
Akhirnya semua orang-orang di sana bukan cuma ngasih selamat pada bu Hesa beserta suami, namun juga mengucapakan selamat pada Dimas dan Naya, kemudian semuanya mencicipi makanan yang sudah di sediakan.
Dimas berbincang dengan dokter Aldo yang dari tadi banyak bengong nya, padahal dia diantara para rekan dokter pula yang di antaranya Karmila yang lama tidak berjumpa, namun Aldo hanya diam entah apa yang sedang di pikirkan.
"Selamat ya dok, bentar lagi akan jadi ayah," Karmila mengulurkan tangan pada Dimas.
"Terimakasih dok," dengan seulas senyumnya menyambut uluran tangan Karmila, "Kapan kau akan menyusul.?
"Nyusul apaan,?" Karmila penasaran.
"Ya menyusul menikah, punya anak,?" jelas Dimas.
"Em.., belum ada calon nya, ha..,ha..,ha, mau gak nikahin saya, mau lah biar jadi yang kedua," dengan wajah serius.
Dimas terdiam,, tercengang mendengar perkataan dari Karmila barusan, Aldo melihat Dimas lalu kembali melihat Karmila, "Kau gila apa,?" ucap Aldo sambil menatap tajam.
Karmila membalas tatapan Aldo, sembari terkekeh, "Ha..,ha..,ha..,kau pikir saya serius,? ha..,ha..,ha.., dulu iya saya suka sama dia," menunjuk Dimas, "Tapu itu dulu, sebelum dia punya istri, apa lagi sekarang, biarlah kita sahabatan, kenapa gak boleh juga.?"
"Em.., bagus lah," Aldo singkat.
Yang tadinya sudah merasa tak karuan, akhirnya Dimas kembali tersenyum pada semuanya, "Kau buat saya jantungan, gimana kalau istri 'ku dengar bisa marah dia bah."
"Bisa-bisa si Dimas gak beri jatah, ha..,ha..,ha..," kata seorang kawan Dimas yang duduk sebelah Aldo.
"Iya bener tuh, kalau suami saya ada yang deketin apa lagi dekat sama wanita lain, saya marahin, bila perlu gak saya beri jatah 7 hari 7 malam biar aja," timpal seorang wanita bernama dokter Dania.
"Tapi.., kalau menurut aku sih, kalau suami di biarin di cuekin, gak di pedulikan, takutnya malah mencari pelampiasan, bukan kah itu lebih berabe bila ia malah cari yang lain," ucap Naya yang baru datang duduk di samping Dimas, semua menoleh ke arahnya.
"Bukankah justru kita, jangan memberi celah sedikitpun untuk orang lain masuk, memang benar sih kita cuma manusia biasa yang punya apa itu,? em.., punya emosi yang kadang meledak-ledak, tapi..,alangkah lebih baiknya kita sebagai istri agar lebih mampu membuktikan bahwa kita lebih baik dari wanita yang belum tentu," ujar Naya, membuat semua orang terdiam dan merasa kagum dengan pemikiran Kanaya terkesan bijak.
"Iya sih, 'ku juga belum bisa menerapkan itu dalam hal pribadi, atau dalam sehari-hari, sulit memang, karena menyukai seseorang itu hak masing-masing ya, cuma.., setidaknya semua itu ada pada porsinya masing-masing, ups aku terus yang bicara, berasa dalam seminar he..,he..,he.., maaf,?" Naya tersipu malu semua kawan Dimas memandanginya.
Senyuman Dimas merekah dan meremas tangan Naya di atas pangkuannya, "Tidak apa permaisuri 'ku."
"Sungguh beruntung orang yang mendapatkan wanita sebaik dia," gumam Aldo sambil menelan makanannya.
"Wah.., sepertinya kau sangat beruntung punya istri seperti dia, kau pasti betah bila di rumah, tidak perlu melirik wanita lain," ucap seorang kawan pria Dimas.
"Kalau melirik sih wajar lah manusiawi apa lagi kalau misal di rumah istrinya biasa aja, seperti aku misalnya, sementara di luaran banyak wanita cantik bahkan seksi, wajar aja kok, cuman.., nah seperti yang aku bilang tadi, sadar akan porsinya masing-masing, sesungguhnya apa yang mereka punya tanda kutip ya, di rumah juga ada, suami harus sadar bahwa di rumah ada istri yang menanti insyaAllah siap melayani, dan Istri juga yang karir maupun yang di rumah, harus sadar setampan dan setajir apapun mereka yang bukan suami kita, dialah yang harus kita hindari karena suami kita yang lebih punya hak akan istrinya." ujar Kanaya.
Semua mengangguk, dan mengerti akan perkataan Naya, Karmila kagum dengan istri sahabat nya itu.
"Kalau melirik itu wajar ya kita sering-sering aja melirik wanita seksi kan sayang mubazir, ha..,ha..,ha..," ucap pria tadi.
"Itu sih mau nya huuu.., kalau suami saya seperti kau 'ku congkel matamu sebelah," ucap Dania terkekeh.
"Waw jahat sekali, atuuut," pria itu meringis dan tertawa.
"Jadi.., mungkin kesimpulan dari maksud Kanaya, seorang suami jangan di buat jengkel, karena bisa menyebabkan berpaling nya hati,?" Aldo menatap lekat kearah Kanaya.
"Yaps, kalau bisa,! tapi.., sosok suami seperti apa dulu yang harus di jaga, karena tidak semuanya, oya Endro kemana, juga Citra,? gak kelihatan makan," Naya celingukan begitupun yang lain baru nyadar bahwa dokter Endro tidak ada.
__ADS_1
"Em.., tadi Endro menyusul cewe nya, mungkin pulang," sahut Aldo kebetulan ia melihat Endro mengejar Citra.
"Oh, biarlah paling dia bersenang-senang malam ini," ucap seorang pria, Dimas tersenyum.
Sementara Citra yang setengah berlari keluar dari dalam rumah Dimas dikejar oleh Endro, "Citra.., mau kemana?" Endro berhasil menangkap tangan Citra dan menoleh.
"Aku mau pulang, kepala 'ku pusing," sahut Citra datar.
"Tapi.., kita belum makan.?"
"Kau makan aja sana, 'ku bisa pulang sendiri kok."
"Ok, 'ku antar pulang," Endro menggiring Citra masuk ke dalam mobilnya, untuk pulang ke rumahnya, "Kita berangkat bareng, jadi pulang juga harus bareng."
Selama perjalanan, Citra hanya diam, wajahnya terus di tekuk, merasakan dadanya yang sesak, ia harus mengakui pupusnya semua harapan, tangannya mengepal, selang beberapa puluh menit mobil Endro sampai di kediaman Citra.
Setelah mobil masuk halaman, Citra segera membuka pintu dan bergegas masuk, Endri bingung dengan sikap kekasihnya, akhirnya Endro memutuskan untuk menyusul.
Kini Citra berada di dalam kamarnya, melempar tas, berdiri depan cermin, ingin sekali meledakkan amarahnya yang dia tahan sedari tadi, tangannya dengan cepat menyapu semua isi meja rias miliknya, "Aaaah," brakkkk semua jatuh berserakkan di lantai, tangan Citra kembali mengepal niatnya akan memukul cermin namun.
"Sayang kau kenapa, jangan nanti tanganmu terluka,?" Endro menghampiri Citra dan meraih tangannya.
Citra menatap Wajah Endro, suaranya tercekat di tenggorokan, matanya berkaca-kaca dan akhirnya keluar buliran air bening melintasi kulit pipinya yang putih.
Endro meraih bahunya Citra agar menangis di pelukannya, meski merasa bingung apa penyebab Citra frustasi seperti itu, Citra menangis di pelukan Endro membuang segala sesak di dada.
"Jangan menangis, kan ada aku baby," Endro lirih mengusap punggung Citra.
"Iya dong baby, aku akan selalu ada buat 'mu baby jadi jangan bersedih, lagian apa sih yang membuat kau seperti ini,?" menatap penuh rasa penasaran.
Namun Citra hanya menggeleng pelan dan mencium pipi Endro, "Buat apa memikirkan pria yang tidak pernah sama sekali mengharapkan kehadiranku, sementara depan mata ada yang selalu siap menemani 'ku," batin Citra sembari mengulas senyum getirnya.
Endro pun merasa senang melihat Citra kembali tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di pipinya, Endro kembali menarik pinggang Citra hingga tubuh mereka berhadapan dan menempel, tatapan keduanya bertemu, lengan Citra melingkar ke leher Endro.
Wajah keduanya semakin mendekat, dan saling menyentuh benda kenyal dan lembab tersebut, bibir mereka saling memagut, tangan Endro menarik tengkuk Citra perlahan agar sentuhannya semakin dalam.
Citra begitu menikmati aksinya ini, sehingga bisa melupakan apa yang telah terjadi tadi, ia membalas setiap sentuhan Endro, tubuh yang menempel semakin membuat darahnya mendidih.
Di rumah Dimas
Semua tamu sudah pulang dan tinggallah keluarga besar, itu pun satu per satu masuk kamar untuk istirahat, begitupun Dimas mengajak Kanaya naik ke lantai atas sudah lelah ingin cepat tidur, lagian besok masuk kerja.
"Dimas, di jaga istrinya baik-baik," ucap bu Hesa menatap putranya yang masih duduk bersama istrinya di sofa.
"Iya Mak itu pasti."
"Kalau mau apa-apa laksanakan waktu itu juga, itu namanya ngidam Mama tidak ingin cucu 'ku ileran," tambahnya.
"Itu pasti, saya juga ngerti, dan selalu memenuhinya kok."
"Abang suka marah-marah Mak kalau aku ngidam sesuatu," sambung Naya menyeringai.
__ADS_1
"Eh.., kapan sayang,? gak pernah," Dimas menoleh istrinya.
"Mau tidak mau harus mau, istri mau apa cariin, Bapak juga dulu gitu, biarpun tengah malam dia keluar mencari yang Mama idamkan," kenang bu Hesa.
"Iya Mak iya," ucap Dimas dengan malasnya, "Sayang bobo yuk ngantuk nih,?" melirik istrinya, Naya mengangguk dan keduanya berdiri.
"Satu lagi."
Dimas memandang Mamaknya seraya bertanya, "Apa lagi Mak.?"
"Kehamilan Naya kan masih muda, jadi urusan ranjang di kurangin dulu, takut kenapa-napa janinnya."
Dimas terbelalak, "Kandungan Naya kuat kok Mak, jangan khawatir," lagi-lagi melirik Naya.
"Pokonya di kurangin, kalau gak mau biar istrimu tidur sama Mama mau,? kau tidur sendiri."
Dimas lemas, "Mana bisa Mak, dia istri 'ku, jadi dia harus selalu bersama denganku, kan Mama yang bilang tempat istri itu di mana suaminya berada kan.?"
"Iya.., tapi ini masalah nya lain Dimas.., istrimu sedang hamil muda, saya tidak mau terjadi apa-apa sama cucu 'ku loh."
"Saya janji, tidak akan terjadi apa pun, mana bisa saya mengurangi itu, gak tahan Mak," ucap Dimas pelan dan Naya mencubit paha suaminya membuat Dimas meringis.
"Ya.., lakukan lah, toh kalian yang merasakan dan kalian juga pasti punya batasan," bela Bapaknya Dimas.
"Betul tuh Mak."
"Pokoknya di kurangin, cuma selama bulan-bulan awal kok, beberapa bulan ke depan silahkan kalau sudah benar-benar kuat," sambung bu Hesa kekeh.
"Apa pagi beberapa bulan, gak sanggup Mak ngerti dong seperti Bapak," rajuk Dimas seperti anak kecil.
"Pokoknya harus janji, bila perlu Naya tidur sama Mama titik...,!" bu Hesa mendadak menjadi protektif.
"Ok, baiklah saya janji, dari pada tidur terpisah sayang," melirik istrinya, "Ya sudah, sudah malam kami istirahat dulu besok mau kerja takut kesiangan," pamit Dimas dan menuntun Naya menaiki anak tangga.
Baru beberapa langkah, menaiki tangga, sudah terdengar lagi suara bu Hesa, "Jangan lupa, dan kau Naya bilang kalau suami kau macam-macam."
Dimas dan Naya cuma berhenti sebentar saling melempar lirikkan, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar, dan akhirnya mereka sampai dan tidak lupa untuk mengunci pintu kamar, Dimas mengganti pakaian tidur, begitupun Naya, keduanya sudah menarik selimut untuk tidur.
"Yang,? panggil Dimas.
"Hem..,? gumam Naya menoleh suaminya yang posisnya miring menghadap pada dirinya.
"Mama kan tidak tau apa-apa ya, kita yang tau kalau kandungan bunda kuat untuk melayani suaminya," menyeringai memperlihatkan gigi putihnya, jarinya mengelus pipi sang istri.
Naya pun memposisikan tubuhnya jadi berhadapan dengan suaminya, "Hem.., terus,?" lirih dengan tatapan sayu.
Dengan tatapan mendamba Dimas mendekatkan wajahnya, mengecup kening, pipi kanan dan kiri istrinya, terakhir mengecup lembut dan penuh kehangatan bibir sang istri sudah menantang dari tadi, tangan Dimas mulai aktif meraba daerah-daerah yang asyik untuk bermain..!
,,,,
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? karena sesungguhnya komentar dari kalian menambah semangat 'ku untuk up, jangan lupa kasih rating n vote nya juga ya,ðŸ¤