Bukan Mauku

Bukan Mauku
Benihku berbuah


__ADS_3

Baiklah kalau begitu, yuk,?" Dimas berdiri, mengajak Naya berdiri namun Naya sibuk merapikan yang acak-acakan karena ulah suaminya, tak lupa mengenakan kerudungnya, barulah beranjak dari duduknya, Dimas meraih tubuh Naya lantas di boyong nya ke luar kamar menuruni anak tangga menuju dapur, sampai dekat meja makan Dimas menurunkan Naya dan menggeser kursinya untuk duduk.


"Lama banget,?" ketus bu Hesa.


Dimas tak menghiraukan, "Ayok kita makan.?"


Naya mengambil piring dan memasukan beberapa menu ke dalamnya, lantas membaca basmalah, dan mulai makan, serta menyuapi Dimas, mertua Naya ya itu orang tua Dimas pun memulai makan dengan sangat lahap.


"Nikmatnya makan di sini,? fuji syukur bah,?" jelas Bapak Dimas sambil membasuh tangannya usai makan.


Naya tersenyum, "Kenapa gak nambah lagi Pak.?"


"Sudah, cukup, bisa-bisa Bapak di sini lama, tambah gemuk nih,?" sahut Bapak mertua.


"Emangnya masakan di rumah gak enak gitu,?" bu Hesa melirik suaminya dengan sinis.


"Bukan gitu Mak, enak juga, tapi.., entah kenapa berasa beda gitu," elak suaminya.


"Elahh,"


Usai makan mereka mengobrol sampai malam, karena Naya sudah merasa ngantuk, Naya pamit tuk tidur duluan.


"Yang, aku ngantuk banget, tidur duluan ya,?" Naya mengusap tangan Dimas.

__ADS_1


"Iya, hati-hati,?" Dimas melirik istrinya.


"Ok, Pak, Mak aku duluan tidur ya,? ngantuk, Bibi sudah menyiapkan kamar kamar buat Bapak dan Mama istirahat," ucap Naya sembari mengangguk hormat pada mertuanya.


"Iya-iya," Bapak mertua balas ngangguk.


"Yang jangan terlalu malam,? besok kerja," Naya berjalan mendekati tangga.


"Hem..,?" Dimas singkat.


Naya berpegangan pada pagar tangga, dan menaiki anak tangga, berhenti sesaat, "Kok kepalaku pening sih,?" sedikit menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya perlahan. sesampainya di kamar Naya mengambil air wudu lanjut sholat isya, karena kepala Naya masih sedikit pusing-pusing, langsung aja berbaring lagian sudah malam, pukul 21.30wib.


Naya menarik selimut sampai menutupi dadanya, lampu sudah temaram, Naya memandangi langit-langit, Naya mengingat ucapan Dimas tadi katanya ingin menanam benih malam ini, Naya bangun menyibakkan selimutnya, menurunkan kedua kakinya, mengambil pakaian yang agak tipis lalu menggantinya, setelah itu baru membaringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur, memasang lagi selimut sampai dagu.


"Apa mungkin aku bisa memberikan suamiku keturunan,? hik..,hik..,hik..," namun Naya tidak mau larut dalam tangisnya, dia segera menghapus air matanya, tidak ingin di lihat Dimas kalau dia telah menangis, Naya memejamkan mata, dan mencoba tidur.


Sekitar pukul 22 lewat Dimas baru beranjak daru duduknya setelah orang tuanya masuk kamar, sebelum naik Dimas membelokkan langkahnya ke dapur membuka lemari pendingin, di sana ada rujak buah muda, Dimas bawa kemeja makan dan dia duduk di sana melahap rujak tersebut sampai tersisa piringnya, lantas meneguk air putih, kemudian Dimas meraih piring dan gelas ke wastafel untuk di cuci.


Selesai cuci piring, Dimas bergegas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, mempercepat langkahnya, membuka pintu kamar perlahan, suasana lampu sudah temaram, namak Naya tengah berbaring di balut selimut, Dimas menutup pintu pelan dan menguncinya.


Mau menghampiri istrinya, namun ingat belum sholat isya, Dimas masuk kamar mandi dan tak lama dia keluar lagi wajahnya basah terlihat bening kristal air yang menempel di kulit Dimas, lantas menunaikan sholat sendiri, usai mengucap salam kanan kiri, Dimas menadahkan kedua tangannya.


"Ya Allah, sesungguhnya aku merindukan hadirnya anak dari benihku sendiri, hadirkan dia diantara kami berdua,? aku rindu dengan tawanya, aku rindu tangisnya, aku rindu kelucuannya, ya Allah berikan kami anak-anak yang shaleh dan salehah, tunjukan kebesaran mu pada kami berdua, dan jaga lindungi istriku, beri dia kesehatan, dan kekuatan, Aamiin," Dimas menangkupkan kedua tangan di wajahnya, dan air mata yang dari awal mengalir tanpa di undang, dia hapus dengan jarinya, menoleh kearah istrinya yang sudah terlelap.

__ADS_1


Dimas melipat sejadah lalu di simpan di atas meja dengan sarungnya, Dimas mendekati, naik ke atas tempat tidur membelai lembut kepala Naya dan mengecup keningnya, rasa haru masih di rasakan nya, dia tatap lekat wajah sang istri.


"Sayang teruslah bersamaku,? apa pun yang terjadi, aku gak bisa jauh darimu sayang," batin Dimas, terus mengelus pipi sang istri, akhirnya Dimas membaringkan tubuhnya di samping Naya, menyamping hingga dengan bebas memandangi wajah istrinya.


"Dulu kita bertahun menunggu pertemuan kita, dan sekarang harus menunggu dalam menunggu buah cinta kita, namun aku rela jika Tuhan tidak menakdirkannya kita menjadi orang tua, asalkan kita terus bersama,?" Dimas menangis haru, sambil memandangi wajah Naya dalam remang, lengannya membelai rambut Naya lembut.


"Jangan pisahkan kami, kecuali maut yang memisahkannya,?" gumam Dimas, sembari menyeka air matanya, sampai larut malam Dimas belum bisa tidur, sudah balik kanan, ke kiri, terlentang, tengkurep masih juga tak bisa tidur.


Lama-lama Naya terbangun, merasakan, selimutnya tertarik-tarik oleh Dimas yang gelisah, Naya melek melirik suaminya, "Kenapa yang kok belum tidur,?" dengan suara parau Naya mengucek matanya.


Dimas yang tengah tengkurep, membalikkan badannya menghadap Naya dan menatap istrinya, yang juga menghadap kearahnya, Dimas hanya diam dengan tatapan sendu, tanpa menjawab pertanyaan dari Naya.


Sesaat Naya pun mengerti, tangan Naya menyentuh pipi Dimas dan mengelus sangat lembut dengan senyuman termanisnya, Dimas memegangi tangan Naya yang menempel di pipinya, Dimas mengecup hangat punggung tangan Naya.


Dimas sedikit bangun mendekati Naya, membuat tubuh Naya terlentang, tubuh Dimas berada tepat di atas tubuh Naya, lalu menindihnya, bibir mereka menempel sudah, deru napas mulai memburu, kening, pipi leher tak luput dari sentuhan Dimas, begitupun bukit kembar tempat tangannya bermain, tak luput kena jamah tangan Dimas.


"Sayang, ijinkan kali ini aku menanam benih di rahim bunda,?" Dimas menatap netra mata Naya, "Semoga kali ini berbuah di sana,?" bisik Dimas penuh harap.


Naya hanya mengangguk pelan, tangannya melingkar dengan sempurna di leher Dimas, Dimas tersenyum bahagia, setelah sang istri benar-benar siap, sembari ******* bibir sang istri Dimas segera menyatukan miliknya, entah dari kapan pakaian mereka sudah mereka tanggalkan, dia memompa pelan, dengan ritme yang sangat teratur, namun makin lama makin gencar makin memanas, sampai keringat pun bercucuran, desahan kecil keluar dari keduanya dan semakin membakar gairah mereka yang tengah mereguk nikmatnya aktifitasnya, berenang di lautan madu yang memabukkan, dan sangat berharap berbuah, hampir dua jam mereka bergulat panas, akhirnya mereka melepas pelepasannya yang sudah berkali-kali.


Dimas mundur, mengakhiri aktifitasnya, cup mengecup kening istrinya, sebagai terimakasih, Dimas berbaring dan memeluk sang istri, "Aku berharap benihku kali ini berbuah, sayang cepat hamil,?" mempererat pelukannya, sementara Naya terharu mendengar suaminya yang sangat berharap seorang baby dari rahimnya, ingin sekali kata maaf terucap dari bibir Naya maaf jika dirinya tidak bisa memberikan itu, namun bibirnya seolah terkunci.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2