
Malam ini setelah polisi membekuk orang yang sudah melakukan penipuan terhadap Naya tadi siang, sekarang giliran orang yang bernama Lisa yang polisi cari, seperti saat ini Lisa tengah was-was ketakutan, dia mengurung diri di kamar kos nya, takut polisi mencarinya, mereka sudah tertangkap, pasti mereka menyebut namanya juga, dan pada akhirnya dia pasti di tangkap yang berwajib.
Sinar sang surya mulai menampakan dirinya memberi kehangatan pada setiap mahluk di muka bumi ini, embun yang menggenang di dedaunan bersinar bak mutiara tersorot cahaya sang matahari, terdengar suara burung-burung yang berkicau saling bersahutan.
Pagi ini Naya sudah memandikan dan mendandani kedua baby nya, kemudian barulah dirinya bersih-bersih menyiapkan diri untuk ke tempat sang mertua.
Dimas pun menyiapkan barang yang akan di bawanya dimasukan ke mobil oleh Pak Mad, Dimas keluar dari kamar mandi, melihat sang suami sedang sibuk dengan ponselnya.
"Yang mau setir Ayah,?" tanya Naya yang duduk depan cermin.
"Ayah sudah mengajak Dery, kebetulan dia gak ada kerjaan juga, makanya Ayah ajak," sahut Dimas datar.
"Oh"
Bi Meri mengajak baby Arif dan Kayla turun, kemudian Dimas dan Naya mengikuti dari belakang, tangan Dimas menggandeng pergelangan sang istri dengan mesra.
Keduanya sarapan terlebih dahulu sekalian menunggu Dery yang belum datang, Naya mengambil satu piring saja untuk makan berdua.
Naya menyuapi suaminya, memanjakan seperti ke anak kecil yang masih kolokan.
Pak Mad berjalan menghampiri Meja makan bersama Dery yang baru datang, "Pagi..,?" sapa Dery lantas duduk di depan yang punya Rumah.
"Pagi juga, makan,?" Dimas menunjuk makanan di meja.
Naya menyodorkan piring kosong pada Dery, "Sarapan dulu Der, lagian masih pagi kok."
"Ok," Dery mengambil piring di tuangi nasi dan dan cumi balado, tanpa sungkan Dery langsung melahap makanannya.
"Pak sarapan," Naya melirik Pak Mad.
"Sudah Bu," sahut Pak Mad sambil bersih-bersih lantai.
"Oh, oya Pak," Naya mengambil beberapa lembar dari sakunya, "Pak ini buat beli oleh-oleh di jalan."
Supirnya malah bengong bukannya mengambil uang yang Naya berikan, "Bukankah kemarin sudah memberi gajih ya sama istri saya?"
"Iya.., itu gaji, kalau ini buat beli oleh-oleh," tambah Naya.
"Ambil Pak, lumayan halal kok," timpal Dimas.
Akhirnya Pak Mad mengambil uang tersebut, "Terimakasih Bu."
"Sama-sama, pake aja motornya," Naya melanjutkan menghabiskan sarapannya.
Pak Mad mengangguk kemudian pergi menemui istrinya di depan yang mengajak bermain baby twins.
Naya mengambil minum lalu di reguknya, "Nambah lagi gak yang,?" menoleh suaminya.
"Nggak, cukup," timpal Dimas menggeleng pelan.
Naya berdiri meraih bekas makannya memindahkannya ke wastafel lantas mencuci nya, sementara Dery masih melahap makannya, "Di sana mau nginap apa?"
"Kemungkinan sih iya," sahut Dimas sembari meneguk minumnya.
"Jangan lama-lama lah yang, paling semalam saja ya,? konter gak ada yang ngawasin, apa lagi butik harus aku awasi kan,?" lirih Naya sambil mencuci tangan lalu mengelapnya.
"Itu kan bisa di pantau dari jauh Bun, gampang kan," Dimas menoleh kearah istrinya.
"Lagian ngapain lama-lama di sana,? kan mau ada peresmian," lanjut Naya lagi.
"Iya Sih," timpal Dimas.
__ADS_1
Dery sarapannya selesai langsung mencuci nya sendiri, "Mau berangkat sekarang?"
Dimas dan Naya saling pandang, mecari jawaban untuk Dery, "Nanti deh bentar lagi, nunggu Bibi Taty dulu balik ke sini," sahut Naya celingukan.
"Ok," Dery duduk di sofa memandangi Naya, entah apa yang ada dalam pikirannya Dery.
Suara ponsel Dimas berdering, Dimas langsung mengangkatnya namun sambil menjauh dari yamg lain, Naya menatap punggung sang suami tumben seolah tidak ingin di dengar orang lain, seserius itu kah?
"Siapa yang?" tanya Naya menatap heran.
"Oh itu, Bu Mahdalena."
"Ada apa kok kaya rahasia gitu,?" Naya tambah penasaran.
"Nggak ada apa-apa, kenapa curiga begitu,?" balik Nanya.
Naya termangu, kok hatinya tiba-tiba merasa aneh, gak pernah suaminya seserius itu di telepon sampai menjauh darinya segala, apa-apa selalu terbuka gak pernah ada rahasia tentang apa pun.
Dery hanya melongo mendengar percakapan pasangan suami istri itu, kemudian Dery beranjak ke depan menghampiri Bi Meri mengambil Arif, di bawanya ke taman dekat kolam renang.
"Hah.., di sini udaranya lebih nyaman nih Tuan kecil, tuh ada kupu-kupu terbang," Dery berjongkok mendekatkan Arif dengan bunga yang di hinggap pi kupu-kupu cantik.
"Tuan kecil, rupanya kau merasa senang ya melihat kupu-kupu hem," benar saja Atif seolah berjingkrak melihat kupu-kupu yang terbang di atas kelopak bunga sesekali mendekat padanya hingga Arif memejamkan mata lalu melotot lagi, tangannya ingin menangkap kupu-kupu itu.
"Assalamu'alaikum..,?" Bi Taty akhirnya datang juga.
"Wa'alaikum salam, gimana Bi kabar keluarga nya,?" tanya Naya sembari tersenyum.
"Alhamdulillah Bu, kalian belum berangkat?" Bi Taty menyimpan sebuah dus dekat lemari pendingin.
"Belum, nungguin Bibi dulu, Bi Meri kan juga mau pulang dulu hari ini, jadi di Rumah cuma Bibi aja, tapi nanti sore Pak Mad pasti kembali, kendati istrinya nginep sebentar ya mungkin satu malam juga," ujar Naya.
"Oh.., gitu, iya Bibi ngerti," timpal Bibi.
"Tidak," Naya cepat, membetulkan kerudung dan pakaiannya.
Keduanya berjalan menuju pintu, di teras cuma ada Kayla dalam pangkuan Bi Mary dan Rita yang mengajaknya bermain.
"Arif, dan Dery mana Bi,?" tanya Naya sambil mencari keberadaan Dery dan buah hatinya.
"Arif sama Dery ke taman," sahut Bi Mery sambil memberikan Kayla pada pangkuan Dimas dia sendiri mau mencari Dery di kolam renang.
"Pak Dery di cari Ibu dan Tuan dokter," suara Bi Meri membuat Dery menoleh kaget lantas berdiri berjalan ke depan.
"Kita mau berangkat ke tempat oma ya sayang," sambil berjalan.
Sampai di depan Dimas sudah berada di dalam mobil berasa Naya, Dery memberikan Baby Arif pada Dimas kemudian Dery mengitari mobil untuk sampai pintu belakang setir.
Pria bertopi tersebut duduk dibelakang kemudi, setelah semuanya mengenakan sabuk pengaman masing, Dery mulai menghidupkan mesin.
Naya menoleh para asistennya, "Aku pergi dulu ya, doa kan kami, oya jangan lupa pesan ku," mobil pun perlahan melaju tangan Naya melambai, Dimas pun tersenyum.
Dery terus melajukan mobil Dimas dengan sigap, pandangan fokus ke depan, tidak ingin kejadian sewaktu pulang dari Rumah sakit terulang kembali, mobil menyusuri jalanan yang lumayan ramai lalu lalang kuda-kuda besi semacamnya.
Dengan angin yang semilir dari sebagian jendela yang terbuka membuat baby twins pun tidur dalam pangkuan Ayah dan Bundanya, begitupun Naya kepalanya nyender ke bahu Dimas matanya pun terpejam, Dimas hanya menyunggingkan bibirnya membetuk senyuman.
"Gimana kasus yang kemarin itu,?" Dery membuka suaranya setelah sekian lama hening.
"Sedang di tangani, malah kepolisian sudah menangkap salah satunya," Dimas menoleh Dery.
"Bagus lah, kebiasaan nanti."
__ADS_1
"Yaps, oya setelah ini kau akan bekerja di mana.?"
"Entah, ada yang nawarin di luar kota sih," timpal Dery sambil matanya tetap fokus ke jalanan.
"Oh, kapan kau akan menikah,?" lanjut Dimas lagi.
Dery terdiam sejenak kemudian menjawab, "Belum menemukan calonnya."
"Mau gak saya kenalkan sama seseorang,?" Dimas serius.
"Nggak."
"Kok Nggak sih, emang nya tidak mau menikah?" lanjut Dimas lagi menatap dengan tatapan heran.
"Ya paling kau akan kenalkan saya sama pegawai butik itu, si Lisa ogah saya," Dery menggeleng.
Ha..,ha..,ha.., Dimas tertawa, "Emang kenapa dengan dia,? dia cantik manis mandiri, apa lagi."
"Nggak-nggak, mendingan jomblo sekalian," dengan nada datar.
"Hem..," gumam Dimas mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Setelah selang beberapa waktu akhirnya mobil sampai di sebuah halaman yang lumayan luas, Dimas menepuk pipi sang istri supaya bangun, "Yang dah sampai nih."
Dery turun lalu mengambil Baby Kayla dari pangkuan Naya yang masih pulas, kedatangan baby twins yang sudah di nantikan langsung di sambut gembira oleh orang-orang dari dalam Rumah.
Naya terbangun membuka matanya yang masih sepet oleh rasa ngantuk, diluar mobil ramai dengan orang-orang yang rebutan menggendong baby twins, dua bayi itu bak piala bergilir dari orang satu ke orang satunya lagi terus saja seperti itu semua pada merasa gemes pada baby twins nya Dimas.
Dimas memandangi dari mobil sambil bibirnya tersenyum bangga dan bahagia, sementara Naya masih duduk bengong melihatnya, tak segera turun dari mobil, Dery pria tampan bertopi itu bersandar di mobil berpangku tangan memandangi keluarga Dimas yang berebut bayi.
Bapak Dimas menghampiri, 'Kalian gak mau turun nih,?"
"Iya, Pak."
Dimas turun duluan, kemudian Naya mengikuti dari belakang, ketiganya memasuki rumah orang tua Dimas, Naya berhenti dekat pintu matanya meneliti setiap ruangan di Rumah tersebut, Rumah yang masih menggunakan desain lama namun sangat indah dan nyaman.
"Duduk Der,?" Dimas mempersilahkan Dery duduk di sofa ruang tamu, Naya pun mengikuti mendudukkan tubuhnya dekat sang suami, Dimas.
"Ini Rumah tempat Ayah di besarkan, sampai sekarang seperti ini," ucap Dimas sambil mengenang masa lalu.
Naya hanya menatap kearah suaminya, tanpa berkata-kata, Naya beranjak berjalan melihat-lihat isi Rumah.
"Ini Rumah kami, apa di kampung, Rumah orang tua mu sebesar ini," tanya Bu Hesa dengan bangganya.
Deg, Naya menoleh menatap mertuanya, perkataan Ibu mertua sedikit menghentak seolah menghina diri dan orang tuanya.
"Huuh..," Naya menghela napas panjang, "Rumah di kampung, mulanya cuma Rumah bilik kok Mak, tidak sebagus ini, tidak semewah ini juga," sahut Naya semakin merendah.
"Oya, jadi pasti kamu betah kan tinggal bersama kami, punya suami kaya juga, gak salah dong kau nikahi anak saya Dimas?" tersenyum sangat sinis.
"Ma..," Naya bergumam lantas menunduk dalam, ucapan Bu Hesa semakin nyeletuk.
Naya kembali mendekat suaminya rasanya tidak sanggup bila harus terus mendengar ocehan sang mertua, dia duduk dekat Dimas dengan wajah sendu.
"Kenapa yang? sudah lihat ruang mana aja hem,?" tanya Dimas mengelus punggung tangan Naya lembut.
"Belum, baru lihat dapur saja," sahut Naya tersenyum samar, di balik itu ia menghela napas dengan berat.
Bu Hesa sibuk memperkenalkan cucu barunya pada semua tetangga, yang pada datang ke Rumah membuat kediaman Bu Hesa begitu ramai, semua orang sangat suka memuji baby twins Dimas yang lucu-lucu.
Dimas mengajak istrinya dan juga Dery untuk naik ke lantai atas, ketiganya menaiki anak tangga, "Baiknya kita istirahat dulu di atas," kemudian Dimas menunjuk kan kamar buat Dery istirahat, sementara dirinya menggandeng tangan sang istri masuk ke kamar utama yang ada di lantai dua itu.
__ADS_1
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️