Bukan Mauku

Bukan Mauku
Lagi-lagi dibuat pusing


__ADS_3

"Ah..,terimakasih sayang,?" cup.. Dimas mengecup kening, pipi Naya sebagai ucapan terimakasih yang sudah membuat ia puas dan bahagia di buatnya, Dimas semakin menarik selimut supaya menutupi dada Naya dan Naya menjepit diantara tangannya.


Dimas turun dari tempat tidur melenggang mau ke kamar mandi dengan polosnya, tidak khawatir di lihat orang, "Ih.., malu yang jalan polos gitu, gak takut di lihat orang, pake apa kek," Naya tersipu malu.


Dimas menoleh lantas mengambil celana pendeknya yang tergeletak di tepi tempat tidur, "Mana-mana ada orang? tidak ada juga."


Naya membelalakan matanya, "Tidak ada orang katamu, terus aku ini apa suami 'ku hem,? sembarangan.


"Iya sih, bunda orang, tapi..,kan bunda pemilik aku, kenapa mesti malu, santai aja kali ah," elak Dimas sambil berlalu.


Di bawah pohon di pesisir pantai Dery tengah termenung dan berpangku tangan, helaan napas yang panjang lalu ia hembuskan dengan kasar, pandangan jauh ke depan entah apa yang sedang di pikirkan, sesekali menunduk dalam.


Dari jauh terlihat sepasang manusia tengah bergandengan mesra, menikmati suasana sore matahari pun menunjukan sinar kemerahannya, dialah Naya dan Dimas tengah jalan-jalan sore.


Setelah beberapa saat memandangi pasutri tersebut, Dery membalikan badan dan pergi menjauh dari tempat itu.


"Yang, makan ketupat sayur enak kali ya?" ucap Naya memandangi kearah. Dimas.


"Ya udah kita cari yuk,?" sahut Dimas mengajak istrinya tuk mencari berdua.


Naya menggeleng, "Nggak mau, aku tunggu di sini saja ya,?" Naya lirih.


"Bunda, di holtel ini mana ada yang gituan, itimatis harus nyari ke luar, lama kalau nunggu di sini ! ya udah kita balik ke kamar aja, tunggu di kamar aja ya,?" pinta Dimas sembai memegangi kedua pundak Naya.


Dengan malas Naya menjawab, "Aku masih mau di sini."


"Terus gimana, ayah gak bisa pergi kalau bunda di sini," lagi-lagi Dimas dibuat bingung.


Naya cemberut "Ya udah balik ke penginapan aja."


Akhirnya mereka kembali ke kamar dan Dimas meninggalkan Naya setelah berada di kamar, untuk mencari ketupat sayur permintaan nya.


Dimas memutuskan memakai mobil dalam mencari ketupat sayur buat yang ngidam, mobil meluncur dari parkiran untuk mencari yang dinginkan sang istri.


Setiap yang jualan Dimas samperin, di tanyain namun hasilnya nihil, Dimas terus dan terua mencari hingga menemukan gerobak bertuliskan ketupat sayur, namun ketika di datangi ternyata sudah kehabisan, yang jualan bilang, "Harus pagi-pagi datangnya, kalau sore begini tentunya kehabisan pak"


Dimas sedikit kecewa, harus kemana lagi mencari ini juga sudah jauh dari hotel, akhirnya Dimas putar balik dengan rasa kecewa di dada, kemungkinan balik dengan tangan kosong tanpa hasil yang memuaskan.


Dimas memutar kemudi, pandangan fokus ke depan, tiba-tiba mendapat ide, Dimas ingat pada Dery siapa tau Dery lagi-lagi bisa membantu dirinya, ia merogoh sakunya mengambil ponsel untuk menelpon Dery.


"Halo.., Dery sorry ganggu.?"

__ADS_1


"Ada apa.?"


"Apa kau sedang sibuk.?"


"Tidak, saya lagi nongkrong aja, ada apa.?"


"Em.., saya sudah putar-putar cari makanan ketupat sayur namun tidak dapat, ada juga katanya harus pagi-pagi, maksud saya bisa gak tolong carikan, dan saya akan membayar kau."


Terdengar Dery mendengus, "Ok, akan saya coba carikan."


Senyum Dimas merekah, "Terimakasih banyak,?" Dimas menutup teleponnya, lalu kembali mengemudi melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke penginapan.


Hari sudah mulai gelap, Naya menunggu di kamar seorang diri, lelah rasanya terus menoleh pintu, namun yang di tunggu belum juga kembali, waktu sudah menunjukan pukul 19.00wib.


Dari luar ada yang mengetuk pintu, Naya menoleh dengan hati yang berdebar, heran kalau Dimas ngapain ngetuk pintu segala, Naya mendekati pintu walau dengan rasa ragu, perlahan membuka pintu, nampak seorang pria bertopi berdiri membelakangi pintu.


"Maaf, mau bertemu siapa ya,?" Naya lembut penuh rasa penasaran dan juga takut dengan orang asing.


Pria tersebut tertegun mendengar suara Naya yang jarang-jarang dia dengar, tanpa menoleh pria itu tetap terdiam.


"Kemana suaminya,?" batin pria bertopi heran.


Naya semakin penasaran dengan orang asing ini, memberanikan diri untuk mengulang pertanyaannya.


"Dery..," Naya lirih seakan tak terdengar.


Ya Dery mengantarkan pesanan Dimas, dia memberikan sebuah kantong berisi cap ketupat sayur, Naya bengong kenapa Dery yang membawanya, Dimas kemana, kenapa belum pulang juga.


"Saya bawakan pesanan kamu, ini ambil," Dery menunjuk yang ia bawa.


Dengan ragu Naya mengambil dari tangan Dery, "Ta-tapi aku suruh suami 'ku untuk membeinya, kenapa kau yang membawanya,?" terheran-heran.


Dery senyum samar, "Tadi suami kamu menelpon saya untuk membantunya, mencarikan makanan itu."


"Terus suami 'ku mana, di mana dia,? kenapa belum pulang juga," Naya celingukan.


Dery manaikan pundaknya, "Mana saya tahu."


Naya mulai cemas ia balik dan duduk di sofa dengan pintu masih terbuka dan Dery masih berdiri di tempat, Naya menelpon suaminya tidak tersambung, berkali-kali juga hasinya masih sama nomornya tidak aktif, Naya menggeleng.


Semakin cemas, khawatir takut kenapa-napa, Naya bukan nya makan yang dia pinta malah termenung merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Dery memberanikan diri masuk, dan duduk depan Naya membuka kantong yang Naya simpan di atas meja.


"Baiknya di makan dulu, nanti keburu dingin, kurang enak," menyodorkannya pada Naya, "Jangan khawatir saya yakin suami'mu baik-baik saja, Naya hanya menoleh sesaat hatinya berkecamuk, gelisah, takut suaminya.., Naya mencoba menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya,


Tangan Naya terus mencoba menghubungi ponsel Dimas yang masih tidak aktif juga, melihat Naya yang nampak cemas, Dery pun tidak tinggal diam, ia juga mencari keberadaan Dimas saat ini melalui ponselnya.


Setelah Dimas menghubungi Dery tiba-tiba saja mobil Dimas mogok, di tempat yang sepi, sialnya ponsel pun baterainya drup, "Sempurna lah enderitaan 'ku," gerutu Dimas, namun beruntung nya ada orang yang bersedia menolong Dimas mengantarkannya ke bengkel terdekat.


Sekalian ikut ces hangphone sebentar, sampai bisa menghubungi istrinya, Dimas telepon Naya dan langsung tersamabung.


Di sambut dengan cerocosan Naya dari sebrang, "Ayah di mana sih, gak kenapa-napn kan,? kanapa belum pulang, nyasar ke mana dulu sih, tau gak disini aku cemas, khawatir suaminya ke napa-napa tau gak sih."


"Hu..,s dengar dulu sayang,?" Dimas lirih, "Mobil mogok, jadinya ke bengkel dulu, ini masih di bengkel, sebentar lagi pulang kok, dan maaf ayah gak dapat pesanan dari bunda, katanya harus pagi-pagi baru ada."


"Pesanan 'ku, pesanan 'ku ada kok, ini lagi aku makan, Dery yang bawakan, ayah yang nyuruh kan,? sambung Naya dengan suara yang sayup-sayup.


"Oh, ya sudah dulu, bentar lagi ayah pulang, baik-baik di sana," mematikan sambungan teleponnya.


"Berarti Dery sudah sampai, dan mendapatkan makanan yang Naya pinta," Batin Dimas, kemudian menghela napas dalam-dalam.


Dery tersenyum samar mendengar Nya nyerocos bicara dengan Dimas di telepon, dan terharu melihat Naya berlinang air mata begitu mencemaskan suaminya.


"Benarkan suami mu baik-baik saja, jangan terlalu khawatir," ucap Dery sembari melirik sekilas kearah Naya.


Naya sudah merasa lega mendengar suaminya baik-baik saja, dan hanya mengalami mobil mogok, sebentar lagi juga pulang, Naya menatap Ketupat sayur yang ia pesan, lalu mengambil dan lantas melahapnya tak tersisa.


Dery tersenyum merekah, menatap makanan yang tersisa hanya bekasnya saja, kemudian Dery berdiri namun dia duduk kembali setelah menerima notifikasi dari seseorang, iya itu Dimas yang mengirim pesan agar Dery temani Naya sampai dia pulang, namun jangan pernah berani macam-macam terhadap istrinya, kalau tidak ingi terjadi sesuatu, itu pesan Dimas penuh dengan ancaman, di balas dengan senyuman Dery yang dingin.


Mereka berdua hanya terdiam tanpa basa-basi yang terucap dari bibir masing-masing, Naya menonton televisi, dan Dery berdiri tegak dekat pintu yang terbuka, bagai seorang bodyguard bayaran, yang tengah menjaga majikannya dari para penjahat yang sewaktu-waktu dapat mengincar keselamatannya.


Mobil Dimas memasuki parkiran hotel, bergegas melintasi lobi lalu masuk lift, dengan jaket di tangan, dua kancing kemeja terbuka memperlihatkan sedikit dada bidangnya, kini Dimas sudah depan pintu, yang disana berdiri tegak seorang pria seperti penjaga atau tepatnya bodyguard, Dery mengangguk kearah Dimas.


Dimas menepuk pundaknya, "Masuk"


Dimas masuk di buntuti Dery dan duduk di sebuah sofa yang kosong, sementara Dimas nyamerin istrinya yang sedang nonton televisi, melihat Dimas datang Naya langsung memeluk Dimas, saking senangnya, "Kemana aja sih.?"


Namun Naya segera melepas kembali pelukannya karena ia sadar di situ ada tamu, rasanya kurang sopan bila ia bermesra depan orang, Naya tersenyum tipis memandangi wajah suaminya nampak lelah sekali.


Sementara Dery merasa kikuk bila melihat Dimas dan Naya berpelukan, Dery memalingkan pandangan ke lain tempat, untung saja mereka tak hanyut dalam kemesraannya sehingga suasana tidak terlalu menegangkan bagi Dery tidak harus menjadi nyamuk hahaha.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,


Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!


__ADS_2