Bukan Mauku

Bukan Mauku
Sebuah kejutan


__ADS_3

Satu jam kemudian Dimas menghentikan aktifitasnya, karena kelelahan, meski masih ingin dan ingin namun lelah duluan menyapa, keringat bercucuran di tubuh keduanya membuat lengket di badan, Dimas akhiri dengan kecupan lembut di bibir sang istri, lama.., mendarat di sana, "Makasih sayang," dengan suara yang masih berat serta napas ngos-ngosan.


Naya hanya mengangguk pelan, karena merasa capek dengan aktifitas tadi akhirnya mereka tertidur sangat nyenyak, pukul empat sore baru terbangun dan langsung masing-masing membersihkan diri.


Setelah bersih-bersih, mereka bersiap menikmati sunset di tepi pantai Batu payung yang begitu indah, "Kita pesan makan dulu yang,? lapar nih kegiatan kita begitu menguras tenaga tadi," ucap Dimas menyeringai, dan Naya tersenyum simpul.


"Sayang gak makan,?" tanya Dimas sebab melihat Naya cuma menyuapinya.


"Nggak lapar yang, eh.., maksud aku belum lapar," sahut Naya sambil menyuapi suaminya.


"Hem..," Dimas membuka mulutnya, sesudah makan selesai mereka turun untuk menikmati sunset di petang ini.


Keduanya duduk di kursi yang panjang tepat menghadap di mana matahari akan terbenam, dan matahari mulai tebenam dengan perlahan, pertanda siang akan berganti malam, serta kita dalam penantian bertemu pagi di esok hari.


Naya tak berhenti mengucapkan, "MasyaAllah," batapa kagumnya Naya akan keindahan sebuah ciptaan yang maha kuasa.


Dimas tersenyum melihat istrinya begitu menikmati suasana, "Sayang bahagia,?" sambil merangkul pundak istrinya.


Naya menoleh dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya, "Sangat, aku sangat bahagia," matanya kembali tertuju pada sunset yang berwarna orange ke biru-biruan.


Setelah merasa puas menikmati sunset senja ini, kebetulan mau sholat magrib, Naya mengajak Dimas pulang ke penginapan mereka.


"Yuk pulang magrib nih," Naya menoleh suaminya duduk begitu asyik melihat lautan yang terbentang luas.


"Hem..,ok yuk kita pulang," Dimas berdiri dan mengulurkan tangan pada Naya yang di sambut olehnya.


Dimas merangkul pinggang Naya berjalan berdua, dan tanagn Naya bergelayut mesra di lengan Dimas, seperti pasangan yang tengah di mabuk cinta.


Akhirnya sampai juga di kamar mereka, Dimas langsung masuk kamar mandi sementara Naya duduk terlebih dahulu, melihat penandangan diluar lewat jendela, Dimas kembali dengan basah air wudu, lalu Naya masuk menghilang di balik pintu.


Usai melaksanakan sholat magrib, Naya baringan sambil sibuk dengan ponsel pintarnya, sedangakan Dimas pamit ke luar sebentar, dikarenakan ada urusan yang mendadak.


Dimas mendatangi sebuah tempat, yang di dekor dengan indah, berhias balon-balon, bunga roos merah, lampu yang kedap kedip, agar tercipta suasana yang sangat romantis.


Dimas berbincang dengan seseorang yang mengatur itu semua, "Jangan lupa kuenya, dengan semua kejutannya," pesan Dimas pada seseorang itu.


"Baik tuan, semua akan berjalan dengan rapi, anda tenang saja," sahut orang itu pada Dimas yang begitu serius.

__ADS_1


"Makasih,?" Dimas sambil menepuk pundak orang itu, dan berlalu dari tempat tersebut.


"Sama-sama tuan," memandangi kepergian Dimas.


Dimas bergegas kembali ke kamarnya, klek handel di putar pintu pun terbuka, tampak Naya tengah duduk bersandar di bahu Tempat tidur.


Naya menoleh suaminya yang baru datang, "Dari mana sih,?" tanya Naya semari jari-jarinya masih pokus pada benda pintar miliknya dan Dimas mendekat mengecup kening sang istri.


"Ada urusan sayang, kenapa kangen kah hem..,?" mengusap pucuk kepala Naya lembut.


"Masa aku di tinggal sendiri, kalau ada yang nyulik gimana,?" Naya mengedipkan mata sembari tertawa.


Dimas merasa gemas dan menyubit pipi sang istri, "kalau ada yang menyulik istriku ini, tentunya akan aku kejar dan akan Ayah cincang bila perlu, apa lagi berani macam-macam hah, jangan main-main sama Dimas si anak dayak," sambil menepuk dadanya.


Naya mendelikan matanya pada Dimas, "Iya kah,? dan Dimas membingkai wajah Naya dengan kedua tangannya.


"Emang siapa yang akan menculik istriku ini hem,? karena tidak akan aku biarkan itu terjadi, Bunda hanya milikku seorang, tidak yang lain," ucap Dimas sembari mengelus pipi Naya, matanya menatap netra mata Naya yang juga menatap dirinya.


"Ikut Ayah yuk, mau gak jalan-jalan mencari angin,?" tanya Dimas memandangi dengan lekat.


"Baiklah kalau begitu dandan yang cantik," Dimas turun dari tempat tidur mengambil sebuah paper bag dan di berikan pada Naya, entah kapan Dimas membawanya, Naya penasaran dengan isinya.


Naya menerima paper bag tersebut, "Apa ini yang,? tanya Naya sambil membukanya, ternyata satu setelan pakaian, kerudung phasmina yang warnanya senada dengan setelan pakaiannya, Naya melihat kearah Dimas seolah bertanya.


Dimas menoleh "Pakai lah dan dandan yang cantik," pinta Dimas.


Naya sebenarnya bingung, dalam hati bergemuruh pertanyaan, "Buat apa sih harus ganti kostum segala toh cuman ke pantai ini," batin Naya sambil berganti pakaian, lalu Naya duduk depan cermin untuk sedikit bersolek, Dimas tengah mengenakan kemeja putih garis-garis, Naya memandangi Dimas dari pantulan cermin, Naya tersenyum tipis, memabdangi wajah Dimas yang taman, penampilannya rapi, selalu wangi, rambut kelimis, wajar kalau banyak wanita yang menyukainya.


"Kenapa melihatku seperti itu,? jatuh cinta kah," suara Dimas datar, mengagetkan lamunan Naya, mengerjapkan mata dan memberikan senyumnya, lalu melanjutkan merapikan kerudungnya.


"Sudah," Naya berdiri depan Dimas yang menyemprotkan minyak wangi ke seluruh badannya, setelah itu Dimas menggandeng Naya keluar dari kamar mereka, menuju sebuah cafe yang berada masih di dalam hotel tersebut.


"Mau kemana sih yang,?" tanya Naya.


"Ikutin saja Ayah yang, nanti juga tau."


Dimas berhenti dan berhadapan dengan Naya, "Baiknya mata Bunda di tutup sebentar."

__ADS_1


"Untuk apa sih,? harus di tutup segala," Naya menatap penuh rasa penasaran.


Dimas mesem, "Untuk sebuah kejutan."


"Tapi.., kalau mataku di tutup, mana bisa aku berjalan,?" ucap Naya polos.


Dengan menyunggingkan bibirnya, seraya berkata, "Buat apa ada aku Bunda,?" lalu Dimas menutup mata Naya dengan sapu tangan, kemudian menggendongnya Naya melingkarkan tangan di pundak Dimas dengan mata tertutup jelas yang ada gelap tidak melihat apapun.


Tak lama berjalan Dimas sampai di ruangan cafe yang sudah di persiapkan dengan apik, Dimas mendudukan Naya di kursi meja yang ada lilinnya, bunga mawar merah, dan kue ulang tahun yang kecil, bertuliskan Happy Berthday Bunda.


"Sudah bisa aku buka belum sapu tangannya,?" tanya Naya wajahnya tampak tegang.


"Boleh, bukalah," sahut Dimas tersenyum, dan Naya mebuka sapu tangan yang menutup matanya.


Ketika Naya membuka mata, "Hapy berthday Bunda,? selamat ulang tahun," ucap Dimas.


Naya melihat Dimas duduk di depan dirinya, bunga-bunga, kue ulang tahun, dan ada lilin, lampu kerlap kerlip membuat suasana romantis, ada musik juga yang mengiringi.


Mulut Naya menganga tak menyangka dengan semua ini, "Apa-apaan ini.?"


Dimas memberikan sebuket bunga roos berwarna merah, "Selamat ulang tahun Bunda sayang,?" Dimas mengecup kening sang istri.


Naya tak bisa berkata-kata, sembari mencium bunga di tangannya, hatinya bahagia, berbunga-bunga seindah bunga yang di pegang, Dimas memotong kuenya yang tanpa ada tiup lilin, dan di suapkan pada Naya, "Aa.., buka mulutnya," Naya pun menuruti membuka mulutnya, mengunyah kue dari suapan Dimas.


Kemudian Naya mengambil sendok dari Dimas lalu memberikan suapan kue ke mulut Dimas, Dimas merogoh saku mengambil sebuah cincin permata indah, terus Dimas berutut dean Naya, lalu dia memasukan cincin tersebut ke jari manis Naya, sangat pas dan cocok di jemari Naya.


"MasyaAllah, apa lagi nih,?" ucap Naya pada Dimas.


"Maukan menemani sepanjang hidupku,?" tanya Dimas dengan tatapan lembut, wajah mereka sejajar.


Naya mengangguk, rona bahagia terus menghiasi wajah Naya, "Tentu, tentu aku mau," lalu Dimas mencium jemari Naya dengan lembut dan penuh kehangatan.


"Terima kasih Bunda,?" Dimas memeluk tubuh Naya sangat erat, setelah beberapa saat berpelukan, lalu menyantap hidangan di meja, musik pun terus terdengar indah dan mengiringi lagu yang berjudul Bintang Hatiku, semakin menambah syahdunya hati dua insan yang kini amat bahagia tersebut,


,,,,


Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏 agar aku tambah semangat💪

__ADS_1


__ADS_2