
Dimas menaiki anak tangga untuk menyalakan lampu yang ada di lantai dua.
Di kamar Naya sudah bersiap untuk melaksanakan, menatap kearah pintu menunggu suaminya masuk.
Pintu akhirnya terbuka, Dimas berjalan masuk melintasi pintu tersebut. "Dari mana yang.? sudah adzan magrib,"
"Iya sayang, ini aku mau ambil wudhu dulu, sebentar ya.?" ia masuk ke dalam kamar mandi, tak berselang lama sudah kembali terlihat tetesan air wudhu di wajah yang jatuh dari rambutnya.
Memakai sarung dan baju koko, menggelar sejadah depan Naya. meski pun belum paseh dan masih terbata-bata membaca setidaknya ia mau tetap belajar, selesai sholat magrib Naya mencium punggung tangan Dimas, "Yang.., maafkan aku ya akan kelakuan aku dari pagi sampai saat ini.?"
"Iya sayang, aku maafkan," Dimas meraih kepala sang istri yang di balut mukena lalu menciumnya. di tengah mengajari Dimas membaca iqra. terdengar suara mobil di luar, Naya menatap mata sang suami, seakan bertanya di luar siapa.?
"Itu mobil Bapak yang, mereka pulang.?" ucap Dimas, mereka pun menutup iqra. Dimas keluar dari kamar.
Berjalan ke ruang tengah, benar saja mereka bu Hesa dan suami, pak Nanang dan dua putranya.
"Assalamu'alaikum,?" ucap pak Nanang, sambil memasuki ruang tersebut.
"Wa'alaikum salam,.!" sahut Dimas menunjukkan senyuman di wajahnya, bu Hesa melongo melihat putranya memakai sarung dan koko juga peci di kepala, yang lain sudah pada duduk di sofa, namun bu Hesa masih berdiri, menatap Dimas dengan intens.
"Mak kenapa ada yang salah.?" Dimas melihat penampilannya sendiri.
"Nggak, istrimu mana.?" tanya bu Hesa sembari duduk di sebelah suaminya. dari situ terlihat Naya tengah berjalan menuju dapur, bu Hesa mengamati langkah sang menantu, dan menyikut tangan suami, dia pun mengerti dan menoleh padanya, bu Hesa menunjuk Naya dengan dagunya, mata Bapaknya Dimas mengikuti arah yang di tunjuk kan sang istri.
Mereka berdua termangu, Dimas merasakan kalau orang tuanya tengah mengamati sang istri, "Mak, Pak, kita makan malam dulu, istriku sudah memasak banyak.?" memecah keheningan.
"Iya sebentar lagi." sahut Bapaknya. sedangkan bu Hesa terdiam entah apa yang sedang ia pikirkan, Dimas beranjak berjalan ke dapur menghampiri Naya.
"Yang, makan sekarang yuk.? lapar nih." mengusap bahu sang istri.
"Hem.." sahut Naya sambil menuangkan air putih ke beberapa gelas. "Panggil mereka yang, ajak makan bersama.? oya si Aa dan--!"
"Ke atas, kamar." Dimas langsung memotong perkataan Naya.
"Oh," membulatkan mulutnya dan duduk di kursi yang sudah Dimas sediakan. "Makasih sayang.?"
__ADS_1
"Ya sayang, " tersenyum manis sembari menyentuh lembut kepalanya. ok, aku panggil mereka dulu." Dimas mendekati Bapak dan sang Mamanya, kalau pak Nanang sudah menghampiri meja makan.
"Pak, Mak, makan dulu.?" ajak Dimas, mereka hanya mengangguk, Dimas melangkah mendekati tangga naik tiga langkah. "Aa makan dulu kita.?" teriak Dimas pada adik iparnya. terdengar sahutan, "Ya duluan, nanti menyusul.!"
Dimas pun kembali, duduk dekat sang istri." katanya duluan aja yang."
"Hem," Naya mengambilkan nasi buat Dimas, mertuanya baru datang dan duduk berdampingan, Naya mengangguk dengan senyumnya, "Silahkan Pak, Mak, maaf hanya seadanya."
Bu Hesa memperhatikan hidangan yang ada. "Biasa aja, gak ada yang aneh, bikin gak napsu." gumamnya dalam hati.
Pak Nanang dan Bapak mertuanya langsung mengambil piring di isi nasi serta lauk pauknya, yang lain sudah mulai menyantap makanannya masing-masing. tapi..bu Hesa masih melihat-lihat.
"Mak, kenapa gak makan.?" tanya suaminya.
"Nggak berselera." pelan tapi terdengar jelas, namun semua tetap fokus dengan makannya, lama kelamaan perlahan tapi pasti, bu Hesa mengambil piring di isi nasi dan sayur, juga ayam kecap, dengan ragu-ragu memasukan sendok ke dalam mulutnya. "Hem..,enak juga." batinnya.
"Sayang, gak pake nasi makannya.?" Dimas melirik Naya.
"Menghindari makan nasi, apa lagi malam, badanku sudah terlalu gemuk." lirih Naya pada Dimas, Dimas senyum samar.
"Bantal aja." sahut Naya sambil makan sayur dan ayam saja.
Bu Hesa yang melihat tingkah anak dan mantunya menyunggingkan bibir seakan tak suka, tak terasa makan bu Hesa nambah membuat suaminya menggeleng pelan. "Tadi..,bukannya tidak berselera, tapi kok nambah?" melirik sang istri agak mengejek, hingga mata bu Hesa melotot, mulut penuh dengan makanan, suaminya terkekeh, pak Nanang beranjak dari tempat tersebut dengan alasan, mau sholat isya terlebih dahulu.
Naya dan Dimas sekilas melihat bu Hesa dan suaminya, namun mereka berpura-pura, lebih memfokuskan diri ke pasangan masing-masing. "Yang mau nambah.?" tanya Naya pada Dimas karena piringnya sudah kosong.
"Gak yang, sudah cukup, nanti aku gemuk kan berabe, nanti sayang gak kuat menahan bobot ku bila di atas bunda, he..he..he.." goda Dimas menyeringai, mendengar ucapan Dimas Naya mencubit paha sang suami sambil mencebikkan bibirnya, Dimas meringis namun tak bersuara gak enak di dengar orang tuanya.
"Sakit sayang, awas nanti aku balas.?" Dimas berbisik di telinga Naya, Naya memperlihatkan giginya.
Bu Hesa melotot ke arah suaminya dengan mulut penuh makanan, dan suaminya terkekeh. "Makanya sebelum ngomong di coba dulu Bu, jangan asal aja, emang gak malu.? sekarang makan malah ke enakan." sambung suaminya, bu Hesa melirik putranya tengah asik dengan Naya istrinya.
"Bapak ini.?" tambah melotot, dan menghentikan makannya, cemberut.
"Ini semua hasil masakan istrimu Dim.?" tanya suami bu Hesa, menatap anak dan mantunya, Dimas dan Naya serentak mengalihkan pandangan padanya.
__ADS_1
"Iya Pak, mau di bantuin aku aja gak boleh dia.!" sahut Dimas sambil meneguk minum.
"Terimakasih ya Naya, Bapak dan ibu lahap sekali makannya, lain kali boleh kalau kami makan di sini lagi.? itupun kalau tidak merepotkanmu.?" menatap menantunya yang menunduk.
Naya mengangkat kepala. "Boleh kok Pak, dan.., insyaallah tidak merepotkan, selama aku bisa."
Bapak mertuapun tersenyum, lain lagi dengan Ibu mertua, raut wajahnya selalu datar pada Naya tak seutas senyumpun di berikan padanya.
"Ayok Buk, abisin makannya, sayang kan mubajir." melirik sang istri. "Tidak, Bapak saja yang abiskan." sambil menggeser piring ke arah suaminya dan langsung di habiskan oleh sang suami.
Sepasang mata Dimas memperhatikan kedua orang tuanya sambil menyandarkan punggung di kursi. usai makan orang tua Dimas beranjak dan duduk di tempat semula ruang keluarga.
Dimas membereskan bekas makan di bawanya ke tempat pencucian. "Yang nyucinya biar aku saja." kata Naya pada Dimas yang hanya melirik dan mencoba mencuci, Naya berdiri perlahan mendekati Dimas, "Aku aja yang nyuci."
"Gak apa-apa sayang, aku aja yang mencuci, sayang duduk aja hem.?" lembut Dimas, Namun Naya mengambil piring kotor dari tangan Dimas,
"Ya sudah, nantu kalau butuh sesuatu, panggil aku ya.?" semabari menusap kepala sang istri, kemudian berjalan mendekati orang tuanya, Naya melirik dan melanjutkan tugasnya.
"Harusnya kau bantu menantumu itu.? kasihan, bukan duduk-duduk di sini.!" ucap suami bu Hesa, Dimas yang mendengar perkataan Bapaknya, menghentikan langkah sejenak.
"Ah, biar saja, sudah tanggung jawab dia sebagai seorang istri, buat apa di bantuin.? nanti ngelunjak sok di perhatiin, sok jadi ratu entar." sahut bu Hesa dengan sinisnya, Dimas menoleh istrinya yang fokus mencuci piring.
"Saya gak setuju dengan penikahan mereka, dari baru mendengar saja, apa lagi sekarang.? lihat.? apa sih istimewanya dia buat putra kita.?" tutur bu Hesa dengan muka datarnya.
"Tapi.., bu--!" Bapaknya Dimas menoleh sang putra yang baru datang dan duduk di situ.
"Mak..? kami sudah menikah, Naya sudah menjadi menantu Mamak, tolong hargai keputusan Dimas.?" Dimas memotong perkataan Bapaknya, dengan pelan tak ingin di dengar orang.
"Kan Mama sudah bilang, Mama tak setuju, kenapa kau kekeh juga." tatapan bu Hesa tajam pada Dimas.
Dimas dan sang ayah menggeleng pelan, Dimas menoleh Bapak mertua turun dari tangga di ikuti putranya, membuat kedua orang tua Dimas pun menoleh dan menghentikan perbincangan tadi.
,,,,
Yuk jangan lupa lake, bila suka dan mampir di sini, komenan kalian semua membuat aku tambah semangat loh.🙏
__ADS_1
Terimakasih reader ku, tanpa kalian, novel aku tak berarti apa-apa.