Bukan Mauku

Bukan Mauku
Bunga bunga cinta


__ADS_3

"Ok,lain kali kesini lagi ya zak.?" harap Naya pada David yang sudah berapa langkah dari tempat itu.


Tanpa menoleh lagi David, hanya berkata. "Iya pasti lah,"


Naya menatap kepergian David sampai hilang dari matanya.


Jam dua siang,


Lely yang yang bersiap-siap mau pulang ke tempat suaminya, sudah siap berangkat, bocah kecil yang ada di pangkuan Naya sedang asik berceloteh, sesekali bertepuk tangan, "Yayah..,yayah" celoteh anak itu kegirangan.


"Nanti Ica sini lagi ya, main sama wawa lagi ya." ucap Naya sembari menyerahkan anak itu pada mamanya, Lely menyambut dan menggendong nya.


"Ya sudah hati-hati lah." pesan Naya pada adik perempuannya.


"Iya, bismillah, kita pulang..," kata Lely.


Usai berpamitan pada semua Keluarga Lely pun melangkah pergi, di antar kan sama bu Nina ke atas sampai naik angkutan umum.


******


Malam pun tiba, Naya dengan kesendiriannya di kamar tengah berbaring menatap langit-langit.


Di pikirannya tengah beradu argumentasi,


"Apa selamanya aku harus begini.? di sini.? dengan keadaan ini.? aku gak sanggup bila harus lalui hidup seorang diri, ataupun menjadi beban orang tua selama hidupku? aku tak sanggup.!" Naya menggelengkan kepalanya pelan.


"Tapi apa mungkin akan ada seseorang yang benar-benar tulus menyayangiku.? menerima segala kekuranganku.?


Nada dering hp berbunyi, sejenak Naya biarkan saja sampai suaranya menghilang sesaat, namun kemudian berbunyi lagi, hingga akhirnya, Naya mengambil hp miliknya. menggulirkan dan menerima panggilan itu.


"Halo, selamat malam" sapa Naya setelah tahu itu panggilan dari Dimas.


"Halo juga kak.! apa kabar ? kenapa baru di angkat bah.? kesal Dimas.


"Hmm, emang penting kah.? Naya heran.


"Apa sudah gak mau bicara sama saya lagi hah.? sehingga tak mau terima telepon dari saya lagi.? oh, mungkin sekarang sudah bahagia sama suami kah.?" tanya Dimas penuh selidik,


"Hei, bukan kah sekarang kau sedang bicara denganku.? lalu siapa yang tak mau bicara sama kau.? kalau iya, sekalian aja aku gak angkat telepon darimu, puas.?" sahut Naya tersulut emosi.


Sejenak Dimas terdiam, ia melembutkan kembali hatinya.


"Sekarang lagi apa kak.? belum tidur kan.?" Dimas lirih.


"Belum" jawab Naya.


"Sedang apa,?" tanya Dimas lagi.


"Baring" Naya singkat.


Dimas menggaruk kepala tanpa rasa gatal, hatinya selalu merasa tak karuan dan bingung kalau menghadapi sikap cuek Naya, begitupun Naya merasa kesal pada Dimas,


"Yang, maaf kalau aku sedikit kasar barusan.? maaf kan ya.?" ucap Dimas tulus.

__ADS_1


"Gak apa-apa" Naya menarik selimut seolah ia merasa sangat kedinginan.


"Jangan marah ya.? aku cuma kesal aja kalau teleponku di abaikan." kata Dimas lirih.


"Aku gak marah." sahut Naya.


"Tapi..,kalau gak marah kenapa gak bawel.? biasanya bawel.? tak seperti ini." goda Dimas.


"Lagi malas aja" sahut Naya.


Suasana terasa membeku, seiring desiran angin malam yang begitu dingin.


Dimas mencoba mencari cara agar bisa mencairkan suasana, sehingga Naya terdengar tersenyum lagi.


"Nah gitu dong senyum, bawel lagi jangan cuek-cuek bah sama aku" kata Dimas merajuk.


"Siapa juga.?" Naya tersenyum.


"Gimana kabar suamimu bah.?" tanya Dimas menyelidik.


"Hmm, pengen tahu apa pengen tahu banget.?" Naya menyeringai.


"Tahu gak kamu.? aKu gemas dengar suaramu.


"pengen tahu bah.?" kata Dimas. sangat antusias menunggu Naya cerita.


"Sebenarnya...,aku sudah di cerai Dim." ucap Naya.


"Amboi..,tak bisa satu-satu kah pertanyaannya itu.?" Naya menggeleng.


"Tak, jawab aja" pinta Dimas.


"Sehari sesudah lebaran, gak pulang, di telepon aja, gak tau apa akan ada surat cerai atau tidak, yang jelas begitu saja" jawab Naya.


Hening sejenak tak ada suara kecuali suara jangkrik yang terdengar.


"Benar-benar tidak tidak bertanggung jawab, menceraikan anak orang lewat telepon, dasar brengsek." gumam Dimas giginya beradu, entah kenapa ada rasa marah di relung hatinya.


"walau cuma lewat telpon, setidak nya aku saat ini sudah lepas, tak harus menunggu lagi." Naya merasa lega.


"Orang tuamu sudah tahu itu.?" tanya Dimas.


Naya menggeleng, "Belum"


"Kenapa.? emangnya dia gak ngomong juga pada Bapak.?" Dimas meras aneh.


"Tidak, biar cukup kita aja lah, tak perlu melibatkan orang lain lagi." seru Naya.


"Hmm, aku sebenarnya merasa marah kenapa dia tak berani pulang, menceraikan pun hanya lewat hp, brengsek banget tuh orang," gerutu Dimas geram.


"Biarlah Dim, yang penting aku dah merasa bebas." sahut Naya enteng.


"Dasar lelaki tak tahu untung, telah meninggalkan wanita baik seperti kamu, dia tak tahu begitu beruntungnya pria yang akan bisa mendapatkan kamu." ucap Dimas sembari meneguk air minum yang ada di atas meja,

__ADS_1


"Ya sudah lah, sudah malam istirahat yuk.?" ajak Naya sudah mulai mengantuk.


"Baik lah kak Naya sayang, lain kali aku akan telpon lagi, malam.? semoga mimpi indah." ucap Dimas.


"Hah, sayang.?" Naya mengerutkan keningnya.


"Met malam kak.?" kata Dimas lagi.


"Siang.! Dim." jawab Naya terlukis senyuman di bibirnya.


"Malam bah..., kok siang.?" Dimas merajuk.


"Ha..ha..ha..., suka-suka aku lah." Naya tertawa. sembari memutus sambungan telepon.


kemudian memejamkan matanya, tak lama ia pun, terbuai dalam mimpi.


******


Sementara Dimas masih duduk bersandar di bahu tempat tidur.


"Aku janji, satu saat nanti aku akan merebut hatimu, aku akan menumbuhkan bunga-bunga cinta untukku, my love." gumam Dimas, tersenyum tipis.


Lalu ia pun berbaring mengenakan selimut, sebelum terlelap bibirnya tak henti menyungging senyum tipis, entah apa yang sedang ia pikirkan.


Di pagi hari Dimas sudah bersiap-siap tuk bekerja, setelah menutup pintu kamar, Dimas menuruni tangga.


Berjalan menuju meja makan, di sana sudah ada keluarga besarnya tengah sarapan bersama.


"Pagi...,mak.?" Dimas duduk di kursi, mengambil piring, kemudian Mamaknya menyendok kan nasi goreng.


"Cukup mak, terimakasih." ucap Dimas tersenyum.


"Gimana pekerjaanmu .?" Bapaknya Dimas menatap, menyimpan sendok di piring.


"Baik aja Pak," jawab Dimas sembari menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Tidak lama lagi ada kemungkinan aku di tugaskan di pelosok, " tambah Dimas. menatap Mamak dan Bapaknya bergantian.


"Kemana Dim, di tugaskan nya.?" tanya bu Hesa menatap putranya.


"Belum tau Mak.?" jawab Dimas.


"Oh, tak apalah, di manapun jalankan tugasmu dengan baik" kata Bapaknya menepuk bahu Dimas lembut. ikuti anggukan bu Hesa.


"Baik Pak," Dimas berdiri sembari menggeser kan kursinya, tak lupa meneguk minuman mineral di gelasnya


"Aku pergi dulu Pak, Mak." pamit Dimas berlalu menuju garasi, mengambil motor kesayangannya, tak lupa memakai helm Dimas melajukan motornya, lantas meluncur ke jalan raya, menuju Rumah Sakit.


******


Terimakasih pada reader semuanya. yang masih sudi mampir di novel ini.


Walau kadang mod ngedrup tapi insyaallah akan tetap lanjut, meskipun tidak Banyak yang suka.

__ADS_1


__ADS_2