Bukan Mauku

Bukan Mauku
Ijin ya sayang


__ADS_3

Yuda yang masih di kuasai kemarahannya, membanting barang yang dekat dengan dirinya, bagaikan orang kesurupan.


Di dalam kontrakannya, barang-barang berserakan, bagai kapal pecah, di benaknya teringat akan mantan istri, yang nikahi lalu ia tinggalkan, tiadak nafkah yang ia berikan, sampai kata cerai pun terucap dari bibir Yuda, itupun tanpa bertatap muka, hanya lewat sambungan telepon saja, sangat memilukan.


Ia merasa menyesal, telah menyia-nyiakan mantan istrinya, mungkin saja bila ia menjadi suami yang bertanggung jawab waktu itu, tak akan terjadi penghianatan dari istri yang sekarang.


Bagaimana pun ia menikahi Nuri di awali penghianatan ia sendiri dari istri di kampung, jelas jika kali ini harus berakhir dengan penghianatan juga, bahkan mungkin lebih parah, Yuda membayangkan lagi adegan yang tadi, membuat dia meremas rambutnya dengan kedua tangan, Yuda duduk di lantai, nampak frustasi banget.


Hari-hari dia dihantui rasa bersalah, penyesalan, ingin sekali meminta maaf kepada mantan istrinya tersebut, sampai-sampai dia berniat ingin bertemu.


******


Saat ini Dimas tengah berbincang dengan kawan-kawannya, yang siap pulang, dan Dimas sengaja membatalkan kepulangannya, dengan alasan ada kepentingan terlebih dahulu.


"Kau mau kemana dulu bro.?" tanya Endro yang satu kamar dengannya.


"Rahasia bah.!" aku baru akan kembali kalau sudah mendapat kesenangan hati, ha..ha..ha.." jawab Dimas tertawa.


"Dia pasti sudah merencanakan sesuatu bah." kata sala-satu teman Dimas sambil berjabat tangan.


Dimas menarik bibir senyum dan menepuk bahu kawannya tersebut. "Mungkin."


"Paling mengincar mojang Bandung.? ha..ha..ha." kata sala satunya lagi samb tertawa.


Setelah berjabat tangan, lima pria tersebut berjalan membawa tasnya masing, meninggalkan Dimas yang masih berdiri di bandara daerah Bandung tersebut.


Pria berkacamata hitam tersebut mengenakan kaos putih dan celana hitam, berjalan mendekati taksi.


Kini Dimas sudah berada di penginapan semula, ia merebahkan tubuhnya di kasur, beberapa hari ini Dimas tak memberi kabar pada Naya kerena sibuk, beberapa puluh kali panggilan tak terjawab dan pesan dari Naya yang terabaikan.


Ia beranjak duduk, meraih ponsel dari atas meja. mendekatkan dengan dagunya seakan berpikir.


Sesaat kemudian, Dimas memencet ikon hijou menelpon kontak my love.


"Halo..., sayang lagi apa nih.?"


"Kemana aja sih, di telepon gak di angkat SMS juga apa lagi, sudah lupa kah.? gak mau bicara lagi sama aku apa.? bikin orang cemas aja." Naya ngomel, sudah biasa sih kalau gak ada kabar Naya pasti ngomel-ngomel, sudah tak aneh.


Dimas nyengir kuda merasa lucu kalau mendengar Naya ngomel-ngomel. "Maaf yang aku sibuk."


"Kan setidaknya angkat walau sebentar, atau pasti kan ada waktu senggang,? kasih aku kabar, kenapa sih suka banget bikin orang cemas.?" masih dengan Omelan nya.


"Iya, iya...maaf sayang, aku minta maaf ok.?" ucapnya.


"Gak tau apa orang cemas memikirkan dia.? beberapa hari gak ada kabar takut kenapa-kenapa," suaranya bergetar, perasaan sesak dari beberapa hari hatinya kesal, marah karena merasa di abaikan.

__ADS_1


"Iya sayang.., maaf.? kan aku sudah minta maaf yang.., jangan nangis dong nanti cantiknya hilang." bujuk Dimas.


"Aku kesal, aku marah, kamu sudah gak perduli lagi sama aku." jelas Naya.


"Eeh, kok bilang begitu.? sibuk yang tau kan sibuk.?" Dimas berusaha membujuk.


"Tahu sibuk, tapi buka samasekali seperti itu, gak mungkin lah selama dua tiga hari tak memegang hp samasekali bohong amat," dengan suara parau.


"Sayang.., iya aku pegang ponsel iya, tapi aku pikir kan masih banyak waktu untuk kita mengobrol yang, jangan marah gitu ah jelek--!


"Biarin, aku yang ngerasain kesel kok." ucap Naya memotong kalimat dari Dimas.


"Sudah, jangan marah lagi sayang, I love you yang, sudah jangan nangis lagi.?" kata Dimas, menyandarkan punggungnya di bahu tempat tidur.


"Yang, aku kesal beberapa puluh kali telepon gak pernah di angkat sekalipun, apa lagi SMS, kan aku dah bilang sesibuk apapun, tolong luangkan waktu buat aku, jangan buat aku cemas, khawatir," Naya lembut, dan ada sisi manjanya walau sudah dewasa namun tetap saja dia ingin di manjakan oleh pasangannya.


"Iya yang, maaf ya.? jangan marah lagi ya.? aku sayang bunda.


Naya mengernyit. "Siapa tuh bunda.?"


"Bunda ya sayang, siapa lagi.?" jawab Dimas.


"Hemm."


"Lagi apa sayang.? sudah makan.?" tanya Dimas, yang merasa Naya sudah tidak marah lagi.


"Sudah tadi siang.! bunda lagi apa.?"


"Duduk, sama Anisa dan si bungsu." kata Naya yang tengah duduk bersama dua bocah. "Kau lagi apa sekarang.?"


"Duduk di penginapan, abis nganterin kawan-kawan ke bandara." sahut Dimas.


"Emang kawan-kawan sudah pulang.?" sambung Naya.


"Sudah, mungkin sudah mulai terbang." Dimas melihat jam di tangannya.


"Kenapa kamu belum pulang." tanya Naya penasaran.


"Ada urusan pribadi, mau ke Cirebon dulu menjenguk paman di sana.!" balas Dimas, berbohong, emang bener sih bu Hesa menyuruhnya menjenguk paman Dimas yang di Cirebon, namun Dimas mengurungkan niatan itu, ia pikir nanti saja setelah urusannya selesai.


Hati Naya mencelos, ia sangat berharap kalau Dimas menunda kepulangannya karena ingin menemuinya, ternyata bukan. "Aku memang tidak penting untuk seorang Dimas." batinnya.


"Yang..,hari ini aku ijin ya.?" kata Dimas niat menggoda.


"Ijin apa.?"

__ADS_1


"Ijin ya sayang.? beberapa hari kemarin aku sibuk, malam ini aku pengen jalan, cuci mata gitu, sambil cari mojang Bandung yang bersedia menemani aku buat satu malam aja--!


"Nggak boleh, enak aja.!" Naya terkejut mendengar ucapan Dimas, dan langsung memotong kalimatnya.


Dimas seakan memohon, "Satu malam aja sayang, ya...,untuk melepas penat, melepas hasrat--!


"Hasrat apa.? awas jangan macam-macam. dasar laki-laki," sambar Naya, cemberut.


Dimas tambah menyeringai, "Hasrat itu,"


Tut, tut, tut.., telepon terputus. "Sayang..,halo sayang.?" panggil Dimas.


Dimas memanggil ulang, menyambungkan kembali teleponnya.


Setelah di angkat. "Kenapa di matikan sayang.?" tak terdengar Naya bicara ataupun menjawabnya.


"Sayang.., aku bercanda yang.., gak mungkin aku macam-macam dari bunda sayang, jangan marah lagi, aku cuma menggoda saja, ingin tahu bunda cemburu apa tidak, ternyata bunda cemburu, berarti bunda sangat sayang sama aku," Dimas tersenyum bahagia.


"Mana aku berani macam-macam yang..,aku sangat sayang sama bunda, bicara dong sayang, marah terus dari tadi ah.? tidak baik yang, tuh kan nangis lagi.? jangan nangis yang..," Dimas tahu wanitanya marah, kalau sudah marah pasti nangis, selama ini Naya kalau marah lebih ke nangis tuk peluapannya, biar ngomel dengan bahasa yang sewajarnya aja, tak pernah dengan kata-kata kasar.


Dan bila sudah menangis baru dia akan baik lagi, "Yang sudah nangisnya nanti matanya bengkak loh di lihat orang, besok orang bertanya kenapa mata bunda sembab.? gimana.?"


Naya berhenti menangis, mengusap air mata yang mengalir di pipinya, menyeka matanya. "Kamu sih buat aku kesal mulu.!"


"Maaf sayang, cuma bercanda, senyum dong.? calon istri aku yang cantik, yang manja, yang cengeng." goda Dimas.


"Gombal..!" Naya senyum getir.


"Nah.. gitu dong, senyum kan cantik.?" Dimas seolah melihat senyuman di bibir Naya.


"I love you sayang, siap-siap tunggu aku ya.?" kata Dimas.


"Gak mau,"


"Kenapa sayang nggak mau,? tidak mau kah menikah dengan diriku.?" Dimas mengerutkan keningnya.


"Tidak" singkat.


"Tidak mau nunggu lama lagi ya.?" kata Dimas, Naya hanya mengulum senyum tipisnya.


Karena sudah terdengar adzan magrib telepon pun di matikan dulu, Naya mau sholat magrib terlebih dahulu, nanti aja pas mau tidur di sambung lagi rencananya.


,,,,


Terimakasih banyak kepada reader yang masih setia mampir di sini.? terimakasih yang sudah memberi lake, komen, dan terus dukung aku ya.? agar aku tambah semangat belajar menulisnya, itupun kalau memang kalian suka novel ini.

__ADS_1


Kalau saja tidak suka ya tinggalkan saja.🙏♥️♥️♥️


__ADS_2