Bukan Mauku

Bukan Mauku
Bawa kabur si kembar


__ADS_3

Semuanya mengangguk, dan bertepuk tangan. Setelah gunting pita selesai, di akhiri dengan acara makan-makan yang sudah disediakan.


"Yang, aku pulang duluan ya? khawatir anak-anak nangis," Naya berbisik pada suaminya.


"Nggak makan dulu yang?"


Naya menggeleng. "Aku pulang ya. Assalamu'alaikum." Naya mencium punggung tangan Dimas dan menangkupkan kedua tangannya pada yang lain.


"Wa'alaikum salam, hati-hati." Dimas menatap langkah sang istri sampai hilang dari pandangan.


Di tengah jalan, Naya bertemu dengan Dery yang berjalan di koridor yang sama. "Mau ke mana?" tanya Dery menatap Naya yang menunduk.


Naya mendongak dan melempar senyumnya seraya berkata. "Iya, anak-anak di rumah," sahut Naya yang langkahnya terhenti.


"Oh, mau saya antar?"


"Tidak, makasih," sambil menggeleng pelan.


"Oke."


Sesampai nya di rumah, Naya langsung menghampiri Baby twins yang di asuh sama Bibi. Namun si kembar tidak ada di tempat yang biasa bermain.


Naya heran, mungkin di kamar atas pikirnya, blak! pintu terbuka. Kamar kosong, ia balik lagi ke ujung tangga melihat ke bawah "Bi ... anak-anak mana?"


Hati Naya sangat gusar, khawatir, heran, anaknya di bawa ke mana?


Dari belakang, Bibi segera melangkahkan kakinya menghampiri Naya yang berdiri di tengah tangga. Dengan wajah cemas.


Sebelum Bibi menjawab Naya sudah mengulangi pertanyaan. "Anak-anak mana Bi?" sudah tidak sabar ingin jawaban.


"Loh ... emangnya Ibu gak tahu? kalau mereka di bawa Bu Hesa." Bi Meri menatap heran.


"Apa, kemana?" Naya terkejut, ibu mertuanya sama sekali gak bilang apa-apa kalau ingin membawa baby twins.


"Kurang tahu Bu, yang tadi membawa mereka, katanya sudah bilang dulu," sahut bi Meri ikut kebingungan.


"Tadi kami bertemu dalam pertemuan, Mama gak bilang apa pun Bi ... nyonya sama Bapak?"


"Iya, sama Tuan."


Naya terduduk lesu di antara anak tangga tempatnya berdiri. Mengambil ponselnya, mencoba menelpon untuk menanyakan keberadaan buah hatinya. Namun tidak diangkat, menghubungi nomor napak mertua juga gak ada jawaban.


Hati Naya kian gundah, khawatir. Gelisah, kemanakah gerangan di bawa anak-anaknya? Naya menggembungkan kedua pipinya sambil membuang napas yang panjang. Seakan membuang beban yang teramat berat.


Tekan kontak suaminya gak di angkat juga, pasti gak dengar nada dering. Akhirnya ia menulis pesan bahwa baby twins tidak ada di rumah, katanya di bawa sama Mama namun tidak bilang dulu. Ataupun meminta ijin dulu, dan nomor nya pun sulit di hubungi.

__ADS_1


Perasaan Naya begitu gundah, dia masih penasaran dimana anak-anaknya kini. Dalam hening terdengar suara notifikasi, sebuah pesan dari sang mertua yang isinya. "Anak-anak mu aman bersama kami, nanti sore diantarkan pulang," isi pesan tersebut.


Plong ... Naya merasa lega setelah membaca itu, setidaknya dia tahu keadaan mereka baik-baik saja.


Dari pada bengong. Naya pergi ke butik sebelumnya mampir dulu ke konter, yang semakin lumayan penghasilan per bulannya.


Naya masuk dengan mengucap salam. Langkah Naya terhenti ketika melihat seorang pria tampan tengah duduk di sofa sepertinya tengah menunggu seseorang. "Kamal," gumamnya Naya.


Ya Kamal yang datang setengah jam yang lalu ingin memesan pakaian buat di bawanya ke Bandung. Sengaja dia duduk di sana agak lama dengan harapan dapat melihat wajah Naya sebelum berangkat ke Bandung.


Kamal melihat kearah pintu, tampak Naya tengah berdiri mematung di sana. "Hai ..." Kamal senyum mengembang.


"Hi ... juga." Naya melanjutkan langkahnya menghampiri tamunya, sambil celingukan mencari para pegawai yang tak nampak di situ.


"Apa kabar?" tanya Kamal menatap penuh arti.


"Baik, sudah lama?" sembari duduk berhadapan dengan Kamal.


Kamal melihat jam di tangannya. "Lumayan," senyumnya terus mengembang.


"Mau mencari pakaian bukan, apa belum ada yang layani kah?" tanya Naya matanya terus mencari keberadaan para pekerja nya.


"Iya, ada kok, sedang mengemas mungkin," jawab Kamal dan terus menatap Naya. Membuat Naya merasa risih, dengan gerak gerik Kamal itu.


"Nggak usah, duduk saja sebentar lagi juga mereka datang membawa pesanan saya," cegah Kamal.


Naya duduk kembali dengan hati yang kurang nyaman. Sesaat kemudian Pegawai Naya datang membawa pesanan Kamal. "Ini Tuan pesanannya."


"Kenapa gak lebih lama sih? mengganggu kesenangan ku saja," gerutu Kamal dalam hati. "Em ... tolong saya perlu lagi pakaian wanita beberapa stel, buat saya bawa ke Bandung buat oleh-oleh," ucap Kamal pada pegawai Naya.


Naya pun berdiri setelah mendengar ucapan Kamal pada pegawainya.


"Eh ... mau kemana? kau duduk saja, biar dia saja yang carikan," ucap Kamal lagi-lagi mencegah Naya pergi.


Namun Naya tetap melangkahkan kakinya untuk membantu pegawainya itu, Kamal pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Naya.


"Oya, ada salam dari mama, katanya ingin sekali berkunjung ke sini," suara Kamal dari belakang Naya.


"Iya kah? kenapa tante nya gak ikut lah sini," sahut Naya sambil memilih pakaian wanita yang Kamal pesan.


"Em ... sibuk di ladang dia, lain kali pasti main ke tempat sini."


"Kamal, pakaian wanitanya buat calonnya ya?" goda Naya senyumnya mengembang, membuat Kamal bengong menatapnya.


"Hei ... bengong, cewek nya orang sunda ya?" Lagi-lagi Naya menggoda Kamal.

__ADS_1


"Hem ..." Kamal menggeleng, tersipu malu, "Sukanya sih iya, tapi sayang banget sudah bersuami."


"Hah ...?" Naya terkejut. "Aduh ... jangan dong, yang masih sendiri juga masih banyak loh. Gak baik juga, saran aku ya? sudah lupakan. Cari yang lebih baik dan pantas, jangan istri orang," ujar Naya, ia memberikan beberapa pakaian pada pegawainya untuk dikemas.


Kamal terdiam mematung di tempat. Meresapi kata-kata Kanaya barusan.


"Tuan, ini semuanya sudah beres," suara itu memecahkan lamunan Kamal.


"Oh, i-iya, berapa semuanya?" Kamal mengeluarkan dompetnya, kali ini mau bayar kes saja.


Pegawai Naya memberitahukan, nominal yang harus Kamal bayar, dan Kamal pun langsung membayar nya secara kes.


"Terima kasih Kamal, sudah belanja di tempat ini, semoga puas dan gak kapok. Semoga jadi pelanggan kami?" ucap Naya dengan ramahnya. Serta tangan di satukan.


"Sama-sama, saya sangat puas, dan tidak akan kapok. Meski saya di Bandung, nanti nya saya pasti akan pesan ke sini. Kalau saya membutuhkan nya," ujar Kamal tersenyum puas.


"Sekali lagi terima kasih?" Naya meninggalkan Kamal, ke ruangannya. Kamal pun dengan berat hati meninggalkan tempat tersebut.


Sore menjelang malam, Naya sudah duduk di teras menunggu kepulangan baby twins nya. Benar saja mobil bapak mertua memasuki halaman. Naya sambut dengan senyuman.


Bu Hesa turun dengan memeluk kedua balita kembar di dadanya. Sesampainya di teras Naya mengambil alih buah hatinya, dengan rasa rindu yang amat sangat. Membuat Naya mencium keduanya tiada henti, "Bunda rindu kalian."


Anak itu malah tertawa memperlihatkan gusinya. "Mama kenapa gak bilang dulu sama aku?" Naya menatap sang mertua yang masih berdiri.


"Buat apa? yang penting saya kembalikan, lagian, kan kau tadi sibuk menghadapi tamu," ketus bu Hesa.


"Ya udah masuk, magrib nih," Naya duluan masuk membawa Arif sementara Kayla dalam gendongan Bibi.


Semuanya memasuki rumah. Kebetulan Dimas ada tugas di klinik bersama kawannya. "Sebenarnya kalian dari mana Mak?"


"Cuma jalan-jalan," sahut Bu Hesa sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Oh," gumam Naya, enggan tuk basa-basi lagi.


"Maaf Naya, kami bawa kabur si kembar sebentar. Tapi kami sudah minta ijin kok sama Abang," ujar bapak mertua lirih.


"Padahal aku sudah cemas loh Pak, takut ke napa-napa, mana ponsel kalian sulit dihubungi juga," sahut Naya.


"Dimas belum pulang Naya?" tanya bapak mertua lembut.


"Belum Pak, Abang dan kawannya langsung tugas, em ... kalian istirahat aja dulu di kamar depan, kalian pasti belum makan? biar Bibi siapin, aku naik dulu ya mau magrib dulu." Naya berdiri dan memberikan Arif pada Bibi agar diantar keatas. Kebetulan anak-anak pun belum mandi, setidaknya di lap dulu digantikan pakaiannya.


,,,,


Terimakasih pada reader semua yang masih mengikuti kisah ini. Terima kasih yang sudah lake dan komen meski gak memberi vote nya hehe canda, pokoknya apa yang kalian lakukan untuk novel ini terima kasih telah membuat aku tetap semangat.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2