
Naya santai aja sembari menyuapi sang suami sarapan, sesekali ia memakan ikan dan sayur, ia hanya mengangguk dengan setiap yang bu Hesa ucapkan, bi Meri datang membawa buket bunga yang cantik, dengan ucapan...!
Selamat ya sebentar lagi akan menjadi ibu untuk calon baby nya, sehat selalu dan bahagia, dari siapa kah bunga tersebut..,?
Naya menoleh suaminya, "Dari siapa,? kok gak ada nama pengirimnya."
"Gak tau lah," sahut Dimas dengan nada datar.
"Makasih Bi, simpan di meja aja," titah Naya pada bi Meri, "Dari siapa ya,?gumam Naya heran.
Dimas beranjak dari duduknya, "Ayah pergi dulu, hati-hati di rumah."
"Ok," Naya mencium punggung tangan suaminya, lalu Dimas mengecup kening sang istri.
"Assalamu'alaikum...?"
"Wa'alaikum salam.."
"Ma, Pak, saya berangkat dulu," ucap Dimas berpamitan pada kedua orang tuanya, sebelum akhirnya berjalan dan di ikuti pak Mad.
"Kau mau ke konter,?" bu Hesa menatap menantunya.
"Em.., iya Mak nanti agak siangan."
"Apa gak seharusnya kau di rumah saja.?"
"Mak, biar aja, Kanaya pasti lebih tahu yang terbaik buat dia," Bapak Dimas menatap istrinya.
"Di konter gak capek kok cuman diam dan duduk aja kok, gak harus banyak gerak Ma, Pa, kalian jangan khawatir."
"Ya terserahlah, yang penting jaga baik-baik cucu saya, itu aja, oya siapa yang kirim bunga tadi,? masa gak ada nama pengirimnya," bu Hesa heran.
Naya menggeleng, "Tidak ada."
Naya kembali ke kamar, untuk mengambil ponsel nya yang masih di kamar, lalu Naya menuju ruang kerjanya, di sana sudah ada Lisa tengah beberes.
"Pagi Bu,?" Lisa mengangguk hormat pada Naya yang baru masuk.
"Pagi juga, tolong ambilkan kain yang itu, aku akan memotong nya," Naya menunjuk kain dan perlengkapan nya.
"Baik Bu, emang Ibu tidak ke konter hari ini,?" tanya Lisa sambil mengambil yang Naya suruh kan.
"Em.., ke konter agak siangan lah," sahut Naya sambil membuka lembaran gambar di kertas.
"Bu, kemarin waktu saya di konter ada orang datang, hanya sekedar menanyakan Ibu."
Naya menoleh di sela memotong kainnya, "Tidak membeli.?"
"Tidak," Lisa menggeleng sembari membantu Naya.
"Siapa.?"
"Tidak tau, saya tanyakan ada keperluan apa dia tidak menjawab apa-apa," sahut Lisa lagi-lagi menggeleng.
"Ya udah biarlah, oya Lisa, kamu punya pacar tidak,?" Naya melirik Lisa.
"Tidak ada yang mau Bu," jawab Lisa malu-malu.
"Ah masa sih? gak percaya ah," Naya geleng-geleng sambil mesem, "Kau cantik, menarik, gak percaya aku."
"Beneran Bu, tidak ada."
__ADS_1
"Oya, em.., ada kawan kamu gak yang ingin kerja tapi.., gajinya kecil, mau laki-laki atau perempuan, yang jelas dia harus ulet, jujur dan bertanggung jawab."
Lisa mengernyitkan keningnya, "Buat kerja di mana Bu,? kan di Kanaya online masih bisa saya tangani.?"
"Bukan, bukan di sini tapi.., di konter butuh orang yang mau jagain konter," ujar Naya tetap fokus dengan kerjaannya.
"Oh, nanti saya tanyain sama kawan ya Bu, kemarin sih ada yang mau kerja tapi..., gak tau audah dapat apa belum, nanti aja aku cari tahu." ucap Lisa menatap Kanaya.
"Ok makasih ya sebelumnya, dan maaf 'ku merepotkan kamu," ucap Naya sembari tersenyum manis.
"Iya Bu sama-sama."
Naya melipat bahan yang sudah di potong dan siap jahit, "Ok, ini ada beberapa baju yang harus kamu jahit, jika selesai langsung di rapikan, kalau nanti kalau sudah siap infokan sama aku, sekarang aku mau ke konter dulu," Naya berdiri merapikan dirinya.
Kemudian berjalan menuju pintu, setelah beberapa langkah Naya memutar badan menoleh Lisa, "Oya jangan lupa kalau ada yang sudah selesai kasih tahu aku ya Lisa."
"Oke Bu, siap," mengangkat tangan dengan hormat.
Naya tersenyum lalu meneruskan langkahnya menuruni anak tangga, sebelum sampai lantai bi Taty sudah menghampiri, "Bu, di luar ada pak Dery."
Sesaat Naya terdiam, "Di mana,?" sembari celingukan mencari keberadaan Dery.
"Hehehe, Ibu kan Bibi bolang, di luar, tadi sih jalan-jalan melihat-lihat kolam."
"Oh iya he..,he..,he.., ya sudah aku lihat dulu, oya aku mau langsung ke konter aja ya Bi," sambil melanjutkan langkahnya.
"Iya Bu hati-hati jalannya, nanti Bibi antar makanan ke sana," ucap bi Taty.
"Hi.., anak manis, sedang apa? iih.., gemess" Naya mencubit pipi gembul Rita.
"Sakit tante, pipi Rita di cubit-cubit terus sakiit," memegangi pipinya dan meringis.
"Ada di kamar tante."
"Em.., ya udah tante mau pergi dulu ya.., sampai jumpa lagi nanti," Naya melambaikan tangan dan ingin menemui Dery yang kata bi Taty ada di kolam.
Benar saja, di sana Dery tengah duduk menikmati pemandangan sekitar, Dery menoleh kedatangan Naya dan mengangguk hormat.
Naya menyatukan tangan depan dada, "Apa kabar,? 'ku kira gak jadi datang hari ini."
"Baik, jadilah, saya sudah bilang ke Dimas, kalau saya mau datang hari ini," ucap Dery menatap Naya sekilas.
"Gimana kabar kamu, dan kehamilan nya,?" pandangan Dery menyapu kondisi Naya yang sekarang lebih berisi.
"Oh, aku baik seperti yang kamu lihat," dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
"Bagus lah," Dery mengangguk, "Berapa bulan saya tidak ke sini banyak yang berubah dari rumah ini, termasuk kolam renang taman dan jadi ada kolam ikan, ikannya besar-besar lagi buat di masak apa," menoleh Naya menunggu jawaban.
"Hmm.., iya buat di masak kapan pun mau, aku juga gak tau renovasinya yang jelas waktu kita pulang dari sana semuanya sudah berubah."
"Iya banyak berubah, termasuk dirimu yang nampak segar dan lebih cantik," lagi-lagi melirik Naya lalu melihat lagi ikan yang berenang tanpa lelah.
Naya menoleh, "Apa,?" seolah perkataan Dery kurang jelas.
"Em.., nggak-nggak maksud saya tempat ini semakin cantik, iya semakin cantik dan nyaman," sedikit gelagapan.
"Oh iya"
"Saya ngomong apa sih, sembarangan aja, gak di pikir dulu," gerutu Dery dalam batinnya.
"Sekarang rencana kamu apa,? mau istirahat dulu di dalam sambil menunggu suami 'ku atau mau langsung lihat-lihat ke lapangan atau gimana,?" tanya Naya melihat jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
"Mau bersama kamu."
"Hah apa,?" lagi-lagi Naya tercengang.
"Eh, maksud saya kamu sendiri mau kemana,? kaya mau keluar, sendiri lagi," tanya Dery berusaha memperbaiki ucapannya.
"Aku mau ke konter, dekat kok sebelah tembok ini," sahut Naya sambil menunduk dan sibuk dengan ponselnya.
"Konter, kamu menjaga konter,? buat apa kamu kerja, apa gak cukup uang dari suami 'mu,? gak percaya," sambil menggeleng.
Naya bengong, "Tidak, itu konter usaha aku, bukannya aku kerja sama orang, bukan."
Sambil menyilang kan tangan di dada Dery berkata, "Oh buka konter maksudnya.?"
"Iya gitu maksud 'ku," Naya nyengir.
"Hem..."
"Ya udah kamu istirahat aja di rumah, mau makan tinggal ke dapur, aku mau ke konter sudah siang nih, permisi."
Naya melangkahkan kakinya meninggalkan Dery duduk di sana, Dery menggeleng melihat kepergian Naya.
Kemudian dia masuk ke dalam rumah menemui bi Taty, sekalian lapar perut sudah meminta makan.
Sesampainya di konter Naya langsung membuka konternya, kebetulan dia melaksanakan belum sholat duha Naya mengambil air wudu, lalu melaksanakan duha di sana.
Setelah itu baru duduk santai di sofa, menunggu orang yang datang untuk membeli pulsa, sambil menggambar di laptop, sampai akhirnya ada pembeli yang datang ia layani dengan ramah dan semakin siang ada aja yang datang membeli data dan pulsa, mereka bertanya kenapa konter bukanya siang, padahal mereka datang dari pagi.
Dan Naya menjelaskan alasannya, bahwa dia sedikit sibuk di rumah, makanya buka konter agak siang dan mungkin besok lusa juga konter akan di tungguin sama orang.
Ada beberapa anak muda nongkrong di sana, menjadikan konter ramai, jadi Naya ada kawannya, siang bi Taty datang membawa makan siang.
"Bu, Bibi bawakan buat makan siang," ucap bi Taty dan menyimpannya di atas meja.
"Makasih Bi, oya Dery di mana,? tanya Naya melirik Bibi.
"Ada di rumah tiduran, kok ramai Bu di sini,? gak apa-apa kan Ibu di sini,?" tanya Bibi menatap Kanaya yang sibuk dengan laptopnya.
Naya menoleh Bibi sambil memberi seutas senyumnya, "Aku.., baik-baik aja kok, gak ada yang ganggu, mereka baik-baik aja kok Bi, oh ada di rumah."
"Ya baguslah kalau seperti itu, Bibi mau pulang, mau belanja mingguan Bu," ucap Bibi memandangi Naya.
"Ya Allah.., aku lupa, maaf Bi," Naya mengeluarkan beberapa lembar uang dari laci, "Ini Bi buat belanja, maaf banget aku lupa," Naya memberikan uang itu pada Bibi dan langsung bi Taty ambil.
"Kalau gitu Bibi mau belanja dulu," sembari berdiri mau berjalan.
"Iya Bi, hati-hati," ucap Naya pada Bibi yang berjalan meninggalkan nya, bi Taty sudah masuk menghilang, dan datang lah Dimas menghampiri Naya, matanya melihat beberapa pemuda yang nongkrong di luar, masing-masing sedang bermain games.
"Sayang mereka sedang apa di sini,?" Dimas duduk di samping Naya.
"Nongkrong ah gak lihat,?" sahut Naya sambil mengambil makanan di atas meja, "Sudah makan belum yang.?"
"Belum," matanya memandangi para pemuda itu, "Apa mereka gak macam-macam sama bunda,?" tanya Dimas pada Naya yang menyuapinya.
Kebetulan Bibi membawakan nasi, karena dia tau Dimas suka pulang langsung ke konter, makanya sekalian di bawakan makan untuk berdua, tiba-tiba ponsel Dimas berdering dan dia segera menerima telepon itu, "Halo.., saya di konter, ke sini lah kita akan ke lapangan sekarang,"
,,,,
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? karena sesungguhnya komentar dari kalian menambah semangat 'ku untuk up, jangan lupa kasih rating n vote nya juga ya,ðŸ¤
__ADS_1