Bukan Mauku

Bukan Mauku
Kawan lama


__ADS_3

Keluarga Dimas sudah pulang sebelum Naya datang, khawatir baby twins gak ada yang menjaga di Rumah ketika Naya ke Rumah sakit.


"Cepat sembuh lah, biar cepat pulang, berkumpul lagi sama anak-anak," ucap Naya sembari memegangi tangan Dimas.


"Iya, doakan saja yang," sahut Dimas.


"Wah.., enak ya, kalau sudah punya istri ada yang merhatiin, di manjain," celetuk Endro membuat semua menoleh kearahnya.


"Makanya punya istri, anak orang di pacari mulu," timpal Aldo sembari melempar lirikan tajam.


"Sebentar lagi, tenang saja," jawab Endro bangga.


Aldo tersenyum sinis seraya berkata, "Iya kalau dia mau sama kamu, kalau gak mau, bukan sebentar lagi."


"Gak percaya amat sama saya Al, percaya saja sama saya, kalau saya sebentar lagi akan menikahi Citra wanita lulusan kedokteran."


Aldo menggeleng, Dimas dan Naya hanya tersenyum mendengarnya, melihat Dery dia begitu kul tak bersuara tidak juga tersenyum.


"Sayang, pulanglah, kasian Baby twins kita, aku sudah biasa sendiri di Rumah sakit, lagian kawan-kawan akan selalu menjenguk kesini, jadi jangan khawatir," sembari mengusap pipi sang istri.


"Tapi yang, aku ingin menemani mu disini," Naya sedih tidak ingin meninggalkan suaminya di rawat.


"Jangan khawatir aku akan baik-baik saja, tugas Bunda sekarang menjaga baby kita dengan baik," Dimas merangkul tubuh istrinya seraya berbisik, "I Love you."


Naya pun membalas rangkulan suaminya, "I Love you too."


Sesaat keduanya saling rangkul, kalau saja tidak ada orang, ingin rasanya mengecup mencumbu istrinya sebelum ia pulang, namun akal sehatnya masih berjalan baik.


"Ehem..," Aldo mendehem sambil menghampiri, tak ayal Dimas melepaskan tubuh Naya dari pelukannya.


"Saya juga mau pulang dulu lah, sore saya balik lagi," menepuk bahu Dimas.


"Oh ya makasih banyak bro," Dimas menggenggam tangan Aldo.


"Iya sama-sama, cepat sembuh bro dan cepat pulang juga,'' ucap Aldo sembari menepuk bahu Dimas lagi.


Akhirnya Naya pulang diantar kembali oleh Dery yang siap mengantar dan menjaga Naya.


"Ya udah, aku pulang dulu, Assalamu'alaikum..," Naya mengucap salam sebelum melangkahkan kakinya bersama Dery.


"Wa'alaikum salam..," sahut Dimas menatap kepergian istrinya.


"Kami juga pulang sekarang, ntar malam kemari lagi bro," Endro dan Aldo berlalu meninggalkan Dimas sendiri.


"Yok," Dimas membaringkan dirinya beristirahat, pandangannya tembus ke jendela yang ada disebelahnya.


Baru mau pejamkan mata, datang lah seorang wanita cantik berpenampilan rapi, tinggi semampai menghampiri Dimas.


"Marina,?" sapa Dimas menatap wanita tersebut.

__ADS_1


"Siang dok, apa kabar,?" memeluk Dimas sesaat.


"Baik, apa kabar juga,?" sahut Dimas melepas pelukan Marina.


Marina adalah teman Dimas sewaktu kuliah namun dia mengambil jurusan lain bukan di bidang kesehatan.


"Aku baik, lama kita tidak bertemu, tau-tau kau ada di sini, kenapa kok bisa begini,?" menatap sekujur tubuh Dimas.


"Namanya juga musibah, tidak ada yang tahu datangnya menimpa kapan," sahut Dimas sembari menghela napas.


"Hem..," menatap sendu, menggenggam tangan Dimas namun Dimas menjauhkan tangannya dari tangan Marina.


"Kau tahu dari mana saya di sini,?" tanya Dimas menatap kearah Marina.


"Aku menjenguk keluarga yang tengah di rawat di rumah sakit ini juga, dan aku tadi bertemu sama adik Kau Sandi, makanya aku kesini sekarang."


"Iya kah,? Dimas mengerutkan dahinya.


"Iya, kau tidak pernah berubah, tetap ganteng," puji Marina seraya menatap dalam-dalam wajah Dimas.


"Ah bisa aja, kau juga sama tetap cantik seperti dulu," balas Dimas dengan nada dingin.


Marina tersipu malu, "Bisa aja kau ini, aku sudah punya anak loh."


"Saya juga sudah punya anak, sama lah," dengan bangganya.


"Oya, kok gan dengar kau menikah, gak ngundang-ngundang juga,?" mendongak melihat Dimas.


Marina termenung ia kira Dimas masih lajang, lama tak mendengar kabarnya setelah dirinya menikah, lamunannya membawa ia mengingat di mana pernah ada masa ia sangat mengagumi sosok Dimas, bahkan sampai detik ini rasa itu masih ada.


"Gimana kabar keluarga, khususnya suami dan anak mu,?" tanya Dimas menatap Marina yang tampak melamun.


Marina menoleh, dan drastis mimik wajahnya berubah menjadi sendu sedih, matanya berkaca-kaca, "Aku gagal, keluarga 'ku cerai berai setelah suami 'ku memilih selingkuhannya dan menceraikan aku," tak bisa menahan air mata, Marina menangis di pangkuan Dimas membuat Dimas bengong.


Dimas mengusap punggung Marina, "Sabar, mungkin ini ujian dan mungkin dia bukan yang terbaik untuk mu lagi."


Tangis Marina semakin pecah mendengar ucapan Dimas, rasanya sakit dan timbul penyesalan, kenapa harus menikah dengan dia dan kenapa begini dll nya.


Dimas jadi bingung harus membujuk gimana agar Marina tenang, Dimas memegang kedua bahu Marina seraya berkata, "Jangan begini, gak enak bila di lihat orang, sudah jangan menangis, kau kan wanita kuat," ucap Dimas ia merasa gak enak hati, gelisah takut ada yang masuk dan mengira yang bukan-bukan.


Marina mengusap pipinya yang basah, "Aku sudah tak punya tempat untuk mengadu, orang tua 'ku sudah tiada, aku sebatang kara menghadapi hidup sendirian, apa lagi dalam masalah seperti ini," tatapannya kosong ke depan.


Dimas semakin terharu, "Saya yakin kau wanita kuat, buktinya kau mampu melewati ini semua, oya anak mu di mana,? bersama siapa."


"Dia bersama 'ku, tinggal bersama Bibi juga, aku akan mempertahankan agar hak asuh jatuh ke tangan 'ku bukan Ayahnya." jawab Marina.


"Oh, semangat lah, demi anak mu juga," Dimas tersenyum agar Marina kuat dan selalu semangat dalam menjalani kehidupan ini.


"Terimakasih, kau selalu memberi dukungan padaku dati dulu tidak berubah," lagi-lagi merasa terpesona pada Dimas yang ia rasa tidak pernah berubah sikapnya.

__ADS_1


Dimas mesem dan menggeleng menatap Marina, yang di tatap jadi salah tingkah seolah kembali ke masa silam. jantung Marina berdegup kencang.


Marian melihat jam yang melingkar di tangannya, "Sudah siang, aku harus balik ke kantor, saya akan sering-sering menjenguk ke sini, tidak keberatan kan,?" tersenyum memandang meminta jawaban.


"Em.., tentu," sahut Dimas rasanya tak tega jika mengatakan tidak boleh, Dimas tahu betul dia adalah seorang yang yatim piatu dibesarkan oleh paman dan Bibinya.


Marina merasa girang, spontan mencium pipi Dimas membuat Dimas kaget dan meraba pipinya yang basah.


"Makasih banyak,?" sembari menyatukan kedua tangannya, melihat Dimas terdiam dan memegangi pipi bekas di kecup nya Marina termangu sesaat, tersadar telah mengecup pipi Dimas.


"Maaf dok, saya tak sengaja," menunduk malu, benar-benar tak disengaja, kemudian berdiri dan berpamitan pada Dimas dan berjanji akan sering jenguk.


Setelah Marina pergi Dimas membuang napas dengan kasar, tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan kawan lamanya itu, yang harus diakui juga bahwa mereka pernah dekat lebih dari sekedar kawan biasa.


*****


Di perjalan pulang, Naya mencoba mengajak Dery berbincang terkait rasa penasaran dirinya akan poto yang berada di dalam dompet yang pernah tertinggal di kamarnya tersebut.


"Em.., boleh aku bertanya sesuatu,?" Naya melirik Dery yang fokus menyetir dan pandangan lurus ke depan.


"Boleh, bertanyalah," sahut Dery tanpa menoleh, pandangan terus ke depan.


"Di dompet kamu waktu itu tertinggal di kamar kami, tanpa sengaja kami melihat sebuah photo yang di rasa kok wajah itu mirip dengan wajah 'ku tapi yakin itu bukan aku," ujar Naya sembari melihat jalanan.


Dery melirik sekilas, dengan nada santainya seraya berkata, "Oh itu," lalu terdiam memberi jeda sementara.


Naya menatap kearah Dery jadi tambah penasaran, "Siapa...?"


"Dia.., calon istri 'ku, kenapa,?" balik nanya dan melirik sebentar kemudian fokus lagi ke jalanan.


"Em.., tidak cuma.., penasaran saja, kok mirip ya, tapi jelas dia lebih cantik," ucap Naya dengan seulas senyum di bibirnya.


"Hem..," Dery tersenyum samar, "Dia sudah tiada beberapa tahun lalu."


"Hah..," Naya terkejut, "Aku kira masih--!"


"Tidak, dia sudah tiada, dia meninggalkan saya ketika pernikahan tinggal menghitung hari," memotong perkataan Naya.


"Maaf, bukan maksud hati membuat kamu sedih dan terkenang," lirih Naya mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Tidak apa," Dery menoleh menatap lekat kearah Naya yang dia rasa memang mengingatkan dirinya pada Yulia wanita yang sangat ia cintai.


Naya yang menjadi tak enak hati telah mengorek masa sedihnya Dery, Naya kembali meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas pertanyaannya tadi, dengan ekor mata Naya melihat Dery tengah menatapnya, tiba-tiba Naya menjerit histeris sebab melihat di depan ada orang yang tengah melintas.


"Dery awa...,s" jerit Naya yang kaget khawatir terjadi sesuatu, Dery pun sangat kaget mendengar jeritan Naya langsung menoleh ke depan.


,,,,


Assalamu'alaikum semuanya reader 'ku yang menunggu kelanjutan kisah Dimas dan Naya.

__ADS_1


Oya apa kabar semuanya,? semoga kabar kalian semua ada dalam lindungan dan rahmatnya Aamiin.


Aku tidak memaksa kalian memberi dukungan lagi terserah kalian saja lah, hihihi.


__ADS_2