
Karena sudah malam akhirnya mereka pamit pulang, Aldo dan Endro juga Citra beranjak dari tempat tersebut, untuk pulang dan masuk ke mobilnya masing-masing, Dimas mengantar sampai pintu.
Setelah kedua mobil pergi Dimas mengunci pintu dan menghampiri Naya yang masih duduk di sofa, Dimas duduk dekat Naya, "Yang bobo yuk,?" membentangkan lengannya belakang bahu Naya.
"Mereka sudah pulang,?" Naya menoleh.
"Sudah," Dimas mematikan TV yang masih di tonton Naya, lalu meraih tubuh Naya di boyong nya ke atas menuju kamar, Naya melingkarkan tangan di leher Dimas.
"Yang,?"
"Hem..,?" sahut Dimas.
"Emang mau berangkatnya kapan,?" tanya Naya.
"Em.., belum pasti, yang jelas secepatnya," Dimas menutup pintu kamar dangan kakinya dan langsung membaringkan Naya di atas tempat tidur.
Dimas mencumbu Naya, dengan rakusnya, namun Naya segera bangun, "Ya ampun.., aku belum sholat isya, kamu juga kan,?" Naya turun dari tempat tidur langsung ke kamar mandi.
Dimas hanya mengusap wajah dengan kasar, kemudian berdiri di depan pintu, menunggui Naya.
Beberapa menit kemudian Naya keluar dari kamar mandi, lantas Dimas masuk, Naya memakai mukena dan menunggu sang suami untuk sholat bareng.
Usai sholat, baru mereka bersiap untuk tidur, Dimas menggantikan lampu menjadi temaram, "Yang, aku baru ingat bukankah tadi siang membuat rujak buah, jadi gak,?" menatap sang istri.
Naya yang sudah bersiap tidur menoleh, "Jadi, ada di lemari pendingin, tadi Bibi antar kesini, kitanya ketiduran."
"Ya sudah, aku ambil sekarang," Dimas keluar kamar untuk mengambil rujak.
"Hem.., malam gini makan rujak,? ih.., ngilu kali ya ni gigi," Naya bergidik.
Dimas sudah berada di anak tangga terbawah, berdiri sesaat memperhatikan keadaan setempat, yang sudah gelap, lalu berjalan mendekati saklar, trek suara saklar dan lampu menyala, Dimas membuka lemari pendingin, "Hem.., belum makan aja ini air liur sudah mengumpul, ha..,ha..ha..," tertawa tanpa suara.
Dimas membawa rujak tersebut ke kamarnya, dia lihat istrinya sudah memejamkan mata, "Yang bangun, mau gak rujaknya.?"
"Em.., ngantuk, gak mau ah, ngantuk,?" sembari menarik selimutnya.
Dimas duduk di sofa, menyalakan TV, lalu memakan rujak dengan sangat lahap, sampai habis yang tersisa hanya piringnya, kemudian mengambil air putih dan meneguknya sampai tandas, mematikan TV lalu menghampiri tempat tidur, berbaring dekat istrinya, tak lupa memeluk sang istri erat, tidak menunggu lama Dimas pun tertidur nyenyak.
Tepat pukul empat kurang Naya terbangun, mengangkat tangan Dimas dari tubuhnya pelan-pelan, kemudian Naya menurunkan kakinya ke lantai, berjalan menuju kamar mandi.
Naya kembali dari kamar mandi, suaminya terlihat pulas sekali, Naya mengenakan mukena, mungpung masih ada waktu,
Suara adzan terdengar bersahutan dari kejauhan, Naya membangunkan suaminya, "Yang bangun, subuh nih,?" dengan lembut.
__ADS_1
Dimas melek lalu pejam lagi, "Hem...?"
"Bangun yang,?" Naya duduk di tepi tempat tidur.
Dimas menggeliat, "Sudah sholat belum,?" dengan suara parau.
"Belum, kan nunggu,?" sahut Naya.
"Em..," Dimas bangun, dengan malasnya, "Masih ngantuk," namun memaksakan diri, untuk bangun mandi dan sholat.
Tidak lama Dimas kembali, segera mengenakan pakaian yang sudah di siapkan Naya, lanjut sholat bersama, usai sholat Dimas langsung menyiapkan peralatan kerja.
Sementara Naya turun ke dapur untuk membuat sarapan untuk suaminya, bi Taty tengah bersih-bersih lantai, Naya langsung menyiapkan untuk nasi goreng.
Dua puluh menit kemudian nasi goreng ala Kanaya sudah siap, beserta susu cokelatnya sudah tersedia di meja makan, kemudian mencuci perabotan, Naya menoleh bi Taty yang baru datang.
Bi Taty melihat cucian sudah bersih di wastafel, "Aduh Bu, kenapa di cuci,? biar Bibi aja."
"Gak apa Bi, oya tolong panggilkan suami aku, kok belum turun, dan kayanya bekas rujak masih di kamar, dan satu lagi, pakaian kotor sudah aku pisahkan dekat pintu," ujar Naya.
"Oh, baik Bu," bi Taty meninggalkan Naya, sebelum naik tangga berpapasan dengan Dimas yang sudah rapi, menjinjing tasnya.
"Maf Tuan, Bibi mau ngambil pakaian kotor,?" menunduk.
"Sayang, buat sarapan apa nih," Dimas nyamperin Naya yang tengah duduk di kursi meja makan.
"Nasi goreng, gak mau,?" jawab Naya menatap suaminya.
"Mau dong, apa lagi buatan istriku ini," Dimas meneguk susu hangat.
Naya segera menyiapkan sarapan Dimas, menyuapinya dengan kasih sayang, Naya melirik kedatangan bi Taty dari kamarnya membawa piring bekas rujak, "Ya ampun yang, rujaknya semalam abis,?" memandangi Dimas penasaran.
Dimas nyengir kuda, "Iya, habis."
Naya menggeleng, "Aku gak makan pun, doyan apa ngidam,?" celetuk Naya, "Tapi gak mungkin," batin Naya.
"Nggak tau nih, semalam nikmat banget, kalau bisa di bikinkan lagi lah,?" ucap Dimas.
"Hem..," Naya terus menyuapi Dimas, sampai habis nasi goreng di piring.
"Nanti Bibi bikinkan Tuan," sahut bi Taty dari belakang.
Dimas menoleh, "Makasih Bi.?"
__ADS_1
"Bi, bisa minta tolong,?" Naya pun menoleh bi Taty.
Bi Taty mengerutkan dahinya, "Minta tolong apa Bu.?"
"He..,he..,he..,! tolong bikinkan mie rebus pake sayuran juga telor, jangan lupa potongan cabe nya,?" Naya senyum tipis.
"Oh.., bisa atuh Bu, Bibi bikinkan yang spesial buat Ibu,?" bi Taty sambil mengangguk.
"Makasih Bi.?"
"Iya sama-sama Bu," bi Taty menyiapkan mie rebus kesukaan Naya.
"Sayang.., jangan banyak makan cabe, gak baik,?" sambil meneguk susu terakhirnya.
"Iya, gak banyak kok paling 10 biji he..,he..,he.., gak bercanda, dikit kok," ucap Naya dengan seulas senyumnya.
"Em.., ngotot kalau di bilangin," Dimas meneguk air putih sampai tandas, "Ya sudah aku berangkat dulu ya,?" kedua tangan Dimas memegangi wajah Naya, lantas mencium pipi kanan kiri Naya.
"Ok, hati-hati ya, cepat pulang,?" Naya mencium punggung lengan Dimas lembut.
"Jaga diri baik-baik di rumah,? emang kalau cepat pulang mau apa sayang hem,?" menaikan alisnya.
"Nggak, ya.., jangan kelayapan aja," Naya agak bingung di tanya seperti itu.
"Hem.., kirain minta bulan madu,?" bisik Dimas di telinga Naya.
"Ih.., yang ada di otakmu cuma itu..,aja, heran,?" ketus Naya pelan, takut di dengar bi Taty malu.
Dimas berdiri, Naya merapikan kembali pakaian Dimas, wajah Dimas sudah mendekati bibir Naya namun melihat bi Taty menghampiri membawakan mie, Dimas urungkan niatnya mengecup bibir istrinya, melainkan mendaratkan ciumannya di kening Naya, membuat Naya tersenyum, melihat tingkah lucu suaminya.
"Ini Bu sudah siap mienya.?"
Naya menoleh dengan ramah, "Makasih Bi,? oya temani aku makan Bi, Bibi kan belum sarapan."
"Iya Bu,?" sahut bi Taty duduk dekat Naya mengambil sarapan.
"Assalamu'alaikum, aku berangkat dulu,?" Dimas mengusap kepala Naya, sambil melangkah kan kakinya, menuju garasi tuk mengambil motor.
"Wa'alaikum salam, hati-hati yang," Naya menatap langkah suaminya, " Ya Allah lindungi langkah suamiku, berkah kan Rizki yang di dapatnya, Aamiin," batin Naya.
Naya melahap mienya selagi hangat, bersama bi Taty yang sarapan nasi goreng, mereka berdua asik mengobrol, tentang keluarga dll nya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐