
"Sayang, Mama sudah tahu siapa dirimu sebenarnya," ujar bu Rahma melirik Laras.
Laras yang tadinya melihat-lihat jalanan, sontak menoleh ibu mertuanya dengan tatapan heran. "Maksud Mama?"
"Em ... iya dulu! kami tahunya kamu itu sepupunya Dian dari keluar Negeri tapi ... cuma bohong," bu Rahma menarik napas dalam-dalam.
Laras menatap ayah mertua dengan mata berkaca-kaca, hatinya bagai terhiris. Kata-kata pak Marwan mengingatkan akan masa lalunya yang menyedihkan, dimana ketika usianya yang masih kecil. Harus kehilangan kedua orang tua dan pamannya malah menyerahkan dirinya ke panti, padahal orang tua nya ada harta yang lumayan lah kalau untuk biaya hidup Laras.
Laras menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipi.
Bu Rahma merangkul Bahu Laras seraya berkata. "Kami tidak marah sama kamu, tidak! yang bilang kamu lulusan luar Negeri dan orang tua di sana itu, kebohongan Dian. Kami tau itu dari Ibra, entah apa maksudnya Dian." ujar bu Rahma sambil mengusap bahu Laras penuh kasih.
"Anggap saja! kami ini orang tua kamu, jadi jangan sedih.Kami akan selalu ada untuk mu," lirih pak Marwan melirik Laras.
"Iya, bener sayang, Anggap saja Mama ini Mama kamu." Rahma merangkul Laras yang semakin terisak. Terharu dengan ucapan kedua mertua nya.
__ADS_1
"Terima kasih. Mah dan Ayah? sudah mau menerima aku!" ucap Laras sambil menyeka pipinya.
"Sama-sama sayang?" sambung Rahma terus merangkul Laras.
Pak Barko cuma mendengarkan obrolan majikannya dengan mata tetap fokus ke depan. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat kencang, brak! brak! brak! cekiiiiiit ....
"Sayang, Mama sudah tahu siapa dirimu sebenarnya," ujar bu Rahma melirik Laras.
Laras yang tadinya melihat-lihat jalanan, sontak menoleh ibu mertuanya dengan tatapan heran. "Maksud Mama?"
"Em ... iya dulu! kami tahunya kamu itu sepupunya Dian dari keluar Negeri tapi ... cuma bohong," bu Rahma menarik napas dalam-dalam.
Laras menatap ayah mertua dengan mata berkaca-kaca, hatinya bagai terhiris. Kata-kata pak Marwan mengingatkan akan masa lalunya yang menyedihkan, dimana ketika usianya yang masih kecil. Harus kehilangan kedua orang tua dan pamannya malah menyerahkan dirinya ke panti, padahal orang tua nya ada harta yang lumayan lah kalau untuk biaya hidup Laras.
Laras menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipi.
__ADS_1
Bu Rahma merangkul Bahu Laras seraya berkata. "Kami tidak marah sama kamu, tidak! yang bilang kamu lulusan luar Negeri dan orang tua di sana itu, kebohongan Dian. Kami tau itu dari Ibra, entah apa maksudnya Dian." ujar bu Rahma sambil mengusap bahu Laras penuh kasih.
"Anggap saja! kami ini orang tua kamu, jadi jangan sedih.Kami akan selalu ada untuk mu," lirih pak Marwan melirik Laras.
"Iya, bener sayang, Anggap saja Mama ini Mama kamu." Rahma merangkul Laras yang semakin terisak. Terharu dengan ucapan kedua mertua nya.
"Terima kasih. Mah dan Ayah? sudah mau menerima aku!" ucap Laras sambil menyeka pipinya.
"Sama-sama sayang?" sambung Rahma terus merangkul Laras.
Pak Barko cuma mendengarkan obrolan majikannya dengan mata tetap fokus ke depan. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat kencang, brak! brak! brak! cekiiiiiit ....
Untuk lengkapnya langsung ke ke SKM langsung ya? alias "Surat Kontrak Menikah"
__ADS_1