
Dimas menggendong Naya kembali ke dalam mobil, lalu menutup pintu, Dimas mengitari mobil untuk masuk dan duduk di belakang setirnya, setelah memasang sabuk pengaman Dimas melajukan mobil untuk pulang.
"Jangan lupa cari lontong sayur dulu yang,?" Naya melirik Dimas.
"Iya sayang iya," sahut Dimas tetap fokus menyetir.
Beberapa waktu kemudian menemukan para pedagang di pinggir jalan, namun tak mudah untuk menemukan tukang lontong sayur, kedua pasang mata mencari-cari yang di maksud hingga akhirnya, "Tuh.., yang di ujung sana,?" Naya menunjuk ke ujung jalan.
Dimas menoleh, "Ok," Dimas terus melajukan mobilnya ke arah yang di tuju.
Setelah dekat Dimas menghentikan mobilnya, Dimas turun tuk membeli lontong, dan Naya menunggu di dalam mobil.
Naya tengah menunggu di dalam mobil, Naya membuka pintu mobil, tiba-tiba adA seorang nenek menghampiri, "Kasihanilah saya, saya belum makan dari kemarin,?" membuat Naya merasa haru.
Naya mengeluarkan uang dari saku lembaran biru dan di kasihkan pada nenek tersebut, kebetulan Naya gak bawa dompet atau tas, seperti yang lain, toh pepergia nya juga jarang.
"Nenek, ini ada sedikit, maaf keluarga nenek di mana,? nanti aku antar pulang,?" ujar Naya.
"Nenek, gak tahu," sambil mengambil uang dari Naya.
"Loh.., kok gak tahu nek,?" Naya heran, "Terus nenek selama ini tidur di mana,?" Naya bertanya lagi.
Nenek itu terdiam sambil menghapus air matanya, "Ya sudah, nenek beli makanan dulu, eh tugu nenek duduk aja, Bang maaf, pinjamkan kursi, dan tolong buatkan sarapan buat nenek nih,?" ucap Naya pada pedagang yang terdekat dengan mobilnya.
"Baik bu," sahut salah satu pedagang tersebut, dan Naya memberikan sejumlah uang untuk membayar, buat sarapan nenek tersebut.
"Terimakasih ya,? semoga Tuhan membalas kebaikan anda dan keluarga,?" nenek itu sambil mengangguk.
"Iya nek,?" Naya tersenyum melihat nenek tersebut makan, kelihatan sekali bahwa ia lapar.
Dimas datang, membawa kantong kresek, membuka pintu lalu masuk, "Yuk kita pulang."
Naya masih dengan membuka pintu, melihat nenek tersebut, "Nek mau ikut saya,? mau ya.?"
Nenek tersebut menggeleng, masih sambil mengunyah makan, Dimas menoleh, "Siapa yang.?"
"Gak tau yang, tadi minta makan, di tanya tinggalnya tidak menjawab, keluarganya gak tau juga," ujar Naya melirik Dimas.
Dimas memperhatikan nenek tersebut, "Sudah di kasih uang,? kasih makan,?" tanya Dimas.
"Sudah yang,?" Naya menutup pintu mobil namun nenek itu menghampiri dan mengetuk kaca jendela.
Tok.., tok.., tok...
Naya menurunkan kaca jendela, "Ada apa nek,? nenek mau ikut kami.?"
"Terimakasih ya neng,? semoga Tuhan membalas kebaikan kamu," ujar nenek tersebut.
"Iya nek, aku ikhlas kok, ikut kami ya,? tinggal sama kami,?" ajak Naya.
__ADS_1
"Tidak neng, saya mau cari anak cucu saya, tapi saya lupa alamatnya, sebab saya lama di panti jompo, dan saya kabur dari panti, mau cari anak saya,"
Mendengar cerita dari nenek tersebut Dimas, langsung punya inisiatif untuk membawa nenek ini pulang, keluarganya pasti tengah mencari, "Ya sudah kita ajak pulang aja dai yang kasian, nanti anaknya pasti mencari keberadaannya."
"Justru dari tadi aku bujuk gak mau yang,?" ucap Naya, Dimas membuka pintu mobil lalu turun mendekati nenek itu serta membujuknya agar mau di ajak pulang, akhirnya nenek tersebut mau di ajak pulang bersama Dimas dan Naya, setidaknya tidak terlunta-lunta di jalanan.
Dimas menyuruhnya duduk di belakang, namun baru mau duduk sudah ada yang memanggil Ibu,
"Ibu.., ibu saya mau di bawa ke mana,?" teriak seorang wanita, Naya menoleh kebelakang begitupun Dimas dan nenek tersebut.
"Tunggu,? ibu saya mau di bawa kemana,?" ucap seorang wanita.
"Anakku,?" pekik si nenek.
"Ibu, siapa nenek ini,? dan kenapa nenek ini di biarkan sendiri di jalanan,?" tanya Dimas.
"Saya anaknya, ibu saya kabur dari panti, dan ini suami saya," ibu itu menunjuk suaminya, "Ibu merepotkan saja."
"Nenek, apa benar mereka anak nenek,?" tanya Naya, menatap lekat pada nenek tersebut.
"Iya mereka anak saya, yang menyuruh saya tinggal di panti," jawab nenek itu.
"Bu, mungkin nenek tidak mau tinggal di panti makanya kabur,?" ujar Naya dan di benarkan oleh Dimas.
"Ya sudah, Ibu saya bawa pulang," sambil meraih tangan si nenek.
"Ok, saya tidak punya hak untuk melarang kalian, cuman tolong Ibunya di jaga baik-baik,?" ucap Dimas.
"Tapi Ibu tidak mau balik ke panti,?" sahut si nenek.
"Tidak Bu, kita pulang ke rumah ya Bu,?" bujuk anaknya.
Akhirnya si nenek di ajak pulang oleh keluarganya, Dimas dan Naya memandangi dari belakang, Dimas kembali mengitari mobilnya memasuki dan duduk di belakang kemudi.
Sesaat mereka terdiam, Dimas melirik Naya yang bengong, "Sayang, mau sampai kapan terdiam di sini.?"
Naya menggercapkan matanya dan melirik Dimas, "Ya jalan, yang di rumah pasti sudah menunggu sarapannya."
Dimas mengusap kepala Naya, kemudian memutar setir dan tancap gas, Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lama di jalan akhirnya mereka sampai di rumah, langsung memasukan mobil ke garasi.
Dimas membuka sabuk pengaman dan keluar membawa kantong, membukakan pintu untuk Naya, "Sarapannya bawa aja duluan yang kasian Mama dan Bibi,sudah siang loh,?" titah Naya, Dimas melihat yang ia bawa lalu mengantar segera ke dalam dapur benar saja Mamanya sudah menunggu.
"Lamanya, jam berapa nih,?" gerutu bu Hesa.
"Maaf Mak, tadi macet di jalan, lagian susah cari lontongnya," Dimas menyimpan lontong di meja.
"Keluar pulau apa mencarinya,? lama banget," sambil membuka kantong tersebut.
"Iya maaf Mak,?" Dimas balik badan mau ke garasi untuk menjemput sang istri, namun ternyata Naya sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Dimas tersenyum, "Sayang...?"
"Hem..,?" Naya melirik dan duduk di sofa, mengedarkan pandangannya.
"Kalian itu dari mana sih,? cari sarapan kok sampai siang gini, Naya melirik jam pukul 08.10 wib, "Hr..,he..,he.., maaf Mak, tadi--!"
"Macet," sambar Dimas, memotong perkataan Naya, dan Naya mengangguk.
Bi Taty baru datang dari bersih di atas, "Bi sarapan dulu, maaf nunggu lama,?"
"Oh, tidak apa-apa Bu,?" bi Taty mencuci tangan sebelum makan.
Dimas pergi ke garasi, sementara Naya beranjak dari duduknya ingin ke lantai atas ke kamarnya, "Mak, aku ke atas dulu ya.?"
"Iya..," sahut bu Hesa.
Naya ingin menaiki anak tangga tanpa duduk di lift, "Bisa gak ya,?" menatap anak tangga, "Bismillah, harus bisa,?" Naya menaiki anak tangga satu demi satu.
Dimas memperhatikan dari bawah, dengan senyuman, memandangi Naya yang menaiki tangga tanpa lift, Dimas sedikit berlari menyusul Naya yang hampir sampai di lantai atas.
Naya melirik Dimas yang menyusulnya, dia tetap hati-hati berpegangan pada pagar tangga, Naya tersenyum bahagia pada Dimas yang kini satu tangga dengannya.
"Hati-hati yang,?" sembari memegangi bahu Naya, "Sekarang sayang bisa naik tanpa lift Alhamdulillah..," Dimas memandangi wajah sang istri.
"Iya yang, tapi.., aku masih takut jatuh, karena kalau jatuh takut gak bisa bangun," lirih Naya dengan nada cemas.
"Sayang pasti bisa kok, sayang kan kuat, dan semangat," ucap Dimas memberi dukungan.
Naya tersenyum samar dan memeluk Dimas, di sambut dengan sangat senang hati, pelukan pun di balas dengan sangat erat, "Pelukannya di kamar saja, takut kebablasan," bisik Dimas pada Naya.
Naya melepaskan pelukannya dan mencubit kecil pinggang Dimas, "Sakit sayang," Dimas menggandeng tangan Naya membawanya ke dalam kamar.
Kini mereka sudah berada dalam kamar, tak lupa mengunci pintu, dan duduk di atas tempat tidur, "Sekarang kita sudah berada di dalam kamar, apa mau di lanjut pelukannya,? lanjut dong,?" goda Dimas pada istrinya.
Naya tersipu malu namun ia kembali memeluk Dimas sangat erat, membenamkan wajahnya di dada Dimas, Dimas membelai rambut Naya yang panjang, yang mulanya di tutupi kerudung, dan menciumnya dengan sangat mesra.
"Aku ingin kita selalu mesra seperti ini," Dimas semakin mengeratkan dekapannya.
Naya hanya mengangguk pelan, Dimas mengangkat dagu Naya dengan jarinya, hingga mendongak menghadap wajah Dimas, "Membaca doa dulu," bisik Naya, karena Naya sudah punya pilling, pasti akan kebablasan.
Dimas membaca doa dalam hati, kemudian tanpa basa-basi Dimas mengecup bibir Naya dan **********, Naya hanya pasrah, dengan hasrat Dimas yang selalu menggebu, apa lagi mengingat rencana bulan madu yang Naya tolak, berarti di gantikan dengan kapan saja di rumah, membuat Dimas semakin leluasa melaksanakan aksinya.
Dimas membuka semua yang dia kenakan, begitupun dengan yang melekat di tubuh istrinya, terlepas semua, tinggallah selimut yang membalut tubuh keduanya.
Tak menunggu lama Dimas langsung tancap gas dengan kecepatan sedang di awal lalu semakin lama semakin cepat, menyatukan miliknya, dan melepas pelepasannya berkali-kali sampai peluh mereka saling membasahi, dan tubuh keduanya merasa lelah, akibat dua jam tempur di atas tempat tidur, biar Naya sangat lelah namun dia tetap ingin memuaskan suaminya, yang ingin lagi dan lagi, hingga akhirnya Dimas tumbang di atas dadanya.
Dimas bangkit dan berbaring di samping Naya, tak lupa mengecup kening sang istri sebagai ucapan terimakasih, dengan napas yang masih belum teratur, berbaring dan memeluk sang istri agar tidur di bahunya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐