
"Hah emangnya gampang,?" bergegas langkahnya ke kamar mandi sekejap, barulah turun untuk makan malam.
Di meja yang cukup delapan orang sudah berjejer orang yang makan, seperti biasanya Dimas duduk di samping sang istri, matanya mengamati setiap menu yang tersedia di meja.
"Lama betul kau ini,?" Bu Hesa menoleh putranya.
Dimas nyengir kuda, "Tadinya malas makan Mak," sahut Dimas yang mulai makan di suapi istrinya.
Naya menoleh Lisa disela menyuapnya, "Lisa, gimana hari ini lancar tidak ada kendala apa pun.?"
Lisa mendongak membalas tatapan Naya bos nya, "Tidak Bu, lancar saja."
"Bagus lah," Naya mengangguk pelan.
"Kau, beruntung bisa di ijinkan pulang,? padahal perban saja masih belum di buka di kepala," ujar Bapak mertua Naya.
"Iya Pak, kebetulan dokter yang menangani saya baik hati, asal dengan syarat harus sering cek up, dan Bebas di mana saja," tukasnya Dimas.
"Bagus lah, kalau begitu," menyuapkan kembali makannya.
Mereka asik makan malam, sementara baby twins tidur di atas.
"Maria sebentar lagi pulang ya, di jemput suami," Maria seakan pamit.
"Kenapa gak nginep aja sih,?" Naya melirik adik iparnya sekilas sembari menyuapi Dimas suaminya.
"Tidak, lain kali aja, kan anak Maria gak diajak, Kak kasian," sahut Maria sambil menambah sayurnya.
"Hem.., lagian kenapa gak diajak Mar," Naya menghela napas.
"Dia nya gak mau Kak," tambah Maria lagi.
"Iya lain kali ajak, jangan di tinggal," tutur Naya.
"Iya Kak," nanti saya ajak kok kalau dia nya mau."
"Sebenarnya.., Bapak dan Mama juga mau pulang."
Dimas kaget, "Maksud Bapak.?"
"Iya kami mau pindah lagi ke rumah lama, kami sudah terlalu lama di sini, ngercokin kalian," ujar Bapak Dimas.
"Loh, kok pindah,? kan disini Rumah kalian juga, ngapain pindah," Naya merasa heran kok tiba-tiba mertuanya mau pindah dari sini.
"Kami sudah terlalu lama di sini, sementara Rumah kami di tinggalkan, Maria sebentar lagi pindah ke Rumah yang baru, sayangkan gak ada yang rawat," tambah Bapak mertua.
Dimas bengong namun dalam hatinya tersenyum akhirnya akan banyak waktu untuk berdua saja, lain lagi dengan Naya ia merasa gundah apa ada kesalahannya yang jadi penyebab orang tuanya pindah.
"Emangnya Mama sudah gak betah tinggal di sini ya,?" Naya menatap lekat Mama mertuanya yang fokus makan malam.
"Mama betah, tapi gimana masa Bapak di sana sedangkan Mama di sini, gak baik," tutur Bu Hesa, sedih harus berpisah dengan cucu twins nya.
"Tapi Mak, Pak, kalian tinggal saja di sini, kan di sana masih adi adik-adik," ucap Naya berharap mertuanya tidak pindah.
Karena Lisa dan kawannya sudah selesai makan, dia pamit kepada Naya dan yang ada di sana untuk pulang, begitu pun suami Maria sudah datang menjemput,
Maria meminum air putih sehabis makanan di piringnya tandas, "Aku pulang dulu ya, sorry gak beres-beres dulu," ucap Maria lantas mencium tangan orang tuanya dan juga pada Abang dan Kakak iparnya.
"Hati-hati" Bu Hesa mengingatkan Maria.
Di meja makan tinggal mereka berempat saja, dan dua asisten dengan tugasnya masing-masing.
Dimas menghela napas, "Kalau saya sih terserah kalian saja, kapan pun mau kesini ya ini Rumah kalian juga, bebas kapanpun kalian mau," Dimas serius.
"Tapi yang, kalau kalian pindah pasti akan jarang ketemu baby twins dong," Naya melihat Dimas dan kemudian menatap lekat kedua mertuanya.
__ADS_1
"Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak sayang," bela Dimas menatap istrinya.
"Kami janji akan sering-sering datang menemui cucu kami disini," jelas Bapak mertua.
Helaan napas Bu Hesa begitu berat, sebenarnya dia sangat betah di tempat ini, namun suaminya memberi pengertian, tidak baik terlalu ngerecokin anak-anak, apa lagi masih punya Rumah pribadi, kecuali tidak punya lagi rumah pribadi, baru wajar ngerecokin anak mantu.
Malu, dulu saja dirinya sering nyinyir terhadap mantunya namun tak pernah dianggap oleh karena kebaikan mantunya, malu pernah berharap jodohkan putra sulungnya dengan wanita lain hanya karena martabat, kondisi Naya yang dia anggap tak sepadan dengan putranya yang seorang dokter dan tentunya pendidikan tinggi.
Bu Hesa menunduk dalam, dulu beranggapan Kanaya hanya akan mengincar harta putranya, namun pada kenyataannya Naya bisa membangun usahanya sendiri, menghasilkan uang dan punya pegawai sendiri, meskipun masih di rintis namun tetap intinya punya usaha sendiri jauh berbeda dari yang dia bayangkan sebelumnya.
Jadi dengan berat hati Bu Hesa pun mengiyakan ajakan suaminya untuk tinggal di Rumah yang lama miliknya, biarpun sangat berat hati berpisah dengan cucu twins nya.
"Mak, Naya minta maaf ya mungkin aku pernah kurang ajar, atau menyakiti hati Mama," Naya mendekati Ibu mertuanya.
Bu Hesa memeluk Naya, "Kau tidak salah, kau begitu baik, saya yang sering tidak tahu diri, dan saya yang seharusnya minta maaf," lirih Bu Hesa dengan mata berkaca-kaca.
Naya pun tak kuasa menangis, walau Bu Hesa sering bersikap tidak menyenangkan, namun Naya tidak pernah menyimpan sakit hati pada mertuanya tersebut.
"Tidak Mak, jangan meminta maaf, Mama gak salah apa pun kok, Mama sering-sering jenguk baby twins ya?" Naya melepaskan pelukannya.
Seraya mengusap air mata Naya menoleh suaminya, "Belum minum obat yang," lantas Naya menoleh Bibi, "Bi tolong ambilkan obat suami 'ku sebentar di kamar, di atas meja."
Bibi pun pergi mengambil obat seperti yang majikan nya suruh kan, tidak lama obat pun sudah di tangan Bibi dan memberikannya pada Naya, "Makasih Bi."
"Sama-sama Bu," Bibi melanjutkan tugasnya yang tadi ditinggalkan.
Naya menyiapkan air segelas putih untuk Dimas minum obat, lalu di berikan pada Dimas suaminya, "Minum obat dulu yang."
Dimas meminum obat, meraih gelas yang Naya berikan.
"Kau istirahat lah, kah harus banyak istirahat, kondisi mu belum fit," ujar Bapaknya Dimas.
"Oh iya Pak," sahut Dimas dengan cepat.
Obrolan di meja makan pun selesai, orang tua Dimas berpindah ke ruang televisi dan Dimas juga Naya masuk kamar, lagian takut si kembar terbangun.
Dimas menatap kedua baby nya yang tengah tidur pulas, setelah memastikan baby twins nya benar-benar pulas, Dimas mengecup keningnya bergantian.
Dimas menoleh kearah istrinya sembari menyeringai nakal, kemudian ia mulai mendekati istrinya, duduk di samping Naya sehingga duduk berdempetan.
"Eh..,sana sempit, situ luas napa,?" Naya menggeser duduknya ke tengah.
"Nggak mau," malah mengikuti gerak istrinya, "Yang, kebetulan baby kita tengah bobo pulas," mengedipkan mata dengan nakal.
"Iya, emang kenapa kalau pulas,?" sok tidak mengerti apa maksud Dimas.
"Ya.., tidak ke napa-napa sih," sahut Dimas sembari menarik bahu Naya kedalam pelukannya.
"Yang, aku jadi gak enak hati, kenapa Mama harus pindah dari sini sih,? di sini cukup luas kok, kenapa harus pindah segala," lirih Naya sambil memposisikan dirinya di pelukan sang suami.
Dimas menghela napas panjang, "Biar saja kalau kemauan mereka sendiri, lagian kan mereka bisa kapan saja datang ke sini sayang," cup mengecup kening sang istri lembut.
"Iya sih, tapi.., kenapa dulu mereka tinggal disini, pas sekarang sudah ada cucu yang di harapkan malah pindah,?" Naya mendongak menatap wajah suaminya.
"Sudah ah biar saja, yang penting mereka bahagia, sehat juga," ujar Dimas sembari memegangi dagu sang istri mendekatkan wajah mereka.
Tatapan Dimas sudah mulai berkabut gairah, Naya mengerti keinginan suaminya sehingga dia pun memberikan kesempatan, membiarkan apa yang dia lakukan terhadap dirinya, memberikan hak nya sebagai istri, melaksanakan kewajibannya sebagai suami.
Deru napas nya semakin berat, dan hembusannya menyapu seluruh kulit wajah Naya dengan sempurna, kali ini tidak ingin gagal lagi dalam memadu kasih, Dimas menempelkan bibirnya di bibir sang istri sebelum melancarkan aksinya lebih lanjut.
Dimas mencumbu seluruh wajah sang istri, dari mulai kening, pipi, hidung, bibir lantas turun ke leher sampai meninggalkan jejaknya di sana sehingga menimbulkan desahan kecil lolos dari mulut Naya, membuat hasrat semakin melonjak.
Tangan kiri menarik tengkuk Naya agar semakin dekat dengan wajahnya, tangan kanan membuka kancing pakaian Naya sampai semua terbuka, mengelus punggung dengan sangat lembut, menyingkirkan semua yang menjadi penghalang dan menutupi tubuh sang istri.
Dimas turun dan melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya, tak ada satu pun yang tertinggal, kemudian merangkak naik mengungkung tubuh polos sang istri.
__ADS_1
Melanjutkan aksinya yang terjeda, desakan yang sungguh menggebu, juniornya meronta-ronta ingin menuju puncaknya, bermain di lembah madu dan mereguknya.
jari Dimas membuka helaian rambut yang menghalangi wajah wanitanya, peluh pun mulai membasahi kulit tubuh keduanya.
Di sela-sela permainan mereka hati Naya was-was, takut baby nya terbangun dan menangis, "Yang, aku takut baby kita terbangun," bisik Naya lembut.
Dimas menjeda permainannya sesaat dan menoleh kearah baby nya yang tak bergerak pulas, kemudian menatap sayu mata istrinya menempelkan kembali bibir mereka dan memperdalam sentuhannya.
Lengan Naya melingkar di leher lelakinya sangat erat, Dimas melanjutkan gerakannya sehingga angan mereka melayang ke angkasa menikmati surganya dunia, akhirnya hasrat Dimas tersalurkan, tanpa ada gangguan sedikitpun, senyuman Dimas begitu mengembang dan mengakhiri penyatuannya.
Dimas terkulai kelelahan, membaringkan tubuhnya di samping sang istri menarik selimut sampai menutupi dada, sebelumnya mengecup kening dan pipi sebagai terimakasih atas yang diberikan barusan.
Maaf ya reader bila sedikit membuat reader kepanasan dan berangan macam-macam dalam membacanya, ini hanya sebagai hiburan saja jangan terlalu datar, dan santai hihihi.
Dimas memeluk sang istri penuh kehangatan, yang meringsut ke dalam dekapannya, "Makasih sayang,?" dengan napas yang masih berat, lagi-lagi mendaratkan ciumannya di kening sang istri.
"Sama-sama sayang," sahut Naya sembari membenamkan kepalanya di dada sang suami.
"Lihat baby kita begitu pulas, seolah mereka mengerti akan Ayah Bunda nya yang butuh kasih sayang," matanya melihat baby twins yang masih juga pulas.
Naya pun menoleh dan mengangguk, "Mereka sangat anteng yang," sambil mengelus halus dada Dimas membuat Dimas memejamkan mata sentuhan Tangan wanitanya mampu membangkitkan gairahnya lagi.
Akhirnya tanpa rasa capek Dimas menaiki rakit dan berenang kembali di sebuah lembah madu yang amat menggiurkan, dan akan menjadi candu bagi siapa yang pernah menjamahnya niscaya akan terus ketagihan, di hiasi dua bukit yang teramat indah, sehingga lagi, lagi dan lagi ingin merasakannya.
Setelah beberapa waktu yang tiada henti akhirnya tubuh Dimas benar-benar lelah dan terkulai lemas di sebelah tubuh wanitanya, hanya suara napas yang bersahutan, matanya tak mampu lagi terbuka akibat kelelahan yang teramat, keduanya tertidur berpelukan, sampai pagi menjelang itu pun terbangun oleh suara si baby twins yang terbangun, dan menangis mungkin haus dan minta ganti popok.
Naya menepuk lengan suaminya, "Yang baby bangun, bawakan ke sini," suara parau Naya membangunkan Dimas, Naya mengenakan pakaian terlebih dahulu.
Dimas membuka mata, netra nya melirik kanan dan kiri terdengar tangiaan si kecil, ia langsung turun meraih celana pendek bergegas memakainya, kemudian mengambil salah satu baby nya diberikan pada Naya yang masih mengikat rambut nya yang berantakan.
Baby Arif sudah di tangan sang Bunda, lalu Naya memberi asi bergantian setelah sebelumnya di basuh bersih dulu, takut kotor, Dimas merebahkan tubuhnya di tempat semula, di tangahnya baby Arif yang mulai ngantuk lagi setelah merasa kenyang, sementara Kayla masih dalam pangkuan Naya.
"Yang...?"
"Hem.., apa?" sambil terpejam.
"Haus, tolong ambilakan minum, bisa gak," Nay ragu-ragu.
Dimas membuka mata dan menguap, turun mendekati tempat air mengambil minum buat Naya sebelumnya ia teguk lebih dulu.
"Makasih sayang," ucap Naya setelah meneguk air tersebut, Kayla sudah tertidur lagi kemudian Naya meletakkan di tempatnya, begitu pun Arif Dimas kembalikan ke tempat semula.
Karena sudah menjelang pagi keduanya langsung membersihkan diri, berendam air hangat berdua, saling mengosokan sabun ke tubuh masing-masing.
"Tapi.., seandainya kau lepaskan istri mu itu, aaya siap menampung kok, serius," seketika terbesit kata-kata itu dari bibir Aldo membuat Dimas terpaku, dadanya terasa sakitdan sesak.
"Saya tidak akan pernah menyia-nyiakan istri saya, apa lagi membiarkan di miliki orang lain, tidak akan, kecuali saya sudah terkubur menyatu dengan tanah," batin Dimas bergejolak.
Naya melirik suamianya yang nampak bengong, "Yang.., sedang memikirkan apa sih,?" menyentuh pipi dan menarik agar melihat dirinya.
Lamunan Dimas buyar dan menatap wajah istrinya, Dimas pandangi sangat lekat dan bergumam, "I love you."
Hati Naya berbunga-bunga, pagi buta gini sudah mendapat ucapan itu dari bibir suaminya, ia menggigit bibir bawahnya, menatap netra mata Dimas yang sangat lekat menatap dirinya, "I love you too," menghambur kepelukan sang suami.
Untuk beberapa saat mereka saling pelukan, yang terdengar hanya suara air yang kecil mengalir dari keran, menghiasi detak jantung mereka yang berdetak kencang.
Setelah merasa puas, Naya membersihkan diri terlebih dahulu dan memakai handuk mandi untuk membalut tubuhnya, di susul oleh Dimas mengguyur di bawah air shawer.
Keduanya sudah rapi dan menunggu suara adzan berkumandang, ketika adzan berkumandang sahdu suaranya yang timbul tenggelam, keduanya sudah bersiap bersujud.
Selepas berserah diri dalam sujud tidak lupa memanjatkan doa, Dimas naik ketempat tidur menarik selimut untuk tidur kembali.
Naya berjalan membuka semua gorden, beres-beres di kamar tersebut seperti memungut pakaian kotor dimasukan ketempatnya, sembari menunggu baby nya bangun, Naya mengambil kertas dan pilot untuk menggambar.
****
__ADS_1
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️