sarungnya, duduk di sofa menunggu sang istri, akhirnya yang di tunggu muncul juga sari balik pintu dan Dimas membawakan mukena untuk Naya, Naya tersenyum tipis, "Makasih yang.?"
Usai menjalankan sholat ashar, Naya siap-siap untuk terapi, Dimas duduk dengan laptop di pangkuan tampak sibuk, setelah rapi Naya menoleh suaminya, "Yang aku keluar duluan ya.?"
"Hem..,?" sahut Dimas singkat tanpa menoleh istrinya.
"Ok," Naya berjalan namun tiba-tiba gubrakkkk.., tubuh Naya terjatuh ke lantai, "Aww..,astagfirullah."
"Yang..,?" Dimas melompat ketika melihat istrinya bersimpuh di lantai, memegangi lutut kanannya.
Dimas langsung memboyong tubuh mungilnya ke sofa, "Mana yang sakit,?" Dimas sangat cemas.
"Lutut Ku yang sakit," Naya meringis.
Dimas menaikan celana panjang Naya sampai ke lutut, benar saja lutut Naya membiru, langsung Dimas mengambil salep dari laci, di oleskan pada yang membiru, "Kok bisa kaya gini sih yang,? hati-hati bah,?" wajah Dimas begitu cemas.
"Udah hati-hati kok, kalau sudah waktunya jatuh gimana,?" sembari meringis di sudut matanya menggenang air bening.
"Hem.., terus mana lagi yang sakit,?" Dimas menatap teduh, Naya menggeleng, "Jangan terapi ya,?" lirih Dimas.
"Kalau gak datang sih iya, tapi..,kalau datang, terapi aja, gak apa-apa kok," sahut Naya sambil mengusap air matanya.
"Bener, gak ada yang sakit lagi hem..,?" Dimas menurunkan dan menutup lutut Naya.
Naya menggeleng, "Gak ada yang."
Dimas duduk di samping Naya dan merangkulnya, menarik kepala Naya di bahunya, "Kenapa tadi hem,? lemas apa,?" tanya Dimas lembut.
"Iya, kepala sedikit pusing,?" sahut Naya dengan posisi nyaman di pelukan suaminya.
"Minum obat ya,?" mengelus kepala Naya.
"Nggak mau yang,? suka muntah, taukan,?" Naya mendongak, "Lagian sekarang juga sudah hilang lagi kok," elak Naya.
Sejenak Dimas duduk bersandar, tangan kanannya merangkul tubuh Naya, pandangan menerawang entah apa yang dia pikirkan.
Di ruang keluarga, depan kamar Naya dan Dimas dokter Aldo sudah menunggu dari setengah jam yang lalu, berjalan-jalan melihat-lihat kearah luar dari dinding kaca, berdiri berpangku tangan, sesekali tersenyum dan manggut-manggut.
__ADS_1
"Dok, minumnya, silahkan,?" bi Taty menyuguhkan kopi, dan mengangguk hormat.
"Makasih Bi, oya Bi, bisa saya meminta tolong,?" Aldo menoleh Bibi.
"Apa Tuan dokter.?"
"Tolong panggilkan majikan Bibi, kalau gak jadi terapi saya pulang nih,?" ucap Aldo.
"Eeh.., kenapa pulang nak Aldo,? nanti juga mereka keluar, gak mungkin mereka lupa akan jadwal ini,?" tiba-tiba bu Hesa menyambar dari tangga dan menghampiri Aldo.
"Tante apa kabar,?" sapa Aldo senyum ramah.
"Baik, gimana kabar kau dan juga keluarga,?" mereka duduk di sofa berbincang, bi Taty mendekati pintu kamar Dimas, lantas mengetuknya.
Tok..
Tok..
Tok.., pintu bi Taty di ketuk, dari dalam terdengar suara yang bertanya, "Siapa.?"
"Bibi Tuan, dokter Aldo sudah datang, dan menunggu Ibu,? untuk terapi," pekik bi Taty.
"Tunggu sebentar, bilang sama dia,?" titah Dimas, menatap wajah sang istri yang begitu nyaman dalam pelukannya, "Mau terapi atau--!"
"Baik lah," Dimas berdiri lalu membungkuk meraih tubuh istrinya, di gendong untuk menemui tamunya, Naya mengalungkan kedua tangan erat di leher Dimas.
Dimas keluar dari kamar menggendong Naya, nyamperin Aldo dan Ibunya yang sedang berbincang, "Sorry bro nunggu lama.?"
"Tidak apa,! apa kabar Naya,?" Aldo mengalihkan pandangan pada Naya yang kini duduk di samping Dimas.
"Baik dok," Naya menunduk, memang tak terbiasa memandang wajah orang terutama laki-laki.
"Syukurlah, bisa mulai sekarang,?" tanya Aldo membuka tasnya mengenakan sarung tangan.
"Bisa dok,?" Naya dengan singkat.
Terapi pun di mulai, "Yang, aku mau mengambil laptop sebentar,?" bisik Dimas pada Naya, dibalas dengan anggukan dari Naya, Dimas berdiri melangkahkan kakinya ke dalam kamar, tak lama Dimas kembali membawa laptopnya, duduk di tempat semula tangannya mulai sibuk dengan laptop miliknya.
"Ada kerjaan apa bro,?" tanya Aldo melirik Dimas.
"proposal untuk pembangunan klinik," sahut Dimas sorot matanya tertuju pada laptop.
__ADS_1
"Belum selesai,?" sambung Aldo sembari mengterapi Naya.
"Belum, sedikit lagi, kemarin rampung, eeh ada kekurangan sedikit, jadi ya begini lah harus revisi lagi.
"Oh," Aldo singkat.
Bu Hesa turun meninggalkan tempat tersebut setelah mendengar suara mobil suaminya pulang, Naya sedikit meringis, membuat Aldo keheranan, "Kenapa sakit kah.?"
"Nggak dok, cuma lutut aku sedikit sakit di sebabkan tadi terjatuh," jawab Naya.
Aldo menatap lekat entah kenapa semakin lama Aldo merasakan ada yang aneh dalam hatinya, "Jatuh di mana.?"
"Di kamar, tidak apa-apa kok dok," Naya memperlihatkan barisan giginya.
"Hem.., lebih hati-hati dong jangan sampai-!"
"Jangan sok perhatian sama istri orang,?" Dimas menoleh dan memotong perkataan Aldo.
Aldo pun menoleh dengan pandangan tajam, "Saya tau dia istri orang, tapi saya dokter yang menangani Naya, dia pasien saya bro,? jadi wajar kalau saya perhatian sama pasien saya."
Dimas menaikan alisnya, "Ok, kau benar juga," pandangan Dimas kembali tertuju pada laptop di depannya.
Aldo menggeleng, kemudian melanjutkan terapinya, "Kalau merasa lemas jangan di paksakan berjalan, berhenti saja, duduk."
"Iya kalau ada tempat duduk seperti kursi,? kalau gak ada, aku harus duduk di lantai,? justru aku masih sulit untuk berdiri dok," Naya mulai akrab dan bercerita akan keluhannya.
"Hem.., sabar aja, ini juga kan lagi usaha, lagian sudah semakin ada kemajuan kan,?" lirih Aldo merasa senang pasien yang ini sudah mulai gak terlalu canggung padanya.
"Iya sih dok, Alhamdulillah, naik turun tangga juga sudah bisa, aku sudah jarang memakai lift kalau naik mau pun turun, asalkan aku mengatur tenaga aku agar tak membiarkan kakiku lemas, berjalan sudah mulai bisa jauh juga, untuk saat ini keluhan ku ya itu, masih sulit berdiri bila habis berjongkok atau duduk di lantai," ujar Naya panjang lebar, Aldo memandangi tanpa berkedip, baginya Naya mempunyai pesona yang sulit di uraikan dengan kata-kata, di balik kesederhanaan Naya tersimpan pesonanya, pantas saja Dimas begitu lengket bagai perangko.
Naya merasa gak enak, gimana kalau suaminya melihat Aldo yang menatap lekat dirinya, namun kebetulan Dimas begitu fokus pada laptopnya sehingga tak melihat sikap Aldo.
"Dokter,?" panggil Naya pelan, Aldo menggercepkan matanya, memalingkan pandangannya, merasa malu sendiri.
Dimas melirik, "Kapan kau akan menikah lagi Al,?" tanya Dimas dengan pandangan tajam.
"Nanti kalau sudah menemukan seseorang yang tepat, saya ingin seseorang itu bukan cuma mencintai saya, tapi juga harus menyayangi anak-anak saya,? karena saya duda beranak, buat apa saya menikah dengan wanita yang hanya mencintai saya namun tidak menyayangi buntut saya, percuma," jelas Aldo.
"Yaps, benar,?" kata Dimas dan Naya berbarengan, "Kau benar Al, kau harus mencari wanita yang menyayangi anak-anak kau lebih dulu, soal kau belakangan bah, karena itu yang sulit," sambung Dimas, dan Naya me ngangguk membenarkan perkataan suaminya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐