
Sontak Dimas mendongak, "Tidak bisa seperti iyu Bu, saya tidak pernah melakukan apa pun, bahkan bertemu putri Ibu pun saya tidak pernah," Dimas mulai geram menatap penuh kekesalan.
Mahdalena menaikan bahunya, "Terpaksa," sambil beranjak dari duduknya meninggalkan Tempat tersebut.
Dimas menatap punggung Bu Mahdalena sekilas, lalu bangkit dengan wajah di tekuk, berjalan gontai menuju mobil yang di parkir agak jauh dari tempat ia duduk tadi.
Pak Mad dengan setia berdiam di mobil menunggu sang majikan datang, "Pulang sekarang,?" tanya Pak Mad pada Dimas setelah dia duduk di belakangnya.
"Iya jalan,?" jawab Dimas dengan cepat.
Tidak menunggu lama Pak Mad memundurkan mobil kemudian melaju menuju pulang, dari kaca spion raut wajah Dimas nampak kusut seperti banyak sedang banyak pikiran, namun Pak Mad tak berani bertanya.
Mereka terdiam seribu bahasa, hanya suara gerungan halus dari mesin mobil yang mereka kendarai, bersahutan dengan suara mesin-mesin lainnya.
Pandangan Dimas jauh lepas pikirannya terus berputar, "Harus gimana nih, gak mungkin aku menikah lagi, apa lagi hanya untuk menutupi aib, aku harus segera bertemu Dery, untuk membicarakan ini, semoga dia bersedia menolong 'ku, tidak lama kok, hanya beberapa bulan saja," batin Dimas sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Selang beberapa waktu akhirnya mobil memasuki halaman rumah, baru menginjakkan kaki di teras, sang istri menyambutnya di pintu dengan gurisan senyum di bibirnya.
"Assalamu'alaikum.., kok baru pulang sih, gak ngasih kabar juga," tanya Naya sambil meraih tangan Dimas kemudian di ciumnya, wajah yang tadinya cemas seketika berubah bahagia.
Wa'alaikum salam, maaf sayang aku terlambat," dengan ringannya.
"Kan bisa ngasih kabar? aku bolak balik telepon, chat juga gak ada masuk, no Pak Mad juga gak aktif," ucap Naya sambil melirik juga pada Pak Mad yang melintas di dekatnya.
"Maaf Bu, ponsel saya drup," sahut pak Mad kemudian masuk duluan setelah memasukan mobil ke garasi.
Deg.., Dimas baru ingat kalau handphone nya di dalam tas dalam keadaan mati, namun Dimas berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Anak-anak sudah tidur kah,?" tanya Dimas, sambil berjalan memasuki rumah.
"Sudah," Naya menatap wajah lelah sang suami, "Ya sudah mau makan malam dulu apa mau mandi dulu,?" tanya Naya.
"Em.., mau makan dulu, Pak makan dulu Pak,?" sahut Dimas lalu menoleh supirnya untuk mengajak makan bersama.
"Saya mau bersih-bersih dulu Tuan," timpal Pak Mad membungkuk hormat.
Naya melayani suaminya makan malam, dari mengambil piring sampai isinya, Dimas memandangi sang istri penuh arti.
"Sayang dah makan,? makan lah," Dimas menyuapi Naya yang hanya diam melihatnya makan.
Naya menggeleng, "Aku gak lapar, perut 'ku sudah kenyang dengan rasa khawatir, takut suaminya ke napa-napa tapi.., suaminya dengan ringan cuma minta maaf," ucap Naya dengan nada sedih.
Dimas terkesiap mendengar ucapan istrinya, "Sayang.., aku minta maaf, aku lupa ngasih kabar, dan aku juga lupa aktif kan handphone tadi, kan tahu kalau aku sedang tugas suka matikan handphone."
Dimas yang tadinya merasa lapar, tiba-tiba jadi tak berselera, akhirnya dia hanya mengaduk-ngaduk sisa makanan di piring nya.
Naya menjadi merasa bersalah, membuat suaminya menjadi seperti tidak berselera makan, Naya mengambil alih sendok dan menyuapkan pada Dimas, namun cuma satu suap Dimas sudah menolak dengan alasan sudah kenyang, "Cukup, sudah kenyang Bun," lalu meneguk segelas air putih.
"Tapi yang.., masih banyak loh habiskan dulu," menatap sang suami yang tidak biasanya seperti ini, membuat Naya semakin tambah merasa bersalah.
"Yang,?" panggil Naya setelah melihat Dimas beranjak dari duduknya dan menggeser kursi berjalan menuju tangga.
__ADS_1
"Ayah mau mandi dulu, gerah nih," sahutnya segera menaiki anak tangga.
Naya termangu di tempat, tidak terasa buliran air mata jatuh ke pipi, perasaan yang sedari tidak enak, akhirnya memuncah juga dengan air yang mengalir tanpa di undang.
Bi Taty yang melihat itu, gak tega dan menghampiri, mengusap pundak Naya lembut, "Mungkin Tuan capek, seharian sibuk, jadi jangan dibuat sedih."
Naya mengusap pipinya dengan kedua telapak tangan, "Aku cuman sedih aja, gak tau kenapa hati ini sedari tadi merasa gak enak, gundah, cemas, khawatir, pokonya sulit diungkapkan dengan kata-kata Bi, jantung 'ku berdebar tak menentu gini," ujar Naya.
"Yang sabar ya Bu," lagi-lagi telapak tangan Bi Taty mengusap lembut pundak Naya.
Di kamar Naya mendapati suaminya sudah tiduran, Naya mendekati tepi tempat tidur, melirik kearah si buah hati yang masih terlelap tidur, kemudian menatap wajah sang suami yang juga sudah pejamkan mata, dia naik merangkak dan berbaring di samping suaminya.
Naya menatap penuh kasih, lalu mengecup pipi sang suami kanan dan kiri, sementara Dimas tidak merespon namun diam-diam bibirnya melukiskan senyuman.
Keesokan harinya, seperti biasa Dimas sudah bersiap untuk berangkat kerja, Naya mengantar sampai teras, "Hati-hati yang, cepat pulang ya.?"
"Iya sayang, jaga diri baik-baik, Assalamu'alaikum..," tak lupa mengecup kening sang istri, Naya.
"Wa'alaikum salam," sambil melambaikan tangan, Naya baru masuk rumah setelah mobil suaminya melesat menjauhi halaman rumah tersebut.
"Bi tolong buatkan minuman jahe ya,?" pinta Naya pada Bibi yang sedang memasukan pakaian kotor ke mesin cuci.
"Baik Bu," sahut Bi Taty.
"E..,h Bi, biar aku saja bikin sendiri, Bibi kan sibuk," Naya meralat ucapannya.
"Ya gak apa Bibi saja yang bikin Ibu duduk saja," Bibi segera memenuhi permintaan majikannya.
Naya tersenyum tipis, "Makasih ya Bi," sambil ngeloyor dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Aku, nggak biasa aja kok Bi, baik-baik saja, cuma mau ke butik agak mager gitu," sahut Naya lesu.
"Jadi mau pantau dari rumah saja,?" tanya Bibi kembali sambil menyuguhkan minuman hangatnya.
Naya terdiam sejenak, lalu dengan menghela napas ia berkata, "Tidak, aku mau ke butik kok sebentar lagi."
Kesiangan harinya Naya berangkat ke butik meski hati rasanya mager banget tuk ngapa-ngapain, entah kenapa hari-hari terakhir ini gak enak hati terus.
****
Di Rumah sakit Dimas tengah sibuk bekerja meski hatinya masih belum plong dengan permasalahan Bu Mahdalena yang memintanya untuk menikahi putrinya.
Disaat istirahat di kantin sebelah Rumah sakit, Dimas dan Endro tengah duduk berdua, Endro perhatikan kawannya itu banyak melamun, sebagai kawan yang kerr Endro jelas akan bertanya sebab apa gerangan yang kawannya itu pikirkan.
"Kau kenapa melamun,? jangan bilang lagi ada masalah," menatap kawannya itu, "Apa gak dapat jatah ya semalam, ha..ha..,ha..," tanya Endro yang akhirnya tertawa terkekeh sendiri.
Dimas menoleh sambil menghembuskan napas kasar, "Benar, sedang menghadapi masalah," sahut Dimas dan mengalihkan pandangannya lagi.
Endro merasa penasaran, "Masalah apa bro.?"
Bukannya menjawab, Dimas malah menatap Endro sangat lekat, membuat Endro tambah penasaran, jiwa kepo nya kian meronta.
__ADS_1
"Ayok lah bro.., cerita siapa tahu saya bisa membantu kau.?"
Sebelum menjawab Dimas menghela napas panjang, "Saya di minta menikahi putri Bu Mahdalena."
"What, how so,?" Endro sangat terkejut mendengarnya, "Apa,? kok bisa, secara kau sudah beristri, jangan-jangan kau apa-pain putrinya ya..,?" goda Endro menunjuk Dimas.
"Enak saja, You're out of your mind,? kau sudah gila sampai tega berpikir seperti itu," sambil menggeleng dengan wajah kesal.
"Jangankan macam-macam bertemu aja sekali, itu pun dari jauh," tambah Dimas kembali.
"He..,he..,he.., I am sorry, Then what do you want when you have a wife and kids?" Endro menatap Dimas tajam, Endro sangat tidak habis pikir kok bisa, Bu Mahdalena meminta Dimas jadi mantunya.
Dimas terdiam sambil meneguk minuman kalengnya.
"Eh.., maksud 'ku, lalu apa kau mau, sementara kau sudah memiliki istri dan anak.?" semakin tajam dan semakin penasaran.
"Jelas tidaklah, makanya saya mau nyari laki-laki yang mau menikahinya, sampai gadis itu melahirkan,?"
"What.., dia hamil,? sebentar, kenapa gak minta dinikahi sama yang menghamili nya," Endro heran dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"His girlfriend, she died in the accident."
"Meninggal akibat kecelakaan,?" lalu Endro terdiam.
"Ya."
"Mahdalena berani membayar siapa pria yang mau menikahi putrinya itu."
"Berapapun,?" tanya Endro sangat antusias.
"Ya, berapa pun," Dimas mengangguk kan kepalanya.
"Wah menarik tuh, saya mau tuh," sambil membayangkan kalau dia menikahi putri dewan tersebut mana dapat uang banayk juga.
"Beneran kau mau,? alhamdulillah..," Diams mengusap wajahnya, akhirnya ia menemukan pria yang sanggup menggantikan dirinya.
"Ah no-no, I don't want to take any chances," Endro menggeleng.
"Pake bahasa indo aja kenapa sih,?" Dimas melotot, tadinya sudah merasa lega eh.., ternyata.
"Tidak-tidak, saya tidak ingin ambil resiko untuk itu, tidak, karna saya yakin pasti akan ada resikonya, lagian giamana dengan Citra bro,?" lagi-lagi Endro menggeleng.
"Masih mending kau baru kekasih, lah saya sudah beristri bro, kalau saya tidak dapat pria yang bersedia menikahinya, Mahdalena akan memaksa saya untuk itu, kau tau itu sangat tidak mungkin bagi saya ! Comeon. , help me.?"
"Iddih.., tadi katanya pake bahasa indo saja, sekarang dia sendirinya?" ucap Endro membuat Dimas menyeringai.
"No, I can't," lagi-lagi Endro menggeleng.
Dimas lagi-lagi menghela napas panjang, Aldo tidak mungkin mau juga, lagian tidak seiman juga, Dimas mengernyitkan keningnya seakan berpikir, jalan satu-satunya minta tolong pada Dery.
,,,,
__ADS_1
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.
NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏